Aroma daging panggang tercium sangat lezat. Tampak tiga orang manusia sedang bercanda sambil membakar dua ekor kelinci buruan Sher.
"Ternyata gadis cantik ini pandai pula berburu, siapa namamu? Kau bilang dirimu adalah ponakan Ho?"
"Betul kek, namaku Sher, aku anak Ang- Mae."
"Apa, kau anak Mae! sudah besar ternyata dirimu," kata Shang Fu sambil terkekeh.
"Apa kau lihat waktu aku kecil? Kapan? Mengapa aku tak ingat?"
Sher memberondong banyak pertanyaan dan Elang hanya berdesis saja.
"Mae remaja, sudah menjadi pemburu monster, tapi sayang hanya dia yang diberi kuasa untuk itu, hal tersebutlah yang menjadi perseteruan antar saudaranya, Ang-ji, dia ..."
"Sudahlah, Kek. Jangan diteruskan aku sudah paham ceritanya, kini ceritakan tentang mimpi-mimpi anehku," potong Elang.
"Ih, kau ini, kakekmu sedang bercerita, jangan kau penggal."
"Sudah, sudah, makanlah ini sudah matang." Shang Fu memberikan sebagian makanan pada Sher, " wanita dulu, ini pasti enak, terimalah." Shang Fu memberikan potongan daging pertama untuk Sher.
"Terima kasih, Kek." Sher menerima pemberian daging kelinci panggang yang aromanya begitu menggoda.
Elang pun menyantap makanan itu dengan lahap, perut yang dari tadinya lapar kini sudah teratasi. Kenyang.
"Aku merasakan hutan ini lain dari pada yang lain." Nilai Sher dan bangkit dari duduknya, berjalan sambil mengamati alam sekitar.
"Betul, ini hutan larangan, sebelah sana pegunungan Shahua, ini adalah jalan pintas menuju pegunungan itu dan tak banyak orang bisa melewatinya, hanya kita yang bisa, bila ada manusia jadi-jadian lewat hutan ini, maka tubuhnya tidak akan kembali menjadi manusia lagi." jelas Shang Fu panjang lebar.
Tiba-tiba, Elang teringat sesuatu, lalu mendekati sebuah pohon dan memandangnya heran. Ia meraba pohon tersebut.
"Pohon ini seperti dalam mimpiku, juga suasananya, apakah tempat ini yang ada dalam mimpiku!" teriaknya heran dan mengelus salah satu pohon besar yang sudah sangat tua.
Shang Fu berhenti makan, "apa yang kau lihat dalam mimpimu?!"
"Aku melihat dia orang bertanding, satunya manusia berkepala monster yang sangat menyeramkan!"
Sherlyn memandang Shang Fu, apa yang dikatakan Elang tak bohong, memang di sinilah terjadinya duel 50 tahun yang silam.
Elang masih penasaran dengan semuanya, saat dirinya hendak meraba lebih dalam lagi pada pohon tersebut.
"Tunggu! Tahan Elang! Jangan konsentrasi penuh, kau akan masuk dalam dimensinya!" teriak Sher dan menarik tangan lelaki muda itu.
Shang Fu menatap kedua orang di hadapannya, apakah yang ditakdirkan sudah hadir di hadapannya? Apakah ini yang di ramalkan Ho dulu? Pikir Shang Fu dan menatap mereka dengan pandangan tajam.
"Ikut aku!' Dengan cepat Shang Fu melesat menuju ke arah Utara, jejaknya meninggalkan asap putih membias.
Sherlyn menatap lelaki tua yang ilmu meringankan tubuhnya begitu sempurna.
"Tunggu! Elang, kali ini aku serius padamu, ingat, jangan sembarangan kau pegang benda dengan konsentrasi sepenuh seperti tadi. Ingat mata emas milik Paman ada padamu, kekuatannya akan bereaksi.” Sher sudah menarik tangan Elang yang hendak mengejar Kakeknya.
"Maksudmu apa?!"
