‘Tidak salah lagi, aku tahu tempat Pak Zaky disandera. Namun, aku harus meminta bantuan bocah-bocah ini sebelumnya,’ batin Dinda.
“Apa kalian tahu, ada jalan yang sedang diperbaiki?” tanya Dinda.
“Aku tahu,” sahut Maya.
“Di mana itu?”
“Kemarin aku kan belanja di supermarket bersama ayahku. Di jalan Cooperville 14 macet karena ada perbaikan jalan. Memangnya kenapa?”
“Tadi aku sempat mendengar ada suara mesin pengaspal jalan saat penjahat itu menelepon Fandy.”
“Baik, kalau begitu, ayo kita ke tempat itu!” ajak Fadil.
“Oke, tunggu apalagi,” sahut Fandy dengan memasang wajah serius, karena ia merasa, ayahnya akan berhasil ditemukan.
Mereka pun langsung berlari menuju lokasi penyanderaan itu. Rania sempat melarang anak-anak itu karena sangat berbahaya. Namun apa daya, mereka pergi begitu saja. Sebagai antisipasi, ia menelepon ayahnya, jika kasus yang ia tangani selesai, ia harus menyusul untuk menjemput Dinda.
Beberapa waktu pun berlalu, mereka sampai di tempat tersebut.
“Sepertinya, tempat Ayah Fandy disandera sudah ditemukan,” ucap Dinda sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Dani.
“Penjahat itu menelepon sekitar dua puluh menit yang lalu. Aku mendengar suara mesin perbaikan jalan itu sangat keras, bisa jadi, tepat penyanderaan berada di depan rumah itu. Sekarang dua puluh menit berlalu, perbaikan jalan akan berpindah tempat sejauh sekitar sepuluh meter.”
“Kamu cerdas, Dinda,” puji Fadil.
“Kalian tunggu di sini dulu, aku akan ke telepon umum,” pinta Dinda.
“Lalu, bagaimana kalau penjahat itu membunuh ayahku?” tanya Fandy khawatir.
“Tenang saja, ini masih pukul sebelas lewat, kita masih punya banyak waktu sebelum pukul dua belas.”
Dinda menuju telepon umum untuk menelepon polisi. Dia tidak mungkin pakai smartwatch, karena dipastikan polisi tidak akan menerimanya. Tujuan dia menelepon polisi yaitu untuk berjaga-jaga, apabila penjahat itu membawa senjata atau di luar perkiraan.
Berhubung suaranya anak-anak, polisi itu pun tak mempercayai laporannya. Dia pikir, Dinda sedang mempermainkannya. Sehingga, laporan itu pun ditolak.
“Sial, aku harus bagaimana lagi. Sulit untuk menyelamatkan ayah Fandy kalau seperti ini. Tubuh yang menyusut ini membuatku kesulitan untuk menangani kasus,” gerutu Dinda yang tidak tahu harus berbuat apalagi. Sebab, dia tidak punya ide lain.
Setelah Dinda menutup teleponnya, dia keluar dari telepon umum, dan baru saja menyadari, kalau teman-temannya sudah masuk menuju lokasi tempat Ayah Fandy disekap.
“Woy, kalian memang gegabah, tidak berpikir terlebih dahulu akibatnya nanti!” gerutu Dinda.
Dinda pun berlari untuk mengejar teman-temannya. Setelah masuk ke tempat tersebut, ada anak tangga yang menuju ke lantai dua.
“Mereka pasti naik.”
Sementara itu, di ruangan atas, Fandy beserta Detektif Cilik sudah berhasil menemukan korban yang disekap. Ternyata, dia diikat menggunakan tali tambang, dan mulutnya ditutup lakban.
Benar saja, Pak Zaky di sana, dia ingin bersuara, tapi apa daya, mulutnya disumbat. Sehingga, hanya bisa mengeluarkan suara seperti orang yang tidak bisa berbicara.
Mereka semua pun masuk ke ruangan, hendak melepaskan ikatannya, lalu membebaskannya dari tempat tersebut.
Sebelum mereka berhasil melepas ikatannya, ada suara langkah kaki menuju ke ruangan itu. Maya senang, karena dia pikir, Dinda datang menyusulnya. Namun, yang datang bukanlah Dinda, tapi penjahat yang memakai masker serba hitam. Rupanya, dia sudah tahu, mereka akan datang. Jadi, memasang jebakan untuk anak-anak yang masuk ruangan tersebut.
“Strategiku akhirnya berhasil, itulah kenapa, aku menculik ayahnya. Karena pasti, anaknya akan datang untuk menyelamatkan. Hari ini aku beruntung, ada anak lain yang tidak aku undang, umpan satu dapat banyak.”
“Woi penjahat! Biarkan kami pergi!” paksa Maya dengan napas terengah.
“Tidak semudah itu, kalian semua akan mati di sini,” ucap penjahat itu sambil tersenyum menyeringai, lalu dia mengeluarkan pistol di saku celananya.
