Drama

Api Cemburu

Penulis sanzfy
09 October 2025

Revan memandang selembar foto yang diserahkan Leon padanya. Foto seorang lelaki yang hari itu mencuri pandangan Lyra saat mereka sedang makan hari itu. Rahang Revan mengeras, sorot matanya berubah dingin.

"Arkan Wiratama, usia 18 tahun, Taruna di Akademi Kepolisian Negara tingkat satu. Ayahnya sudah meninggal dunia sejak ia masih kecil. Ibunya, Ivana Dewi, adalah seorang guru di salah satu pesantren terkenal di kota ini. Kakak perempuannya, Arika Widya, adalah guru bahasa Indonesia di SMA NUSA BANGSA," Leon menjelaskan dengan nada datar, memberikan informasi yang telah ia kumpulkan dengan cermat. "Saat ini Arkan sedang libur semester, sehingga ia pulang ke sini, dan mungkin saat itu ia ke sekolah Lyra untuk menjemput kakaknya pulang dari sekolah."

Revan terdiam sejenak, mencerna setiap informasi yang diberikan Leon. "Ok. Kamu boleh pergi," ucapnya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari foto tersebut.

"Siap, Boss.." Leon mengangguk hormat sebelum berbalik dan keluar dari ruangan kerja Revan. Pintu tertutup rapat, menyisakan Revan seorang diri dengan pikirannya yang berkecamuk.

Revan menyimpan foto Arkan Wiratama di laci mejanya. Ia berdiri dari kursi kerjanya yang besar dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya mantap, namun ekspresinya sulit dibaca.

"Dimana Lyra?" tanya Revan pada Bu Ami, asisten rumah tangganya yang setia.

"Di lantai dua, Pak. Sedang belajar di kamarnya," jawab Bu Ami dengan sopan.

Tanpa menunggu lebih lama, Revan segera menaiki tangga menuju lantai dua. Ia ingin melihat Lyra, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Perasaan posesif dan khawatir bercampur aduk dalam hatinya.

Lyra duduk di lantai beralaskan kasur lipat yang biasa ia gunakan untuk belajar. Gadis itu tampak serius membaca buku pelajaran. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela kamar menerangi wajahnya yang polos dan cantik. Revan tertegun sejenak, mengagumi kecantikan Lyra yang semakin hari semakin mempesona.

"Om," sapa Lyra lembut, menyadari kehadiran Revan di kamarnya. Ia tersenyum manis, membuat hati Revan sedikit menghangat.

"Teruskan belajarmu, Om hanya ingin melihatmu," ucap Revan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Matanya tanpa sadar menatap paha Lyra yang tersingkap di balik dress selutut yang ia kenakan. Kulitnya begitu bersih dan halus bagaikan porselen china, menggoda imajinasi Revan. Ia segera mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak terpancing oleh pikiran-pikiran yang tidak seharusnya.

"Kamu akan mengambil kuliah di bidang apa?" tanya Revan, mencoba mengalihkan perhatiannya dan juga perhatian Lyra.

"Hm.." Lyra terlihat berpikir sejenak, mengerutkan keningnya. "Aku masih belum yakin, Om. Banyak sekali pilihan yang menarik," jawabnya.

"Bagaimana jika mengambil bisnis? Biar bisa membantu Om mengelola perusahaan?" tanya Revan, mencoba memberikan saran sekaligus menawarkan masa depan yang cerah bagi Lyra. Ia ingin gadis itu selalu berada di dekatnya, menjadi bagian dari hidupnya.

Lyra menggeleng pelan. "Aku kurang tertarik dengan bisnis, Om," jawabnya dengan nada menyesal.

"Aku ingin mengambil pariwisata," lanjut Lyra, matanya berbinar-binar saat membayangkan dirinya bekerja di industri pariwisata.

"Pariwisata?" Revan mengulang kata itu dengan nada sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Lyra akan memilih bidang yang sama sekali berbeda dari apa yang ia harapkan.

"Iya, Om. Aku suka sekali traveling dan bertemu dengan orang-orang baru. Aku ingin memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia," jelas Lyra dengan semangat.

Revan terdiam sejenak, mencoba memahami keinginan Lyra. Ia sadar bahwa ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Lyra berhak memilih jalan hidupnya sendiri.

"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, Om akan mendukungmu," ucap Revan akhirnya, meskipun dengan berat hati. Ia tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

"Benarkah, Om?" tanya Lyra dengan mata berbinar.

Revan mengangguk. "Tentu saja. Asalkan kamu bahagia, Om juga akan bahagia," jawabnya.

Lyra tersenyum lebar dan memeluk Revan erat. "Terima kasih, Om. Om memang yang terbaik," ucapnya tulus.

Revan membalas pelukan Lyra, merasakan kehangatan dan kelembutan gadis itu.

"Lanjutkan Belajarnya," ucap Revan sambil melepaskan pelukan.

Lyra mengangguk, kembali serius menekuni buku di pangkuannya.

Mata Revan tertuju pada sebuah buku notes. Sepertinya itu berisi catatan rangkuman pelajaran yang ditulis Lyra. Ia meraih buku itu, membuka setiap lembarannya. Tersenyum melihat tulisan Lyra yang begitu rapi. Senyum itu hilang ketika membaca sebuah tulisan yang berbentuk isi hati Lyra.

*"Hari ini aku bertemu dengan abang itu lagi. Ah, aku suka sekali melihat sorot mata di wajahnya yang dingin. Tadi aku mendengar suara tawanya. Sumpah! Tawanya terdengar begitu menawan. Ah, siapa ya namanya? Tuhan, pertemukan aku lagi dengannya.." *

Darah Revan mendidih membaca tulisan yang menggambarkan ketertarikan Lyra pada lawan jenisnya. Cemburu membakar hatinya. Ia merasa dikhianati. Bagaimana bisa Lyra, gadis yang selama ini ia jaga dan lindungi, memiliki perasaan pada orang lain?

