His Contract Bride - Gala Pertama di Mirador Heights - Bab 7

Penulis Rei_Moira
08 September 2025

Seharusnya, Aurora memang sudah sepatutnya untuk curiga dengan ajakan makan malam Kael yang tiba-tiba. Tak hanya sekadar makan malam, tapi pria itu telah menyulap Aurora menjadi sosok nyonya besar Vireaux dengan semua hal yang kini melekat di tubuhnya.

Gaun satin hitam yang membentuk lekuk tubuh Aurora, tapi dengan potongan model yang membuatnya terlihat sangat elegan. Rambutnya pun telah ditata oleh pemilik salon—disanggul rendah dengan aksen kepang dan beberapa helaian rambut dibiarkan jatuh di sisi wajah.

Makeup-nya pun dibuat secantik mungkin—fokus di bagian mata dan bibir, memberi kesan bold-glam yang memberi kesan tegas dan misterius. Tak hanya itu, Kael bahkan telah menyiapkan heels stiletto hitam dengan detail kristal di ujungnya.

Ini bukan hanya makan malam, tapi Kael mengajak Aurora ke sebuah acara gala amal besar.

“Seharusnya kau bisa memberitahuku pagi tadi, atau siang, atau sore juga tidak masalah biar aku bisa siap-siap!” dengus Aurora, begitu ia selesai dengan make over total yang diberikan oleh sang pemilik salon—rekomendasi Luther pagi tadi.

“Aku lupa.” Jawaban singkat dari Kael terlontar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Aurora kehabisan kata-kata. Lupa? Hah! Mana mungkin pria itu lupa dengan acara penting seperti ini. Ia yakin Kael sengaja mengerjainya malam ini.

Kael selesai dengan urusannya. Ia menengadah, menatap Aurora dengan polesan elegan yang membuatnya terlihat luar biasa. Sesaat ia hampir terseret pada pesona wanita itu, beruntung detik selanjutnya tersadar karena decakan kesal dari Aurora.

“Yang benar saja!”

Tanpa memperpanjang perdebatan, Aurora melewati Kael dengan dengusan pelan. Ia bukan tipe orang yang suka dengan rencana dadakan, apalagi dalam situasi seperti ini. Sementara Kael tak tampak merasa bersalah sama sekali.

Saking kesalnya, Aurora bahkan menolak uluran tangan Kael saat akan masuk ke dalam mobil. Wanita itu hanya melirik tajam, lalu masuk sendiri dengan perlahan—takut merusak mahakarya yang telah dipaksakan padanya.

Meskipun kesal, tapi ia menyukai hasilnya.

Mirador Heights—tempat yang akan mereka tuju—adalah sebuah gedung pencakar langit mewah dengan ballroom di rooftop. Dinding kaca yang mengelilingi ruangan menyajikan pemandangan malam dari kota Vallmont—ibu kota negara Norvalen—negara kecil di Eropa yang hampir tidak pernah tidur.

Jika Vallmont adalah kota yang seakan tak pernah tertidur dengan gemerlap kemewahan dan aktivitasnya, berbeda dengan kota kecil bernama Ravelle dan sebuah desa bernama Ednoar yang memiliki vibes berbeda. Tak ada gedung pencakar langit di sana, hanya bangunan lama terawat yang memberi kesan vintage.

Dan Aurora, kini akan menuju ke gedung pencakar langit tertinggi di Vallmont, dengan segala gemerlap kemewahannya yang hanya mampu didatangi oleh para jajaran aristokrat.

“Ingat, Rora. Jangan banyak bicara dan selalu di sampingku,” bisik Kael, dengan nada perintah yang jelas di cara bicara datarnya.

Ya.. ya… apalagi yang Aurora bisa lakukan selain menuruti ucapan pria itu? Kini posisinya masih belum aman. Ia masih takut sewaktu-waktu akan ditendang dari penthouse karena siapa dirinya yang sebenarnya.

Tidak, itu tidak boleh terjadi. Setidaknya, sampai Aurora bisa berhasil berdiri di kakinya sendiri. Well… you know, seseorang baru bisa dikatakan berdiri di kakinya sendiri ketika memiliki penghasilan sendiri. Dan Aurora, belum berada di titik itu.

“Tenang saja, aku tidak akan mengacaukannya walaupun kau mengajakku secara dadakan.” Meski begitu, Aurora tidak bisa menyembunyikan nada sinisnya.

Langkah mereka terayun, dengan ritme yang serupa ketika keluar dari lift. Petugas yang menjaga pintu utama masuk ballroom mengenali sosok Kael—tentu saja. Tanpa banyak bicara, ia membukakan pintu megah itu, dan segera memperlihatkan keriuhan kelas atas dengan atmosfer penuh aroma uang dan kekuasaan.

Aurora mengeluarkan tawa sinis samar di sela seringai yang tersungging di satu sudut bibirnya. Acara gala amal besar adalah satu acara yang selalu menjadi ajang pamer kekayaan. Semua orang berlomba-lomba untuk memberikan nominal terbesar. Bukan karena rasa empati tinggi, tapi karena mereka tidak ingin terlihat rendah di mata para pengusaha dan old money lainnya.

“Sembunyikan wajah sinismu itu, Rora.” Kael menyadarinya dengan cepat.

“Aku selalu penasaran kenapa dad melarangku ikut ke acara seperti ini. Aura bersaingnya ketat sekali,” bisik Rora, sedikit menarik lengan Kael agar ia bisa menjangkau telinga pria itu.

