Drama

Bayangan Gradasi - Jejak Darah dan Rahasia - Bab 6

Penulis Ichan
08 September 2025

Jejak Darah dan Rahasia

Ledakan itu seakan membelah malam. Suara kaca pecah, alarm berdering dan teriakan para penjaga bercampur jadi satu. Asap menembus ruangan, membuat Hanum terbatuk-batuk. Ia refleks meraih tangan Al, menariknya menjauh dari pintu.

“Cepat, kita harus keluar!” Hanum panik.

Namun, Al menahan tangannya. Meski wajahnya pucat dan tubuhnya masih lemah, sorot matanya tetap tajam. “Kau pikir mudah begitu saja lari dari orang-orang mereka? Tidak, Hanum. Kalau kita kabur tanpa strategi, kau akan jadi sasaran pertama.”

Hanum menatapnya penuh amarah bercampur takut. “Lalu apa? Kita menunggu mati di sini? Kau bahkan nyaris tidak bisa berdiri tanpa tongkat!”

Al justru terkekeh lirih, meski di ujung tawanya terselip rasa sakit. “Seperti biasa, kau terlalu cerewet. Tenanglah, aku punya rencana.”

“Rencana? Kau ini keras kepala atau bodoh?” Hanum membalas dengan nada sinis. “Tubuhmu bahkan setengah mati! Kalau aku punya pistol, aku sendiri yang akan menembak pria berjas abu itu!”

Al menatapnya, separuh kesal separuh kagum. “Itulah yang membuatmu berbahaya. Kau terlalu berani untuk ukuran seseorang yang tidak terbiasa hidup di dunia kotor ini.”

Hanum mendengus, hendak menjawab, tapi suara tembakan dari luar membuatnya tercekat. Pintu ruangan bergetar dihantam sesuatu. Al dengan cepat menarik Hanum ke balik meja besi.

“Dengarkan aku baik-baik, Hanum,” bisiknya. “Mereka bukan hanya mengincar nyawamu. Mereka ingin sesuatu darimu. Selama aku bernapas, aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkannya.”

Hanum menatap Al dari jarak dekat, begitu dekat hingga ia bisa merasakan aroma darah bercampur keringatnya. Ada sesuatu di dada Hanum yang berdesir aneh, di tengah rasa takutnya.

“Kenapa kau selalu bertindak seolah dirimu pahlawan?” bisiknya getir. “Aku tidak minta dilindungi dengan nyawamu.”

Al tersenyum tipis. “Sayangnya, kau tidak bisa memilih. Aku juga tidak.”

Sebelum Hanum sempat membalas, pintu akhirnya terbuka dengan paksa. Tiga pria bersenjata masuk, wajah mereka tertutup masker hitam.

“Cari bocah perempuan itu! Tangkap hidup-hidup!” salah satu berteriak.

Hanum menelan ludah. Al menekan pundaknya agar tetap berjongkok. Lalu, dengan sisa tenaga, ia meraih pisau lipat kecil yang terselip di perban dadanya.

“Al, jangan gila!” Hanum berbisik keras.

“Tutup mulutmu, Hanum. Kalau aku jatuh, setidaknya aku jatuh dengan gaya.”

Hanum hampir ingin menamparnya kalau situasi tidak segenting ini. Ia mendengus kesal, tapi tatapannya berubah cemas ketika Al berdiri tertatih, menghadang ketiga pria itu.

“Dia di sini!” salah satu pria menodongkan senjata.

Hanum terlonjak, refleks berdiri. “Jangan tembak!”

Kesempatan itu dipakai Al untuk melempar pisau ke arah lampu gantung. Lampu pecah, ruangan jadi gelap gulita. Teriakan terdengar bersahut-sahutan. Dalam kegelapan, Al meraih tangan Hanum, menariknya lari menembus pintu belakang ruangan.

Hanum setengah berlari, setengah menyeret Al yang nyaris ambruk. “Bodoh! Kau bisa mati dengan trik konyol seperti itu!”

