Detektif Imut - Perundungan Anak SMP (2) Bab 15

Penulis Yuan_bee
28 September 2025

“Ikut saja!” suruhnya sambil menarik lengan gadis kecil nan imut itu.

‘Dasar Pak Tua tak tahu diri, sukanya minta bantuan sama anak kecil!’ umpat Dinda dalam hati.

Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat yang dimaksud. Terpampang tulisan, “Sekolah Menengah Pertama Negeri Brooksville.”

‘Jangan-jangan, Paman mengajakku karena dia mau mengetes siapa diriku, ya?’ pikir Dinda dalam hatinya, ‘aku tidak boleh terlalu menonjolkan siapa diriku sebenarnya agar penyamaranku tetap aman.’

“Seperti biasanya, kau boleh main di sini, tapi tidak boleh mendekat ke area TKP!”

“Baik, Paman.”

‘Dasar Pak Tua, rupanya dia mengajakku ke sini karena menganggapku jimat keberuntungan,’ batin Dinda yang baru menyadari niat yang terselubung di dalam hati orang itu.

Romy baru saja datang, di sana ada seorang siswa yang tergeletak tak berdaya. Sementara Dinda menunggu saat yang tepat untuk melihat korban dengan jelas, karena Detektif Romy melarangnya untuk mendekat.

Setelah semua orang pergi dari tempat TKP, Dinda diam-diam memeriksa korban. Tak hanya memeriksa kondisi korban saja, Dinda mencium bau menggunakan hidung dan memeriksa area sekitar juga. Siapa tahu, ada petunjuk lain di sana.

“Dia sudah tak bernyawa, mulutnya memuntahkan zat putih akibat reaksi kimia bahan berbahaya. Kulitnya berwarna kebiruan karena kekurangan oksigen. Tidak salah lagi, pelaku kejahatan menggunakan sianida untuk membunuhnya,” kata Dinda kepada dirinya sendiri, lalu mencari benda lain sebagai barang bukti di sekitar kantin sekolah itu.

Setelah sampai di kantin, Dinda menemukan makanan yang masih tersisa, bekas dimakan oleh korban tadi. Tercium sianida kuat, menandakan memang korban diracuni oleh bahan kimia sianida berbahaya. Namun, hanya satu piring yang baunya kuat, sedangkan piring yang lain tidak.

“Dia keracunan makanan,” ungkap Dinda bermonolog. Setelah beberapa saat, ada suara langkah kaki datang menuju Tempat Kejadian Perkara. Segera, Dinda bersembunyi di tempat yang aman. Rupanya, orang-orang memakai seragam putih dan bermasker datang.

Mayat tadi dibawa tim forensik menuju ke suatu tempat.

Sementara di suatu ruangan, ada interogasi dadakan untuk menggali informasi para tersangka.

“Pak Romy, ini ada empat orang yang diduga meracuni korban,” ucap Inspektur Galih.

Romy pun mengangguk, mengamati satu persatu tersangka yang ke-empatnya masih anak SMP.

“Korban adalah Revan (14 tahun) yang tewas di tempat saat makan di kantin. Saksi mengatakan; sebelum tewas, korban mengalami kejang-kejang yang luar biasa. Serta mengeluhkan rasa pusing dan lemas pada tubuhnya, kemudian dia kehilangan napas, seseorang sudah memanggil ambulans, tapi nyawanya tak tertolong,” ungkap Inspektur Galih.

Detektif Romy kembali memeriksa data korban dan tersangka berusaha menyinkronkan detail kecil.

Akan tetapi, mereka berempat memiliki alibi kuat. Alex, Ben, Chris teman yang sering merundung korban, berada di kelas saat dia makan. Sementara itu, petugas kantin, Bu Titin yang berada di lokasi kejadian, tidak merasa melakukannya. Banyak saksi mata, yaitu murid yang melihatnya menyediakan makanan untuk korban.

Dia berdalih, “ Aku tak sekalipun mencampur racun ke dalam makanan, kalaupun itu terjadi, korban tidak hanya Timothy saja yang terkena racun tersebut.”

“Masuk akal juga, ya. Kasus yang begitu rumit,” keluh Detektif Romy sambil memegangi kepalanya.

“Kami sudah menggeledah tas milik ketiga tersangka, kami tidak menemukan barang apa pun yang mencurigakan di dalamnya, juga tidak menemukan barang mencurigakan di sekitar kantin ini,” ungkap Opsir Kevin.

“Apa ketiga murid itu mempunyai dendam pribadi dengan korban?” tanya Detektif Romy.

