Detektif Imut - Perundungan Anak SMP (1) - Bab 14

Penulis Yuan_bee
28 September 2025

‘Akankah serum di dunia ini akan seperti cerita itu?’ batin Dinda.

"Aku harus mengusut rahasia ini sampai tuntas," bisiknya. Lalu kembali mengingat tentang kecurigaan terhadap teman sekelasnya yang gendut – Fadil.

Ia mulai mencatat di dalam sebuah buku kecil; Fadil sering datang lebih awal dari siapa pun, Pemikirannya cukup dewasa dari teman-teman lainnya seperti yang dialami oleh dirinya sendiri. Dinda tahu, ini bisa jadi cuma kebetulan. Mungkin Fadil hanya anak biasa yang suka cemilan dan permainan. Namun, kalau dia benar mantan anggota organisasi gelap yang menyusut? Maka hanya satu orang yang bisa mengungkapnya – Detektif Romy.

Petualangan detektif kecil nan imut itu baru saja dimulai. Saat itu, ia tidak akan melepaskan jejak sekecil apa pun. Fadil mungkin terlihat biasa di mata semua orang, tapi bagi Dinda, dia adalah misteri yang harus dipecahkan.

Sore itu, langit berwarna jingga, matahari mulai turun perlahan di balik pohon mangga besar di depan Rumah Detektif Romy, tempat markas rahasia Dinda sekaligus tempat tinggal untuk menyembunyikan identitas sebenarnya.

Baru saja meletakkan tasnya, suara familier memanggil dari dalam. “Dinda?” panggil Rania dari ruangan sebelah yang mengejutkannya.

Dinda tak menyangka, Rania yang merupakan sahabat lama, sekaligus fansnya dulu, kini tinggal satu atap. Rania sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah memasak yang berisikan resep makanan. Dinda akui, Rania pandai masak dan makanan yang dibuatnya terbilang sangat enak dan mampu memanjakan lidahnya. Ia menatap Dinda lama, matanya menyipit, penuh rasa ingin tahu.

“Dinda, ada yang ingin kusampaikan padamu.”

“Apa itu, Kak?”

“Kamu ....” Rania berdiri pelan. “Kamu mirip banget sama ... Rodhif.”

Mendengar penuturan itu, otomatis Dinda terdiam dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

‘Bagaimana mungkin dia tahu?’ batin Dinda.

“Rodhif? Yang dari SMA Greenville, kan?” Dinda berusaha terdengar santai, tapi suaranya agak sedikit goyah.

Rania mengangguk. “Iya. Dulu aku ngefans banget sama dia. Kamu bukan dia, kan?” Matanya menelusuri wajah Dinda seakan mencoba mencari jejak masa lalu yang tersisa.

Dinda menarik napas. “Mana mungkin aku dia. Aku hanyalah anak SD biasa. Aku perempuan, Kak. Dia itu pria tampan dan juga cerdas, beda jauh.”

Keheningan singkat. Kemudian Rania tersenyum kecil. “Oh iya, benar juga, soalnya wajah kamu mirip banget.”

“Kak, jangan samakan aku dengan dia. Dia itu idola banget karena kecerdasannya, sementara aku ... cuma gadis kecil biasa.”

“Betul juga. Tapi ....”

“Tapi apa, Kak?”

“Aku ingin ...,” ucap Rania sambil mencubit kedua pipinya.

“Eh sakit, Kak. Aduh.”

“Pipimu gemesin, kau imut banget.”

Dinda sebenarnya kesal, tapi ia hanya tertawa pelan, perasaannya lega karena Rania tampaknya percaya. Namun, rasa bersalah tiba-tiba menyusup, ia memang bukan Rodhif lagi secara teknis, juga bukan sepenuhnya Dinda. Ia menyembunyikan lebih dari sekadar identitas.

Lalu, dalam otaknya, ia mengingat kenangan masa lalunya dengan Rania.

Dulu, bioskop kecil di pojok kota Rodhif kala itu mengajak Rania menonton film petualangan favorit mereka. Itu pertama kalinya mereka pergi berdua.

Rania tampak senang, pipinya merona setiap kali Rodhif tersenyum atau membisikkan komentar lucu saat film diputar. Hari itu Rodhif nyaris mengatakannya. Tentang perasaan yang telah lama ia simpan. Namun, dia urungkan untuk mengungkapkan perasaannya karena suatu hal dan ia belum siap mencintai Rania.

Kuliah di luar kota sudah menantinya setelah beberapa hari lagi lulus SMA. Ia harus fokus, sedangkan Rania pantas mendapat lebih dari seseorang yang lebih baik darinya.

“Kalau pun kita ga bisa bersama, kuharap kau mendapatkan seorang pria yang lebih baik dari aku.”

“Tapi, Rodhif. Menurutku, kau udah yang terbaik dari segalanya,” ucap Rania.

