Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 38

28 September 2025

Winda keluar dari sebuah restoran seorang diri. Ada raut kelelahan di wajahnya. Ia berjalan dengan anggun dan masuk ke mobilnya.

Pria yang ditugaskan mengawasi tidak melihat orang lain keluar. Tapi jelas Winda akan pergi. Ia harus membuat pilihan. Akan tetap di restoran untuk melihat pihak lainnya, atau tetap mengikuti Winda. Ia tidak bisa mengambil keputusan, jadi memutuskan untuk menelepon Gibran.

“Tinggalkan tempat itu!”

Perintah sudah turun, dan pria itu tidak bisa menundanya lagi. Ia hanya berpikir bahwa si pemberi perintah pasti sudah memikirkan dengan hati-hati dan lebih mengutamakan hal yang lebih penting.

Winda melihat satu lagi undangan ada di dalam tasnya. Ia berencana memberikannya kepada sahabatnya–Nindi. Ia sengaja mengantarkannya sendiri karena ingin bertemu dengannya.

Keduanya sudah berkumpul di ruang tamu rumah Nindi. Walaupun rumah itu tidak sebesar rumahnya, tapi tidak bisa dibilang biasa saja. Nindi mempunyai selera yang hampir sama dengannya dalam hal design interior. Mereka bahkan memakai jasa designer yang sama. Jadi, tidak begitu banyak perbedaan furniture yang ada di ruang tamu itu dengan di rumahnya.

“Kamu tidak perlu mengirim undangannya secara langsung. Bukankah kamu bisa mengirim sopirmu saja?” ucap Nindi seraya menyesap teh yang ada di atas meja. “Minumlah, wajahmu terlihat lelah. Ada apa? Apa ada masalah dengan rencana pernikahannya?”

“Belum, tapi segera,” jawab Winda seraya menyesap teh yang baru saja ia ambil di atas meja. “Tehnya enak, seperti ada campuran aroma bunga, buah, madu dan vanila. Apakah baru?” tanyanya kemudian.

“Hemmm,” jawab Nindi, “Mas Adam baru pulang dari China. Rekan bisnisnya memberikan ini sebagai buah tangan. Aku menyukainya saat pertama kali mencobanya. Jadi, aku pikir, karena kita satu selera, kamu akan menyukainya juga,” lanjutnya.

“Selera kamu selalu bagus,” balas Winda seraya menyimpan cangkir teh di atas meja.

Nindi kemudian mengambil undangan di atas meja. Ia membukanya, dan membaca nama yang tertera di dalam undangan itu. “Kamu melakukannya dengan baik.” Kemudian, ia menyimpan kembali undangan itu di atas meja. “Kamu pasti mengeluarkan banyak uang untuk semua ini.”

“Apa yang bisa aku lakukan. Dia anak kesayangan kami,” balas Winda sarkas.

Nindi menyunggingkan senyuman. Orang yang tidak tahu mengira Winda begitu menyayangi anak tirinya. Hanya dirinya yang tahu, apa yang ada di dalam kepala wanita cantik di depannya itu.

Saat ini, Yesi turun dari kamarnya yang ada di lantai dua. Ia sudah berpakaian rapi, seperti hendak pergi. Saat melewati ruang tamu, ia menyapa Nindi dan juga Winda yang masih berbincang.

“Kamu mau ke mana?” tanya Nindi kepada sang putri.

“Ada pameran otomotif di Grand City Convex. Aku nemenin Erik ke sana,” jawab Yesi.

“Sepertinya hubungan kalian sangat baik.” Winda menimpali. Walaupun Yesi batal menjadi menantunya, ia selalu memperlakukan Yesi dengan baik, seperti anaknya sendiri. Jadi ia pikir, tidak ada yang perlu berubah di antara keduanya. Ia akan tetap menyayangi Yesi seperti sebelumnya.

“Iya, Tante. Dia … memang sangat baik,” jawab Yesi.

“Tante harap kamu bahagia,” ucap Winda tulus, “dan ya, kamu bisa mengajaknya ke pernikahan Gibran akhir pekan ini. Walaupun kamu dan Gibran tidak berjodoh, Tante harap kalian masih bisa berteman,” lanjutnya.

