Setelah pintu dibuka, dia pun kaget setelah tahu kalau klien itu adalah seorang anak kecil.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rania.
“Aku ingin meminta bantuan kepada Pak Detektif.”
Dinda beserta teman-temannya melirik ke arah klien yang masih bocah tersebut dengan memasang wajah tak jelas. Merasa aneh, curiga dan penasaran tentang kasus apa yang akan dia katakan.
“Siapa nama kamu, dan butuh bantuan apa?”
“Namaku, Fandy. Aku ingin meminta Pak Detektif untuk mencari ayahku yang hilang.”
“Hilang?” sahut mereka semua kaget.
“Tapi, sekarang ayahku tidak ada di rumah, dia sedang menyelesaikan kasus di tempat lain, gimana?”
“Gimana ya, aku tak mungkin meminta bantuan sama detektif lain. Sebab, di tempat ini yang paling dekat. Sehingga, aku tak perlu naik angkutan umum. Jalan kaki pun sudah sampai.”
“Serahkan saja kepada kami, para Detektif Cilik,” sela Maya.
“Hah?! Detektif cilik?” tanya Fandy bingung.
“Iya, kami akan membantumu menyelesaikan kasus,” imbuh Dani.
“Lumayan, dapat kasus pertama,” sambung Fadil.
‘Woi, kalian pikir, ini akan mudah? Kasus penculikan biasanya berbahaya,’ pikir Dinda sambil mengernyit.
“Kalian serius mau memecahkan kasus?” tanya Rania yang meragukan para detektif cilik tersebut.
“Iya, kami serius!” sahut mereka bertiga, kecuali Dinda yang melongo sambil mengerutkan keningnya. Ia menganggap, mereka bertiga masih terlalu lugu dan belum paham dengan risiko menjadi seorang detektif. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau pun salah deduksi pun akan merugikan salah satu pihak, sedangkan pihak yang salah malah dibebaskan. Begitulah yang ada di benak Dinda setelah mendapatkan pengalaman memecahkan kasus nyata.
“Baiklah, Detektif Cilik mulai beraksi, kejadian awalnya gimana?” tanya Maya yang memulai aksinya. Sementara Dinda hanya mengerutkan keningnya. Tak mungkin ia menolak untuk tak menangani kasus tersebut, atau akan kena gampar Maya yang merupakan ketua detektif cilik.
Fandy pun mulai menjelaskan bahwa tadi malam, dia bersama ibunya pulang dari supermarket. Namun, tidak seperti biasanya, Pak Zaky yang merupakan ayah Fandy tak berada di rumah. Kemudian, ibunya menelepon teman Pak Zaky yang saat itu masih di perusahaan, tapi di sana tidak ada keberadaannya, ia mengatakan sudah pulang saat jam pulang kerja. Ibu Fandy merasa curiga dengan jawaban temannya.
Pada akhirnya, mereka berdua nekat menuju perusahaan tempatnya berada untuk membuktikan sendiri, apa temannya itu berbohong atau berkata jujur.
Akan tetapi, hasilnya memang tidak ada Pak Zaky di sana. Lalu, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah.
Tiba-tiba, tanpa diduga, setelah sampai rumah, ada telepon masuk dengan nomor yang disembunyikan. Orang itu meminta tebusan kalau ingin Pak Zaky kembali dengan selamat. Ibu Fandy yang saat itu mendengar telepon itu pun pingsan, hingga sampai saat itu juga, belum sadarkan diri.
Fandy merasa bingung, dan harus meminta bantuan kepada siapa lagi, selain Detektif Romy.
“Apa penculik itu sempat menjadi meninggalkan pesan atau petunjuk?” tanya Dinda.
“Dia sempat meninggalkan pesan lewat secarik kertas, bertuliskan, ‘jangan laporkan ke Polisi, jika ingin ayahmu selamat’. Tulisan yang ada di kertas.”
“Berarti, penculik itu ada maunya dan berniat buruk,” celoteh Fadil.
“Baik, kalau begitu, kita ke rumahmu saja untuk mencari petunjuk lain,” ajak Maya.
Setelah mempersiapkan segalanya, Fandy dan Detektif Cilik berjalan menuju tempat kejadian perkara. Dinda berjalan paling belakang, karena sempat berpikir akan dalam situasi berbahaya jika menangani kasus penculikan tersebut. Namun, setelah dipikir-pikir, ada yang janggal.
‘Mengapa dia mengincar Pak Zaky untuk diculik? Kenapa bukan anaknya yang masih kecil? Hal itu sangatlah menggangguku, karena kasus itu tak seperti biasanya,’ pikir Dinda dalam hati.
Akhirnya, mereka semua pun sampai di rumah Fandy yang rupanya tak jauh. Ibunya masih terbaring di kamarnya karena tak kuasa melihat suaminya hilang.
