Drama

Hari Pembalasan

Penulis sanzfy
28 September 2025

Hari Pembalasan

Revan berdiri dan menendang kursi yang diduduki Angga hingga terjungkal ke belakang. Angga meringis kesakitan saat punggung membentur lantai yang keras, kepalanya terbentur, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengerang. Mata berkaca-kaca menahan sakit dan ketakutan

"Kau tahu apa yang paling membuat marah? Kau bahkan tidak merasa bersalah sama sekali! Kau tidak menyesal telah melakukan itu pada Lyra! Bahkan kau tertawa ketika ia terusir dari rumah ibu kandungnya!" teriak Revan dengan geram, suaranya memenuhi ruangan, seolah setiap kata adalah serangan yang menghantam jiwa Angga.

Revan mendekati salah satu lelaki bertopeng dan mengambil pisau belati tajam yang terselip di pinggangnya. Bila pisau itu berkilauan redup di bawah cahaya minimal, memantulkan bayangan yang menakutkan. Ia memainkan pisau itu di tangannya, memutar-mutarnya dengan lihai, memunculkannya pembohong dan berbahaya, seperti predator yang siap menerkam mangsanya, menikmati setiap detik dari permainan kejam ini.

"Aku akan membuatmu menyesal, Angga. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang Lyra rasakan. Aku akan membuatmu membayar semua perbuatanmu," ancam Revan dengan suara serak, setiap kata diucapkan dengan penekanan yang menakutkan, janji yang mematikan.

Revan berjongkok kembali di depan Angga dan mengarahkan ujung pisau belati itu ke wajahnya, tepat di bawah mata. Angga memejamkan matanya rapat-rapat, ketakutan seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar tak terkendali. Keringat dingin membasahi dahi, mengalir ke pelipisnya.

"Jangan... jangan sakiti aku," lirih Angga dengan suara teredam, permohonan itu nyaris tak terdengar, hanya sebuah bisikan putus asa.

Revan tertawa sinis mendengar permohonan Angga. Tawa yang kering dan tanpa humor, dingin seperti es. Ia menggoreskan pisau belati itu di pipi Angga, tidak terlalu dalam, namun cukup untuk meninggalkan luka panjang yang mengeluarkan darah segar. Garis merah pekat langsung muncul di kulit Angga yang pucat, kontras dengan kotoran dan debu yang menempel.

Angga berteriak kesakitan. Udara matanya bercampur dengan darah yang mengalir di wajahnya, menciptakan pemandangan mengerikan. Tubuhnya bergetar hebat, mencoba melepaskan diri dari ikatan yang tak mungkin terlepas.

"Ini baru permulaan, Angga. Masih banyak lagi yang akan kau rasakan," bisik Revan di telinga Angga, suaranya sedingin es, janji yang lebih menakutkan daripada ancaman.

Revan berdiri dan berjalan menghampiri Almira. Ia menatap wanita itu dengan kekecewaan yang mendalam, yang menembus hingga ke relung jiwa.

"Kau adalah seorang ibu, Almira. Seharusnya kau melindungi anakmu, darah dagingmu sendiri. Bukan malah membiarkan menderita di tangan suamimu sendiri," kata Revan dengan nada lirih, namun penuh penyesalan dan tuduhan.

Almira menatap Revan dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah yang tak terhingga. Ia berusaha mengatakan sesuatu, menggerakkan-gerakan di balik kain sumpal, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya isakan yang semakin keras, menunjukkan betapa hancurnya hatinya.

"Pergilah yang jauh! Jangan pernah menampakkan hidungmu di depan Lyra!"

"Dimana Lyra?" tanya Almira.

"Tidak usah kau tanyakan. Dia aman bersamaku."

"Kembalikan putriku! Kau orang yang kejam. Aku tak percaya jika putriku akan baik-baik saja di dekatmu!"

"Apakah dia baik baik saja saat bersamamu? Kau bahkan tak percaya kalau bajingan ini sudah melakukan hal jahat pada Lyra!"

"Aku menyesal.. Kembalikan Lyra," tangis Almira.

"Pergilah, jalani hidup dengan baik!" ucap Revan. "Jangan kembali dalam hidup Lyra! Aku, Revan Angkasa.. Adalah orang yang akan menjaga dan membuat Lyra bahagia."

"Putriku masih di bawah umur!" jerit Almira.

"Seret dan buang dia jauh dari kota ini!" Revan memandang salah satu lelaki bertopeng.

"Siap, bos."

Leon dan dua anak buahnya segera menyeret Almira keluar dari rumah kosong itu. Wanita itu meronta-ronta dan jeritan-jerit, namun sia-sia. Tenaga untuk lelaki itu terlalu kuat untuk dilawan. Suara yang diharapkannya semakin lama semakin menjauh, hingga akhirnya hilang ditelan kegelapan malam.

Revan kembali menatap Angga yang masih terikat di kursi yang terjungkal. Pria itu tampak semakin lemah dan tak berdaya. Wajahnya penuh luka dan darah, tubuhnya gemetar ketakutan. Revan merasa puas melihat penderitaan Angga, namun ia tahu bahwa ini belum cukup. Angga harus membayar lebih mahal atas semua yang telah ia lakukan.

"Kau pikir ini sudah berakhir, Angga? Kau salah besar," kata Revan dengan nada dingin. "Ini permulaan baru dari neraka yang akan kau jalani.”