His Contract Bride - Dinding Es yang Retak - Bab 6

Penulis Rei_Moira
08 September 2025

Menjalani kehidupan sebagai seorang istri dalam pernikahan kontrak ini, nyatanya tidak terlalu sulit seperti yang dibayangkan sebelumnya. Aurora hanya perlu mencoba untuk menjaga jarak dengan Kael—karena masih memikirkan tentang foto ibunya yang ia temukan di laci bawah lemari buku.

Sebenarnya itu bukan hal yang besar bagi Aurora. Sejujurnya ia tak memiliki emosi untuk itu. Keberadaan ibunya hanya sebatas mengetahui bahwa ia lahir dari rahim wanita bernama Isabelle Lambert, dan setelah itu… ia bahkan tak pernah mendapatkan kasih sayangnya.

Isabelle Lambert menikah dengan Matthew Vallen karena sebuah kesalahan. One night stand, dan harus menikah karena mengandung dirinya. Selebihnya, Isabelle tak pernah mencintai Matthew.

Benci?

Well, Aurora bohong jika mengatakan tidak pernah membenci ibunya. Apalagi ketika di masa remaja, ia mengetahui bahwa Isabelle meninggalkan dirinya dan suaminya karena seorang pria yang datang tiba-tiba di kehidupannya, lalu mereka menjalin cinta terlarang yang sangat kuat dan berbahaya.

Semenjak itu, Aurora tak pernah memikirkan tentang ibunya. Kenapa dan bagaimana Isabelle mampu melakukan semua itu padanya, telah diganti dengan kalimat penutup yang membuatnya berhasil tidak pernah mempertanyakan hal itu lagi.

‘Aurora ditakdirkan lahir melalui rahimnya, tapi tidak untuk perhatian dan kasih sayangnya. Aurora hanyalah hadiah dari semesta untuk Matthew Vallen, bukan untuk Isabelle Lambert.’

Setelah melakukan afirmasi itu hampir satu tahun, ia berhasil melepaskan semua ikatan emosional pada Isabelle yang tak pernah terbalas.

Dan sekarang, ia hanya takut Kael mengetahui siapa dirinya sebenarnya—putri dari perusak rumah tangga orang tuanya—lalu membatalkan pernikahan ini, dan akhirnya ia kehilangan hak untuk apartemen yang telah dijanjikan oleh pria itu. Jika sampai itu terjadi, berarti ia harus siap-siap ditendang dari penthouse ini, dan saat itu juga… ia akan resmi menjadi gelandangan muda yang mengenaskan.

Yah, setidaknya ia tak lagi memiliki beban utang. Namun tetap saja, Aurora tak ingin mau menjadi gelandangan.

Ketika memikirkan hal itu untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa harga dirinya telah mati karena tuntutan hidup. Ia mulai bersiap realistis, persetan dengan harga diri. Nyatanya, ia bahkan menandatangani kontrak itu dan menikah dengan Kael.

Setelah malam itu—ketika menemukan foto ibunya—dan malam sebelumnya ketika ia menindih Kael dalam insiden mati lampu itu, Aurora memutuskan untuk menjaga jarak. Selain takut Kael menendangnya keluar, ia juga merasa canggung tiap mengingat napas lembut pria itu yang menerpa tengkuknya.

Namun masalahnya, rencana briliannya itu tampaknya tidak berjalan dengan sempurna. Semakin ia menjaga jarak dengan Kael, semakin pula ia terlibat dengan pria itu secara tak sengaja. Well, sepenuhnya itu bukanlah sebuah kebetulan, karena bagaimanapun juga, mereka tinggal satu atap. Rencana Aurora itu sudah jelas gagal dari awal.

Wanita itu, dengan naifnya berusaha untuk mengamankan posisinya, tanpa tahu bahwa keberadaannya di sisi Kael adalah satu rencana pria itu untuk membalas dendam atas perbuatan Isabella Lambert di masa lalu.

“Kau yakin dia menemukan foto itu?” Kael mendongak, memperhatikan Luther setelah membaca satu dokumen pekerjaannya.

Luther mengangguk, membuat Kael meletakkan dokumen itu di meja kerjanya, lalu bangkit dari kursi kerajaannya. Langkahnya pelan, tapi tegas. Membawanya bersandar di ujung meja dengan kedua tangan terlipat di dada. Seringai tipis menarik salah satu sudut bibirnya.

“Jadi itu yang membuatnya menghindariku beberapa hari ini?” Kael menyipitkan kedua matanya. “Menarik. Dia pikir aku tidak tahu siapa dirinya.”

