Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 39

28 September 2025

Perlakuannya kepada putranya saat itu sangat baik. Ia pikir, walaupun hubungan mertua menantu antara Intan dan ibu tiri Arini tidak baik, setidaknya Intan masih bisa membisikkan beberapa kata kepada suaminya untuk diteruskan kepada ibunya. Itu … bukan tidak mungkin.

“Ah … baiklah,” jawab Yesi pada akhirnya. Untuk alasannya, ia tidak lagi memikirkannya. Toh hadiah gaun malam untuk tugas sederhana itu cukup sepadan.

Winda tersenyum puas. Walaupun anak dari sahabatnya ini terkadang kurang dapat diandalkan. Tapi, Yesi jelas pandai berkata-kata. Ia yakin, Yesi akan menjalankan tugas sederhana ini dengan baik. Yang perlu ia lakukan selanjutnya adalah memastikan sambutan yang hangat untuk besan baiknya.

Intan yang sedang mereka bicarakan sudah melihat undangannya. Saat ia turun ke lantai bawah untuk mencari makanan di meja makan, ia melihat dan membacanya. Namun ia hanya mencibir saat membaca nama Arini. Ia tidak tertarik! Berhubungan dengan wanita itu hanya akan membuat dirinya kesal. Lebih baik mengenyahkannya saja.


Arini mendapatkan cuti satu minggu untuk pernikahannya. Dari mulai H-2, ia sudah bebas tugas. Tidak ada yang bisa ia lakukan di apartemennya. Jadi, ia hanya menyibukkan diri dengan bersih-bersih saja. Ima sudah tidak pernah datang sejak Arini terakhir kali membahasnya dengan Gibran. Sepertinya pria itu telah memecatnya.

Entah kali ke berapa Arini bolak-balik menarik vacuum cleaner. Ruangan itu sudah bersih tanpa debu. Tapi ia tetap tidak bisa diam. Ia gugup, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pada saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Arini melihat nama si pemanggil sebelum mengangkatnya.

Sebuah suara lembut terdengar di ujung telepon. “Arini, apa kamu sibuk?”

“Saya … hanya sedang membersihkan rumah,” jawab Arini.

“Saya ingin pergi ke spa. Kalau kamu bisa menemani saya, saya akan sangat berterimakasih.”

Hening.

“Kalau kamu tidak bisa ….”

“Bisa!” jawab Arini cepat. “Kirimkan saja alamatnya, saya akan datang ke sana.”

“Baiklah. Sampai jumpa di sana.”

Sambungan telepon pun terputus. Arini mengembuskan napas lega. Entah sejak kapan pastinya ia menjadi lebih akrab dengan Sifa. Mungkin sejak Sifa mengajaknya berteman. Sifa juga beberapa kali mengirimi Arini pesan, menanyakan rekomendasi beberapa barang yang akan dibelinya.

Misalnya, tas mana yang lebih bagus, atau sepatu mana yang lebih bagus. Arini dengan senang hati memberikan rekomendasinya. Entah Sifa memilih barang pilihannya atau tidak.

Jadi, saat Sifa mengajaknya pergi ke spa, ia tidak menolaknya. Mungkin sedikit relaksasi di tempat spa bisa menghilangkan kegugupannya menghadapi pernikahan. Juga … anggap saja ini sebagai perawatan pra pernikahan.

Segera satu jam kemudian, Arini sampai di lokasi. Sifa yang datang lebih dulu menghampiri dan bicara kepada sopir yang mengantar Arini. “Pak, ditinggal aja, nanti biar saya yang antar Arini pulang.”

“Baik,” jawab sang sopir.

Arini yang baru saja turun tidak membantahnya.

Sifa kemudian menarik tangan Arini untuk masuk ke lokasi. Mereka memilih paket relaksasi yang diinginkan. Setelahnya, keduanya dipimpin menuju ke salah satu ruangan yang ada di tempat itu. Ruangan-ruangan itu dibagi menjadi dua baris. Di tengah-tengahnya, ada sungai buatan dengan air yang sangat jernih. Hal itu membuat suasana sangat sejuk, juga memanjakan mata.

“Kamu sering ke sini?” tanya Arini pada wanita yang berjalan di sampingnya.

Sifa mengangguk. “Saya pertama kali ke sini setelah keguguran. Setelah itu, saya beberapa kali mengunjungi tempat ini ketika sedang penat.”

