Pedang Giok Hitam_Semakin Dekat Dengan Syang Fu

27 September 2025

"Kau tak perlu ikut, itu urusan wanita."

"Maksudnya?"

"Ayo, ikut denganku, katanya kau ingin tahu kesendirianku."

Shang Fu menarik tangan Elang dan mengajaknya berjalan menuju pondoknya yang terbuat dari kayu. Sungguh asri dan terlihat sederhana.

Kini tampak di hadapan Elang sebuah meja dan sebuah tempat tidur yang terlihat empuk.

Shang Fu menyalakan sebuah tungku pemanas ruangan. Elang memandang sekeliling ruangan itu. Sungguh teramat sederhana hidup kakeknya ini, apakah batinnya sangat terluka hingga rindu pada istri dan anaknya dipendamnya dalam-dalam, dan hanya harapan bahagia untuk mereka yang disayanginya.

Perlahan, Elang mendekati kakeknya, menyentuh pundaknya lalu mendekapnya erat, terdengar isak tangis dalam diri Elang.

Tangan sang Kakek pun menepuk punggung cucunya perlahan.

"Tanpa kau ceritakan, aku tahu kisah hidupmu, kau buat dirimu tegar di hadapan orang lain, sama sepertiku. Saat ini ada harapan yang utama, "

"Kakek. Maafkan lah aku, Ibu dan Nenek."

"Yah, untuk sejauh ini aku masih baik-baik saja."

Tak lama, Elang dikejutkan dengan sebuah pedang yang tiba-tiba keluar dari sebuah lemari tua dan kini tergeletak tepat di samping kaki Elang.

Shang Fu pun kaget, "Kau ini membuatku kaget, mengapa kau keluar!"

Elang memandang kakeknya dengan heran, lalu melihat Shang Fu mengambil pedang tersebut, tapi pedang yang hendak disentuhnya seketika bergeser!

Elang langsung berpindah tempat tapi pedang itu malah mengejar langkah Elang.

"Aku bukan monster mengapa pedang ini hidup? Apa aku tak salah lihat?!"

Shang Fu kemudian duduk di sebuah kursi besar, menghempaskan tubuh tuanya seraya menjulurkan kedua kakinya.

"Ah, nyamannya ...."

Elang memandang kakeknya, kembali langkahnya hendak mendekati sebuah kursi, lagi-lagi pedang itu bergerak mengikuti kemanapun Elang pergi.

“Kek! Mengapa pedangmu mengikuti aku terus,” seru Elang dalam kecemasan.

Dalam mata terpejam, Shang Fu tersenyum, itu milikmu Nak, tugasmu mencari batu giok hitam untuk menjadikan pedang itu super hebat tanpa tanding. Kini kau harus basmi manusia yang berkepala monster sebelum tiga kota dikuasai oleh mereka.


Sementara Sherlyn semakin akrab dengan warga yang hanya berjumlah beberapa orang saja. Ia sudah terlihat segar karena sudah membersihkan badannya, sebuah baju khas wanita Tionghoa melekat di tubuhnya, menambah cantik dengan sebuah scraft motif bunga kecil menutup sebagian kepalanya.

“Cocok sekali kau pakai bajuku.”

Sher tersenyum mendengar pujian dari Bibi A lung. Wanita setengah baya hampir seumuran dengan ibu Sher.

“Terima kasih, Bi, telah pinjamkan baju ini padaku.”

“Pakailah, toh sudah tak muat di badanku yang sudah mulai gendut ini,” kelakar Bibi A lung sambil menyiapkan sebuah menu untuk makan malam nanti.

Sher perhatikan semua kegiatan wanita yang baru dikenalnya ini

“Apakah kau masak untuk seluruh kampung? Aku lihat betapa banyak porsi yang kau buat.”

“Betul sekali. Kami hidup hanya beberapa orang saja, makan pun kami bersama. Ada sebagian rumah yang masak sendiri juga, tapi mereka akan membawa makanan mereka untuk kami santap bersama-sama.”

Sher tersenyum dengan jawaban Bibi A lung. Malam ini terasa penuh kedamaian, Sher tidur nyenyak di rumah Bibi A lung.

Keesokan harinya, terlihat Elang sedang membantu kakeknya membuat berbagai benda tajam baik itu arit, pisau, pacul ataupun golok dengan ukuran besar. Kemampuan dan keahlian Kakeknya sudah tak diragukan lagi, ada tiga orang yang membantu sang Kakek. Mereka orang-orang berbadan besar dan kuat.

Tak lama terlihat Sher mendekati tempat tersebut yang mirip pondok terbuka.

“Pagi Elang, Kakek,” sapa Sher.

Elang terpana dengan penampilan Sher kali ini, sebuah busur panah sudah terlihat tergantung di belakang punggungnya.

"Lihatlah, aku di ajak Bibi A Lung ke hutan, boleh bukan?" Sher ijin pada Elang, tapi yang menjawab Shang Fu.

"Pergilah, hati-hati. Lung tolong jaga gadis cantik ini."

"Pastinya Kek, aku cari beberapa buah-buahan hutan, dan ingin berburu kelinci hutan."

Sherlyn segera mengikuti langkah Bibi A Lung menuju hutan yang dulu pernah mereka lewati.

Elang memandang Sherlyn, Ah pasti ini keinginan anak nakal, karena memang daging kelinci itu amatlah lezat.

"Pasti mereka akan membuat kelinci panggang,” ujar Elang masih terus menatap kepergian mereka hingga hilang dari pandangan mata.

Shang mengangguk, tersenyum saja melihat sebuah pedang miliknya harus terikat dengan sebuah tali di pinggang Elang, karena pedang itu tak mau jauh dari tubuh Elang.

Sher memandang hutan itu yang ada dalam penglihatannya bukanlah hutan biasa, ada semacam perisai membungkus seluruh area hutan yang terdiri banyak sekali pohon oak.

"Bibi, mengapa hutan ini dinamakan hutan larangan?" tanya Sher dalam perjalanan menuju ke sana.

"Dulu kami menyebutnya hutan yang diberkati. Karena hutan ini asri dan nyaman, terutama dekat dengan pegunungan Shahua. Mengapa kau tanyakan hal ini? Apa kakek Shang Fu tak jelaskan padamu?"

Sherlyn terdiam langkahnya terhenti. Ada sesuatu dalam pendengarannya.

"Tunggu Bik, aku dengar suara kelinci. Shhh ...." Sher segera masuk lebih dalam ke hutan dan mulai mendekati buruan yang di carinya.

Wanita yang bernama Bibi A lung, cuma diam dan menunggu Sher di bawah pohon besar. Tak lama, Sher membawa tiga ekor kelinci berukuran sedang.

"Lihat Bibi! Aku sudah mendapatkannya!" seru Sher dengan bangganya.

Ada senyum semringah dari bibir Bibi A Lung, ternyata Sher begitu pandai menangkap kelinci.


Dalam sebuah belahan yang lain, di suatu tempat jauh, dari beberapa Kota, dan jarang bisa menemukannya, orang bilang daerah itu adalah sebuah Dinasty yang hilang.

Sebuah bangunan kuno yang masih kental dengan ukiran khas Tionghoa, Duduk seseorang di sebuah kursi besar dan posisinya yang paling atas menandakan itu adalah kursi untuk orang yang berkedudukan paling tinggi. Dialah Huang Hu. Lelaki yang seumuran dengan Syang Fu, dengan pakaian khas panglima berwarna cokelat bertabur permata emas, membalut tubuh kekarnya, dan tampak masih muda tak ada gurat penuaan.

Siapakah lelaki tersebut?