Drama

Pria Tampan di Gerbang Sekolah

Penulis sanzfy
28 September 2025

Senja mulai merayap, memulas langit dengan gradasi jingga dan ungu yang memukau. Di gerbang SMA Nusa Bangsa, keramaian siswa berhamburan pulang, menciptakan pemandangan kontras dengan sosok Lyra. Berdiri dengan anggun di tepi jalan, tas keluaran terbaru dari rumah mode ternama tersampir di bahunya, seragam putih abu-abunya tampak sempurna, seolah baru keluar dari butik.

"Lyra," panggil Sandy, suaranya sedikit serak. Ia mendekat dengan langkah ragu, tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

Lyra menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Sandy. "Oh, Sandy. Belum pulang?"

"Belum dijemput?" tanya Sandy balik, mengabaikan pertanyaan Lyra. Matanya menelusuri jalan, seolah mencari-cari mobil mewah yang biasanya menjemput Lyra.

Lyra menghela napas, menggeleng pelan. "Memang tidak dijemput hari ini. Om Nando mengantar Om Revan ke proyek barunya di luar kota. Aku disuruh Om Revan naik taksi saja." Ada nada sedikit kecewa dalam suaranya, meski ia berusaha menyembunyikannya. Bukan karena taksi, tapi karena merasa sedikit terlantar.

Sandy mengerjap. "Oh, begitu. Kebetulan sekali, hari ini aku bawa motor. Motor butut sih, tapi lumayan bisa mengantar sampai rumah. Mau aku antar pulang?" tawar Sandy, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kesempatan langka, kesempatan untuk berdekatan dengan Lyra lebih lama.

Lyra menatap Sandy, alisnya terangkat. "Wah, rumahmu dan rumahku kan beda arah, Sandy.”

Sandy tersenyum kikuk. "Tidak apa-apa, Lyra. Mengantar malaikat pelindungku pulang bukan hal yang merepotkan," ucap Sandy, pipinya sedikit merona. Sejak Lyra membantunya saat dibully Nadira dan gengnya beberapa bulan lalu, Sandy memandang Lyra sebagai pahlawan, malaikat penolong yang tak terduga.

Lyra tertawa kecil, tawa yang renyah dan menular. "Dasar gombal! Tapi, kalau begitu, boleh juga. Aku juga malas menunggu taksi yang kadang suka nembak harga kalau jam pulang sekolah begini."

Sejak hari itu, Sandy memang terlihat sangat memuja Lyra. Ia selalu ingin di dekat Lyra, seperti kumbang yang tak bisa lepas dari madu. Ia selalu menemani Lyra setiap kali Om Nando, sopir pribadi Om Revan, belum datang menjemput. Bahkan, ia sering kali membawakan bekal makanan masakan ibunya untuk Lyra, yang selalu Lyra sambut dengan senyum dan pujian tulus. Sandy merasa seperti pahlawan setiap kali Lyra memakan bekalnya dengan lahap.

Mereka berjalan menuju parkiran motor yang letaknya sedikit tersembunyi di belakang gedung olahraga. Di sana, berjejer rapi berbagai jenis motor, dari yang paling baru hingga yang paling tua. Sandy menghampiri sebuah motor bebek berwarna biru tua yang catnya sudah banyak terkelupas di sana-sini. Knalpotnya sedikit berkarat, dan joknya sudah mulai menipis.

“Maaf, Lyra, ini hanya motor tua, tidak semewah mobil yang mengantar jemput kamu,” ucap Sandy, nadanya sedikit minder. Ia tahu betul perbedaan kelas antara dirinya dan Lyra, namun ia berharap Lyra tidak terlalu mempermasalahkannya.

Lyra mengibaskan tangannya, ekspresinya santai. “Ah, sudahlah. Tidak apa-apa. Yang penting bisa sampai rumah. Lagipula, aku suka motor. Anginnya terasa di wajah, kan? Ayo kita pulang. Perutku sudah sangat lapar,” Lyra segera naik ke boncengan motor Sandy. Tanpa ragu, dilingkarkannya tangannya ke perut Sandy, memegang erat agar tidak jatuh. Sentuhan itu membuat Sandy terkesiap. Jantungnya berpacu kencang, pipinya memanas. Aroma parfum Lyra yang mahal menyeruak, membuat otaknya sedikit blank. Ia merasa salah tingkah, antara senang dan gugup.

