Sebuah undangan sudah ada di tangan. Ia membolak-balikkannya selama beberapa waktu. Hingga sang sopir yang ada di balik kemudi tidak tahan lagi, dan bertanya, “Nyonya, sekarang kita mau ke mana?”
Tepat ketika kata-kata itu turun, seorang wanita paruh baya keluar dari sebuah rumah dua lantai. Wanita berpenampilan glamor yang si sapa nyonya itu melihatnya, kemudian berkata pelan, “tunggu di sini.” Detik berikutnya, ia turun dan menghampiri wanita paruh baya itu.
Ia berjalan dengan anggun selangkah demi selangkah hingga sampai di depan wanita paruh baya yang tengah membuang sampah di depan rumahnya itu.
“Selamat pagi,” ucapnya.
Wanita paruh baya itu menoleh, mengamati wanita lain di hadapannya dengan alis yang sedikit betaut. Sepanjang ia ingat, ia tidak mengenalnya. Ia kemudian bertanya, “selamat pagi … maaf, siapa ya?”
Wanita itu tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan wanita lainnya, ia bertanya, “apa ini dengan Bu Titin?”
“Betul, tapi … ibu ini siapa? Ada apa mencari saya?” Jelas tidak ada ketenangan di dalam nada suaranya. Ia hanya berpikir, apakah wanita ini salah satu orang yang akan melubangi kantong uangnya? Mungkinkah sejenis penagih utang?
Tidak! Sejauh ini, cicilan utangnya tidak ada yang jatuh tempo. Apakah ini ada hubungannya dengan Azril? Baru-baru ini, Azril berkata akan menginvestasikan uang mereka pada temannya. Apakah ini teman yang dimaksud? Titin menggeleng. Walaupun wanita di depannya terlihat kaya, cantik dan elegan, tapi rasanya terlalu ‘tua’ untuk disebut sebagai teman Azril.
“Nama saya Winda. Bisa kita bicara di dalam?” Winda masih tersenyum di setiap ujung kalimatnya. Namun entah bagaimana, Titin yang mendengarnya sama sekali tidak merasakan keamanan dalam nada suaranya.
Pandangan Titin menyelidik. Ia melirik ke atas dan ke bawah. Wanita ini … bukan sejenis tukang hipnotis yang akan merampok rumahnya ‘kan? Sudah marak di berita tv yang mengatakan kalau penghipnotis saat ini berpenampilan menarik agar tidak mencurigakan. Tidak! Ia tidak bisa memasukkan wanita asing ini ke rumahnya.
Di dalam hatinya, diam-diam Titin menutup matanya dan mulai merapalkan doa-doa yang ia hapal agar terhindar dari tidak sadarkan diri. Tapi gerakan mulutnya yang seperti membaca mantra tertangkap indra penglihatan Winda.
Wajah Winda membeku. Dimatanya, wanita di depannya ini terlihat bodoh. Mau tidak mau, ia kehilangan keanggunannya juga. “Saya mamanya Gibran.”
Saat mendengar nama Gibran, Titin membuka mata. Tak banyak nama Gibran yang ia kenal. Itu … ada hubungannya lagi dengan Arini ‘kan?
“Saya sudah memutuskan segala hubungan dengan Arini. Jangan sangkut pautkan apa pun lagi segala tentang dia.” Titin meraung. Dalam satu minggu terakhir, wanita di depannya ini adalah orang kedua yang mencari Arini. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi tentangnya.
Diam-diam, Winda menyunggingkan sedikit senyuman di wajahnya. Ia kemudian mengambil undangan yang sudah ia persiapkan, dan memberikannya kepada Titin. “Saya tidak tahu masalah apa yang membuat hubungan ibu dan anak menjadi renggang. Sebenarnya, Arini tidak ingin mengundang keluarganya di pesta pernikahannya. Sayang sekali. Tapi saya sebagai sama-sama wanita merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin keluarga tidak datang di acara sekali seumur hidup. Jadi, di belakangnya, saya meyakinkan diri untuk mengundang ibu. Walaupun Arini mungkin tidak akan senang melihat ibu, tapi ibu masih bisa diam-diam berdiri di pojok venue dan melihat Arini melepas masa lajangnya.”