“Tapi kita masih hidup, bukan?” Al terengah.

Hanum menggertakkan gigi. “Aku benci caramu membuatku hampir mati jantungan!”

“Tapi kau tetap menggenggam tanganku erat. Jangan-jangan kau jatuh cinta padaku?” Al menyeringai meski napasnya tersengal.

Hanum refleks menampar lengannya keras. “Mimpi sajalah, gangster menyebalkan!”

Meski dalam bahaya, mereka tetap seperti Tom dan Jerry yang tak bisa berhenti saling menyindir. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang bergetar lebih dalam dari sekadar perdebatan konyol.


Mereka berhasil keluar ke koridor belakang yang remang. Asap memenuhi udara, membuat Hanum batuk. Suara tembakan terus bergema, tanda anak buah Al berusaha menahan musuh.

Namun, langkah mereka tertahan saat sosok pria berjas abu muncul di ujung koridor, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tatapan matanya menusuk, seperti singa yang baru menemukan mangsanya.

“Ah, akhirnya aku menemukanmu, Hanum,” ucapnya tenang, tapi membuat darah Hanum membeku.

Al maju setengah langkah, tubuhnya goyah, tapi matanya penuh amarah. “Kau tidak akan menyentuhnya selama aku masih berdiri.”

Pria itu menyeringai. “Oh, Al-Faidzin. Selalu sok jadi pelindung. Padahal kau hanyalah bidak kecil di papan caturku.”

Hanum menggertakkan gigi, berdiri di samping Al. “Kalau dia bidak, maka aku benteng dan kau, cuma pecundang dan pengecut!”

Al melirik Hanum, nyaris ingin tertawa. “Astaga, kau ini terlalu nekat.”

Pria berjas abu itu melangkah lebih dekat. “Kau akan segera tahu kenapa aku menginginkanmu, Hanum. Kau adalah kunci terakhir untuk membuka warisan ibumu. Sesuatu yang bahkan ayahmu sembunyikan darimu.”

Hanum menegang. Kata-kata itu menusuk kepalanya. Al langsung meraih tangannya lebih erat, seolah ingin menegaskan: jangan percaya. Namun, sebelum pria itu sempat bergerak lebih jauh, suara sirene dari luar menggema. Lampu merah-biru polisi menyorot dinding. Pria berjas abu mengumpat, lalu mundur beberapa langkah.

“Kita akan bertemu lagi, Hanum. Ingat kata-kataku.” Ia berbalik dan lenyap ke kegelapan sebelum polisi masuk.

Hanum nyaris terjatuh, tubuhnya bergetar. Al merangkul pundaknya. “Jangan dengarkan omong kosongnya.”

“Bagaimana kalau benar?” Hanum berbisik. “Kalau memang ada sesuatu yang kusimpan tanpa aku tahu?”

Al menatapnya dalam-dalam. “Kalau pun ada, aku akan ada di sisimu. Mengerti?”

Hanum tercekat. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan hanya karena ketakutan, tapi karena tatapan Al yang begitu dekat, begitu serius.

Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka menghilang. Hanya ada keduanya, berdiri di tengah asap dan cahaya lampu polisi.


Keesokan harinya, mereka dipindahkan ke tempat persembunyian baru. Hanum duduk di kamar kecil yang hanya diterangi lampu meja. Pikirannya kacau, kata-kata pria berjas abu terus terngiang.

Pintu terbuka. Al masuk, masih lemah, tapi sudah tanpa tongkat. “Kau tidak tidur sejak tadi malam?”

Hanum mendengus. “Bagaimana bisa tidur kalau setiap lima menit aku mendengar ledakan di kepala?”

Al mendekat, lalu duduk di kursi depan Hanum. “Kau tidak bisa membiarkan dia meracuni pikiranmu.”

Hanum menatapnya tajam. “Kau tahu sesuatu, Al. Kau tahu lebih banyak dari yang kau akui. Jangan pikir aku bodoh.”