Begitulah masa lalu mereka dulu.

Setelah nonton film petualangan tentang dua detektif cilik yang menyelamatkan dunia dari organisasi rahasia, Rania dan Rodhif yang saat itu berjalan berdampingan menyusuri trotoar, tertawa dan saling menimpali dialog film favorit mereka.

“Kalau kamu jadi detektif sungguhan, pasti langsung naik pangkat,” ujar Rania, senyum mengembang di wajahnya.

Rodhif hanya terkekeh. “Siapa tahu … mungkin suatu hari nanti.”

Embusan angin sore membelai mereka ketika tiba-tiba suara sirene memecah suasana tenang. Orang-orang mulai berkumpul di ujung jalan dekat taman kota. Beberapa berbisik panik, sebagian lain mengangkat ponsel, merekam kondisi sekitar yang ramai, mengunggahnya ke media sosial.

Rodhif menajamkan pendengaran. Ada polisi dan suara tangis dari tempat tersebut.

“Rania, kamu pulang dulu ya,” ucapnya pelan tapi tegas.

Rania menoleh, keningnya berkerut. “Hah? Kenapa?”

“Ini bisa jadi situasi berbahaya. Aku cuma pengen mastiin semuanya aman. Percaya aja sama aku.”

Meskipun enggan, Rania menurut. “Hati-hati ya …,” ucapnya sambil melambaikan tangan.

Begitu Rania menjauh, Rodhif menyelip di antara kerumunan. Ia tahu cara membaca keramaian. Di antara para saksi, ada satu pria tua yang tangannya gemetar bukan karena trauma, tapi karena menyembunyikan sesuatu. Di dekatnya, sebilah pisau kecil tertutup koran, seolah sengaja dibiarkan ‘terlupakan’.

Salah satu polisi kebingungan dengan data yang tak cocok, tapi Rodhif yang hafal pola dan alur kejadian langsung tahu apa yang harus dilakukan. Ia mendekati seorang petugas dan dengan kalimat singkat, tajam, dan penuh keyakinan, menjelaskan rekonstruksi kejadian.

“Pelaku bukan yang ditemukan pingsan. Lihat luka tusuknya! Dari arah kiri bawah, bukan kanan seperti posisi tubuhnya saat ditemukan. Pelaku sesungguhnya adalah ....”

Polisi menatapnya tak percaya, tapi semua bukti yang ditunjuk Rodhif pas. Dalam waktu singkat, kasus yang tadinya buntu pun terang benderang.

Beberapa detik kemudian, pria tua itu ditangkap. Wajahnya pucat. Ia tahu telah kalah oleh bocah misterius yang bukan sembarang anak.

Polisi sempat bertanya, “Kamu siapa sebenarnya?”

Rodhif tersenyum samar. “Cuma penggemar misteri.”

Lalu ia pergi, menyusuri jalanan sore, menjemput Rania yang mungkin masih menunggu di halte.

Kini, Dinda menatap Rania yang tersenyum tanpa curiga. Ia ingin berkata jujur, ingin mengulang masa lalu yang sempat tertunda. Namun, saat itu belum waktunya. Ia tidak ingin orang yang dekat terlibat masalahnya.

Di balik segala petualangan, ada satu hal yang terus membayang: dirinya tidak bisa selamanya menyamar. Tidak bisa selamanya menjadi Dinda. Namun, selama Rania tetap percaya padanya, segalanya akan baik-baik saja. Ia lakukan hal itu demi kebaikan. Organisasi jahat bisa menyerangnya atau menargetkan orang terdekatnya jika identitas aslinya ketahuan.

**

Pagi harinya, Dinda berangkat ke sekolah. Di kelas, dia dikenal dengan siswi yang cerdas dan mungkin dewasa terlalu dini. Maklum saja, Dinda belum bisa menyembunyikan sifat aslinya, ia masih berusaha beradaptasi menjadi seorang anak perempuan.

Sepulang sekolah, mereka berempat yang merupakan anggota detektif cilik berjalan bersama. Sementara itu, Detektif Romy sedang menangani kasus di Sekolah Menengah Pertama.

Kasus tersebut adalah seorang siswa yang dirundung oleh teman-temannya sampai tewas. Dugaan sementara, ada salah satu yang mencampurkan racun pada makanannya. Namun, Detektif Romy masih belum bisa memecahkan kasus itu karena tidak ada Dinda di sampingnya.

“Mungkin saja bocah ingusan itu pembawa keberuntungan kalau aku bawa dia ke TKP,” gumam Detektif Romy.

Menyadari hal tersebut, dia pun izin kepada pihak kepolisian untuk segera kembali ke rumah demi mengajak Dinda.

“Hei Bocah! Kau harus ikut aku menangani kasus!” suruh Detektif Romy sambil menarik lengan Dinda.

“Memangnya ada kasus apa, Paman?”

“Ikut saja ...!”