“Rejuvenasi.”
“Rejuvenasi? Apa itu?”
“Sesuai dengan yang aku baca di KBBI, Rejuvenasi punya sinonim; regenerasi, revitalisasi, pemulihan, pengembalian, peremajaan. Organisasi itu menggunakan cara tersebut untuk menghindari; penuaan, kerusakan sel dan hormon pada tubuh.”
“Oh begitu, pantas saja tubuhku menyusut menjadi anak kecil.”
“Iya, begitulah. Dengan istilah lain adalah proses pemulihan atau pengembalian keadaan tubuh, pikiran atau jiwa ke kondisi yang lebih muda, sehat dan segar. Istilah ini sering digunakan dalam konteks kesehatan dan kecantikan antara lain; perawatan kulit yang fungsinya mengembalikan elastisitas dan kecerahan kulit, lalu pengobatan anti-penuaan dengan cara mengurangi tanda-tanda penuaan dan yang terakhir, yakni terapi hormon untuk mengembalikan keseimbangan hormon. Selain itu, dalam konteks psikologi dan spiritual, yaitu; pengembangan diri, dengan cara meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri, lalu meditasi dan yoga untuk mengurangi stres dan meningkatkan ketenangan, kemudian terapi spiritual yang tujuannya mengembalikan keseimbangan spiritual. Namun, yang terpenting adalah Rejuvenasi itu dalam konteks teknologi dan sains yang membahas tentang; rejuvenasi sel, dengan fungsi untuk mengembalikan fungsi sel tubuh. Lalu, rejuvenasi jaringan untuk mengembalikan kekuatan jaringan tubuh. Terakhir, mereka menggunakan teknologi anti-penuaan dengan cara mengembangkan obat-obatan anti-penuaan.”
“Wah, Paman tahu banyak tentang hal itu.”
“Iya, aku barusan baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Oxford Dictionary, Merriam-Webster Dictionary.”
“Oh, kirain hafal. Ternyata bawa contekan,” ledek Dinda, “tapi tak apa, Paman. Aku jadi tahu, penyebabku bisa mengecil seperti ini. Jadi, apa kita bisa mulai untuk eksperimen membuat penangkalnya?”
“Belum bisa. Aku sudah bilang, kalau aku tidak bisa menemukan rumus kimianya.”
“Jadi?”
“Aku masih butuh waktu yang lama. Kau tenang saja dulu. Palingan ada yang melindungimu, kok.”
“Iya, sih. Tapi aku merasa kesulitan dengan fisik kecil seperti ini.”
“Itu karena kau belum terbiasa menjalani kehidupanmu menjadi anak kecil lagi.”
“Benar juga ya.”
“Iya sudah, sana kau tidur. Aku pun mau tidur, sudah lelah nih,” ucap Profesor Agus sambil menguap, menimbulkan sebuah nada sumbang dengan durasi yang cukup panjang, sambil meluruskan kedua tangannya.
Dinda pun tertidur dengan mimpi yang mengingat masa lalunya, dia kembali mengalami kejadian penyuntikan serum di mimpinya. Sama dengan yang dia alami sebelumnya, dia disuntik serum, lalu setelah sadar, ia berubah jadi anak kecil.
Hanya saja, dia baru saja mengetahui, akibat perubahan pada tubuhnya, dia harus kembali beradaptasi dengan tubuh barunya. Meski dirasa sulit, ia harus bisa dan selalu bertindak sebagai anak perempuan setiap harinya.
**
Pagi harinya, Dinda bangun dan berjalan menuju toilet. Di ruangan laboratorium, ada Profesor Agus yang sudah bangun dari tadi, sedang melakukan eksperimen tentang entah apa itu.
“Hai Rodhif, kau sudah ditelepon oleh Detektif Romy untuk segera pulang.”
“Baik, Paman. Aku akan berkemas dulu.”
Rodhif pun menuju ke lemarinya, mencari pakaian ganti yang ia pakai memakai saat kecil dulu kini ia pakai kembali karena identitasnya adalah anak kelas empat Sekolah Dasar yang bernama, Dinda.
Profesor Agus mengantarkan Dinda menggunakan mobilnya. Seperti biasanya, pintu gerbangnya terbuka melalui remote dan tertutup kembali melalui remote yang dipegang olehnya.
Setelah sampai di depan rumah Detektif Romy, Dinda pun turun dari mobil dan berpamitan dengan Profesor Agus.
Setelah Professor Agus pergi, dia berjalan menuju ke ruangan kantor Detektif Romy. Dia merasakan suatu hal yang berbeda, yakni tempat itu tak biasanya sepi.
“Ke mana semua orang?” tanya Dinda bermonolog sambil melangkah ke pintu kantornya.