Kemudian, dia menembakkan pistol itu ke langit-langit ruangan, membuat plafon itu berlubang. Sebab, hanya menggunakan triplek atau semacamnya.
Suara tembakan pistol itu membuat suasana di dalam ruangan itu tegang. Mereka semua tidak mau tertembak dan hidupnya berakhir di sana. Jadi, harus berpikir agar bisa keluar dari tempat tersebut.
Penjahat itu melangkah sambil menodongkan pistol ke arah mereka semua.
“Kita harus bagaimana lagi? Aku ga mau mati di sini,” rintih Dani ketakutan.
Tiba-tiba, ada sebuah batu yang mengarah ke arah penjahat itu. Rupanya, ada seseorang yang melempar dari di bawah pintu. Seketika, penjahat itu ambruk dan pistol di genggamannya terlepas le lantai.
“Cepat! Ambil pistolnya!” suruh Dinda.
Fadil pun bergegas untuk mengambil pistol yang tergeletak. Namun, sebelum dia berhasil meraihnya, penjahat itu sudah lebih dulu memegang pistol tadi.
“Aduh, aku terlambat,” ucap Fadil.
“Tidak ada kata terlambat!” seru Maya sambil menghantamkan botol kaca pada kepalanya. Meskipun tenaga Maya lemah, tapi cukup untuk membuat penjahat itu melepaskan pistol.
Dinda berlari ke arah mereka, lalu dengan segera melepas ikatan tali pada Pak Zaky.
“Ayo bantu aku untuk mengikat penjahat itu!”
“Baik!”
Keadaan pun sekarang berubah, giliran penjahat itu yang diikat, sedangkan Pak Zaky bebas.
“Akhirnya, Ayah selamat juga,” puji Fandy.
“Syukurlah, dari mana kalian tahu, aku ada di sini?” tanya Pak Zaky.
“Tadi, ada suara mesin perbaikan jalan, lalu kami pergi ke sini,” jawab Maya.
“Jadi, begitu ya.”
“Lantas, apa sebabnya Bapak bisa disekap di sini?” tanya Dinda.
“Romly adalah bawahanku, dia ingin sekali mewarisi perusahaanku. Itulah sebabnya, aku ditangkap untuk memancing istri dan anakku mencarinya. Kalaupun semuanya sudah berkumpul, kami disuruh untuk tanda tangan asuransi terlebih dahulu, sebelum dia membunuhku,” jelas Pak Zaky.
Beberapa saat kemudian, pihak polisi pun datang ke lokasi.
“Siapa ya, yang memanggil polisi?”
Dinda bingung, saat dia berusaha melapor ke pihak kepolisian, laporan itu ditolak karena suaranya anak-anak.
Tiba-tiba, ada seseorang yang datang ke tempat tersebut.
“Woi, kalian ini sudah aku larang untuk pergi, malahan pergi saja! Itu kan sangat berbahaya!” teriak Rania kesal.
“Jadi, Kakak yang menelepon polisi?” tanya Dinda.
“Tentu saja.”
“Dari mana Kakak tahu, kami ada di sini?”
“Aku membuntutimu. Kau sendiri, kenapa mengajak teman-temanmu ke dalam situasi yang berbahaya?”
“Mereka sendiri yang meminta,” sangkal Dinda.
Anggota Detektif Cilik tersenyum, karena telah menyadari kesalahannya. Ibarat sengaja masuk ke kandang singa.
“Sudah, sudah. Tak usah diributkan. Sebagai rasa terima kasihku kepada kalian, akan aku tlaktir makan!” ujar Pak Zaky.
“Yai!” sahut semuanya, kecuali Dinda yang memasang wajah jelek.
‘Haha, kalian ini.’
Penjahat itu dibawa oleh pihak kepolisian setelah Pak Zaky diinterogasi.
Kasus pun ditutup, Romly harus mempertanggungjawabkan kejahatannya di sel jeruji besi.
Pak Zaky membawa mereka semua untuk makan ayam bakar, tidak jauh dari lokasi kejadian itu.
“Ngomong-ngomong, tempat yang tadi apa, Pak?” tanya Dinda masih penasaran.
“Kontrakan yang disewa Romly.”
“Begitu ya ....”
Hidangan sesuai pesanan datang, Fadil yang memang makanan favoritnya adalah ayam bakar, langsung menyantapnya dan habis terlebih dahulu.
Sedangkan Dinda, masih memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mengapa Romly tinggal di sana sendirian?
Membuang semua pemikiran tadi, Dinda kembali pulang. Dia ingin istirahat untuk menjernihkan pikiran usai membantu menyelesaikan kasus kejahatan.
**
Hari demi hari Rodhif lalui seperti biasa dengan tubuh anak perempuan itu, tidak ada kejahatan dalam kehidupan Dinda. Dia melakukan kesehariannya seperti biasa, yaitu bersekolah di Sekolah Dasar Brooksville bersama teman-temannya.
Sepulang sekolah, ia langsung berjalan menuju tempat Profesor Agus untuk meminta bantuan padanya ....