Sandy menyalakan mesin motor, suara knalpotnya sedikit memekakkan telinga. Ia mulai melaju perlahan, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan. Konsentrasinya buyar oleh sentuhan lembut tangan Lyra di perutnya. Ia terlalu fokus pada sensasi itu, hingga tak sadar ia kehilangan konsentrasi.

Tiba-tiba, dari arah gerbang sekolah, muncul seorang lelaki yang berjalan santai memasuki area sekolah. Sandy yang sedikit oleng karena gugup, hampir saja menabrak lelaki itu. Ia mengerem mendadak, membuat motornya sedikit berdecit dan oleng ke samping.

“Maaf, Bang!” ucap Sandy, wajahnya pucat pasi. Ia segera menstabilkan motornya dan menatap lelaki yang nyaris ia tabrak itu.

Lelaki itu hanya tersenyum tipis, senyum yang begitu menawan. Wajahnya tampan, dengan potongan rambut pendek dan rapi ala militer yang membingkai wajah tegasnya. Tubuhnya tinggi atletis, dibalut kemeja putih yang bersih dan rapi. Ia terlihat berusia sekitar setahun di atas Lyra dan Sandy.

“Tidak apa-apa,” jawabnya, suaranya dalam dan tenang, seperti alunan melodi yang menenangkan.

Suara itu, entah kenapa, membuat Lyra merasa menyukainya. Ada getaran aneh di hatinya. Ia segera melepaskan pelukannya dari Sandy dan menatap lelaki itu dengan mata berbinar. Lyra memang dikenal sebagai gadis yang blak-blakan dan tidak malu-malu.

“Namamu siapa, Bang? Kau ganteng sekali,” puji Lyra tanpa tedeng aling-aling, senyumnya merekah lebar. Ia tidak peduli dengan Sandy yang sudah menahan napas di depannya.

Lelaki itu kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Matanya yang tajam menatap Lyra sejenak, ada sedikit geli di sana.

“Kalau kau belum punya pacar, cari aku ya, Bang. Tanyakan saja pada Pak Satpam. Namaku Lyra!” ucap Lyra lagi, semakin berani. Ia bahkan mengedipkan sebelah matanya.

“Lyra…!” tegur Sandy, suaranya tertahan. Wajahnya sudah semerah tomat, malu bukan kepalang. Ia merasa ingin menghilang ditelan bumi. Lyra memang selalu begitu, tidak pernah memikirkan konsekuensi ucapannya.

Lelaki itu hanya tersenyum lagi, senyum yang misterius. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil. “Permisi,” ucapnya singkat, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Lyra dan Sandy, menuju ke arah gedung utama sekolah.

“Namaku Lyra, Bang!” teriak Lyra lagi, suaranya menggema di parkiran. Ia berharap lelaki itu akan menoleh dan memberitahu namanya.

Namun, lelaki itu hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang, terus melangkah menjauh.

“Ah, pelit sekali dia, tidak mau memberitahu siapa namanya,” gerutu Lyra, bibirnya mengerucut. Meskipun begitu, ia masih terus memandangi punggung lelaki itu hingga menghilang di balik tikungan gedung. Ada rasa penasaran yang membara dalam dirinya. Siapa lelaki tampan itu?

Saat Lyra masih terpaku, memandangi arah kepergian lelaki misterius itu, ia melihat lelaki itu berpapasan dengan Nadira dan empat anggota pemujanya yang mengiringi bak dayang-dayang. Nadira, gadis paling populer dan paling angkuh di sekolah, selalu dikelilingi oleh pengikut setianya. Wajahnya selalu dihiasi senyum manis palsu di depan orang yang dianggapnya penting.

Nadira terlihat memasang wajah paling manis yang bisa ia tampilkan, memamerkan senyumnya yang paling menawan, berharap mendapatkan perhatian dari lelaki tampan itu. Namun, lelaki itu hanya mengangguk singkat, pandangannya datar, dan berlalu begitu saja tanpa membalas senyuman Nadira.

Lyra tertawa terbahak-bahak, tawa yang lepas dan penuh kemenangan. “Hahahaha!”

Tawa Lyra menarik perhatian Nadira. Gadis itu menoleh, matanya menyala marah saat melihat Lyra dan Sandy yang masih di atas motor butut.

“Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?” tukas Nadira, suaranya tajam dan menusuk. Wajahnya yang tadi manis kini berubah masam.