‘Apakah ada teroris yang menyerang tempat ini dan menculik semua orang? Aduh, aku harus gimana? Aku tak bisa apa-apa dengan tubuh kecil ini,’ gerutu Dinda dalam hati yang sempat merasa kebingungan. Kini, ia berlari menuju pintu dan suara langkah kakinya terdengar jelas.
Di saat Dinda membuka pintu kantor, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kejutan!” sahut teman-teman sekelasnya. Ternyata, ada Maya, Dani, dan Fadil yang sudah berada di sana. Termasuk Rania yang sudah mempersiapkan segala makanan ringan yang sudah tersaji di meja.
“Dalam rangka apa ini? Kok ramai-ramai?” tanya Dinda heran.
“Tidak ada apa-apa, kita bertiga datang ke sini untuk pembentukan ‘Detektif Cilik’ sesuai apa yang kita sepakati beberapa hari yang lalu,” jawab Maya.
‘Dasar para bocah!’ umpat Dinda dalam hati.
“Kalian itu masih kecil, belum saatnya menjadi seorang detektif. Itu sangatlah berbahaya apabila bertemu penjahat!” cecar Dinda.
“Hei! Kau juga masih kecil, kan?” sangkal Dani.
“Aku ... aku ...,” ucap Dinda bingung akan menjawab apa.
“Memang, kita semua masih kelas empat Sekolah Dasar, tapi apa salahnya membuat grup seperti ini?” imbuh Fadil.
“Aku sudah bilang, kita masih kecil, kita bisa apa?!” sangkal Dinda.
“Kau sendiri mampu membantu Detektif dalam menyelesaikan kasus, hal itu membuat kami bertiga tergugah untuk merekrutmu menjadi anggota kami. Aku yang sebagai ketua, harus mengajakmu ikut bersama kami!” ujar Maya.
‘Anjir! Ketuanya seorang cewek. Masih duduk di bangku Sekolah Dasar, lagi,’ gumam Dinda.
“Gimana, Dinda? Mau bergabung kan?” tanya Dani dengan nada memaksa.
Rupanya, Maya sudah mengepalkan tangannya, bersiap akan memukul Dinda, apabila menolak ajakannya.
‘Woi. Ini namanya pemaksaan,’ pikir Dinda dengan memasang wajah jelek.
“Ya sudah, aku ikut,” kata Dinda dengan menghela napas berat.
“Hore! Berarti aku ketuanya, Dani wakilnya, sedangkan Fadil dan Dinda, kalian berdua seksi keamanan,” jelas Maya.
“Lho, mana bisa?” tolak Dinda.
“Kalian berdua kan cowok, wajib mengamankan kita berdua jika terjadi apa-apa.”
‘Semakin ke sini semakin ke sana. Anak Sekolah Dasar aja udah tau hal itu,’ pikir Dinda.
“Apa boleh buat,” ucap Dinda dengan nada terpaksa.
“Baik, kalau begitu, kita potong kuenya,” ajak Maya.
‘Kaya ulang tahun aja,’ batin Dinda.
“Aku aja yang potong, kalian menikmati jajanan aja,” pinta Rania menawarkan diri.
“Baiklah, Kak.”
“Ngomong-ngomong, kalian semua beli semua makanan ini, dari uang hasil apa?” tanya Dinda.
“Kami sebagai kelompok Detektif Cilik punya uang kas sendiri. Kau pun harus ikut membayar jajanan ini!”
‘Woi, woi,’ pikir Dinda memasang wajah jelek.
Dinda yang saat itu masih mencurigai Fadil pun mengamatinya secara diam-diam. Namun, tingkah lakunya alami seorang bocah SD. Dia hanya bocah yang logikanya sudah cukup matang karena perkembangan otaknya yang signifikan dan sering doyan bocah.
Mengetahui hal tersebut, Dinda pun bernapas lega, dia sudah tak ada lagi yang mengawasinya.
“Woy, Din. Kamu sebenarnya asal kota mana sih?” tanya Fadil.
“Aku ... berasal dari Ibukota Batavia. Iya, Ibukota,” jawabnya.
“Tapi kata kamu, kau masih kerabat dengan cowo tukang baca komik misteri itu?” sela Rania.
‘Aku suka genre aksi, bukan misteri woy,' batin Dinda sambil memasang wajah jelek.
“Em ... aku dan dia masih satu kakek meskipun tinggal berjauhan. Ayah ibuku tinggal di Batavia karena pekerjaan mereka.”
“Berarti kau aslinya punya rumah di daerah sini?” tanya Maya.
“Oh, mungkin saja, tapi aku ga tau di mana, hehe,” ucap Dinda sambil menggaruk kepalanya.
Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan Detektif.
“Mungkin saja ada klien,” ucap Rania berjalan untuk membukakan pintu.
Setelah pintu dibuka, dia pun kaget setelah tahu kalau klien itu adalah ....