Drama

bab 26 hanya kamu

Penulis regular13
29 September 2025

"AKu ingin tahu apakah dia mencintaimu atau tidak?" tanya Marcel masih tak mau menyerah.

Merry melingkarkan tangannya pada lengan tangan Rehan lalu ia membuat alasan kalau bayi di dalam perutnya ingin di manja oleh sang ayah. Ini sudah jelas sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Marcel bukan. Merry tidak mau ada yang tersakiti tapi saat ini posisinya adalah sebagai nyonya muda dari keluarga Handoko sudah pasti dia akan memilih suaminya.

"Rehan bawa aku pulang, anakku ingin dimanja olehmu," ucap Merry.

"Baiklah ayo kita pulang," ajak Rehan sambil merangkul Merry.

"Tunggu Merry!" seru Marcel yang masih berharap.

"Kamu apakah tidak melihat istriku sedang hamil dan kelelahan jangan buat aku kehilangan kesabaran!" bentak Rehan.

Marcel sangat kesal dengan apa yang diucapkan Rehan ingin sekali ia meninjunya atau menyingkirkan dari hidup Merry selamanya. Pikiran Marcel ingin membunuh Rehan saat ini juga karena dia telah merebut kekasih pujaan hatinya.

"Rehan aku tidak ada urusan denganmu. Biarkan aku berbicara dengan Merry saja!" seru Marcel.

"Apa otakmu sudah rusak, Merry adalah istriku sudah jelas aku harus melindunyinya apalagi saat ini sedang mengandung. Apapun urusan yang dilakukan istriku aku wajib tahu!" balas Rehan dengan tegas.

Marcel masih kekeh hanya ingin berbicara pada Mery seorang karena menurutnya urusannay memang dengan Mery tidak ada sangkut pautnya dengan Rehan. Marcel sangat mencintai Merry sehingga keduanya terlibat adu debat dan Merry menengahi keduanya.

"Marcel apa yang ingin kamu katakan lebih baik katakan saja sekarang!" tegas Merry.

"Aku tidak ingin Ada Rehan, aku hanya ingin berdua denganmu sehari saja," jawab Marcel.

Rehan tentu saja marah dengan kejadian ini. Kenapa bisa ada pria tak tahu malu seperti ini bisa bisanya dia mengatakan cinta dan ingin bersama istri orang dasar manusia tak tahu malu Rehan sudah bersiap menonjok Marcel tapi Merry mencegahnya.

"Rehan jangan bertindak gegabah. Istrimu sedang hamil nanti terjadi apa-apa dengan bayimu saat lalir walau hanya tahayul aku tidak ingin nanti anakku akan lahir cacat," ucap Merry.

"Aku kesal karena ada pria tidak tahu malu di dekatku, mau apa lagi menunggu wanita yang sedang mengandung benih dari pria lain. Apa tidak merugikan waktunya?" tanya Rehan setengah meledek.

"Rehan tolong beri aku kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan istrimu. AKu mohon?!" Marcel berlutut memohon kepada Rehan.

Rehan tentu saja tidak mengijinkan apakah Marcel ini sudah gila seorang pria bujang memohon padanya seorang suami untuk berbicara sebentar saja kepada sang istri. Benar-benar gila Marcel ini sungguh tak bisa di ungkapkan lagi perasaa yang ada di hati Rehan dia tetap kekeh tidak mau mengijinkan Merry berdua saja dengan Marcel.

"Aku tidak akan mengijinkanmu berdua saja dengan istriku apalagi yang ingin kamu bicarakan? Kamu ini berlutut seperti ini apakah tidak malu?" tanya Rehan.

Rehan juga mempertanyakan harga diri seorang lelaki pada Marcel karena sampai berlutut hanya karena ingin bertemu dengan istri orang. Tidak manusiawi sekali lelaki tidak tahu malu Rehan terus mengolok Marcel karena yang dilakukan Marcel adalah tindakan tidak terpuji.

"Rehan aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan tetapi yang jelas aku ingin menumpahkan semua isi hatiku pada Merry sebentar saja Rehan sebelum aku pergi. ijinkan aku untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku pada istrimu!" seru Marcel masih dengan keadaan berlutut.

"Rehan tolong ijinkan saja dia sebentar saja duduk berdua denganku mengatakan apa yang dia mau. Mungkin dengan ini dia akan bisa melepasku menjadi istrimu," pinta Merry.

Dengan pertimbangan yang matang Rehan mengijinkan Merry tapi sekali lagi dia mengingatkan sebentar saja. Untuk berjaga-jaga Rehan mengatakan pada Merry sebentar saja berdua dengan pria yang dulu pernah menjalin kasih dengannya itu mengobrolnya menyelesaikan masalah yang sudah ada.