Lyra menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. “Kasihan sekali, ya. Sudah tebar pesona, pasang muka paling manis, tapi yang di depan mata hanya mengangguk tanpa senyuman. Aku dong, tadi dia tersenyum padaku, iya kan Sandy?” Lyra menyenggol lengan Sandy.

Sandy hanya mengangguk kaku, matanya masih menatap Nadira dengan ketakutan yang jelas. Wajahnya memucat, tangannya gemetar saat mencengkeram stang motor. Ia tahu betul betapa kejamnya Nadira.

“Kalian pacaran ya?” ejek Nadira, bibirnya melengkung sinis. Matanya menatap Sandy dengan jijik. “Yach, memang simpanan om om cocoknya dengan laki-laki kampungan banci ini sih. Sama-sama tidak punya harga diri.”

Mendengar kata ‘Simpanan’, senyum di wajah Lyra langsung lenyap. Matanya menajam, rahangnya mengeras. Ia turun dari motor Sandy, berdiri tegak menghadap Nadira. “Kau diam! Mau kuhajar sekali lagi? Nanti aku lempari kotoran hewan seperti yang pernah kau lakukan pada Sandy! Mau?!” ancam Lyra, suaranya rendah dan penuh amarah. Ia mengingat kejadian saat Sandy dilempari kotoran hewan oleh Nadira dan gengnya, dan Lyra yang datang membelanya dengan berani.

Nadira mundur selangkah, sedikit terkejut dengan keberanian Lyra. Namun, ia segera menguasai diri. “Kenapa kau marah? Berarti benar kau anak pungut yang tidak tahu diri? Sudah diangkat anak oleh CEO kaya raya, masih saja berlagak sok miskin!”

“Om Revan itu waliku! Dia sudah seperti ayahku sendiri! Dia menyayangiku seperti anak kandungnya! Aku tidak peduli dengan hartanya! Aku hanya ingin dia bahagia! Sekali lagi kau mengusik aku, ku putar ke belakang kepalamu sampai patah lehermu, Nadira!!” Lyra berteriak, amarahnya memuncak. Ia tidak peduli jika seluruh siswa di parkiran mendengar. Kata-kata ‘anak pungut’ adalah luka lama yang selalu Nadira gunakan untuk menyakitinya.

“Sudah, Lyra. Jangan berantem,” Sandy menarik-narik lengan Lyra, suaranya bergetar. Ia sangat ketakutan, membayangkan Lyra akan kembali berurusan dengan Nadira dan gengnya. Ia tidak ingin Lyra terluka karena membelanya.

Lyra mengabaikan Sandy, matanya masih menatap tajam Nadira. Nadira, yang melihat kemarahan murni di mata Lyra, akhirnya sedikit gentar. Ia tahu Lyra tidak main-main. Lyra pernah melayangkan bogem mentah ke wajah salah satu teman Nadira saat mereka mengganggu Sandy.

“Cih, dasar anak pungut tidak tahu diri!” desis Nadira, lalu berbalik pergi bersama dayang-dayangnya yang juga terlihat ketakutan. Mereka bergegas menjauhi Lyra, tidak ingin terlibat lebih jauh.

Lyra menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang masih bergejolak. Ia menoleh ke arah Sandy, yang masih terlihat pucat. “Sudah, Sandy. Mereka sudah pergi.”

“Tapi, Lyra, kenapa kau harus meladeni mereka? Nanti kau bisa kena masalah lagi,” ucap Sandy, nadanya khawatir.

“Aku tidak bisa diam saja jika mereka menghinaku dan Om Revan. Om Revan sudah baik sekali padaku, Sandy. Aku tidak akan membiarkan siapapun menjelek-jelekkannya,” jawab Lyra, suaranya melunak. Ia kembali naik ke boncengan motor Sandy. “Ayo pulang, aku sudah sangat lelah.”

Sandy mengangguk, lalu menyalakan motornya. Mereka melaju meninggalkan parkiran sekolah yang kini sudah sepi. Lyra kembali melingkarkan tangannya di perut Sandy, namun kali ini ada keheningan yang berbeda di antara mereka. Lyra masih memikirkan lelaki tampan tadi, dan juga kata-kata Nadira yang menyakitkan.

“Awas kau Nadira! Dan.. Abang tampan tadi, ku pastikan mendapatkan namamu.”