"Lyra," panggil Revan, berusaha terdengar lembut meski amarah sudah ada di kepalanya.

"Ya, Om?" jawab Lyra, menatap Revan dengan penuh perhatian.

"Om ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Revan dengan nada serius.

"Tanya apa, Om?" tanya Lyra penasaran.

Revan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Apakah kamu menyukai seseorang?" tanyanya hati-hati.

Lyra terkejut mendengar pertanyaan Revan. Wajahnya memerah dan ia menundukkan kepalanya.

"Kenapa Om bertanya seperti itu?" tanya Lyra dengan suara pelan.

Revan menahan emosinya. Ia tidak ingin membuat Lyra takut. "Kamu ingat pesan Om saat kamu pertama tinggal di sini?" tanyanya dengan nada yang masih berusaha ia kendalikan.

"Tidak boleh membawa teman atau pacar ke rumah ini," jawab Lyra, suaranya semakin pelan.

"Fokuslah ke pelajaran di sekolah! Jangan melihat laki-laki!" suara Revan terdengar datar, namun ada nada ancaman yang tersirat di dalamnya. Ia meletakkan buku catatan Lyra di lantai dengan kasar.

Lyra tersentak mendengar bentakan Revan yang tiba-tiba. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia tidak pernah melihat Revan semarah ini sebelumnya. "Tapi, Om... aku hanya..."

"Tidak ada tapi-tapian! Kamu harus ingat siapa yang sudah menjagamu selama ini! Siapa yang sudah menarikmu dari jalan! Jangan sampai kamu lupa diri!" bentak Revan, amarahnya akhirnya meledak. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya.

Lyra tersentak mendengar bentakan Revan. Air matanya mulai menetes. Ia tidak pernah melihat Revan semarah ini sebelumnya. "Aku tidak lupa, Om. Aku selalu ingat," jawab Lyra dengan suara bergetar.

"Kalau begitu, buktikan! Jangan membuat Om kecewa!" Revan memalingkan wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia tidak ingin melihat Lyra menangis.

"Apa yang harus aku lakukan, Om?" tanya Lyra, air matanya mulai menetes.

Revan terdiam sejenak. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengendalikan perasaan Lyra. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan gadis itu jatuh ke tangan orang lain. Ia harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya.

"Jauhi dia," ucap Revan akhirnya, tanpa menatap Lyra.

"Jauhi siapa, Om?" tanya Lyra bingung.

"Lelaki yang kamu temui di restoran itu. Yang kamu tulis di buku catatanmu ini," jawab Revan tegas, menunjuk buku notes yang tergeletak di lantai. "Namanya Arkan Wiratama."

Lyra terkejut mendengar nama itu. Ia tidak menyangka Revan tahu tentang lelaki yang ia kagumi. "Om tahu darimana?" tanyanya, matanya membulat.

"Itu tidak penting. Yang jelas, Om tidak ingin kamu berhubungan dengannya. Jangan pernah bertemu dengannya lagi," potong Revan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Lyra terdiam, air matanya semakin deras mengalir. Ia tidak percaya bahwa Revan akan memintanya untuk menjauhi orang yang bahkan namanya baru ia ketahui. "Tapi, Om..."

"Tidak ada tapi-tapian! Om tidak ingin mendengar alasan apapun. Kamu harus menuruti perkataan Om," potong Revan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Lyra terdiam, air matanya semakin deras mengalir. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi, ia ingin menuruti permintaan Revan. Ia tidak ingin membuat pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu kecewa. Namun, di sisi lain, ia juga tidak ingin menjauhi Arkan, lelaki yang berhasil mencuri perhatiannya.

"Apa berteman itu tidak boleh, Om," ucap Lyra akhirnya, dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Aku akui, aku suka. Tapi kan belum ada niat untuk hal lain. Om kenapa jadi marah?”

Revan berbalik dan menatap Lyra dengan tatapan marah. "Apa kamu bilang?" tanyanya dengan nada mengancam.

"Aku tidak bisa menjauhi dia. Aku... aku menyukainya, aku penasaran ingin mengenal dia lebih jauh," jawab Lyra, dengan keberanian yang baru ia temukan. Ia tahu bahwa ia akan menghadapi konsekuensi yang berat. Namun, ia tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri.

Revan terdiam mendengar pengakuan Lyra. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu akan berani melawannya. Ia merasa marah, kecewa, dan sakit hati.

"Kamu sudah berani membantah Om sekarang?" tanya Revan dengan suara yang dingin. “Untuk orang yang bahkan mungkin tak melihatmu?”

Lyra menggeleng pelan. "Aku tidak bermaksud membantah Om. Aku hanya ingin jujur," jawabnya.

"Kejujuranmu itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Revan sinis.

"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku," jawab Lyra.

Revan mendekati Lyra dan mencengkeram kedua bahunya dengan kuat. "Kamu harus melupakan dia. Kamu tidak pantas untuknya," ucap Revan dengan nada yang penuh dengan kebencian.

Lyra meringis kesakitan. "Sakit, Om," ucapnya.

Revan melepaskan cengkeramannya. Ia menyadari bahwa ia sudah terlalu kasar pada Lyra. Ia menghela napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri.

"Maafkan Om," ucap Revan dengan nada menyesal.

Lyra tidak menjawab. Ia hanya menatap Revan dengan tatapan yang penuh dengan kekecewaan.

"Om hanya ingin yang terbaik untukmu," lanjut Revan.