Pedang Giok Hitam_Dinasty Yang Hilang

28 September 2025

Wajah tampan dan simpatik mencirikan dirinya adalah seorang lelaki yang penuh dengan rayuan gombal.

Dirinya duduk terpekur sendirian, sementara para menterinya nampak masih setia duduk di kursi paling bawah. Berjejer beberapa pengawalnya lengkap dengan perisai di dadanya dan sebuah tombak berujung lancip.

"Tuan Menteri Min, ini sudah melewati empat puluh tujuh purnama, sepertinya sebentar lagi kita sudah mendekati hal yang paling kita tunggu," kata Huang dengan suara yang menggelegar menguasai ruangan yang berplafon menjulang.

"Benar Tuan Raja, hamba sudah menghitungnya, namun, belum menemukan apa yang akan terjadi."

Semua yang hadir pun mulai bergemuruh saling tanya dan penasaran.

"Sepertinya harus beberapa yang turun, untuk mengecek keadaan."

"Hamba mengerti Tuan Raja."

"Tentukan dan pilih yang terbaik, terpercaya dan mampu untuk mengemban tugas ini." Huang yang disebutnya sebagai Tuan Raja itu pun turun dan berjalan cepat keluar dari ruangan tersebut diikuti beberapa pengawalnya.

Sepeninggal Huang, menteri kepercayaan untuk mengurus segalanya itu segera mengadakan rapat sesuai apa yang diperintahkan Tuan Rajanya.

Huang kini berada di dalam kamarnya, dua wanita cantik segera menyambutnya dan meladeni lelaki tersebut, dari melepas bajunya, memandikannya hingga bersih, hingga menggantikannya dengan pakaian yang paling istimewa.

"Istri pertamaku, apa yang kau tugaskan padamu kau laksanakan dengan baik? Bagaimana kota perlindunganmu?"

"Semua aman terkendali Suamiku."

"Bagaimana dengan kau? Istri keduaku?"

"Semua beres Suamiku."

Huang tersenyum memandang cermin yang berukuran besar di depannya. Nampak manusia-manusia tersebut berkepala monster. Giginya tajam, dan berkulit tebal. Kedua istrinya pun tak berbeda, mereka sama-sama monster licik yang ingin menguasai dunia. Hingga melenyapkan satu buah Dinasty yang cukup besar untuk penduduk monsternya.

Satu-satunya orang yang bisa membuka tabirnya hanyalah Shang Fu, musuhnya yang menjadikan dirinya tak bisa kembali ke wujud aslinya. Kepala besar monsternya tak bisa kembali seperti semula. Hanya beberapa jam saja bertahan, hal ini lah yang sangat menyiksanya. Hingga waktu yang ditunggunya sudah hampir dekat, dimana pada bulan purnama yang ke empat puluh sembilan, dirinya mampu berkultivasi.

Lelaki itu memandang dua istrinya yang sama-sama tak bisa memberikan keturunan, tapi mereka mempunyai ribuan anak dari berbagai lelaki yang hasilnya adalah ribuan pula manusia berkepala monster seperti mereka. Hingga banyak klan dan ras dari hasil peranakan mereka.

Huang Hu tak pernah bisa tua, walaupun nampak menyeramkan, keinginan terbesarnya bisa kembali ke dunia di mana dirinya mampu menguasai sebagian dari tiga kotanya.

"Suamiku, masih banyak cicit dan buyut yang dalam keadaan siap melahirkan, berarti kian banyak penduduk kita, kita butuh perluasan kota, dan satu-satunya daerah yang belum terjamah adalah pegunungan Shahua," kata Ji-Jiang isteri pertamanya.

Huang memandangnya, dan bertanya, "apa kau lupa atau pura-pura lupa!! Jangan menyulut emosiku. Kau tahu bukan tempat itu yang membuatku seperti ini, apa aku harus kedua kalinya melakukan kebodohan itu!"

Mendengar bentakan dari suaminya membuat Ji-jiang mengkerat, pasalnya dirinya ingin memberikan pendapat, yang mungkin bisa menjadi alternatif bagi suaminya yaitu lewat udara.

"Maafkan saya, Suamiku. Aku mau berikan solusi padamu, apakah bisa lewat udara tapi kita masuk dalam hutan tersebut."

"Bodoh sekali kau! Mana bisa! Kau tahu bukan Shang Fu pasti sudah sangat tua sekali. Tak mungkin bisa melawanku, yang aku inginkan adakah pedang dan giok hitam itu! Bila pedang itu sudah aku amankan pasti tak ada yang bisa membunuhku! Kau tahu kelemahanku, bukan? Ah, kau ini dasar dungu!" Setelah memarahi istri pertamanya itu, Huang langsung meninggalkan kamar yang luas tersebut.

Dua istrinya pun saling menyalahkan atas kemarahan suami yang amat mereka cintai.

"Lain kali bila bicara pikir dulu, kau memang dari dulu dungu, lihat akibat dari ucapanmu!"

"Apa! Kau bilang aku dungu! Lalu kau apa? Membuat klan dari para binatang, dari kuda kau pacari, dari kecoak pun kau mau! Bila Huang tahu generasi monsternya ada yang dari klan binatang pasti dia akan marah!"

Brak!! Pintu terbuka dengan keras!

"Apa kau bilang, klan binatang!!!" Tiba-tiba Huang sudah berdiri di ambang pintu, ia marah karena telah dengar pembicaraan dua istrinya.

Istri kedua Huang pun menceritakan perihal kesalahannya, karena terlalu banyak bercinta dengan bangsa siluman baik dari klan bawah atau pun klan yang biasa-biasa saja, sampai saat ini banyak klan hasil benihnya berkembang dengan bukan kepala monster saja, tapi setengah monster dan siluman. Diantaranya klan yang terbesar adalah klan dari kuda.

"Tubuh mereka besar-besar, kakinya kokoh, tapi berkepala kuda besar. sepertinya cocok sekali untuk serdadu karena tenaga mereka sangat besar. Kita bisa menjadikan mereka serdadu pilihan, Suamiku, bagaimana?"

Huang menatap istrinya ini, ada benarnya juga, karena beberapa musuhnya dari panglima lima penjuru mata angin tak bisa dikalahkan oleh prajuritnya.

"Kau aturlah bila hal ini menguntungkan. Untuk Dinasty kita."

"Baiklah perintah Suamiku segera laksanakan."

Dalam sekejap isteri keduanya menghilang dari hadapannya. Ada rasa iri dan cemburu dari isteri pertamanya. Huang memandangnya dan berkata.

"Mengapa pula kau marah dan cemberut, dulu kau ku beri tugas untuk menggoda Shang fu kau tak mampu, malah terjadi peperangan hingga hilang dinasti karena ulahmu itu."

Ji-jiang menunduk, teringat beberapa tahun yang lalu, saat menggoda Shang fu yang sama sekali tak bisa diperdaya, walaupun dirinya sudah berbugil di hadapannya. Ternyata dirinya dipermalukan atas ucapan Shang Fu kala itu, bagaimana dirinya tergoda oleh manusia berkepala monster bertanduk.

Mata Shang Fu tak bisa tertipu oleh kemolekan tubuhnya yang hanya muslihat saja.