“Aku tahu siapa pembunuhnya.” ucap Romy yang membuat semuanya kaget. Sementara Dinda yang berdiri tak jauh dari aula tersenyum puas. Ia merasa, kasus sudah terpecahkan. Hanya dengan menulis detail kecil pada secarik kertas dan menyerahkan diam-diam pada Romy, ia berhasil menyalurkan deduksinya secara tak langsung.
‘Baik, sekarang aku serahkan padamu, Paman. Kau akan jadi detektif hebat nantinya, dan aku berjanji, kalau tubuhku kembali seperti semula, aku akan menikahi anakmu, hihihi,’ batin Dinda yang rupanya pikiran pria dewasanya masih utuh.
“Kuakui, sekarang kau sudah ada kemajuan, Pak Detektif. Sekarang kau menulis analisismu di sobekan kertas,” puji Inspektur Galih.
“Ini kan kertas dari ....”
“Ayo gas! Jangan buang waktu lagi!” suruh Inspektur.
“Baiklah, kalau begitu. Ternyata, aku baru menyadari satu hal. Kasus ini adalah pembunuhan yang sudah direncanakan dengan sangat baik. Aku tadinya teledor, karena kurang krirtis dalam berpikir. Korban memang tewas akibat racun yang dia telan melalui makanan yang dia cerna. Namun, racun itu tidak ditaburkan langsung ke makanan.”
Ucapan Detektif Romy membuat semua yang ada di tempat itu pun kaget, tapi tidak bagi Dinda yang sudah tahu kejadian sebenarnya.
“Jadi, kita bisa mempersempit tersangka menjadi tiga orang, dengan mengecualikan Bu Titin selaku petugas kantin, kan?” tanya Inspektur Galih.
“Benar, sekarang tersangka menjadi tiga orang saja.”
Orang-orang pun kaget setelah Romy mengungkap hal itu tanpa sepengetahuan mereka. Di sisi lain, ketiga tersangka yang masih duduk di bangku SMP kini tegang.
“Lalu, bagaimana cara meletakkan racun tersebut?” tanya Opsir Kevin yang bingung.
“Dengan memanfaatkan kebiasaan buruk korban.”
“Apa?” sahut Inspektur Galih.
“Kebiasaan buruk apa itu?” tanya Opsir Kevin.
“Korban mempunyai kebiasaan buruk, yaitu tidak mau mencuci tangan sebelum makan, padahal dia lebih suka makan langsung pakai tangan tanpa menggunakan sendok atau semacamnya agar tak ada kontak langsung pada kulitnya. Itulah penyebab, tersangka menggunakan perantara untuk mengirim racun itu.”
“Lantas, perantaranya apa?”
“Dengan berjabat tangan.”
“Hah?!” Inspektur Galih kaget mendengar penuturan Detektif Romy, “Pak Romy, bisa dijelaskan lebih lanjut?”
“Awalnya, pelaku pembunuhan memesan racun itu secara online melalui kurir yang alamatnya langsung menuju sekolah ini,” ujar Romy.
“Jadi, siapa pembunuhnya?” tanya Inspektur Galih.
“Pembunuhnya adalah kau, Chris!” tukas Detektif Romy sambil mengacungkan jari telunjuk padanya.
“Pak Detektif, aku tidak melakukannya!” sangkal Chris.
“Kau menuduh Chris sebagai pembunuhnya, lalu mana bukti kuatnya?” tanya Inspektur Galih.
‘Aduh, berabe nih. Aku cuma baca tulisan yang ada di sobekan kertas tanpa menemukan bukti yang kuat,’ batin Romy dalam hati.
Seketika, kondisi di tempat itu pun hening, tak ada yang bersuara, karena menunggu Detektif Romy angkat bicara.
‘Syukurin, Pak Tua. Makanya jangan pernah meremehkanku! Kau menganggapku jimat keberuntungan? Oh tidak bisa,’ umpat Dinda, ‘Tapi kasihan juga melihat dia kebingungan seperti itu, he-he-he.’
“Eh, Paman! Aku menemukan bungkus paket di tempat sampah,” ujar Dinda sambil memberikan sobekan bungkus paket itu kepada Detektif Romy. Lalu, Romy pun membacanya dan kaget.
“Pak Inspektur. Analisis sidik jari sudah selesai, berikut datanya,” ucap petugas forensik sambil memberikan berkas hasil penelitiannya.
Setelah itu, mereka berdua mencocokkan sobekan kertas dan data sidik jari. Keduanya mengarah ke seseorang, yaitu Chris.
“Kedua bukti ini sudah cukup untuk membuktikan kalau kaulah pelaku pembunuhan itu, Chris!” cecar Detektif Romy. Di depan Romy, Chris tertunduk lesu, karena kejahatannya berhasil dibongkar.