Arini mengangguk dan tidak bertanya lagi.

“Arini, karena kedepannya kita akan berteman, bagaimana kalau kita menggunakan sapaan yang lebih akrab. Sebagaimana kamu berbicara dengan teman-temanmu, kita bisa melakukan hal yang sama antara satu sama lain.” Sifa berkata tepat ketika mereka akan memasuki ruangan.

Arini mengangguk kecil sebagai jawaban.

Sifa sangat gembira. Ia tidak mempunyai banyak teman. Dan selama saling berhubungan dengan Arini akhir-akhir ini, ia merasa keduanya cukup cocok. Arini adalah tipe teman yang sesuai dengan karakternya.

“Selamat datang.” Dua orang therapist sudah menunggu di depan pintu. Mereka menangkupkan kedua telapak tangan seraya sedikit membungkuk. Selanjutnya, mereka yang mempersilakan Arini dan Sifa untuk masuk, menggantikan petugas sebelumnya.

Sifa tersenyum ramah, mengenali keduanya. Ia kemudian berjalan di depan Arini, menaiki tangga menuju ke ruangan.

Begitu masuk, mereka memasukkan ponsel dan tas ke dalam loker yang disediakan. Setelahnya, mereka berganti pakaian dengan pakaian yang disediakan pihak spa, dan bersiap untuk memulai sesi spa sesuai dengan paket yang sudah dipilih sebelumnya.

Dua jam kemudian, Arini dan Sifa keluar dari tempat spa. Keduanya tampak lebih cerah dan rileks dari sebelumnya. Itu bisa dilihat dari senyuman yang mengembang dari keduanya.

“Kamu bisa nyetir?” tanya Sifa.

Arini menggeleng. Dulu ia pernah mencoba. Tapi, belum sempat mahir, banyak hal terjadi. Ia sudah melupakan skill-nya dalam mengemudi.

“Kamu harus belajar. Mungkin suatu saat akan berguna,” ucap Sifa seraya masuk ke dalam mobilnya, dan duduk dibalik kemudi.

Sementara Arini masuk dari sisi lainnya, duduk di samping Sifa.

Belum sempat mobil dinyalakan, samar-samar mereka mendengar dua orang wanita tengah berbincang. Semula mereka akan mengabaikannya, tapi karena dua orang wanita itu membahas pernikahan Arini dan Gibran, mau tidak mau mereka membeku.

Arini menoleh ke arah dua wanita itu. Ia mengenalinya. Yang satu adik ipar yang tidak mengakuinya, dan lainnya mantan tunangan calon suaminya. “Intan dan Yesi,” gumamnya tanpa sadar.

Tak banyak yang bisa mereka dengar. Hanya beberapa kata buruk tentang Arini. Kedua wanita bermulut pedas itu sama-sama setuju untuk menjelekkan Arini.

Arini menunduk, malu kepada Sifa.

“Aku melupakan sesuatu. Aku akan mengambilnya sebentar.” Sifa turun dari mobil tanpa menunggu jawaban Arini.

Sifa berjalan mengikuti dua orang wanita bermulut kotor itu, mengeluarkan ponsel, dan merekam keduanya dari belakang. Ia sengaja menjaga jarak, agar ia tetap bisa mendengar perbincangan mereka, tapi tetap tidak ketahuan.

“Kakak ingin aku dateng ke pesta pernikahan itu?” tanya Intan.

“Ya!” jawab Yesi,

“Tapi kenapa?” tanya Intan lagi.

Yesi tidak tahu jawabannya. Itu adalah perintah dari Winda. Jadi ia hanya berkata, “apa kamu gak pengen bersenang-senang di sana? Akan banyak orang hebat hadir di sana. Suamimu ‘kan mau membangun bisnis, sudah saatnya mencari relasi.”

Oke, sedikit omong kosong boleh ‘kan? Lagipula, menilai dari kemampuan suami Intan, sangat kecil kemungkinan mereka ingin berbicara dengannya. Tapi demi memenangkan kepercayaan Winda, ia akan mengatakan apa pun yang menyenangkan.

“Kakak benar! Kalau gitu, akan minta ibu datang ke sana. Ibu selalu memenuhi keinginanku. Aku lagi hamil cucu laki-lakinya. Dia sangat memanjakanku,” ucap Intan pada akhirnya.

“Pintar!” seru Yesi.