Sementara itu, Detektif cilik melakukan tugasnya, dengan menggeledah isi kamar untuk mencari barang bukti. Dinda yang baru saja melihat mereka pun sempat kaget, awalnya dia meremehkan, tapi rupanya, mereka bertiga sudah paham dengan tugas detektif dan pekerjaan detektif tanpa harus ia jelaskan terlebih dahulu.
“Hebat juga, mereka tahu dari mana?” gumam Dinda yang suaranya nyaris tak terdengar. Namun, Maya rupanya melihat mulutnya yang bergerak.
“Sial, nomornya disembunyikan, kalau nomor telepon itu ada. Aku bisa meminta bantuan ke Profesor Darius,” gumam Dinda.
“Dinda? Apa yang mau katakan barusan?” tanya Maya.
“Enggak, enggak ada.”
“Ayo cepat, cari petunjuk lain!” ajak Dinda.
“Baik.”
‘Dasar Bocah perempuan! Kau tahu saja aku menyembunyikan sesuatu!’ umpat Dinda dalam hati. Namun, Dinda harus membuang semua pemikiran tadi dan fokus menangani kasus agar segera terselesaikan.
“Apa di rumah ini ada kamera pengawas?” tanya Dinda.
“Ada.”
“Baik, kalau begitu, antar aku menuju ruang kontrol, ya.”
Setelah sampai di sebuah ruangan, Dinda mengotak-atik komputer yang berisikan video rekaman kamera pengawas. Teman-teman yang lain pun bingung, mengapa Dinda mampu melakukan hal tersebut?
“Pelakunya memakai pakaian serba hitam dengan tinggi badan sekitar 170 cm dengan bentuk badan proporsional. Kemungkinan pelaku penculikan adalah seorang pria, bisa dibuktikan saat dia menelepon pertama kali dengan suara pria,” ungkap Dinda, “mereka sempat bertengkar di ruang tamu, lalu pelaku membius Pak Zaky, setelah itu, membawanya menggunakan mobil.”
“Lantas, aku harus bagaimana lagi? Apa Ayahku masih bisa selamat?” tanya Fandy khawatir.
“Tenang saja, dia pasti akan selamat. Kita harus mencari petunjuk lain,” ujar Dinda,” heh, kalian bertiga, coba tanyakan kepada tetangga sekitar, apa mereka melihat gerak-gerik orang yang mencurigakan?”
“Woy, aku yang ketua. Kamu ga boleh memerintah,” sangkal Maya.
“Lakukan saja!” paksa Dinda.
Mereka bertiga pun melakukan tugasnya dengan bertanya ke tetangga sekitar. Sementara itu, Dinda dan Fandy kembali mencari petunjuk yang mungkin masih ada.
Mereka fokuskan di ruang tamu, di mana tempat Pak Zaky dan penjahat itu sempat berkelahi, lalu orang misterius itu membawanya.
Beberapa saat kemudian, ketiga orang temannya kembali, mereka melapor, bahwa tetangganya tidak ada yang melihat orang misterius itu.
“Jadi, satu-satunya petunjuk cuma video dari kamera pengawas,” ungkap Dinda menyimpulkan, “kasus ini bukanlah perampokan, karena semua harta dan barang berharga masih ada.”
‘Lantas, apa dia cuma ingin mendapatkan uang tebusan? Namun, mengapa tidak mengambil uang saja di brangkas, tanpa perlu repot-repot menyandera Pak Zaky,’ pikir Dinda dalam hatinya, ‘apa mungkin, mereka berdua punya dendam pribadi? Mengapa harus menangkap Pak Zaky? Atau jangan-jangan?’
Tidak lama setelah itu, telepon kembali berdering, tapi nomor panggilan itu sengaja disembunyikan.
“Dinda, bagaimana ini? Apa aku harus menerima panggilan ini?”
“Terima saja panggilan itu, yang lain tenang, jangan bicara!” suruhnya.
Fandy menekan tombol menerima panggilan.
“Halo?” panggil Fandy lewat telepon.
“Batas waktumu sampai pukul 12.00. Kalau kau tak segera menyelamatkan Ayahmu, dia akan kubunuh!” Telepon pun segera dimatikan oleh penjahat itu.
‘Apa yang dia inginkan? Mengapa harus memberi batas waktu juga? Apa mungkin penjahat itu sudah mengenal keluarga ini?’
Dinda baru menyadari satu hal, lalu dia mendengus untuk mencium aroma lantai di ruang tamu.
“Dinda, apa yang kamu lakukan?” tanya Maya heran, melihat Dinda mendengus seperti anjing.
“Aku sedang mencari petunjuk.”
Setelah mencium aroma lantai itu, di langsung menelepon Profesor Darius untuk meminta bantuan informasi padanya.
‘Tidak salah lagi, aku tahu tempat Pak Zaky disandera ....’