Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 37

28 September 2025

Di tempat lain, Arini baru saja selesai menyebarkan undangan pernikahannya di kantor. Tentu saja dibantu oleh calon bridesmaid-nya–Dita.

Hal pertama yang terjadi kepada rekan-rekannya setelah Arini membagikan undangan itu adalah ‘terkejut’.

“Ini … Ini Gibran yang itu ‘kan? Manajer keuangan yang baru-baru ini resign?”

“Dilihat dari nama panjangnya sih, iya.”

Berbagai spekulasi bermunculan setelahnya. Mereka mengatakan, kalau Gibran resign karena peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan suami istri bekerja bersama.

“Pak Gibran sungguh manis. Dia rela resign demi istrinya bisa terus berkarier.”

“Hah … kamu mengatakan itu manis sekarang. Lihatlah ketika tidak ada uang di dompet, apa itu akan terasa manis lagi. Sekarang ini, lowongan kerja untuk pria jauh lebih sulit dari wanita.”

“Dasar iri!”

“Hei! Aku gak iri ya! Lihat saja nanti. Kalau suami tetap menganggur dan mengandalkan penghasilan istri, berapa lama si istri bisa bertahan? Kalau aku sih ya, mending gak nikah daripada menghidupi seorang parasit di rumah!”

“Cih! Itu sih otak kamu aja yang sempit!”

Perdebatan terus terjadi di belakang punggung Arini. Mereka tidak tahu, bahwa si istri yang diceritakan sudah dijadwalkan naik jabatan setelah menyelesaikan cuti menikahnya. Dan si suami yang dikabarkan menganggur sedang meninjau tumpukan dokumen yang harus ia selesaikan sebelum cuti menikah. Hah … mereka sungguh sibuk, sesibuk mulut para penggosip itu.

Begitu kembali ke HAWI, Gibran kembali menduduki posisinya sebagai direktur pemasaran. Dikatakan bahwa ia berada satu tingkat di bawah presiden. Tapi dalam hal jobdesk, pekerjaannya lebih banyak, dan tidak hanya mencakup tentang pemasaran.

Sejak bergabung setelah menyelesaikan S2-nya, Harun perlahan-lahan memberikan tanggungjawabnya kepada Gibran. Siapapun bisa melihat, kalau Harun sudah bersiap untuk menunjuk Gibran sebagai penggantinya. Bahkan sejak tahun pertamanya, Harun sudah mempercayakan Gibran untuk melakukan kesepakatan bisnis dengan klien dari luar negeri.

Hal itu juga yang membuat Winda menjadi panik. Ia terus mendorong Gio muda untuk bisa bersaing dengan kakak tirinya. Ia mengabaikan Gio yang masih suka main-main dan sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Putra bodohnya itu ingin menjadi pembalap.

Di tengah kesibukannya, ponsel Gibran tiba-tiba berbunyi bip satu kali. Bunyinya unik. Sekali mendengar, Gibran tahu kalau itu dari Arini. Jadi, ia menyimpan dokumen di meja, dan membuka pesan itu.

[Ada beberapa undangan tersisa. Saya tidak begitu banyak teman yang akan diundang. Kalau Bapak masih memerlukan undangan, bisa diambil di apartemen.]

Cukup lama Gibran membaca pesan itu. Bukan tidak mengerti artinya, tapi … bukankah kata-kata yang Arini pilih terlalu kontras dengan isi pesan itu sendiri. Gibran merasa tidak ada emosi apa-apa di dalamnya. Hanya tiga kalimat datar seperti yang biasa ia baca saat sekretarisnya mengirim pesan. Formal!

Gibran kemudian menggulir ponselnya ke atas. Selama saling menyimpan nomor, mereka tidak terlalu banyak berkomunikasi. Panggilan telepon pun hanya beberapa. Itu pun hampir semuanya panggilan keluar. Arini tidak pernah berinisiatif meneleponnya kecuali beberapa kali saja. Itu pun urusan pekerjaan.

Intensitas pertemuan mereka juga semakin berkurang setelah ia kembali ke HAWI dan sibuk bekerja. Kalau begini … bagaimana hubungan mereka akan semakin dekat? Jangan sampai mereka terlihat canggung di pesta pernikahan mereka sendiri.

Tepat saat Gibran akan membalas pesan itu. Sebuah telepon masuk. Melihat nomornya, ia langsung mengangkatnya.

“Pak, Ibu datang ke rumah itu dan memberikan undangan pernikahan Anda,” ucap orang di seberang sana.

“Kamu yakin?” tanya Gibran.

“Iya, Pak. Mereka berbicara di depan pagar. Saya mendengarnya.” Kemudian ia menceritakan apa yang ia dengar beberapa waktu lalu.

