"Hapus air matamu nak. Kamu harus kuat demi Merry," pinta nyonya Wijaya.
Operasi usaha menyelamatkan janin yang ada di kandungan Merry sudah selesai dan sekarang Merry sudah dipindah ke ruang perawatan. Rehan tak henti menemani Merry sampai pagi hari karena ia tak tega melihat Merry menderita.
Merry perlahan membuka matanya ia sudah sadar dan melihat Rehan tidur di samping ranjangnya sambil memegang tangannya.
"Rehan bangunlah apa yang terjadi?" tanya Merry.
"Kamu sudah sadar Merry. Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Rehan sambil memeluk Merry.
Merry sangat ketakutan kalau ia kehilangan bayinya mengingat ia terjatuh dari tangga karena sengaja di dorong oleh Santika. Apa yang sebenarnya terjadi kenapa Santika bisa nekat melakukan hal itu.
"Apakah tubuhku baik-baik saja Rehan?" tanya Merry.
"Kamu harus banyak istirahat Dokter telah menyelamatkan bayi kita yang hampir saja meninggal. Merry kenapa kamu tak bilang kalau ternyata kamu hamil," ucap Rehan.
Merry menjawab kalau ia memberitahu Rehan dia hamil. Rehan tidak mau bercerai atau akan mengambil anaknya dan memisahkan dia dengan calon anaknya kelak. Mendengar jawaban Merry Rehan tertawa keras sekali. Tidak mungkin ia akan menceraikan Merry kalau ada ikatan berupa anak.
"Kamu terlalu banyak berpikir istirahatlah aku akan menyuapimu bubur dan minum obat," ucap Rehan.
"Aku tak sabar ingin pulang tapi aku tak mau melihat wanita gila itu," balas Merry.
Rehan mengangguk dan mengerti apa yang diinginkan oleh Merry. Dia akan mengirim Santika ke luar negeri atau membuatnya miskin selamanya dan tidak diterima di rumah produksi manapun saat ini.
Plak! Ctar! Tuan Handoko menampar dan mencambuk Santika berkali-kali karena telah berani hampir membuat cucu pertamanya meninggal. Perempuan jalang mana yang tidak menginginkan harta keluarga Handoko.
"Lepaskan aku tuan Handoko aku tidak bersalah apa yang terjadi dengan Merry murni kecelakaan," ucap Santika yang kesakitan.
"Tak usah berkelit lagi ini adalah video yang tak sengaja terekam kamera wartawan kalau kamu sengaja mencelakai menantu pilihan kami," balas tuan Handoko.
Tuan Handoko meminta seorang Dokter mengecek apakah Santika beneran hamil atau hanya berpura-pura saja. Ia meminta Dokter untuk mengangkat Rahim Santika jika berani berbohong dan membuat kekacauan di media tentang kehamilannya yang merupakan anak dari Rehan.
"Tidak tuan Handoko aku mohon padamu maafkan aku. Aku mengaku bersalah jangan lakukan itu padaku. Ini semua bukan rencanaku sendiri," ucap Santika memohon belas kasihan.
"Siapa lagi yang berkomplotan denganmu?" tanya Tuan Handoko.
Santika mengungkapkan ia berencana untuk memisahkan Rehan dan Merry. Rencananya melibatkan tuan muda dari keluarga Manggala yakni Marcel Manggala. Ia akan membawa Merry yang bersedih untuk kabur ke luar negeri saat ia bersedih karena melihat berita tentang hubungannya terkuak ke publik.
"Tuan aku tidak berbohong padamu. Tuan Rehan sendiri yang membawaku ke rumah ini di hari pernikahannya saat itu." ucap Santika.
"Merry memiliki tuan muda Marcel yang mencintainya. Apakah anda tega memisahkan dua orang yang saling mencintai?" imbuh Santika.
Plak! Tuan Handoko menampar lagi Santika karena berani menghasutnya, "Kamu mencoba menghasutku dengan melibatkan anak dari kolega bisnisku ya, perempuan murahan!" seru tuan Handoko.
"Aku tidak sedang mencoba menghasutmu tuan. Aku benar-benar merencanakan ini dengan tuan Marcel," jawab Santika.
