Lyra mengaduk-aduk jus mangganya dengan sedotan, tatapannya menerawang jauh melewati hiruk pikuk jalanan di depan sekolah. Debu jalanan yang beterbangan seolah menari-nari di bawah sengatan matahari sore itu. Disampingnya, Sandy menyesap jus alpukatnya dengan tenang, sesekali melirik Lyra yang tampak murung. Warung sederhana di depan sekolah itu sudah menjadi saksi bisu persahabatan mereka. Bangku kayu panjang yang sudah usang, meja yang sedikit bergoyang, dan aroma gorengan yang menggoda selalu menemani mereka setiap sore, terutama saat Lyra menunggu jemputan.
"Kemarin aku dimarahi Om Revan," akhirnya Lyra membuka suara, memecah keheningan di antara mereka. Nada bicaranya terdengar lesu, seolah beban berat sedang menghimpit pundaknya.
Sandy mengernyitkan dahi, meletakkan gelas jusnya di meja. "Loh, kenapa? Om Revan kan biasanya sabar banget sama kamu."
Lyra menghela napas panjang sebelum menjawab. "Dia marah karena aku bilang aku tertarik pada abang itu..."
Sandy memutar bola matanya. "Ah, dia lagi. Kamu juga aneh, entah siapa nama abang itu, kenapa selalu memikirkannya? Nggak ada cowok lain di kota ini?" Sandy menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan obsesi Lyra terhadap sosok misterius itu.
Lyra mengerucutkan bibirnya. "Dia tampan dan ah... Aku suka matanya. Oya, Om Revan bilang, namanya Arkan. Arkan Wiratama." Lyra menyebut nama itu dengan nada berbisik, seolah sedang mengucapkan mantra yang hanya boleh didengarnya sendiri.
"Arkan Wiratama," Sandy mengulang nama itu pelan. "Kedengarannya seperti nama tokoh di novel-novel romantis. Tapi serius, Lyra, kamu nggak tahu apa-apa tentang dia, kan? Cuma modal tampang doang?"
"Nggak cuma tampang!" Lyra membela diri. "Dia... auranya beda. Bikin aku penasaran."
"Aura apaan sih?" gerutu Sandy, mulai jengah dengan cerita Lyra yang itu-itu saja.
Tiba-tiba, mata Lyra berbinar. "Eh, itu dia..." Lyra menepuk bahu Sandy dengan semangat, membuat jus alpukat Sandy sedikit tumpah.
"Apa sih, Lyra? Kaget tau!" Sandy mengomel sambil membersihkan tumpahan jusnya.
Lyra tidak menghiraukan omelan Sandy. Matanya terpaku pada sosok yang baru saja memasuki area warung. Benar, itu Arkan. Arkan berjalan dengan santai menuju gerobak jus, memesan jus alpukat dan buah naga pada penjualnya.
"Bang..." sapa Sandy spontan, membuat Lyra tersentak.
"Eh, kenapa kau sapa?" bisik Lyra panik sambil menepuk lengan Sandy. Jantungnya berdegup kencang, gugup bercampur senang.
Arkan menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Sandy dan Lyra. "Kalian yang hari itu hampir menabrak saya, kan?" tanyanya dengan nada ramah.
"Iya, maaf ya, Bang..." ucap Sandy, merasa bersalah mengingat kejadian beberapa waktu lalu. "Namaku Sandy, Bang. Temanku ini namanya..."
"Lyra," ucap Arkan, memotong ucapan Sandy.
Mata Lyra membulat. "Kau ingat namaku, Bang?" tanyanya dengan nada tak percaya. Pipinya merona merah.
Arkan terkekeh pelan. "Dua kali kamu meneriakkan nama kamu dengan kencang. Masa saya tidak ingat?" godanya.
Lyra tersipu malu. Ia ingat betul saat itu, ia memang berteriak histeris menyebut namanya sendiri saat hampir menabrak Arkan.
"Namamu siapa, Bang?" tanya Lyra, mencoba mengendalikan rasa gugupnya.
"Arkan..." Sebuah panggilan mengalihkan pandangan mereka.
Seorang perempuan berparas cantik mengenakan jilbab memanggil dari seberang, tepat di depan gerbang sekolah.
Lyra dan Sandy saling pandang. Mereka berdua mengenali perempuan itu. Dia adalah Arika Widya, salah satu guru di SMA Nusa Bangsa, sekolah mereka.
