Drama

Menjadi Kesayangan

Penulis sanzfy
28 September 2025

Revan memandang foto Lyra di layar ponselnya, senyuman tipis di tepinya. Sudah lebih satu bulan Lyra tinggal bersamanya di rumah besar itu, dan selama itu pula, Revan merasakan perubahan yang luar biasa. Dulu, rumah itu terasa kosong dan sunyi, hanya diisi oleh dirinya dan Bu Ami, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengannya. Namun, sejak Lyra datang, rumah itu seolah hidup kembali.

Gadis itu, seperti yang ia katakan saat pertama kali bertemu, memang pintar mengolah masakan. Revan yang dulu hanya makan makanan cepat saji atau masakan sederhana Bu Ami, kini selalu disuguhi hidangan lezat dan bervariasi. Ia jadi lebih sering makan di rumah, menikmati setiap suapan dengan penuh rasa syukur.

Tak hanya urusan perut, Lyra juga ahli dalam menata rumah. Tiap sudut kamar Revan yang dulunya berantakan dan penuh debu, kini terlihat sangat rapi dan bersih oleh sentuhan tangan Lyra. Buku-buku tertata rapi di rak, pakaian tersusun rapi di lemari, dan tidak ada lagi barang-barang berserakan di lantai. Kamar itu kini menjadi tempat yang nyaman dan menenangkannya.

Gadis 17 tahun itu seperti mampu menghidupkan rumah yang sudah hampir 5 tahun sepi tanpa sentuhan tangan wanita. Ya, Bu Ami juga wanita, namun tangan rentanya jelas tak akan bisa mencerahkan rumah yang sudah lama tak punya kehidupan. Kehadiran Lyra membawa warna baru, energi baru, dan kehangatan yang sudah lama hilang. Revan menghela nafas, menyadari betapa beruntungnya dia bisa bertemu dengan Lyra. Awalnya, ia hanya bermaksud membantu gadis itu yang sedang kesulitan. Namun, tanpa disadari, Lyra justru memberikan lebih banyak hal padanya. Ia merasa lebih bahagia, lebih bersemangat, dan lebih bersemangat untuk menjalani hidup. Masih terlintas di benakku, bagaimana pagi itu, Lyra menceritakan kenapa dia bisa terlempar ke jalanan. Bagaimana ibunya tak sedikitpun memiliki kepercayaan padanya. Cinta telah membutakan mata Almira, ibu kandung Lyra, sehingga ia tak mau mendengarkan bagaimana Lyra telah mendapatkan perlakuan tak sepantasnya dari suami ibunya.

Tiba-tiba, pintu dalam ruangan terbuka. Lyra muncul dengan senyum cerianya, membawa nampan berisi teh hangat dan kue kering.

"Om Revan lagi ngapain? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Lyra sambil meletakkan nampan di meja. Revan tersenyum, menyembunyikan ponselnya di balik bantal. "Nggak kok, cuma lagi lihat-lihat foto aja," jawabnya.

Lyra mendekat, duduk di pinggir tempat tidur. "Foto siapa? Boleh lihat?" “Tidak ada, bukan siapa-siapa,” elak Revan. Ia tidak ingin Lyra tahu bahwa ia sedang memandangi fotonya. Lyra terkekeh. "Om Revan aneh deh. Oh ya, ini aku bawain teh sama kue kering. Diminum ya, biar gak tegang terus." Revan meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan. "Terimakasih ya, Lyra. Kamu memang selalu tahu apa yang Om butuhkan." “Hehe, aku kan memang cenayang,” canda Lyra. "Om Revan ada masalah? Cerita aja sama aku, siapa tahu aku bisa bantu." Revan berpikir, menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan masalahnya kepada Lyra. Selama ini, ia selalu memendam semua masalah sendiri. Ia tidak ingin bersantai dengan orang lain di kedamaian. Namun entah kenapa, dia merasa nyaman berada di dekat Lyra. Ia merasa bisa mempercayai gadis itu.

"Sebenarnya... ada sedikit masalah di kantor," kata Revan akhirnya. "Ada proyek besar yang harus Om selesaikan dalam waktu dekat. Tapi, Om merasa stuck, gak tahu harus mulai dari mana. Sudahlah. itu tidak penting."

Lyra menatap Revan dengan menyelidik. "Nggak penting gimana? Kalau Om Revan bilang gak penting, berarti itu penting banget kan?" Revan menghela napas. "Kamu memang pintar membaca pikiran orang ya," sambil tersenyum tipis. “Ya iyalah, aku kan cenayang,” jawab Lyra sambil tertawa. "Coba cerita deh, Om. Siapa tahu aku bisa bantu." Revan tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan. "Eh, Lyra, bagaimana sekolahmu hari ini? Ada PR banyak?"

Lyra sedikit terkejut dengan perubahan topik yang tiba-tiba, tapi kemudian tersenyum. "Lumayan sih, Om. Ada PR matematika yang agak susah. Tapi, nanti aku mau minta bantuan sama teman." "Baguslah kalau begitu. Kalau ada kesulitan, jangan sungkan untuk minta bantuan sama Om ya," kata Revan.

"Siap, Om!" jawab Lyra dengan semangat. "Oh iya Om Revan, besok aku mau masak sayur asem buat makan siang. Om Revan suka kan?" "Tentu saja suka! Sayur asem buatan kamu kan paling enak," puji Revan. Lyra tersipu malu. "Ah, Om Revan bisa aja. Ya udah, aku mau siap-siap masak dulu ya. Om Revan semangat ya kerjanya!"