“Dan karena itulah aku tidak pernah bertemu denganmu di acara seperti ini.”

“Kau sering datang?”

Kael menoleh, seringai tipis menyebalkan itu terlihat lagi. “Tentu saja.”

Live musik bernuansa jazz terus mengalun, memberikan sentuhan suasana lembut di tengah bisikan tajam. Seorang waitress melintas, menawarkan segelas champagne pada Aurora dan Kael.

“Thank you,” ucap Aurora, setelah mengambil satu gelas di atas nampan. Buih lembut champagne menandakan jika minuman itu diproduksi dengan kualitas tinggi.

“Oh, my goodness,” ucap lembut seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka. “Kael Vireaux! Lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Kau merindukanku?”

Seorang wanita cantik, dengan gaun terbuka sampai hampir menumpahkan bagian dadanya telah meraih lengan Kael dan merangkulnya agresif. Aurora mendelik, bukan karena cemburu, tapi karena ia takut kalau-kalau Kael akan marah besar.

Namun, Aurora hanya takut berlebihan saja.

“Celeste, kau tahu bahwa sikapmu sekarang ini terlarang, kan? Hubungan kita telah selesai.” Kael menanggapinya dengan nada lembut, bahkan lebih lembut dari saat berbicara dengan Aurora.

Aurora mengerutkan keningnya. Siapa wanita itu?

“Come on, Kael. Kau tidak boleh bersikap begitu dengan mantan tunanganmu. Biar bagaimanapun juga, kita pernah mengukir sejarah indah bersama, kan?” Celeste lebih mendekat, berbisik di telinga Kael—jika itu bisa disebut berbisik—sedikit lantang, sengaja agar Aurora bisa mendengarnya. “Aku masih mengingat semua sentuhanmu.”

What??

Aurora menatap Celeste. Dalam sekali percobaan, ia bisa menilai jika wanita itu adalah tipe manipulatif yang penuh dengan racun. Sangat agresif, dan… murahan.

Wait...

Mantan tunangan? Aurora kini menatap Kael tak percaya. Seorang Kael Vireaux yang memiliki harga diri dan keangkuhan seluas semesta ini, bisa bertunangan dengan wanita seperti Celeste?

Wah… sungguh menakjubkan.

“Hentikan, Celeste.” Kael mendorong pelan lengan wanita itu agar menjauh darinya. “Aku tidak akan memberikan keringanan lagi hanya karena kau mantan tunanganku. Aku sudah menikah, dan harusnya kau sadar tentang itu.”

Celeste akhirnya melihat Aurora—akhirnya! Decakan meremehkan terlihat dari wajahnya. Ia bahkan sempat meneliti Aurora dari atas ke bawah.

“Tak ada yang menarik darimu,” ujarnya, sambil tersenyum ramah.

Menyebalkan!

Wanita itu rupanya ingin memulai perang. Dengan berani, Aurora membalas senyuman itu dan menatapnya tajam dengan tangan meraih lengan Kael, kemudian menggelayut manja. “Tak masalah. Yang jelas, saat ini yang menjadi istrinya Kael adalah aku, bukan dirimu.”

Celeste melotot. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia tak terima dibalas seperti itu oleh Aurora. Sementara Kael, menoleh ke arah Aurora dan mengerjap beberapa kali. Pria itu tak menyangka Aurora mampu melawan mantan tunangannya itu dengan tenang. Satu senyuman tersungging di wajahnya, terlihat bangga.

Celeste menyadari ekspresi Kael. Ia semakin kesal, karena mulai menyadari bahwa ada ketertarikan emosional yang ditunjukkan oleh Kael pada Aurora. Rumor yang mengatakan bahwa pernikahan Kael adalah palsu, nyatanya mulai ia ragukan.

“Celeste, perkenalkan. Ini adalah Aurora Vireaux, istriku. Aku harap kau bisa memperlakukannya dengan baik, karena dia adalah segalanya bagiku.”

Aurora menatap Kael sejenak. Ia melihat ekspresi Kael yang mengatakannya tanpa ragu. Celeste mengepalkan tangannya, tapi dengan cepat kembali bersikap ramah yang terpaksa.

“Tentu saja, aku akan bersikap baik padanya. Well, selamat menikmati acara malam ini.”

Celeste pergi, terlihat bersungut-sungut, membuat Aurora merasa menang dalam segala sisi.

Tak hanya itu, Kael memperkenalkan Aurora sebagai istrinya juga pada orang lain yang ia temui—hampir seluruh orang yang ada di sana. Aurora terus tersenyum, menyapa semuanya dengan ramah, bersikap menjadi istri yang baik, sampai ia hampir mempercayai bahwa Kael memang benar-benar suaminya.

Namun, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Setelah acara selesai, ketika mereka sudah berada di dalam mobil untuk pulang, Kael kembali pada sisi Kael yang ia kenal sejak awal. Pria itu menarik diri secara emosional, begitu Luther menutup pintu mobil.

“Terima kasih untuk malam ini, aku tidak akan lupa memberimu bonus. Malam ini juga akan ku-transfer,” ucap Kael tanpa menatap Aurora.

Aurora mengangguk pelan, lalu menghela napas. Pandangannya beralih ke luar jendela mobil. Ia memperhatikan beberapa rintik hujan yang mulai turun, memburamkan matanya.

Tentu saja, memang pada kenyataannya pernikahan mereka hanyalah sebuah bisnis. Apa yang telah ia harapkan?