Revan mendorong pintu rumahnya, disambut oleh sunyi yang menyesakkan. Bukan keheningan malam yang menenangkan, melainkan ketiadaan suara yang biasanya dipenuhi celoteh riang Lyra. Bu Ami, sang pengurus rumah tangga setia, sudah menantinya di ambang pintu. Senyumnya merekah saat menerima tas kerja dari tangan Revan.
"Selamat datang kembali, Pak Revan. Lancar perjalanannya?" sapa Bu Ami, matanya berbinar penuh keramahan.
"Alhamdulillah, Bu. Lancar," jawab Revan, matanya menyapu seisi ruangan, mencari sosok yang paling dirindukannya. "Lyra mana, Bu?"
"Oh, Lyra di taman belakang, Pak. Katanya lagi fokus mengerjakan tugas. Persiapan buat ujian masuk universitas juga kan sebentar lagi," jelas Bu Ami, sambil menunjuk ke arah pintu yang mengarah ke taman belakang.
Hati Revan berdesir mendengar nama Lyra. Seminggu lebih tak melihat gadis itu, rindu yang selama ini dipendamnya kini bergejolak hebat. Tanpa menunggu lebih lama, Revan bergegas menuju taman belakang, tempat Lyra biasa menghabiskan waktunya.
Taman belakang rumah itu memang menjadi oase bagi Lyra. Di bawah naungan rindang pepohonan dan sejuknya hembusan angin, Lyra bisa belajar dengan tenang atau sekadar bersantai menikmati keindahan alam. Gazebo beratap rimbun berdiri kokoh di tengah taman, menjadi tempat berteduh yang nyaman.
Saat Revan tiba di taman belakang, pemandangan yang menyambutnya membuat hatinya menghangat. Di bawah lindungan gazebo, Lyra terlihat serius menekuni buku-buku yang berserakan di atas meja. Wajahnya yang biasanya ceria, kini terlihat fokus dan sedikit tegang. Revan tahu betul, Lyra sedang berusaha keras untuk meraih cita-citanya.
Perlahan, Revan mendekati gazebo. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Lyra. Namun, kerinduannya sudah tak tertahankan lagi. Dengan suara lembut, ia memanggil nama gadis itu.
"Lyra," panggil Revan.
Lyra yang sedang asyik membaca, terkejut mendengar suara Revan. Ia mendongak dan matanya langsung berbinar-binar saat melihat Revan berdiri di hadapannya.
"Ah, Om Revan!" seru Lyra dengan wajah ceria. Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Revan. Tanpa ragu, ia memeluk Revan erat-erat. “Om Revan sudah pulang! Lyra kangen banget sama Om," ucap Lyra, suaranya terdengar begitu tulus.
Revan membalas pelukan Lyra dengan erat. Ia merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang luar biasa. "Om juga kangen banget sama Lyra," bisik Revan di telinga Lyra. "Ayo, kita makan di luar."
"Sekarang?" tanya Lyra, melepas pelukannya dan menatap Revan dengan mata berbinar.
"Ya, Om sudah lapar," jawab Revan sambil tersenyum.
"Lyra ganti baju dulu," ucap Lyra, sedikit merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tidak usah, itu sudah bagus kok. Ayo," kata Revan sambil menggandeng lengan Lyra, tak sabar ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu.
Tak lama kemudian, mereka sudah berada di sebuah rumah makan lesehan favorit Lyra. Rumah makan itu sangat sederhana, namun selalu ramai dikunjungi karena masakannya yang lezat dan harganya yang terjangkau. Pemiliknya bernama Anwar, seorang mualaf keturunan Tionghoa yang ramah dan selalu menyambut pelanggan dengan senyum. Lyra sangat menyukai semua menu makanan di sana dan ia bisa menghabiskan banyak masakan hasil olahan Yosi, istri Anwar yang pandai memasak.
Saat mereka sedang menikmati hidangan, tiba-tiba mata Lyra tertuju pada empat lelaki yang makan di seberang mejanya. Salah satu dari lelaki itu, yang mengenakan kaos warna hitam, adalah lelaki yang hari itu berpapasan dengannya dan Sandy di gerbang sekolah.
"Ah, abang itu.." gumam Lyra, tanpa sadar.
Revan menoleh, mengikuti arah pandang Lyra. "Kamu melihat siapa?" tanya Revan, penasaran. "Kenal dengan mereka?"
Wajah Lyra bersemu merah. "Tidak," jawabnya sambil menggeleng, namun ia kembali mencuri pandang pada lelaki yang sudah mencuri perhatiannya itu.
Revan memandang lelaki itu. Wajahnya memang tampan dan memiliki aura yang menarik. Ia yakin, remaja seusia Lyra pasti akan menyukainya.
"Siapa dia?" tanya Revan, menyelidik.
"Tidak tahu.. Seminggu yang lalu bertemu dia di gerbang sekolah," jawab Lyra, jujur.
"Siswa SMA?" tanya Revan lagi.
