Keduanya terus melangkah hingga sampai di pintu tempat spa. Sifa tidak ingin mengikuti lagi. Jadi ia mematikan video, berbalik, dan kembali ke mobilnya berada.
Sambil berjalan, ia mengirimkan video itu kepada Hansen. Walaupun ia tidak berkata apa-apa, ia yakin, suaminya itu tahu apa yang harus dilakukannya.
Orang yang dikirimi pesan oleh Sifa kebetulan sedang bersama Gibran kini. Mereka bertemu di restoran tempat mereka biasa berkumpul. Bersama dengan Erik tentu saja.
Begitu melihatnya, bola matanya secara otomatis melirik Gibran yang duduk di sampingnya.
“Kenapa?” tanya Gibran yang sudah curiga.
Tanpa menjawabnya, Hansen memberikan ponselnya kepada Gibran. Sebuah video terputar. Dua orang wanita tengah berbincang. Gibran mengenali salah satunya.
Erik yang duduk di sisi lainnya turut mencondongkan tubuhnya untuk melihat video yang Gibran tonton.
“Hei! Apa yang kalian lihat? Apa tutorial malam pertama?” tanya Erik.
Kedua pria lainnya sontak menatap tajam ke arah Erik.
Ditatap seperti itu, Erik sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah semakin mendekati Gibran agar turut melihat video yang ditontonnya.
Beberapa menit berikutnya, hanya ada keheningan di sana. Namun begitu, baik Hansen maupun Erik sama-sama merasakan amarah dari diri Gibran. Tangannya yang memegangi ponsel menegang seketika.
Hansen yang takut ponselnya akan remuk segera mengambil benda pipih itu dari tangan sang sahabat dan membalas pesan Sifa.
[Udah selesai spa nya?]
[Udah. Ini lagi mau jalan cari makan]
[Ya, hati-hati. Aku lagi makan sama Gibran dan Erik]
[Oke]
Setelah mendapatkan balasan dari Sifa, Hansen menyimpan ponselnya di atas meja. Ia kemudian menoleh ke arah Gibran. “Kalau kamu gak pengen keluarga Arini datang, aku bisa mengaturnya untukmu.”
“Aku sudah mengaturnya. Seharusnya mereka tidak berani melakukan apa pun.” Apa yang tidak Gibran katakan adalah, bahwa ibu tiri Arini sudah menandatangani perjanjian. Tapi tiba-tiba Winda datang dan memancing keributan di sana. Gibran juga sangat yakin, peran Yesi di sana karena Winda juga. Hah … wanita itu sungguh bekerja keras.
Berita tentang rencana kehadiran keluarga Arini juga sudah sampai di telinga Winda. Adalah Yesi yang memberikan kabar itu. Sudut mulutnya terangkat. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Pesta pernikahan itu … harus sangat meriah ‘kan? Suamiku tersayang tidak akan bisa melupakannya, batin Winda.
Segera ia mengirimkan pesan kepada Yesi.
[Gaun yang kamu inginkan sudah Tante kemas. Sopir akan mengantarkannya ke rumahmu. Tante juga kirimkan voucher salon untuk kamu perawatan dan nailart.]
Yesi yang menerima pesan itu begitu bahagia. Seperti sebelumnya, Winda selalu royal padanya. Sayang sekali hubungan mereka tidak bisa berlanjut menjadi mertua dan menantu. Kalau tidak …
Jangan menyesal! Erik tidak ada kurangnya dibandingkan Gibran. Dia tampan, baik, dan kaya. Dia akan selalu mengabulkan apa pun yang aku mau, batin Yesi.
Ngomong-ngomong tentang Erik. Seharian ini pria itu belum menghubunginya. Padahal biasanya pria itu begitu lengket, memberi kabar setiap saat. Yesi dengan senang hati mengirim kabar dengan mengirimkan foto selfienya. Erik selalu menyukai itu. Ia bahkan kini cukup yakin, di galeri ponsel Erik, selain foto yang berhubungan tentang otomotif, hanya akan ada foto dirinya.
Berbekal pemikiran itu, Yesi mengambil foto dirinya dari sudut tercantik menurutnya. Tak lupa, ia sedikit menurunkan kerah bajunya agar terlihat lebih menggoda. Setelah dirasa mendapatkan foto yang sempurna, ia mengirimkan foto itu kepada erik dengan caption, [merindukanmu]
Erik saat itu masih berkumpul bersama Gibran dan Hansen. Begitu ponselnya berbunyi, ia mengambilnya dan membukanya. Begitu melihat isinya, ia tidak bisa menahan untuk tidak menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke mulutnya.
