Saat itu, dia melihat tukang paket datang dan bersalaman dengan salah satu guru penerima paket tadi. Dengan hal tersebut, Dinda pun baru menyadari sesuatu yang kemungkinan dilakukan oleh tersangka pembunuhan.
Dari balik dinding, Dinda menguping pembicaraan kurir paket dengan penerima paket.
“Paket untuk Bapak Harjo ya?” ucap tukang paket.
“Iya, benar, Mas.”
“COD delapan puluh tujuh ribu, Pak.”
“Baik, ini uangnya,” ucapnya sambil menyerahkan selembar merah padanya.
“Oke, ini kembaliannya, tiga belas ribu.”
“Terima kasih, Mas.”
“Iya, Pak. Sama-sama,” ucapnya lalu kembali bersalaman.
“Bersalaman?” ucap Dinda kembali menyadari sesuatu lagi. Dia merasa sudah memecahkan kasus itu, tapi masih butuh bukti satu lagi. Sebelum tukang paket tadi pergi, ia berlari ke arahnya.
“Permisi, Kang Paket!” teriak Dinda berlari ke arahnya.
“Iya, ada apa, Gadis Manis?”
“Aku mau bertanya sesuatu padamu sebentar!”
“Baik, apa yang mau kamu tanyakan?”
Dinda pun berbincang-bincang dengannya untuk mencari petunjuk lain yang mungkin ada pada tukang paket itu. Sekilas, kurir paket itu memberikan informasi kepada Dinda secara rinci.
“Memang kenapa, kau ingin tahu hal itu?” tanya Kurir Paket.
“Tak apa, Om. Hanya ingin tahu saja,” dalih Dinda.
Kemudian, tukang paket tadi pun pergi. Dia mengendarai motor bebek dengan tas kurir di sebelah kanan-kiri joknya.
“Bagus, semakin jelas motif pembunuhan itu. Aku harus mencari barang bukti lain yang kemungkinan di tempat sampah,” ucap Dinda bermonolog.
Dinda mencari sesuatu di tempat sampah, tapi tempat sampah pertama, tidak ada sesuatu yang dia maksud. Lanjut ke tempat sampah berikutnya pun masih belum menemukan barang bukti itu.
Hingga pada akhirnya, dia teringat ada satu tempat sampah di belakang kantin sekolah. Tempat sampah itu luput dari pengecekannya, sehingga dia harus kembali ke sana dan memeriksanya lagi.
Dinda mengorek tempat sampah itu dan pada akhirnya, usahanya tidak sia-sia.
“Oke, aku sudah menemukannya.”
Sementara itu, keempat tersangka dikumpulkan untuk diinterogasi polisi lagi.
Mulai dari Bu Titin selaku petugas kantin yang diduga kuat melakukan pembunuhan itu dengan meletakkan racun sianida pada makanan korban. Penyebab dugaan kuat itu, karena dia satu-satunya tersangka yang berada di TKP.
Sementara itu, ketiga murid ; Alex, Ben, dan Chris yang merupakan teman sekelasnya pun punya dugaan membunuhnya. Meskipun alibi mereka kuat, karena tidak berada dalam tempat kejadian perkara.
“Alex! Saat Revan tewas, kau berada di mana?” tanya Inspektur Galih.
“Aku berada di kelas, bersama yang lainnya.”
“Jadi, Ben dan Chris juga berada di kelas bersamamu?”
“Iya, Pak. Mereka bersamaku. Tak mungkin dari kita bisa membunuh Revan yang mana, kejadian itu di kantin sekolah!” sangkal Alex.
“Baik, sekarang adakah dari kalian bertiga yang punya dendam pribadi dengan korban?”
“Aku tidak ada dendam pribadi dengannya, Pak Inspektur!” dalih Alex.
“Omong kosong apa? Katamu dulu, Revan merebut pacar kamu?!” sangkal Ben.
“Iya, itu kan dulu. Sekarang aku ikhlaskan dia untuk menjadi pacar Revan. Mana mungkin aku punya dendam?”
“Bisa jadi, kau masih punya dendam masa lalu yang kau sembunyikan!”
“Tenang, tenang,” ucap Inspektur Galih, “jadi, untuk Alex, motifnya adalah saingan cinta ya? Baik, aku tulis.”
“Salah, Pak! Sekarang aku tidak membencinya. Mana mungkin aku membunuhnya?!” Alex terus menerus menyangkal omongan Ben.
“Baik, sekarang kamu, Ben. Apa kamu punya dendam dengan korban?”
“Dia pernah hutang padaku, tapi sekarang masih belum dilunasi. Terkadang aku menagihnya, tapi dia cuma bilang; besok. Demikian seterusnya sampai aku muak dengan dia,” ungkap Ben.
“Begitu, ya. Korban punya hutang berapa padamu?”
“Seratus ribu, Pak.”
“Baik, aku tulis.”
“Sekarang kamu, Chris?”
“Aku tidak ada dendam dengannya, Pak!” sangkal Chris.
“Bohong! Kau itu punya dendam padanya, tapi kau sembunyikan, benar kan?!” bentak Ben. Alex pun kaget, karena dia baru tahu kalau selama ini, Chris pun membenci Revan.