“Aku pasti akan mengajaknya.” Tentu saja Yesi ingin pamer. Tak mengapa Gibran pada akhirnya menikah dengan wanita lain. Ia hanya ingin membuktikan, kalau ia bisa mendapatkan pria yang tak kalah keren dan kaya dari Gibran.

Pandangan Yesi tak sengaja melirik undangan di atas meja. Di halaman depan, ia membaca nama calon pengantin. Kemudian tak sengaja ia bergumam, “pada akhirnya, Gibran lebih memilih perawan tua itu. Aku gak bisa apa-apa.”

“Kamu mengenalnya?” tanya Winda.

“Ya … kami sempat bertengkar di pernikahan Intan,” jawab Yesi acuh tak acuh.

“Intan?” ulang Nindi. Ia ingat, Intan adalah anak dari saudara jauhnya. Bisa dibilang, masih sepupu Yesi. Namun hubungan mereka memang kurang akrab, karena Nindi tidak begitu menyukai karakter mereka. Bahkan saat saudara jauhnya itu mengundang ke pernikahan Intan, ia sengaja mencari alasan pergi ke luar negeri agar tidak datang, dan dengan sengaja mendorong Yesi sebagai perwakilan.

“Kenapa kamu bertengkar dengannya?” Winda sangat penasaran. Sepertinya, hari ini ia akan mendapatkan hal besar lagi.

“Ya … siapa yang gak bisa bertengkar dengan orang menyebalkan seperti itu. Dia punya karakter minus!” Yesi membual dengan sangat baik. “Malang sekali Intan harus menjadi adik iparnya.”

Melalui kata-kata Yesi, Winda samar-samar bisa membaca keadaan. Menurut yang dikatakan Yesi, Arini adalah kakak ipar Intan. Jadi … Intan menikahi adik laki-laki Arini? Sungguh tercela. Adik laki-laki yang melangkahi kakak perempuannya untuk menikah. Hal buruk apa yang dibawa Arini ketika lahir. Dan hal buruk itu sebentar lagi akan datang ke rumahnya. Mau tidak mau, Winda memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Gibran sudah memberikan hadiah yang baik kepada ibu tirinya itu.

Tapi … sebuah ide tiba-tiba muncul. Ia menatap Yesi, dan berkata, “Yesi, apa kamu dekat dengan sepupumu yang bernama Intan?” tanyanya.

“Gak terlalu.” Yesi mengingat kembali hari-harinya ketika bertemu dengan Intan. Sepupunya itu adalah juniornya di kampus. Ia tiga tingkat di bawahnya. Sesekali, Yesi memang sering memanfaatkan tenaga Intan agar bisa ia suruh-suruh. Tapi … sikapnya yang terlalu menempel itu … memang sedikit menyebalkan.

Akan tetapi, jika harus dibandingkan, Intan tentu jauh lebih menyenangkan daripada Arini.

“Yesi, kemarin tante membeli sebuah gaun malam yang sangat cantik. Namun saat Tante mencobanya, sepertinya kurang cocok. Akan lebih cantik kalau dipakai oleh gadis yang lebih muda. Apa kamu mau melihatnya? Mungkin saja kamu suka,” ucap Winda tiba-tiba.

Bola mata Yesi berbinar. Calon mertuanya yang tidak jadi itu memang selalu baik padanya. Tapi … “apa ada sesuatu yang Tante ingin aku lakukan?” tanyanya.

Winda tersenyum. Gadis di hadapannya itu memang selalu pintar. “Hanya hal kecil. Kamu … bisa memastikan keluarga Arini datang ke pernikahan Gibran?”

Yesi terdiam. Apakah itu hal yang sulit? Bukankah jika putri mereka menikah, maka keluarganya akan secara otomatis datang menghadiri pesta pernikahan. Atau jangan-jangan … pernikahan ini … keluarga Arini tidak menyetujuinya? Mustahil! Dengan karakter dan latar belakang Arini seharusnya mendapatkan Gibran adalah seperti mendapatkan harta karun bukan?

Melihat kerutan di antara alis Yesi, Winda tersenyum. “Kamu tidak perlu memikirkan banyak hal. Kamu hanya perlu membisikkan beberapa hal kepada Intan. Biarkan dia meneruskannya kepada ibu mertuanya. Sepertinya … ibu mertuanya cukup menghargai Intan.”

Untuk kalimat terakhirnya, Winda hanya menebaknya secara kasar.