Lyra beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Revan dengan senyum di bibir. Lelaki itu tersenyum, Paras cantik Lyra yang ditunjang kulit halus bak porselin itu sungguh sangat menggoda mata lelaki mana pun. Sungguh tidak aneh jika Angga, ayah tiri Lyra akan sangat mencurigakan.

Revan membuka laci meja. Mengeluarkan 2 helai foto. Foto Angga, suami Almira dan tentunya foto Almira sendiri, ibu kandungnya Lyra. Revan menatap nanar kedua foto itu. Ia harus melakukan sesuatu. Tak bisa dibiarkan Lyra hidup dalam bayang-bayang ketakutan seperti ini.

"Aku harus bagaimana?" gumam Revan seorang diri.


Mentari pagi menyinari kamar Lyra. Gadis itu menggeliat dalam tidurnya. Semenjak tinggal di rumah Revan, ia merasa jauh lebih aman dan nyaman. Tak ada lagi ketakutan akan perlakuan Angga. Tak ada lagi makian dari ibu.

"Lyra, bangun sayang. Sudah pagi," suara lembut Bu Ami membangunkannya.

“Iya, Bu,” jawab Lyra sambil mengucek matanya.

Lyra segera bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia membuka pintu dapur untuk membantu Bu Ami menyiapkan sarapan. "Pagi, Bu," sapa Lyra sambil tersenyum. "Pagi, Lyra. Hari ini kamu mau masak apa?" tanya Bu Ami. "Hari ini aku mau masak nasi goreng spesial buat Om Revan," jawab Lyra. “Wah, pasti Om Revan senang,” kata Bu Ami.

Lyra mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Ia memotong sayuran, menggoreng telur, dan mencampurkan bumbu-bumbu. Dengan cekatan, ia memasak nasi goreng dengan aroma yang menggugah selera.

Setelah selesai memasak, Lyra menata nasi goreng di atas piring dan menghiasnya dengan irisan timun dan tomat. Ia juga membuatkan teh hangat untuk Revan.

“Sudah siap, Bu,” kata Lyra sambil tersenyum. "Wah, pintar sekali kamu, Lyra. Om Revan pasti suka," puji Bu Ami.

Lyra membawa nampan berisi nasi goreng dan teh hangat menuju kamar Revan. Ia mengetuk pintu kamar Revan dengan lembut.

“Om, sudah bangun belum?” tanya Lyra. "Masuk saja, Lyra," jawab Revan dari dalam kamar.

Lyra membuka pintu kamar Revan dan masuk ke dalam. Ia melihat Revan sedang duduk di meja kerja dengan laptop di hadapannya.

"Pagi, Om," sapa Lyra sambil tersenyum. "Pagi, Lyra," jawab Revan sambil tersenyum. "Wah, wangi sekali. Nasi gorengnya ya?" "Iya, Om. Ini aku buatkan nasi goreng spesial buat Om," kata Lyra sambil meletakkan nampan di meja.

Revan mendekati meja dan melihat nasi goreng yang dibuat oleh Lyra. Ia terkesan dengan tampilan nasi goreng yang cantik dan aroma yang menggugah selera.

"Wah, Lyra pintar sekali. Pasti enak sekali ini," kata Revan. "Dicoba dulu dong, Om," kata Lyra sambil tersenyum.

Revan mengambil sendok dan mulai menyantap nasi goreng buatan Lyra. Ia makan perlahan dan menikmati setiap suapan.

"Hmm, enak sekali, Lyra. Ini nasi goreng terenak yang pernah Om makan," puji Revan. Lyra tersipu malu. "Ah, Om Revan bisa aja," ujarnya. "Beneran, Lyra. Kamu memang pintar masak," kata Revan sambil terus menyantap nasi gorengnya.

Setelah selesai makan, Revan meminum teh hangat yang dibuat oleh Lyra. Ia merasa lebih segar dan bersemangat untuk memulai hari.

"Makasih ya, Lyra. Kamu sudah membuat Om semangat hari ini," kata Revan sambil tersenyum. "Sama-sama, Om. Aku senang bisa membantu," jawab Lyra. "Oh iya, Lyra, nanti siang kamu ada acara?" tanya Revan. "Nggak ada sih, Om. Kenapa?" jawab Lyra. "Nanti siang Om mau ajak kamu jalan-jalan. Mau?" tanya Revan. Mata Lyra berbinar-binar. "Mau banget, Om!" jawabnya dengan antusias. "Oke deh. Nanti siang kita jalan-jalan ya," kata Revan sambil tersenyum.

Lyra merasa sangat senang. Ia tidak sabar menunggu siang nanti. Sudah lama sekali ia tidak jalan-jalan dan menikmati waktu luang. Sejak tinggal di rumah Revan, hidupnya memang jauh lebih baik. Ia merasa aman, nyaman, dan bahagia. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Revan, orang yang baik hati dan selalu ada untuknya.

"Ya udah om. Aku mau bantu Bu Ami dulu ya," kata Lyra. "Oke deh. Hati-hati ya," kata Revan.

Lyra keluar dari kamar Revan dengan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia dan bersemangat untuk menjalani hari ini. Ia tidak sabar menunggu kejutan-kejutan lain yang akan datang dalam hidupnya.

Revan menatap nanar foto Angga dan Almira. Ia harus segera bertindak. Ia tak bisa membiarkan Lyra terus hidup dalam ketakutan. Ia harus mencari cara untuk melindungi Lyra dari masa lalunya. Ia harus memastikan bahwa Lyra akan selalu aman dan bahagia bersamanya. Revan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. “Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku,” ucapnya dengan nada serius.