“Ketiganya tidak mempunyai dendam, hanya saja, mereka bertiga sering membully korban, sesuai dengan kesaksian murid lain,” jawab Inspektur Galih.

“Hem ... semakin sulit saja kasus ini,” gumam Detektif Romy sambil menyentuh dagunya, “kita masih kekurangan bukti yang kongkret dengan kasus ini, apalagi, korban sudah meninggal.”

Sementara itu, Dinda mencari petunjuk lain yang mungkin saja terlewat di belakang kantin sekolah. Saat itu, kegiatan belajar mengajar sudah selesai, semua murid Sekolah Menengah Pertama sudah pulang. Sementara itu, Dewan Guru masih ada di sekolah.

“Kasus yang sulit karena kekurangan bukti. Pantas saja Paman memanggilku untuk ikut datang ke sini,” ucap Dinda bermonolog, “penyebab kematian sudah jelas berasal dari racun yang dicampur ke dalam makanan korban. Makanan itu merupakan nasi pecel yang dicampur sianida. Lantas, bagaimana pelaku pembunuhan bisa melakukan hal itu secara tidak langsung?”

“Inspektur, adakah bukti lain seperti rekaman CCTV sebelum korban mengalami kematian?” tanya Detektif Romy.

“Di kantin ini tidak dipasang kamera pengawas. Hanya saksi mata saja yang jelas melihat kalau setelah dia makan dua suap, dia tiba-tiba ambruk.”

“Begitu, ya?”

“Inspektur, kami sudah berhasil menemukan racunnya,” ujar Opsir Dina yang tiba-tiba datang sambil membawa sebuah botol kecil yang dibungkus kain lap. Lalu, dia menyerahkannya kepada Inspektur Galih untuk diperiksa. Setelah itu, dia menyerahkannya ke petugas forensik.

“Inspektur, izinkan kami membawa mayatnya ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” pinta petugas forensik.

“Baik, silakan saja.”

Petugas forensik pun membawa mayat itu menuju ke ambulans, sementara petugas yang lainnya membersihkan lokasi TKP.

Di saat itu, Dinda melihat mayat itu dibawa menggunakan tandu. Tangan kanannya mencuat keluar dari penutup yang membungkus tubuhnya.

“Pak Petugas, tangan mayatnya keluar,” ucap Dinda.

“Oh iya, terima kasih.”

Kemudian, salah satu petugas itu mengembalikan tangan ke posisi awal, Dinda melihatnya dengan jarak yang cukup dekat karena punya niat untuk membantunya.

Dia merasa aneh dengan tangan kanan tersebut, semua telapak tangannya mengkilap seperti menyentuh zat kimia secara langsung.

Pada akhirnya, Dinda menyadari ada suatu hal yang janggal.

“Mungkinkah?”

Setelah itu, Dinda kembali ke TKP untuk memeriksa ulang, tapi tempat itu sudah bersih, tidak ada bekas lagi, menandakan kalau investigasi sudah selesai.

“Pelakunya bukanlah Bu Titin, aku tidak ingin polisi cepat menyimpulkan kasus ini. Mungkin aku harus segera menemuinya untuk meminta keterangan lebih lanjut,” ucap Dinda bermonolog.

Dia melangkah menuju kantin, di sana kebetulan ada Bu Titin yang masih membereskan dagangan di tempatnya.

“Bu, ada beberapa yang ingin aku tanyakan kepadamu!” pinta Dinda.

“Aku tak punya waktu, aku harus segera ke Aula untuk diinterogasi. Memang, akulah yang salah, karena sama sekali tidak memperhatikan makanan itu beracun,” ucapnya pasrah.

“Sebentar, Bu. Apakah Ibu tahu, kebiasaan yang dilakukan korban saat makan?”

“Kebiasaannya?” ucapnya sambil memegang dagu, “dia sering mengabaikan cuci tangan sebelum makan, Padahal kalau makan, dia tidak menggunakan sendok atau apa pun.”

“Begitu, ya?”

“Baik, aku harus pergi untuk mempertanggungjawabkan kesalahanku,” ucap Bu Titin.

“Jadi begitu ya, dia tidak mau cuci tangan dulu.”

Pada akhirnya, Dinda memutuskan untuk kembali ke Aula, mengikuti langkah Bu Titin untuk mendengarkan interogasi tersangka.

Di sana, sudah ada tiga murid dan juga satu petugas kantin, yaitu Bu Titin yang baru saja datang.

Saat itu, dia melihat tukang paket datang dan bersalaman dengan salah satu guru penerima paket itu. Dengan hal tersebut, Dinda pun baru menyadari sesuatu ....