Arkan segera membayar jus pesanannya pada penjual, lalu berpamitan pada Sandy dan Lyra. "Duluan ya, Sandy, Lyra."
"Iya, Bang," jawab Sandy.
Lyra hanya mengangguk pelan, hatinya terasa sedikit kecewa.
Arkan berjalan menghampiri Arika, lalu naik ke atas motor yang terparkir di dekat warung. Arika membonceng di belakang Arkan, dan motor itu melaju meninggalkan warung.
Lyra merengut. Ia menatap kepergian Arkan dengan tatapan sedih.
"Ah, kenapa harus dipanggil sih?" gerutu Lyra saat melihat Arkan naik ke motor yang membawanya pergi dengan membonceng Arika.
Sandy menghela napas. "Sudah kuduga," gumamnya pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Lyra dengan nada penasaran.
"Ya, sudahlah, Lyra. Jangan terlalu berharap. Lihat saja, dia pergi sama Bu Arika," jawab Sandy dengan nada prihatin. "Pasti dia pacar Bu Arika."
"Tidak mungkin. Bu Arika terlihat jauh lebih tua," protes Lyra, mencoba menepis kenyataan yang menyakitkan itu.
"Terus kenapa kalau dia lebih tua? Banyak kok pasangan beda usia," balas Sandy santai, sambil menyeruput sisa jusnya. "Lagian, Bu Arika itu kan guru favorit banyak orang. Cantik, pintar, ramah. Cocoklah sama Bang Arkan yang ganteng itu."
"Tapi..." Lyra mencoba membela diri, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia merasa ada ganjalan di hatinya.
"Sudah, Lyra. Lebih baik kamu fokus sama sekolah. Jangan buang-buang waktu mikirin orang yang belum tentu mikirin kamu juga," nasihat Sandy, nadanya kini lebih tegas. "Kamu itu masih SMA. Masa depanmu masih panjang. Jangan sampai gara-gara cowok, nilai-nilaimu jadi anjlok."
Lyra terdiam. Ia tahu Sandy benar. Tapi hatinya tetap tidak bisa menerima kenyataan. Ia sudah terlanjur menyukai Arkan. Perasaan itu tumbuh begitu saja, tanpa ia minta, tanpa ia duga. Bahkan, hanya dengan melihat Arkan dari jauh saja sudah cukup membuat harinya cerah. Tapi kini, melihat Arkan pergi bersama Bu Arika, hatinya terasa remuk.
"Aku nggak tahu," lirih Lyra, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku nggak bisa berhenti mikirin dia."
"Ya sudah, terserah kamu," kata Sandy, mengangkat bahu. "Tapi ingat, jangan sampai kamu menyesal. Jangan sampai kamu jadi stalker, itu bahaya lho." Sandy mencoba melucu, meski ia tahu Lyra sedang tidak dalam mood yang baik.
Lyra mengaduk-aduk jus mangganya dengan kasar. Ia merasa frustrasi. Ia ingin mengenal Arkan lebih dekat, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi sekarang ia tahu bahwa Arkan dekat dengan Bu Arika. Rasanya seperti ada tembok besar yang menghalangi.
"Mungkin mereka pacaran," gumam Lyra pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Mungkin saja," timpal Sandy. "Bu Arika kan cantik, pintar, guru lagi. Cocoklah sama Arkan. Lagipula, mereka kelihatannya akrab banget tadi. Bu Arika sampai manggil nama Arkan dengan santai begitu, bukan 'Pak Arkan' atau 'Mas Arkan'."
Hati Lyra semakin terasa sakit mendengar ucapan Sandy. Ia merasa tidak ada harapan untuk mendapatkan Arkan. Bagaimana mungkin ia bisa bersaing dengan seorang guru yang sempurna seperti Bu Arika? Ia hanya seorang siswi SMA biasa, yang masih sering dimarahi Om Revan karena hal-hal sepele.
"Sudahlah, Lyra. Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kita pulang. Udah sore," ajak Sandy, melihat jam di pergelangan tangannya. "Nanti Om Revan nyariin kamu lagi."
Lyra mengangguk lesu. Ia meraih tasnya dan beranjak dari duduknya. Fernando, sopirnya Revan terlihat sudah menunggu di depan mobil yang di parkir di depan gerbang sekolah “Aku pulang."
“Hati-hati. Jangan kecewa, Ingat, banyak yang sayang padamu. Aku juga..”
Lyra tersenyum melambaikan tangan sebelum berlalu.
Sandy tersenyum tipis. “Aku memujamu, Lyra Arsyifa..”