Tuan Handoko mengangguk karena memang tadi Marcel memukul Rehan saat di rumah sakit. Mungkin rasa cintanya begitu besar tapi semua itu tak ada gunanya karena sekarang Merry sedang mengandung keturunan dari keluarga Handoko.
"Kamu harus tetap di sini karena sebentar lagi Dokter akan memeriksamu, aku akan kembali ke rumah sakit memastikan menantuku mendapatkan perawatan terbaik," ucap tuan Handoko.
"Aku mohon lepaskan aku tuan. Aku berjanji tidak akan meminta pertanggung jawaban dari tuan lagi," balas Santika.
Tuan Handoko keluar dari tuang bawah tanah yang mengurung Santika. ia tak mau kalau gadis itu terus mengacau mencemarkan nama baiknya. Santika terus meronta ingin dibebaskan karena karirnya sedang naik saat ini tak mungkin ia meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya tersebut.
"Bagaimana keadaan menantu dan cucuku?" tanya tuan Handoko ketika sampai ruang perawatan.
"Bayi dalam kandungan Merry dapat diselamatkan. Tapi ada kemungkinan cacat. Merry juga sudah sedikit membaik," jawab nyonya Handoko.
Tuan Handoko menghela nafas ia meminta maaf pada tuan dan nyonya Wijaya karena tak bisa menjaga putrinya dengan baik. Bahkan Merry celaka di rumahnya sendiri sungguh tidak adil baginya. Ia akan memberikan konpensasi pada keluarga wijaya atas kejadian ini.
"Tuan Handoko tidak perlu repot seperti itu. Rehan terlihat sangat mencintai Merry kita ini adalah keluarga jangan sungkan seperti itu," balas Nyonya Wijaya.
'Benar tuan. Merry adalah putriku satu-satunya ijinkan dia menginap di rumah kami beberapa saat sampai kondisinya pulih ya," pinta tuan Wijaya.
Tuan Handoko menyanggupinya bagaimanapun namanya orang tua pasti khawatir akan keselamatan putrinya. Namun tidak untuk Rehan ia tidak ingin Merry di rawat oleh orang tuanya. Apa gunanya ia sebagai suami jika hal ini terjadi dia merasa tak becus menjadi suami jika Merry harus di urus oleh orang tuanya.
"Anak tengik jangan kamu terus membuat ulah!" seru tuan Handoko sambil menjewer telinga Rehan.
"Dia istriku aku tidak akan rela jika dia jauh dariiku apalagi dia sedang hamil anakku," ucap Rehan.
"Kalau begitu ijinkan kami tinggal di rumahmu beberapa saat sampai Merry putri kesayangan kami sudah pulih," pinta nyonya Wijaya.
Rehan menyetujui mertuanya tinggal di rumah pribadinya sampai Merry pulih. Merry sudah berangsur membaik Dokter sudah membolehkannya untuk pulang.
"Ibu Mertua aku percayakan padamu kesehatan Merry selama aku bekerja," ucap Rehan.
"Bekerjalah memang tugas seorang suami mencari nafkah untuk anak dan istri. Percayakan saja Merry pada ibu," balas nyonya Wijaya.
Rehan mengangguk dan mengecup kening Merry saat akan berangkat bekerja. Ia melambaikan tangan kepada Merry wajahnya murung seolah tak mau berpisah satu menitpun dengan Merry. Rehan sangat suka sekali dengan Merry walaupun awalnya ia sangat tidak menyukai Merry tapi entah kenapa Rehan kali ini benar-benar tidak ingin kehilangan Merry dan calon keturunannya.
"Rehan, aku ingin bertemu Merry dimana kamu menyembunyikan Merry?" tanya Marcel sekaligus meminta ijin kepada Rehan untuk bisa bertemu dengan Merry, wanita yang sudah bersuami namun Marcel menyukainya.
"Untuk apa kamu ingin menemui istriku. Kamu seorang pria bujang lebih baik mencari seorang wanita yang sepadan juga denganmu," jawab Rehan tersenyum sinis.
Marcel kesal dengan jawaban Rehan bagaimanapun ia sangat khawatir dengan keadaan Merry. Dia masih mencintai Merry dan jika Merry tidak bahagia dan sering tersakiti saat bersama dengan Rehan ia ingin sekali membawanya pergi.