Drama

Bertemu Om Revan

Penulis sanzfy
28 September 2025

Bertemu Om Revan

Hujan deras yang mengguyur kota seolah ikut menjaga Lyra. Gadis remaja itu memeluk dirinya sendiri, terjebak di emperan ruko yang gelap. Air hujan yang menampar wajahnya seolah menambah luka yang sudah menganga akibat pengusiran ibunya, Almira. “Kenapa Mama tega sekali padaku?” bisik Lyra, tiba-tiba tenggelam dalam badai petir.

Di tengah suara gemuruh petir, sepasang sepatu pantofel berhenti di depannya. Lyra mendongak, mendapati seorang pria dewasa sedang menatap dengan sorot mata prihatin. Pria itu melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahu Lyra. "Sudah larut malam, kenapa kamu di sini sendirian? Kehujanan begini?" tanya pria itu lembut. Lyra hanya menggeleng, terlalu lelah dan putus asa untuk berbicara. Dingin yang menusuk tulang membuatnya kelu. Pria itu membuka pintu ruko. "Masuklah, setidaknya kamu tidak kehujanan."

Lyra ragu. Trauma masa lalu membuatnya sulit dipercaya pada orang asing. Apalagi pria ini terlihat mapan dan berwibawa, tipe pria yang selalu membuatnya waspada. "Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Aku Revan Angkasa. Ruko ini milikku. Kebetulan aku lewat dan melihatmu di sini. Dulu ruko ini disewa salon, tapi mereka bangkrut dan aku sita. Masih ada beberapa perabotan di dalam," jelas Revan, seolah membaca keraguannya. "Siapa namamu?" "Lyra Arsyifa," jawabnya lirih. "Usiamu?" "Tujuh belas tahun.”

"Revan menghela napas. "Kamu sudah makan?" Lyra menggeleng. "Tunggu sebentar di sini, aku belikan sesuatu." Revan menyerahkan kunci ruko. "Kunci pintunya dari dalam."

Lyra mengelilingi ruko yang berantakan. Debu tebal menutupi perabot salon yang ditinggalkan. Namun, ada satu sofa usang yang terlihat lumayan bersih. Ia duduk di sana, memeluk dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Revan kembali dengan sebungkus nasi goreng dan air mineral. “Makanlah, pasti kamu lapar.” Lyra menerima makanan itu dengan perasaan campur aduk. Dia lapar, tapi juga curiga. "Terima kasih," ucapnya pelan. "Sama-sama. Aku pergi dulu. Istirahatlah di sini," kata Revan, lalu berbalik meninggalkan ruko.

Setelah Revan pergi, Lyra mengunci pintu dan mulai makan dengan lahap. Nasi gorengnya terasa sangat lezat, mungkin karena perutnya sudah keroncongan sejak siang. Ia belum sempat makan ketika sudah mengusir Almira keluar dari rumah mereka. Sambil makan, pikiran melayang pada kejadian yang membuatnya tak habis pikir, bagaimana Mama bisa lebih memilih mempertahankan keberadaan Om Angga dan mempercayainya dari pada anak kandungnya sendiri. "Kenapa Mama lebih percaya Om Angga daripada aku? Apa salahku?" gumam Lyra, air mata mulai mengalir di pipinya.

Setelah menghabiskan makanannya, Lyra merebahkan dirinya di sofa. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk. Namun, pikiran terus berkecamuk. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal, dan tidak punya siapa-siapa.

Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan pintu. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang datang malam-malam begini? Apakah Revan kembali? Atau orang lain?

"Siapa itu?" tanyanya dengan suara bergetar. "Lyra, ini Om Revan."

Lyra menghela napas lega. Ia membuka pintu dengan ragu. Revan berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.Aku tidak bisa tidur memikirkanmu sendirian di sini, kata Revan.Lyra terkejut. "Kenapa Om memikirkanku? Aku bukan siapa-siapa." "Kamu memang bukan siapa-siapa. Tapi, aku tidak tega membiarkanmu sendirian dalam kesulitan," jawab Revan. "Aku ingin membantumu." "Membantuku? Dengan cara apa?" tanya Lyra curiga. "Aku punya tawaran. Aku bisa memberi tempat tinggal dan pekerjaan. Tapi, ada syaratnya," kata Revan. "Syarat? Syarat apa?" tanya Lyra waspada. "Aku butuh seseorang untuk mengurus rumahku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk mengurus rumah. Kamu bisa tinggal di rumahku dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bagaimana?" tawar Revan. Lyra menjawab. Tawaran Revan sangat menggiurkan. Ia bisa punya tempat tinggal dan pekerjaan. Tapi ia merasa ragu. Apakah Revan bisa dipercaya? Apakah Revan tidak punya maksud tersembunyi?

"Aku tidak tahu, Om. Aku takut," kata Lyra jujur. "Aku mengerti. Kamu tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik. Aku akan memberi waktu," kata Revan. "Aku akan kembali besok pagi. Jika kamu setuju, tunggu aku di sini. Jika tidak, aku tidak akan memaksamu."Revan berbalik dan pergi.