"Mungkin alumni, mungkin juga tamu. Tidak tahu. Aku sudah memberanikan diri menyebutkan namaku, tapi dia malah melambaikan tangan saja. Sombong sekali. Tapi jujur, aku jadi penasaran," kata Lyra, sedikit kesal namun juga terlihat tertarik.
Revan mengarahkan pandangannya pada lelaki itu, lalu kembali memandang wajah Lyra yang terlihat berbinar bahagia layaknya remaja yang sedang memandangi pujaan hatinya.
"Kamu suka?" tebak Revan, sambil tersenyum menggoda.
Lyra tersenyum malu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rasa malunya.
"Suka? Mau Om cari tahu siapa dia?" tawar Revan.
"Tidak usah, Om.." jawab Lyra, cepat.
"Kenapa? Om bisa mencari tahu dengan mudah," bujuk Revan.
"Tidak usah, Om. Sudah, aku mau makan," kata Lyra, mengalihkan pembicaraan dan melanjutkan menyantap hidangannya.
Revan kembali menatap wajah lelaki itu. Namun kali ini, ada percikan amarah yang terlihat di mata Revan. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaannya. Ia tidak suka melihat Lyra tertarik pada lelaki lain.
"Akan aku cari tahu siapa orang yang sudah membuat Lyra membagi hatinya padaku!" batin Revan, dengan nada dingin. Ia merasa posesif terhadap Lyra, dan tidak ingin ada orang lain yang merebut perhatian gadis itu darinya.
Setelah makan malam, Revan dan Lyra kembali ke rumah. Di dalam mobil, Lyra terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Ia bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, dan persiapan ujian masuk universitas yang semakin dekat. Revan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan komentar atau saran.
Namun, di balik senyumnya, Revan masih memikirkan tentang lelaki yang dilihat Lyra di rumah makan tadi.
Sesampainya di rumah, Lyra langsung menuju kamarnya untuk melanjutkan belajar. Revan mengantar Lyra sampai depan pintu kamarnya.
"Belajar yang rajin ya," pesan Revan sambil mengusap lembut rambut Lyra.
"Siap, Om!" jawab Lyra sambil tersenyum. "Makasih ya, Om, sudah mengajak Lyra makan malam."
"Sama-sama, Sayang," balas Revan. "Om senang bisa menghabiskan waktu sama Lyra."
Setelah Lyra masuk ke kamarnya, Revan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia menyalakan komputer dan mulai mencari informasi tentang lelaki yang dilihat Lyra di rumah makan tadi. Ia menggunakan semua kemampuannya untuk mencari tahu identitas lelaki itu.
Revan merasa harus bertindak cepat.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Lyra sedang duduk di meja belajarnya. Namun, pikirannya tidak fokus pada buku-buku di hadapannya. Ia masih memikirkan tentang lelaki yang dilihatnya di rumah makan tadi.
Ia tidak tahu siapa namanya, di mana ia tinggal, atau apa pekerjaannya. Yang ia tahu, ia merasa tertarik pada lelaki itu sejak pertama kali bertemu. Ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang membuatnya penasaran dan ingin mengenalnya lebih dekat.
Lyra menghela napas panjang. Ia tahu, ia seharusnya fokus pada ujian masuk universitas yang semakin dekat. Namun, hatinya tidak bisa berbohong. Ia ingin bertemu lagi dengan lelaki itu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
Lyra meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan singkat. Ia mengirim pesan kepada Sandy, sahabatnya.
"San, kamu ingat Abang yang kita lihat di gerbang sekolah waktu itu?" tulis Lyra.
Tidak lama kemudian, Sandy membalas pesannya. "Ingat dong. Kenapa emang?"
"Aku ketemu dia lagi tadi di rumah makan," balas Lyra.
"Serius? Terus gimana?" tanya Sandy, penasaran.
"Ya gitu deh. Bikin aku jadi susah fokus belajar," jawab Lyra, jujur.
Sandy tertawa. "Cieee.. Lyra lagi jatuh cinta nih yeee.." goda Sandy.
Lyra hanya membalas dengan emoji senyum malu. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya ingin berbagi perasaannya dengan sahabatnya.
"Udah deh, fokus aja dulu sama ujian. Kalau emang jodoh, pasti ketemu lagi kok," nasihat Sandy.
"Iya, San. Makasih ya," balas Lyra.
Setelah bertukar pesan dengan Sandy, Lyra mencoba untuk fokus belajar. Namun, bayangan lelaki itu terus menghantuinya. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Lyra tahu, ia harus berhati-hati dengan perasaannya. Ia tidak ingin terlalu berharap. Ia tidak ingin kecewa jika ternyata lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, Lyra berharap bahwa suatu saat nanti, ia bisa bertemu lagi dengan lelaki itu. Ia berharap bahwa suatu saat nanti, ia bisa mengenal lelaki itu lebih dekat. Ia berharap bahwa suatu saat nanti, ia bisa merasakan cinta yang sesungguhnya.