"Kamu mau bicara apapun tidak akan aku dengarkan. Bukannya itu sudah tidak menjadi rahasia lagi karena kamu sudah mengungkapkanya di depan publik dengan air mata buayamu itu. Santika sudah aku bilang jangan bermain denganku, aku tidak mempang dengan mulut manis jalangmu itu," balas Marcel kali ini dia benar-benar pergi.
Santika kesal dia merasa Merry tidak pantas menemukan kebahagiaan hanya karena dia berasal dari keluarga terhormat. Gadis itu berjanji selamanya akan membenci Merry dan terus mencoba menyakitinya karena membuatnya sengsara seperti ini. Jika dia bukan putri dari keluarga kaya mungkin nasibnya juga akan seperti Santika di campakan dan selalu dihina banyak orang. Santika berjanji akan selalu mencoba menjatuhkan nama baik Merry di khayalak umum.
"Merry tunggu saja saatnya tiba pasti kamu akan merasakan berada di posisiku saat ini," gumam Santika dalam hatinya ia sangat kesal karena semau orang sangat menyayangi Merry.
Merry sangat menikmati masa kehamilannya, walau sudah tidak bebas seperti dulu lagi kesana kemari karena perutnay sudah semakin membuncit dia sungguh bahagia dengan kehamilan pertamanya saat ini.
"Aku lihat wajahmu semakin segar dan cantik saat hamil tua Merry," ucap Rehan saat memapah Merry ke meja makan.
"Ini semua berkat kamu yang terus memberikan support kepada ibu hamil ini,"balas Merry sambil duduk di bangku meja makan.
Rehan mengecup istri yang dicintainya itu. Walaupun ia tak pernah mengurus wanita hamil sebelumnya tampaknya ia juga senang sekali akan menjadi ayah.
"Kamu mau makan apa hari ini Merry?" tanya Rehan.
Merry mengatakan kalau hari ini tak ada yang ingin dia makan. Mungkin efek hamil jadinya tak ada makanan yang selera dia makan. Rehan menjadi bingung di buatnya. Karena ini baru pertama kalinya Rehan mengurus wanita hamil.
"Aku tak mau makan apapun cukup makan yang tersedia dimeja makan saja," jawab Merry.
"Jangan membuatku pusing Merry aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena aku baru pertama kali mengurus istri yang sedang hamil," ucap Rehan.
Melihat ekspresi Rehan yang tak biasa membuat Merry tertawa seorang tuan muda Rehan yang angkuh itu ternyata bisa juga panik hanya karena mangurus wanita yang sedang hamil.
"Rehan kamu tak perlu panik dan gugup setiap hari hanya karena aku sedang hamil," pinta Merry yang gemas dengan tingkah laku Rehan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk merawatmu. Aku benar-benar tidak punya pengalaman apapun," ucap Rehan.
Merry mengatakan cukup saja mendukungnya atau menemaninya ke poli kandungan dan kebidanan setiap bulan saat kontrol agar mendapatkan wawasan dari Dokter kandungan. Jadi Rehan juga tahu misal ada sesuatu yang harus ditindak segera atau mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan kandungan Merry.
"Cukup jadi suami yang baik dan siaga saat menghadapi istri yang hamil itu sudah lebih dari cukup," ucap Merry sambil tersenyum.
"Suami siaga itu yang seperti apa Merry?" tanya Rehan sambil menggaruk kepala. Bagi Rehan lebih baik mengurus bisnis daripada harus mengurus istri hamil. Rehan benar-benar tak bisa berkutik ketika menghadapi rewelnya sang istri yang sedang hamil.
"Suami siaga itu akan selalu sigap dan ada ketika sang istri membutuhkannya. Karena suppor terbaik bagi seorang istri yang hamil adalah suaminya sendiri," jawab Merry.
"Aku mengerti sekarang Merry kamu jangan sungkan meminta bantuanku. Aku ingin menjadi suami siaga untukmu dan calon anak kita," balas Rehan yang sangat menyayangi Merry saat ini.