“Mana ada? Aku dengannya punya hubungan yang baik. Dia adalah teman sebangkuku yang selalu bisa kuajak diskusi!”
“Teman sebangku gimana? Kemarin, saat pulang sekolah, kau mengancamnya, ya kan?!” Ben terus menyangkal.
“Dari mana kau tau, aku mengancamnya?”
“Aku mengintaimu dari tempat yang tersembunyi.”
“Tenanglah, dulu. Berarti semua tersangka bisa jadi melakukan pembunuhan, ya?” kata Inspektur Galih menengahi keributan.
“Aku tidak membunuh, Pak!” sahut mereka bertiga serentak dan kompak.
“Makin susah saja kasus ini,” ucap Inspektur Galih sambil menggelengkan kepalanya.
“Apabila ada dari salah satu kalian yang melakukan tindakan kejahatan, mending mengaku saja, atau kalian bertiga yang akan bertanggung jawab atas kematiannya,” sambung Detektif Romy.
“Alex, Pak!”
“Ben, Pak!”
“Chris, Pak!”
“Inspektur, salah satu di antara mereka masih belum mau mengaku, kita harus gimana?” tanya Detektif Romy.
“Bukankah kau yang seharusnya menangani kasus ini? Kau kan Detektif?”
‘Iya, juga ya. Mengapa kasus ini sangatlah rumit? Bagaimana bisa, racun itu berada di tangan korban?” batin Detektif Romy dalam hati.
“Pak Inspektur, saya izin ke toilet dulu,” ucap Detektif Romy.
“Baik, secepatnya kembali lagi!”
Detektif Romy beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju toilet dengan tergesa-gesa.
Di sana ada Dinda yang berdiri di samping toilet sedang menunggu Detektif Romy keluar. Namun rupanya, perutnya sedang merasakan mules yang luar biasa. Hingga menimbulkan suara aneh yang keluar dari sela-sela yang sempit.
‘Dasar Pak Tua!’ umpat Dinda dalam hati sambil menutup lubang hidungnya.
“Wah gila, makanan di kantin sekolah ini pedas sekali seperti dicampuri sianida,” gerutu Detektif Romy yang masih berjuang mengeluarkan sisa hasil pencernaannya. Rupanya, tadi ia sempat sarapan pagi di kantin sekolah tersebut meski ada kasus di sana.
Beberapa saat kemudian, Detektif Romy belum keluar juga karena perutnya belum terasa lega. Sementara itu, Dinda masih menunggu di samping toilet dengan bosan, sedangkan di aula, Inspektur Galih seperti tidak sabar menunggu Detektif Romy kembali.
“Dasar Detektif koplak! Di saat kondisi begini, kau masih asyik di dalam toilet!” gerutunya, dia ingin sekali menggedor pintu toilet, tapi ditahan oleh Opsir Kevin, karena dia sendiri yang akan pergi untuk menemui Romy.
“Pak Romy!” teriak Opsir Kevin sambil mengetuk pintu toilet, “sudah ditunggu Pak Inspektur!”
“Oke, sebentar lagi kelar!” jawab Romy dari dalam ruangan dengan suara yang menggema. Opsir Kevin pun pergi, lalu kembali ke aula.
“Ini tinggal satu kali ini kok susah banget keluar, sih!” umpat Romy, lalu dia berusaha mengejan dengan sekuat tenaganya. Pada akhirnya, kembali mengeluarkan suara khas yang begitu indah bagaikan trompet. Di saat itu, Detektif Romy menghembuskan napas lega, karena beban di dalam perut sudah terbuang. Kemudian, dia mengatur kembali posisi celananya dan bersiap untuk beraksi lagi mengungkap misteri kasus pembunuhan itu.
Di saat dia sampai di depan toilet, seperti biasanya, Dinda menaruh sobekan kertas hasil analisisnya di saku celana Detektif Romy. Dia pun berhasil melakukannya tanpa sepengetahuan Detektif Romy. Setelah itu, dia kembali mencari tempat yang nyaman untuk memantau Detektif Romy mengungkap kasus tersebut.
“Jadi, gimana, Pak Detektif? Apa kau sudah tahu siapa pelakunya? Tanya Inspektur Galih.
“B-b-belum.”
“Bagaimana, sih!” cecarnya.
Detektif Romy pun kebingungan karena dia merasa belum sepenuhnya memecahkan masalah itu. Di saat dia gelisah, kedua tangannya masuk menuju saku celananya. Lalu, dia menyadari sesuatu kalau di dalamnya ada sesuatu.
“Kertas apa ini?” tanya Romy.
Inspektur Galih yang melihat kelakuan Detektif Romy pun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidaklah gatal.
“Bukankah kau sendiri yang menulisnya? Bisa-bisanya malah menanyakan hal itu kepadaku?” cecar Inspektur Galih.
Setelah itu, Romy pun membuka kertas itu.
‘Tulisan ini lagi!’ batinnya.
Dia membaca tulisan itu dan baru saja paham dengan beberapa hal.
“Aku tahu siapa pembunuhnya ....”