"Kau harus bisa kendalikan antara dirimu dan kekuatan yang ada padamu." Ditatapnya wajah Elang dengan penuh seksama.
"Kau jangan membuatku takut, anak nakal."
"Aku serius Lang, kekuatan milik Paman tak main-main, aku harus bisa menjagamu. Kakekmu punya rencana besar padamu."
Tiba-tiba.
"KALIAN AKAN BERADA DI SANA SAMPAI KAPAN, HAH!!!" Sebuah suara dengan tenaga dalam sudah terdengar menggema dalam hutan ini.
Elang menatap Sher, suara kakeknya terdengar sangat jelas.
"Ayo!!" Gadis mungil dan lincah itu kembali menarik tangan Elang untuk melesat mengikuti jejak asap tipis yang hampir menghilang.
Kini Elang dan Sherlyn sudah ada di dalam sebuah kampung yang damai dan tampak beberapa orang sangat hormat pada kakek Shang Fu, bahkan mereka sempat berhenti dan memberi salam pada Elang dan Sherlyn. Sebuah kampung yang damai dan penuh senyum. Sherlyn memandang orang-orang yang asli, tak berkepala monster, auranya pun sangatlah berbeda.
"Aku tahu, kau bingung kan gadis cantik. inilah kampungku. Jangan salah mereka adalah keluarga dari anak buahku dulu, di sini bersih dari orang-orang licik,” jelas Shang Fu bangga. Langkah lelaki tua itu sedikit oleng, segera Shang Fu duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu, berbentuk panjang.
"Benarkah? Mengapa kakek suruh Nenek dan Ibu untuk meninggalkan Desa ini?” tanya Elang, matanya tak lepas melihat semua sudut pemandangannya.
"Kau tidak tahu anak muda, bila mereka tak pergi dari sini, kepala mereka akan terpisah dari badannya, paham! makanya aku menyuruhnya pergi agar kelak aku melihatnya bahagia."
Elang memandang kaget atas alasan yang kekek sampaikan.
"Apa!! Kepala terpisah dari badannya?!" Elang menelan salivanya.
"Ha ha ha, dulu hal tersebut terbiasa terjadi dan kepala monster menggantikan tubuh tersebut. Tapi tidak dengan kampungku ini., mereka tak akan sanggup melewati hutan larangan tadi."
Elang menatap wajah kakeknya lalu mendekat dan duduk menjajari. "Kakek ajari aku sesuatu hal," bisiknya pelan.
Shang Fu melirik cucunya ini. dan tersenyum, “Tubuhku sudah renta, tak bisa mengajarkan banyak hal padamu, bahkan kelenturan tubuhku sudah berkurang." Shang Fu merentangkan kakinya, lalu mengelus lututnya. Hari ini terasa berkurang habis tenaganya. Ada raut kelelahan padanya.
"Tapi kakek bisa melesat dengan cepat.'
"Itu yang tersisa, hanya bisa andalkan meringankan tubuhku saja, selanjutnya pinggangku ini akan terasa sakitnya."
Elang memandang kakeknya dengan penuh seksama.
"Kakek, bagaimana kehidupanmu dalam kesendirian?" Elang memijit kaki kakeknya.
Shang Fu menatap cucunya, ada hal yang istimewa ternyata, kejeliannya selalu tertuang dalam kepolosan. Berbagai pertanyaan yang terkadang membuat kakeknya tersenyum.
"Kau masih polos sekali, Cu, berapa usiamu?!"
"21 tahun, dan Sher 20 tahun, " Elang menunjuk pada Sher, tapi tak didapatinya lagi. Tak menyadari bahwa dari tadi gadis cantik itu tak ada di sampingnya.
"Sherlyn!! Kemana kamu! Hay!" Elang nampak cemas mencari Sher.
"Tenang saja, dia bersama Bibi A lung, kau tak lihat dia mengikuti Bibi A lung ya?"
"Bibi A lung? kemana?"
"Ke sungai."
"Ke sungai aku mau ...." Elang hendak berlalu tapi tangan kakeknya yang kuat sudah menarik bajunya dengan kasar.