Merry mengangguk dan hatinya senang karena kini hati Rehan sudah melunak dan menunjukkan sikap yang baik padanya. Ketika Merry dinyatakan mengandung anak Rehan seketika dunianya berubah dari sikap Rehan menunjukkan kasih sayang dan juga perhatian yang lebih untuk Merry yang sedang hamil.
"Sudah siang kamu harus berangkat bekerja bukan. Aku akan menunggumu di rumah," ucap Merry sambil merapikan dasi Rehan.
"Jaga diri dan anak kita baik-baik ya sayangku. Nanti Leni akan ke sini untuk menemanimu mengobrol denganmu. Aku tahu kamu merasa suntuk saat di rumah. Jadi secara khusus aku meminta Leni untuk datang menjengukmu sekaligus mengobrol masalah perusahaan," balas Rehan sambil mengelus perut Merry dan mengucapkan kata selamat pagi kepada calon buah hatinya.
"Hti-hati dijalan ya suamiku, jangan tergoda wanita jalang di luaran sana," ucap Merry sengaja menyindir Rehan yang pernah menyakiti hatinya karena menghadirkan seorang Santika di kehidupan pernikahan yang ia pikir akan harmonis kala itu.
"Aku tidak akan menghianatimu demi anak kita," ucap Rehan sambil mengecup kening Merry.
Merry mengantarkan Rehan ke garasi mobil dan melambaikan tangan saat mobil itu melaju dari garasi melaju meninggalkan rumah pribadi mereka. Sungguh hati yang merana sepertinya Merry sudah benar-benar jatuh cinta pada pria angkuh bernama Rehan Handoko ini. Lalu bagaimana dengan kontrak pernikahan yang pernah ia buat dulu? Tiba-tiba Merry mengingat kontrak perjanjian pernikahannya dengan Rehan yang dibuat saat selesai malam pertama.
"Ya ampun apa yang aku pikirkan. Semuanya sudah baik-baik saja kenapa aku memikirkan hal yang tidak baik itu," keluh Merry.
"Merry kenapa kamu tampak tidak senang begitu. Apa Rehan manusia brengsek itu menindasmu lagi?" tanya Leni yang sudah tiba di kediaman Merry.
Merry melihat siapa yang datang menegurnya ia sangat senang dengan kehadiran sosok itu sontak saja Merry langsung saja memeluknya karena bahagia bertemu lagi dengan sahabat sekaligus asisten di perusahaannya itu.
"Leni apa kabar. Kenapa kamu jarang mengunjungiku?" tanya Merry sambil menggandengnya masuk ke dalam.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku kenapa kamu tidak terlihat bahagia. Kalau Rehan lelaki brengsek itu menindasmu aku akan memukulnya. Tidak perlu tanya lagi aku jarang mengunjungimu karena kamu memberikan tugas yang berat untukku. Masih berani tanya kenapa aku jarang mengunjungimu hah. Manusia tidak tahu malu," jawab Leni kesal.
Merry tersenyum lalu meminta maaf. Ia meminta pelayan untuk menyajikan teh juga camilan yang enak untuk Leni biar enak mengobrolnya.
"Maafkan aku Leni aku hanya khawatir saat itu aku sedang membuat perjanjian nikah bersama Rehan. hal yang aku khawatirkan sejak dulu adalah aku membuat perjanjian itu tapi sekarang aku jatuh cinta padanya," ucap Merry.
"Haha ... Hidup memang selucu itu ya Merry. Awalnya benci sekarang jadi cinta," balas Leni.
Merry jadi tersipu malu karena apa yang ia katakan dahulu berseberangan dengan saat ini.
Wajahnya jadi merah karena malu kepada Leni yang dulu juga melarangnya untuk jatuh cinta pada Rehan.
"Aku sungguh malu sekali Leni," ucap Merry.
"Kamu jangan berpikir terlalu berat kamu sedang hamil. Lebih baik sekarang ayo kita berbelanja saja," ajak Leni.