Sialan! Wanita ini …, batinnya.
“Kenapa?” tanya Hansen yang melihat wajah Erik memutih, bak dikejar hantu.
Erik melempar ponselnya ke atas meja. Seketika gambar ‘mempesona’ Yesi tertangkap indra penglihatan Hansen dan Gibran. Keduanya berdehem, kemudian memalingkan wajahnya.
“Ada apa denganmu? Bukannya kamu sebelumnya sangat menyukai kecantikan?” tanya Hansen.
“Ya … tapi … aku gak terlalu suka sama wanita yang terlalu vulgar,” jawab Erik acuh tak acuh. Tidak! Sebenarnya Yesi sangat mendekati tipenya. Ia cantik dan seksi. Tapi … Mungkin karena sifat agresifnya, semua kecantikannya terkesan menyebalkan.
Walaupun begitu, Erik tetap membalas pesan itu juga. Setidaknya ia harus menyelesaikan misi dari Gibran.
[Cantik]
[Maaf akhir-akhir ini aku sibuk. Kita akan segera bertemu]
Erik mengirimi dua pesan berturut-turut kepada Yesi. Kemudian pada detik berikutnya, sebuah balasan masuk,
[Akhir pekan ini, aku akan pergi ke pernikahan temanku. Kamu bisa menemaniku?]
[Ah … maaf, sepertinya aku tidak bisa. Aku akan kirimkan hadiah ke rumahmu sebagai permintaan maaf, oke?]
[Sayang sekali. Tapi terimakasih hadiahnya. Aku sangat menghargainya]
Setelah menerima pesan itu, Erik tidak membalasnya lagi. Ia menoleh ke arah Gibran dan berkata, “dia mengajakku pergi bersama ke pernikahan kamu.”
“Dan kamu menolaknya?” tebak Gibran.
“Tentu saja,” balas Erik acuh tak acuh. Setelah pernikahan Gibran diresmikan, ia tidak perlu lagi berhubungan dengan wanita yang hobi melubangi dompet itu.
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa pernikahan sudah ada di depan mata.
Pada malam sebelum pernikahan, seseorang mengirimkan sebuah gaun ke apartemen Gibran yang Arini tempati. Gaunnya sangat cantik setelah jadi. Arini mau tidak mau mengaguminya.
“Besok pagi akan ada tim tata rias datang. Malam ini, Mbak Arini silakan istirahat dengan tenang agar besok fresh,” ucap wanita yang mengantarkan gaun itu.
“Baik, terimakasih,” jawab Arini.
Setelah berpamitan, wanita itu gegas pergi, menyisakan Arini dan gaun cantik di depannya.
Warnanya putih, berlengan panjang, dan rok mengembang di bagian bawah. Setiap detailnya seperti ditaburi berlian yang akan memantulkan cahaya indah saat terkena sorot lampu. Sekali melihat, gaun itu terliat sangat berat. Ada juga kain tile panjang yang dipasang di kepala Arini nantinya. Hanya memikirkannya saja, Arini sudah merasa cantik.
Arini tidak pernah menyangka, takdir akan membawanya sejauh ini. Bulan lalu, ia masih terombang-ambing dalam keputusasaan. Ditinggal kekasih yang sudah menjalani hubungan selama tujuh tahun bukan sesuatu yang mudah. Tapi Gibran datang begitu saja, memberikan harapan baru yang sangat nyata terlihat. Sebuah pernikahan yang tidak mampu Arini mimpikan sebelumnya.
Apa pun alasan pernikahan yang Gibran lontarkan, Arini akan tetap menjadikan itu kenangan di dalam hatinya. Ia hanya harus lebih menjaga hatinya, agar tidak terlarut dalam kebaikan Gibran. Ia tidak boleh serakah. Gibran hanya menginginkan seorang anak. Dan ketika saatnya tiba, ia harus siap pergi.
Memikirkannya, Arini mau tidak mau menjadi susah hati. Akankah ia siap ketika hari itu tiba? Walaupun ia belum pernah merasakan punya anak sebelumnya, tapi … ia sering mendengar berita di televisi tentang seorang ibu yang meninggalkan anaknya. Satu kata untuk wanita seperti itu, jahat!