Rehan juga meminta beberapa pengawal untuk melindungi Merry mereka berjaga di beberapa titik yang tak terlihat.

"Marcel cepat katakan waktuku tidak banyak. Kamu ingin mengatakan apa?" tanya Marry sambil mengelus perutnya.

Marcel kesal sekali melihat apa yang dilakukan oleh Merry mengelus perut yang tertanam benih dari lelaki lain. Marcel masih tak ingin menyerah ia ingin sekali menculik Merry dan menggugurkan bayi yang ada di dalam perutnya. Rehan tidak pantas menanam benih pada perut wanita yang dicintainya.

"Merry aku masih mencintaimu kenapa kamu tidak meninggalkan Rehan dan memulai semuanya denganku?" tanya Marcel.

"Marcel apa yang kita inginkan mungkin tidak sejalan dengan kenyataan aku minta kamu untuk melupakan semua yang telah kita lalu waktu lalu," jawab Merry.

"Sekali lagi aku tidak akan menyerah karena aku masih mencintaimu. Aku akan memberikanmu waktu untuk meyakinkan diri lelaki mana yang seharusnya kamu pilih," ucap Marcel.

Marcel berdiri dan meninggalkan Merry sendirian dia bertemu dengan Rehan dan berhenti sejenak. Ia menatap wajah Rehan yang ia rasa sangat sombong itu. Lelaki yang berada di depannya itu adalah seorang yang paling ia benci.

"Rehan sampai kapanpun aku akan terus menunggu Merry melepasmu. Melapas apapun perasaan yang dia miliki untukmu. Kamu hanya beruntung karena Merry mengandung anakmu lebih dulu," ucap Marcel karena kesal.

"Marcel aku harap kamu tidak akan menjadi gila karena mencintai istri orang," balas Rehan ketus.

Marcel sudah pergi penuh amarah dan kekecewaan dalam hatinya. Rehan menghampiri Merry dan mengajaknya pulang kali ini tidak akan Rehan biarkan semua orang menyakiti Merry.

"Ayo kita pulang sayang," ajak Rehan sambil menggandeng Merry.

"Tidak perlu cemas aku tahu Marcel tidak akan pernah bisa mengambilmu dariku!" seru Merry.

Rehan tersenyum dan merangkul Merry untuk segera pulang ke rumah segala gundah di hatinya rasanya sirna setelah merangkul Merry. Seseorang yang kini menempati hatinya yang dulu kosong.

"Merry tolong jawab jujur pertanyaanu sekarang, siapa lelaki yang ada di hatimu saat ini?" tanya Rehan saat membuka pintu untuk Merry.

Sepertinya Merry sudah pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini sebelumnya dari Rehan. Apakah ini hanya ilusi atau hanya sekedar dejavu saja. Merry sangat senang karena Rehan menanyakan hal yang seperti ini Merry berharap kedepanya Rehan tidak melakukan hal yang aneh lagi seperti membawa seorang gadis simpanan untuk pulang ke dalam rumah.

"Hanya kamu yang ada di hatiku saat ini. Karena kamu adalah ayah dari anakku," jawab Merry.

"Jadi kalau kamu tidak mengandung anakku kamu tidak mau mengakui aku sebagai lelaki yang ada di hatimu?" tanya Rehan lagi.

Merry menggelengkan kepala saat sudah terjadi ijab kabul saat itu Merry sudah melepaskan segalanya dan berjanji akan selalu bersama dengan Rehan. Namun ternyata angan-angan tidak seperti apa pada kenyataannya Rehn pulang membawa gadis penggoda ke rumah dan bercumbu mesra di depannya. AKhirnya Merry mengajukan kontrak pernikahan di antara mereka yang sebentar lagi akan berakhir.

"Bukan seperti itu bahkan kamu sendiri yang membuatku tidak ingin mencintai dan mengajukan kontrak pernikahan diantara kita. Kalau tidak salah kontraknya akan segera selesai," ucap Merry mengingat semuanya.

"Tidak bisa, aku akan merobek surat kontrak itu. AKu tidak ingin anakku hidup tanpa orang tua yang utuh," balas Rehan panik.

Merry memeluknya karena itu juga tidak akan terjadi sekarang Merry berharap semuanya akan menjadi indah karena Merry sudah merasakan kehangatan pernikahan yang sesungguhnya dari Rehan. Mungkin perjalanan pernikahan mereka harus seperti ini jadi mau tidak mau mereka harus bersabar dengan ujian pernikahan yang semua orang juga dapatkan.

"Aku juga tidak mau menjadi janda. Rehan berjanjilah padaku," ucap Merry.

"Kamu ingin aku berjanji apa. Sebisa mungkin aku akan mengabulkannya?" tanya Rehan sambil menggenggam tangan Merry.