Mendengar itu, Titin tersulut amarah. Apa-apaan Arini ini. Apa dia merasa jijik dengannya hingga tidak ingin melihatnya? Dan apa maksudnya ia berdiri di pojok venue untuk diam-diam melihatnya. Itu sungguh memalukan bagaimanapun Titin memikirkannya.
“Tidak perlu! Saya tidak akan datang!” ucap Titin tegas.
Winda masih tersenyum palsu di depan calon besannya itu. “Ibu tidak perlu terburu-buru memutuskannya. Penikahan mereka masih beberapa hari lagi. Lagipula … ini pernikahan pertama di keluarga kami. Gibran adalah anak sulung kami. Dia calon pewaris perusahaan dan aset keluarga. Akan sangat tidak nyaman kalau pihak besan tidak ada yang datang.”
Apa yang ingin Winda sampaikan adalah, betapa kayanya calon menantu Titin. Akan sangat rugi kalau ia tidak mengambil bagian. Dan sepertinya, ucapannya cukup berpengaruh. Wajah Titin perlahan berubah. Ia menatap Winda tanpa kata.
Melihat ucapannya direspon, Winda terus berkata. “Gibran adalah anak kesayangan kami. Sejak kecil, kami selalu memanjakannya. Apapun yang dia inginkan, selalu kami penuhi. Termasuk saat dia datang ke rumah dan memperkenalkan Arini. Saya senang, pada akhirnya Gibran menemukan tambatan hatinya. Kami akan memperlakukan Arini dan keluarganya dengan baik di masa depan. Tentu saja karena kita adalah keluarga.”
Wajah Titin berubah. Dari mendengarnya saja, ia mencium kekayaan dari wanita di depannya. Dan mengingat uang yang diberikan padanya sebagai ganti rugi melepaskan Arini, ia merasa itu tidak ada apa-apanya. Itu … terlalu sedikit bukan?
“Ibu mungkin memerlukan waktu untuk berpikir. Sebaiknya, ambil saja dulu undangan ini sebagai tanda ketulusan saya. Untuk keputusan ibu akan datang atau tidak, itu bisa dipikirkan nanti.” Winda mendorong undangan itu ke tangan Titin. Kali ini, Titin tidak menolaknya.
Winda kembali tersenyum, kemudian berkata, “kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Walaupun hubungan Ibu dan Arini renggang, saya harap, ibu bisa datang untuk turut memberikan restu di pernikahan Arini dan Gibran.”
Usai mengatakan itu, Winda berbalik, dan berjalan ke arah mobilnya terparkir. Semakin jauh ia melangkah, semakin surut senyumannya. Wanita itu … tidak akan menyianyiakan menantu kayanya ‘kan? Ia pasti datang. Ia tidak akan tahan melihat kebahagiaan anak yang sangat dibencinya. Saat itu, tinggal membuat sedikit percikan api, maka wanita bodoh itu akan menambahkan bahan bakarnya. Winda cukup optimis dengan rencananya kali ini.
Sementara itu, Titin masih mematung di tempat yang sama sambil memandangi undangan di tangannya. Dilihat dari bahan dan designnya, jelas undangan itu terbuat dari material mahal dan dibuat dengan hati-hati. Titin perlahan membukanya, membaca deretan tulisan yang ada disana. Nama Arini Puspita Kemal disandingkan dengan nama Gibran Arsenio Wijaya.
Di bawah nama Gibran, ada nama orang tuanya. Sementara di bawah nama Arini, hanya ada nama ayahnya yang telah meninggal. Ini sedikit menjadi pukulan di hati Titin. Ada sejenis perasaan tidak nyaman di hatinya. Tapi pada detik berikutnya ….
“Hah! Peduli apa! Sudah bagus dia pergi dari hidupku. Apa yang harus di sesali. Sebentar lagi, aku hanya akan pensiun sambil mengurus cucu. Urusan rumah akan diatur menantu. Penghasilan dijamin anakku. Aku tidak perlu memikirkan lagi hal-hal yang tidak perlu!” Titin bergumam. Setelahnya, ia masuk ke dalam rumah dan melempar asal undangan itu di atas meja makan.