Tanpa sadar, tangan Gibran terkepal. Wanita itu … sudah bertindak terlalu jauh. Siapapun orang pintar yang mendengar isi pembicaraan itu akan tahu kalau sebenarnya Winda ingin memanas-manasi ibu tiri Arini agar datang dan mengacau di pesta pernikahannya.

“Di mana dia sekarang?” tanya Gibran setelah beberapa saat.

“Ibu sedang berada di restoran, mengambil ruang pribadi. Saya tidak bisa masuk dan melihat dia bertemu dengan siapa,” jawab pria itu.

“Baiklah, terus awasi! Orang yang bersamanya melakukan pertemuan pribadi tidak mungkin selamanya akan terus di sana. Dia pasti akan keluar.”

“Baik.”

Setelahnya, panggilan telepon itu terputus.

Di tempat lain, Arini yang baru saja mengirimi Gibran pesan tampak tidak nyaman. Pasalnya, setelah membacanya, Gibran tak kunjung membalas pesan itu. Mau tidak mau ia berpikir, mungkin apa yang Dita katakan benar. Apa Gibran juga merasa kalau ia tidak serius dengan pernikahan ini, dan tidak mengundang orang-orang di sisinya? Tapi baik dirinya maupun Gibran harusnya tahu betul bagaimana kondisi mereka.

Dita yang melihat Arini sedikit linglung pun akhirnya mendekat sambil menyeret kursinya. “Ada apa?” tanyanya.

“Dia gak bales chat aku.” Tanpa sadar, Arini menunjukkan layar ponselnya kepada Dita.

Hal pertama yang Dita komentari adalah … “kamu nyimpen nomor calon suamimu dengan nama ‘Pak Gibran’?”

Begitu mendengarnya, Arini gegas menarik kembali ponselnya, dan menatap tajam ke arah Dita. “Masalahnya bukan itu ‘kan? Lagian, sejak aku nyimpen nomor Pak Gibran ya begini. Aku belum menggantinya.”

Dita memijat pelipisnya sendiri. “Apa dia gak tantrum. Oke lupakan, coba mana liat isi chat kamu!” Ia menarik ponsel Arini dengan setengah memaksa dan membaca pesan terakhir yang Arini kirim. Statusnya memang sudah dibaca, tapi belum dibalas.

Dita terpaku sejenak. Ia menatap curiga ke arah Arini. “Kamu yakin gak salah kirim, Arini?”

Arini melihat kembali ponselnya. Melihat nomor Gibran, kemudian menoleh ke arah Dita dan menggeleng.

“Kamu dan dia beneran mau nikah?” tanya Dita sewot.

“Kamu udah nerima undangannya ‘kan?” Arini balik bertanya. Ada apa dengan sahabatnya ini. Apakah karena banyaknya pekerjaan, jadi amnesia?

“Coba perhatikan sendiri. Apa begitu caramu berbicara dengan calon suamimu sendiri?” tanya Dita.

Arini membaca kembali pesan yang dikirimnya kepada Gibran. Benar, bukankah itu terlalu formal untuk dikirim kepada calon suami? Ia pernah pacaran. Ia tahu, bagaimana berinteraksi dengan pasangan. Dan melihat isi chatnya dengan Gibran … itu … sedikit tidak normal bukan?

“Lagian kenapa kamu ngembaliin undangan yang udah dikasih ke kamu. Kamu lupa apa yang aku bilang sebelumnya?”

Arini termenung, kemudian berkata, “kamu benar.” Tapi percuma menarik kembali isi pesan itu. Gibran sudah membacanya. Ia kemudian berpikir, dan memutuskan untuk mengirim pesan lagi kepada Gibran.

[Maaf, saya lupa ada beberapa teman yang belum saya undang. Undangannya tidak jadi saya kembalikan ya, Pak]

Gibran yang baru saja akan membalas pesan Arini membaca pesan itu. Mau tidak mau ia menautkan kedua alisnya. Ia baru saja akan menggunakan kesempatan mengambil undangan untuk bertemu Arini, segera mengurungkannya.

Baiklah, mungkin Arini belum mau bertemu denganku. Masih ada waktu di masa depan, batin Gibran.

[Baik] balas Gibran pada akhirnya.

“Lihat, dia langsung membalasnya!” seru Arini. Kali ini, ia tidak menunjukkan layar ponselnya kepada Dita.

Kedua sahabat itu saling pandang, berbicara melalui sorot mata masing-masing. Namun keduanya sepakat tentang satu hal. Benar! Apa yang Dita ucapkan sepenuhnya benar!