Al terdiam. Lalu, ia menghela napas panjang. “Baik. Kau benar. Aku tahu lebih banyak. Aku tahu siapa ibumu sebenarnya, aku tahu warisan apa yang dimaksud pria itu. Tapi aku tidak bisa sembarangan memberitahumu.”

“Kenapa?” Hanum menantang. “Karena aku perempuan? Karena kau pikir aku lemah?”

Al menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. “Karena aku takut begitu kau tahu, kau akan semakin membenciku.”

Hanum tercekat. Tidak menyangka jawaban itu. “Apa maksudmu?”

Al tersenyum getir. “Aku ikut andil dalam masa lalu keluargamu, Hanum. Aku bukan orang baik dalam cerita ini, tapi satu hal yang harus kau percaya, aku memilih melindungimu bukan karena rasa bersalah, tapi karena aku.”

Hanum menahan napas.

“Aku tiba-tiba saja memiliki perasaan tidak bisa membiarkanmu hilang dari hidupku,” lanjut Al lirih.

Keheningan menggantung di antara mereka. Hanum ingin membantah, ingin menertawakan pengakuan itu, rapi yang keluar justru air mata, menetes perlahan di pipinya.

“Kenapa kau membuat semuanya jadi rumit?” bisiknya.

Al tersenyum tipis. “Karena kita Tom dan Jerry. Selalu ribut, tapi tidak pernah bisa berpisah.”

Hanum menoleh, menatapnya lama. Lalu, tanpa sadar, ia meraih tangan Al. Mereka diam, hanya saling menggenggam dalam keheningan. Namun, ketenangan itu kembali pecah ketika pintu kamar terbuka mendadak. Salah satu anak buah masuk dengan wajah pucat.

“Bos, kita punya masalah besar. Ada pengkhianat di antara kita.”

Al berdiri kaku. Hanum ikut menegang.

“Siapa?” suara Al serak.

Pria itu menunduk. “Kami masih menyelidikinya, tapi dia sudah memberi lokasi kita pada musuh. Kita tidak punya banyak waktu.”

Hanum menatap Al, wajahnya pucat. “Jadi, kita harus lari lagi?”

Al menatapnya, kali ini lebih serius dari sebelumnya. “Tidak, Hanum. Kali ini kita tidak lari. Kali ini kita melawan.”


Malam itu, mereka berkumpul di ruang tengah. Al duduk di kursi besar, meski tubuhnya masih rapuh. Hanum berdiri di sampingnya, menolak pergi meski disuruh.

“Kita harus menemukan pengkhianat sebelum dia menghancurkan kita dari dalam,” Al berkata lantang.

Hanum menatap semua orang dengan sorot curiga. Namun, di balik tatapan kerasnya, ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi hanya gadis yang takut. Ia mulai menyadari dirinya memang berada di pusaran dunia berbahaya ini dan ia harus bertahan.

Saat rapat berakhir, Hanum dan Al kembali ke kamar. Hanum berdiri di jendela, menatap bulan pucat di langit.

“Aku takut, Al,” bisiknya.

Al menghampiri, berdiri di belakangnya. “Aku juga, tapi kalau kita bersama, mungkin kita bisa melawan rasa takut itu.”

Hanum menoleh, matanya berkaca-kaca. “Kau yakin? Kita bahkan seperti anjing dan kucing. Setiap detik bertengkar.”

Al tersenyum samar. “Justru itu. Kalau kita bisa bertahan dari pertengkaran, kita bisa bertahan dari apa pun.”

Hanum terdiam. Ia ingin menolak, ingin berdebat seperti biasanya, tapi untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya bersandar di dada Al, merasakan detak jantungnya yang masih lemah tapi nyata.

Al memejamkan mata, merangkulnya erat. “Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu, Hanum.” Namun, jauh di luar sana, pria berjas abu berdiri di atap gedung, menatap arah persembunyian mereka dengan senyum tipis.

“Bermainlah sepuasmu, Al dan Hanum. Pada akhirnya, aku yang akan tertawa terakhir.”

Dan sekali lagi, permainan hidup dan mati baru saja dimulai.