“Nona Aurora sangat berhati-hati akhir-akhir ini. Aku curiga ada hal yang tidak seharusnya terjadi, sampai aku mendengarnya bergumam tentang foto ibunya dan ketakutannya akan pernikahannya dengan Anda.” Luther kembali menjelaskan.

“Aku tak mengira dia lebih takut kutendang ke jalanan daripada mencari tahu kenapa ibunya bisa berfoto bersamaku dan pria tua itu.” Suara Kael berat, sarat emosi yang ia coba samarkan.

“Aku yakin ada alasannya. Dari latar belakangnya yang telah aku pelajari, dia memang tidak pernah bersama dengan ibunya. Bahkan saat ibunya meninggal, dia tidak terlihat di pemakaman.”

Kael mengangguk kecil. Ia sedang menimbang hal apa yang harus dilakukannya setelah ini. Tentu saja ia tak akan menendang Aurora. Namun, ia mulai ragu dengan rencana awalnya untuk menyiksa wanita itu secara mental untuk membalas rasa sakit, kecewa, dan marahnya pada sosok Isabella.

Jika Aurora saja tak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya, bukankah artinya semesta telah memberikan hukuman pada wanita itu?

“Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?” tanya Luther, setelah lama menanti kalimat Kael yang tak kunjung diucap.

“Akan kupikirkan lagi. Aku akan memperhatikannya untuk sementara waktu ini. Tetap laporkan apa saja yang dilakukan olehnya selama tidak ada di sisiku.” Kael mengakhiri percakapan itu dengan perintah yang membuat Luther mengedikkan sebelah alis.

“Baik Tuan. Akan aku lakukan.”

Luther berbalik, keluar dari ruang CEO Vireaux Group. Sementara Kael, masih tetap di posisi awal. Ia tak pernah menyangka jika rencana besarnya justru membawanya ke sebuah situasi canggung. Dan yang lebih parah, membuatnya merasa sedikit bersalah.

Sial, sejak kapan Kael Vireaux bisa merasakan rasa bersalah?


Aurora segera berlari ke kamarnya ketika mendengar pintu utama penthouse dibuka. Jantungnya berdebar kencang saat ia menutup pintu.

“Kenapa dia sudah pulang? Aku bahkan belum mengambil makan malamku!” geramnya, sambil menghentak pelan sebelah kakinya ke lantai kamar.

Aurora melihat jam digital di atas nakas dekat ranjang. Masih jam 18.56. Biasanya, Kael akan pulang di atas jam delapan malam.

Derap langkah pelan mendekat, Aurora menahan napas. Tanpa sadar, ia menggenggam erat gagang pintunya, bersiap untuk menahan jika saja Kael menarik pintu dan memaksanya untuk keluar.

Semenjak menyadari siapa Kael, hidupnya menjadi tidak tenang. ketakutannya hanya satu: Diusir.

“Rora, kau sudah tidur?” Untuk pertama kalinya, pria itu menyapanya lebih dulu semenjak mereka resmi menjadi suami istri.

Aurora menatap gelisah ke arah pintu. Ritme jantungnya semakin kencang, nyaris lompat dari dadanya.

“Aku tahu kau belum tidur, buka pintunya.” Suara Kael pelan, tapi berhasil membuat Aurora terlonjak dan mendesah resah.

Setelah menghela napasnya panjang beberapa kali—dengan sangat terpaksa—Aurora membuka pintu, dan memasang senyum palsu yang terlihat sangat dipaksakan.

Kael masih berdiri di depan pintu, dengan kedua tangan dijejalkan ke saku celana kerjanya. Gurat otot yang menonjol terlihat di lengan pria itu, terlihat jelas karena ia melipat lengan kemeja hitamnya sampai siku. Dengan tidak tahu malu, Aurora masih sempat memperhatikan itu di tengah keresahan dirinya.

“A-aku hampir tidur, dan kau memanggilku,” ujar Aurora, terbata dan berusaha mengalihkan perhatiannya dari lengan itu.

Kael mengangkat sedikit dagunya, menambah kesan angkuh tak tersentuh, seakan memberi batas pada wanita itu secara tak langsung, tapi dengan kesan tegas.

“Bagus, ganti bajumu sekarang, kita makan di luar.”

Tanpa menunggu jawaban, Kael telah berlalu, berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara Aurora, masih terdiam di tempatnya, bingung dengan situasi yang sangat asing di antara mereka berdua. Apa yang sedang direncanakan pria itu? Aurora menggigit bibirnya. 'Apakah dia akan menendangku setelah makan di luar?'