“Aku ulangi lagi kejadiannya, kaulah yang memesan racun online, lalu meletakkan racun itu pada tangan kananmu dan kau meminta jabat tangan dengan korban. Itulah sebabnya, seluruh telapak tangannya terkena zat sianida, bukan hanya ujung jari saja. Dengan cara itu, kau bisa meracuni makanan korban tanpa harus berada di dekatnya.”
“Baik, Chris. Mengaku sajalah. Kau punya motif apa membunuh Revan, teman sebangkumu?” desak Inspektur Galih.
“Prestasi,” ucap Chris singkat sambil tertunduk.
“Maksudmu, prestasi gimana?” tanya Inspektur Galih.
“Dia sebenarnya tidaklah pintar. Hasil nilai bagus cuma karena menyontek semua tugas dan ulanganku. Dia terus mengancam akan membunuhku kalau tidak mau memberikan jawaban padanya. Sebenarnya, aku tidak ikhlas kalau hasil belajarku disalin olehnya dengan cuma-cuma. Apalagi, semenjak dia rangking dua, aku justru dapat rangking di bawahnya. Dia juga sombong, selalu memamerkan hasil nilainya yang bagus kepada semua teman sekelas. Padahal, kebanyakan akulah yang mengerjakannya,” ungkap Chris.
“Jadi begitu, mengapa kau tidak meminta guru untuk pindah ke kelas lain saja?” saran Detektif Romy.
“Aku tidak berani. Revan terus mengancamku.”
“Usiamu masih terlalu muda untuk menjadi seorang penjahat, Nak. Apalagi, dengan perbuatanmu itu telah melanggar hukum dan hampir saja Bu Titin yang terkena imbasnya,” ujar Inspektur Galih.
“Bu Titin, maafkan aku,” ucap Chris.
“Iya, aku maafkan. Asalkan jangan diulangi lagi nanti kalau kau sudah bebas dari penjara. Kau sebenarnya anak yang baik,” puji Bu Titin.
“Aku menyesal melakukan ini semua, Bu,” kata Chris.
“Iya, aku tahu. Tapi kau harus bertanggung jawab atas semua perlakuanmu padanya,” ujar Bu Titin.
Alhasil, Chris diborgol oleh Opsir Kevin dan dibawa ke kantor polisi. Sebelum Chris masuk ke mobil polisi, kedua orang tuanya datang. Mereka tidak memperbolehkan anaknya untuk dipenjara. Sehingga, akan melakukan apa saja demi kebebasan anaknya.
“Katakan saja di kantor ya, Bapak-Ibu,” ucap Inspektur Galih.
Pada akhirnya, kasus pun selesai dengan adanya Dinda yang membantu dibalik layar.
“Detektif Romy, aku apresiasi dengan kerjamu yang luar biasa,” puji Inspektur Galih sambil berjabat tangan dengannya.
Akan tetapi, sebelum tangan mereka saling bertemu, Inspektur Galih menarik kembali tangannya.
“Kenapa ga jadi bersalaman, Inspektur?”
“Aku ingin berjaga-jaga, apa kau menyentuh racun tadinya,” ucap Inspektur Galih dengan nada sedikit mengejek.
“Heh! Tanganku steril, tenang saja.”
“Maksudku bukan racun sianida, tapi racun zat sisa yang dibuang oleh tubuhmu.”
Seketika, Detektif Romy mencium tangannya yang lain dan ternyata dia lupa tidak mencucinya memakai sabun. Sehingga baunya cukup mengganggu orang di sekitarnya.
‘Paman jorok!’ umpat Dinda yang berada tidak jauh darinya.
“Hei Bocah, ayo kita pulang! Tugasku sudah selesai,” suruh Romy sambil menarik lengan Dinda.
“Sebelum kita pulang, alangkah baiknya tangan Paman dicuci ulang pakai sabun, deh,” saran Dinda.
“Kau tak usah mengaturku, Bocah Imut!” hardik Detektif Romy.
“Menurutku, benar kata bocah itu,” ucap Pak Harjo, sang kepala sekolah.
Berat hati, Detektif Romy pun melangkahkan kakinya menuju ke toilet lagi.
Sementara itu, Dinda masih melihat-lihat halaman sekolah itu.
‘Sekolah Menengah Pertama Negeri Brooksville. Kemungkinan, setelah aku lulus dari Sekolah Dasar, aku akan melanjutkan sekolah di sini. Entah kapan waktunya Paman Agus selesai membuat penangkal serum itu, agar aku bisa kembali ke wujud normalku,’ batin Dinda.
“Ayo, kita pulang!” ajak Detektif Romy yang tiba-tiba berada di belakang Dinda.
Akan tetapi, saat mereka baru keluar dari halaman sekolah itu, ada sebuah mobil berhenti di hadapan mereka ....