Lyra kembali masuk ke dalam ruko dan mengunci pintu. Ia duduk di sofa, memikirkan tawaran Revan.Di satu sisi, dia sangat membutuhkan bantuan Revan. Ia tidak punya pilihan lain. Tapi di sisi lain, ia takut. Ia takut jika Revan memanfaatkan kebaikannya. Ia takut jika ia akan terluka lagi. Lyra menghabiskan malam itu dengan perasaan tak nyaman. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus berkecamuk. Ia bingung antara menerima kesepakatan Revan atau tetap bertahan sendirian.

Pagi harinya, Lyra terbangun dengan mata sembab. Ia masih bingung dengan keputusan yang harus diambil. Ia melihat ke luar jendela. Hujan sudah reda, tapi langit masih mendung. "Apa yang harus kulakukan?" gumam Lyra, menatap langit yang kelabu.

Tepat pukul sembilan pagi, Revan datang. Ia mengetuk pintu ruko dengan sabar. Lyra membuka pintu dengan perasaan gugup. "Bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan?" tanya Revan. Lyra menatap Revan dengan ragu. "Aku... aku tidak tahu, Om. Aku takut," jawabnya lirih. Revan menghela napas. "Aku mengerti. Tapi, aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menjagamu. Aku akan memperlakukanmu dengan baik dan menghormatimu. Kamu bisa percaya padaku," kata Revan dengan tulus.

Lyra terdiam sesaat. Ia melihat ketulusan di mata Revan. Ia merasa sedikit lebih tenang. "Kamu masih sekolah kan? Kelas berapa?" "Kelas 12, Om.." "Nah, sayang sekali bukan jika kamu harus putus sekolah? Aku melihat kecerdasan di wajahmu. Tenang. Kamu tidak sendiri. Di rumahku ada Bu Ami, asisten rumah tanggaku. Kamu bisa bekerja setelah pulang sekolah membantu Bu Ami"

Lyra menimbang-nimbang tawaran itu. Ia tidak ingin putus sekolah, tapi ia juga tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup tanpa bantuan siapapun. "Baiklah, Om. Aku terima tawaran Om," kata Lyra akhirnya. Revan tersenyum lega. “Bagus.Ayo, kita berangkat sekarang.”

Revan membantu Lyra membawa tas yang tidak seberapa. Mereka berjalan menuju mobil Revan yang terparkir di seberang jalan. Di dalam mobil, Revan menjelaskan tentang pekerjaan yang harus dilakukan Lyra di rumahnya. Ia juga menjelaskan tentang peraturan-peraturan yang harus ditaati. "Kamu akan tinggal di kamarmu sendiri. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan yang berat. Kamu hanya perlu membersihkan rumah, memasak makanan sederhana, dan mencuci pakaian. Aku akan membayarmu setiap bulan," jelas Revan. "Kamu bisa masak? Karena Bu Ami sudah mulai uzur. Aku tak ingin membiarkan dia memasak. Selama ini kami menggunakan jasa catering." "Bisa, Om.." jawab Lyra. "Bagus."

Lyra mendengarkan penjelasan Revan dengan penuh perhatian. Ia merasa sedikit lega karena Revan tidak memberinya pekerjaan yang berat.

"Tapi, ada satu hal yang harus kamu ingat. Kamu tidak boleh membawa teman atau pacar ke rumahku. Aku tidak ingin ada orang asing yang masuk ke rumahku," kata Revan dengan nada tegas.

Lyra mengangguk mengerti. Ia tidak punya teman atau pacar, jadi peraturan itu tidak menjadi masalah baginya.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, mereka akhirnya tiba di rumah Revan. Rumah itu tampak besar dan mewah. Lyra terkejut melihat kemewahan rumah Revan. “Selamat datang di rumahku,” kata Revan sambil tersenyum. Lyra membalas senyuman Revan dengan gugup. Ia merasa tidak percaya bisa tinggal di rumah semewah ini.Revan membawa Lyra masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, seorang wanita yang mungkin berusia 67 tahun menyambut mereka dengan ramah. "Selamat datang, Tuan Revan. Siapa gadis cantik ini?" tanya wanita itu. "Ini Lyra. Dia akan tinggal di sini dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga," jawab Revan. "Salam kenal, Non Lyra. Saya Bu Ami, pembantu di rumah ini," kata wanita itu sambil tersenyum. “Salam kenal, Bu,” jawab Lyra. "Bu Ami, tolong siapkan kamar untuk Lyra. Dia pasti sangat lelah," pinta Revan. "Baik, Tuan. Mari, Non Lyra, saya antar ke kamar," kata Bu Ami.

Bu Ami mengantar Lyra ke sebuah kamar yang terletak di lantai dua. Kamar itu tampak bersih dan nyaman. Di dalam kamar itu terdapat sebuah tempat tidur, sebuah lemari pakaian, sebuah meja belajar, dan sebuah kamar mandi.

"Ini kamar Non Lyra. Kalau ada apa-apa, Non Lyra bisa memanggilku di bawah," kata Bu Ami. “Terima kasih, Bu,” jawab Lyra.

Setelah Bu Ami pergi, Lyra mengamati sekeliling kamar itu. Ia merasa sangat senang dan nyaman berada di kamar itu. Saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di rumah mewah seperti ini.Namun, di balik kebahagiaan itu, Lyra juga merasa khawatir. Ia takut jika ia tidak bisa memenuhi harapan Revan, takut jika akan mengecewakan Revan. Ia takut jika ia akan terluka lagi.

“Semoga Om Revan benar-benar orang baik,” bisik Lyra sambil menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamar.