Detektif Imut - Serum Rejuvenasi - Bab 18

Penulis Yuan_bee
28 September 2025

Akan tetapi, saat mereka baru keluar dari halaman sekolah, ada sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Hampir saja ia tertabrak kalau saja ia tak segera berpindah. Ingin rasanya ia mengumpat kepada pengemudi tersebut, karena seperti dilakukan dengan sengaja. Namun, saat dia melihat mobil tadi dengan jelas, ia tak jadi mengumpat, tapi segera melangkah menuju ke kursi pengemudi.

Romy yang tak terima karena dirinya hampir tertabrak pun selangkah lebih dulu sampai di pintu pengemudi. Lalu mengetoknya.

“Woy! Kalau jalan pakai mata dong! Kau hampir saja menabrak aku!”

Kaca mobil pun terbuka perlahan, terlihat seseorang di kursi, seorang pria tua dengan jas putih dan berambut botak di depannya.

“Professor. Kau rupanya! Bisa-bisanya kau sengaja akan nabrak!”

Profesor Agus mengangkat kedua tangannya. “Maaf ... maaf, aku baru saja melakukan uji coba rem menggunakan pneumatik di mobil ini, tapi belum sempurna dan hampir saja mbablas, hehehe.”

“Oh, jadi begitu. Tapi kenapa kau tak mencoba di tanah lapang biar aman!” hasut Romy.

“Tadinya mau ke sana, tapi rem blong terlebih dahulu.”

“Lain kali lebih hati-hati, Prof,” sahut Dinda.

“Eh, Pak Detektif, izinkan aku membawa bocah imut ini untuk sebentar saja!” pinta Profesor Agus sambil melihat ke arah Dinda.

“Boleh saja, memangnya mau buat apa?”

“Aku ingin dia membantu eksperimenku di laboratorium,” ucap Profesor Agus.

‘Dasar! Mana mungkin bocah yang masih ingusan itu bisa membantu eksperimennya? Yang ada justru mengganggu saja,‘ gumam Romy.

“Enggak apa-apa, tapi kau harus pulang sebelum malam hari! “ suruh Romy.

“Baik, Paman.“ Dinda pun masuk ke dalam mobil.

“Profesor? Apa enggak bahaya dengan remnya?”

“Aman, tenang saja. Tadi aku cuma ... buru-buru, hehe.”

“Jangan sampai nabrak orang lho!”

“Tenang.”

Mobil pun mulai berjalan meninggalkan Romy di sana.

Setelah mereka menjauh, Romy mulai berpikir lagi, siapa yang menulis di secarik kertas itu? Sejauh ini, dia sangat terbantu oleh secarik kertas tersebut dan ingin tahu, siapa yang menyelipkannya. Dugaan sementara, Dinda yang kemungkinan diam-diam meletakkan di sakunya, tapi itu hanya dugaan Romy saja, karena mana mungkin anak SD tulisannya bagus dan rapi seperti itu.

“Baik, aku akan memperhatikan dengan saksama saat bocah itu menulis,“ ucap Romy bermonolog.

Di tempat lain, Dinda dan Agus sudah sampai di laboratorium tersembunyi. Namun, letaknya tak begitu jauh dari pemukiman. Meski berjarak hanya beberapa meter, tapi tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya. Profesor Agus membuka pintu hanya menggunakan remot saja. Dinda yang melihat hal itu pun tertegun dan memuji kegeniusannya.

“Wow! Rupanya hanya dengan remot saja membukanya.“

“Iya, lebih lebih praktis kan?“

Setelah mobil itu masuk, gerbang itu ditutup kembali menggunakan remot.

“Ngomong-ngomong, Paman Agus memanggilku ada apa? Apa sudah menemukan penangkal serum di tubuhku ini?“

“Sayangnya, aku belum menemukannya. Rumus kimianya sangat susah untuk dimengerti dan disalin. Hanya saja, aku ingin memberikanmu arloji serba guna yang bisa kau gunakan,“ kata Profesor Agus sambil memperlihatkannya, lalu mengenakannya di pergelangan tangan kiri Dinda.

“Arloji apa, Paman? Sepertinya canggih sekali. Apakah bisa untuk membius seseorang?“ tanya Dinda.

“Fungsinya bukan seperti itu. Itu kan seperti serial anime yang kamu tonton. Kalau fungsinya sama, ntar dikira njiplak anime itu kan jadi berabe, “ sangkal Profesor Agus.

“Benar juga, ya. Kasihan penulis cerita ini yang kemungkinan akan terkena banned akibat plagiat.“

“Betul, Irwan. Jam itu hampir sama dengan smartwatch. Kamu bisa gunakan untuk bisa berkomunikasi dengan seseorang, termasuk aku. Lalu bisa mendeteksi keadaan tubuhmu.“

“Bagus juga ya, Paman. Terima kasih loh ini, udah dibuatin alat secanggih ini.“

“Iya, sama-sama.”

“Paman, izinkan aku menginap di sini untuk semalam, ya?“

“Lho, nanti kamu dicari sama Pak Detektif kalau tidak segera pulang ke sana.”

“Tidak mungkin dia khawatir, kan aku bisa menghubunginya lewat arloji ini.“

“Oh, benar juga. Apa kau hafal nomor teleponnya?“

“Tenang saja, Paman. Aku hafal,“ ucap Dinda sambil mengetik nomor di arloji itu. Setelah itu, dia pencet menghubungi nomor telepon yang tadi dia ketik.

“Lho, Paman. Kok tidak bisa menghubungi? Jaringan tidak terdeteksi di tulisannya.“

“Kok bisa ya, coba aku lihat sebentar,“ ucap Profesor Agus sambil memeriksa arloji itu.

“Pantas aja belum terkoneksi dengan jaringan, kartu SIM-nya belum terpasang,“ ujar Profesor Agus baru menyadari hal itu.

“Paman memang sudah tua, makanya sudah menjadi orang yang pelupa.“

“Sini, aku pasangin kartu SIM-nya, biar bisa untuk menghubungi seseorang,” suruh Profesor Agus, Dinda pun melepaskan arloji itu.

Profesor Agus memulai melakukannya dengan menggunakan solder untuk merekatkan komponen elektronik.

“Rupanya kartu SIM itu berbeda dengan kartu pada umumnya, ya?”

“Benar, kartu SIM ini aktif selamanya, dan kau tak perlu membeli pulsa atau kuota, akan tetap terhubung, asalkan masih mendapatkan sinyal yang cukup. “

“Keren sekali, Paman. Aku kagum ...,” kata Dinda belum selesai, tiba-tiba timbul bunyi ledakan kecil, diikuti oleh asap yang mengepul.

“Maaf, ada kesalahan sedikit,” ucap Profesor Agus sambil tersenyum malu.

“Baru saja mau aku puji, malahan meletus duluan.”

“Maka dari itu, semua penemuanku belumlah sempurna. Namun, jangan khawatir, aku masih punya satu di dalam,” ucap Profesor Agus sambil berjalan ke arah lemari, lalu mengambil sesuatu, rupanya arloji yang sama persis dengan yang baru saja rusak.

“Belum sempurna apanya? Palingan Paman aja yang kurang cerdas, hehehe,” ledek Dinda.

“Woy! Kepalaku udah botak kaya gini, kok belum dikira cerdas sih?”

“Mungkin Paman masih dalam tahap amatir, ya kan.”

“Namanya aja eksperimen. Kita tidak hanya buat satu barang saja. Kita harus buat sekitar dua atau tiga sampel dengan komposisi yang sedikit berbeda untuk patokan, mana yang akan berhasil. Setiap sampel pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga, aku cari kelebihannya saja dan menghilangkan kekurangannya.”

“Wah, rupanya begitu caranya. Paman memang cerdas,” puji Dinda.

“Nah, gitu dong, hehehe,” ucap Profesor Agus sambil menyerahkan kembali jam tangan itu kepada Dinda.

“Wah, ini lebih keren, Paman,” puji Dinda sambil melihat-lihat arloji barunya.

“Coba kamu gunakan untuk menelpon!”

“Baik, Paman.”

Dinda mengetik nomor telepon tujuan. Nomor telepon rumah Detektif Romy lah yang dia tuju. Telepon pun tersambung, menimbulkan suara khas dengan satu nada yang panjang.

“Halo, Detektif Romy di sini,” jawab orang dari balik telepon.

“Paman, ini aku, Dinda.”

“Rupanya kau, Bocah. Ada apa kok menelepon?”

“Aku izin bermalam di rumah Profesor Agus, ya Paman!”

“Tapi kan, besok kamu sekolah?”

“Besok libur, Paman. Tanggal merah. Maka dari itu, aku ingin sesekali menginap di sini.”

“Terserah kamu saja, asalkan kau harus kembali besok!”

“Baik, Paman. Tentu aku akan kembali.”

Telepon pun ditutup oleh Dinda. Dia merasa, meskipun terkadang Romy galak padanya, tapi dia juga ada rasa khawatir saat Dinda ngelayap. Mungkin saja, Romy menganggapnya pembawa keberuntungan, karena setiap ada Dinda di sana, kasus sulit dapat dipecahkan.

“Irwan? Ada yang ingin aku jelaskan padamu. Aku barusan mendapat informasi penting.”

“Apa itu, Paman?”

“Rejuvenasi ....”