Detektif Imut - Kode Rumit - Bab 22

Penulis Yuan_bee
29 September 2025

Sepulang sekolah, ia langsung berjalan menuju tempat Profesor Agus untuk meminta bantuan padanya.

Seperti biasa, monitor di dalam menampilkan wajah Dinda di luar, dan pintu pun terbuka. Ia segera masuk dan di sana, Profesor Agus masih sibuk pada pekerjaannya, berada di depan monitor komputernya.

Dinda menarik ujung jas Profesor Agus sambil menunduk sedikit.

“Prof, ayo ikut aku, ke rumahku, temani aku ke sana,” katanya pelan, matanya berkaca-kaca.

Profesor Agus yang sedang merapikan kertas di mejanya menoleh, sedikit terkejut. “Rumah itu? Tapi, cukup bahaya di sana, ada yang mengawasi dan mengintai kita nanti.”

Dinda mengangguk pelan. “Iya, makanya, aku takut sendirian. Tapi ada sesuatu yang ingin aku cari di sana, mencari sesuatu, siapa tahu ada.”

Dengan napas berat, Profesor Agus akhirnya mengangguk. “Baiklah. Ayo, kita cek bersama-sama.”

Akhirnya, mereka berdua sepakat dan pergi ke sana.

**

Gerbang besi tua itu berdecit ketika Dinda mendorongnya. Rumput liar tumbuh tinggi, menutupi sebagian jalan setapak menuju pintu depan. Saat mereka masuk, debu tebal langsung menyambut. Meja, kursi, dan lemari dipenuhi sarang laba-laba, seolah rumah itu sudah lama ditinggalkan tanpa sentuhan manusia.

Dinda berjalan perlahan, tangannya menyusuri tembok yang dingin dan berdebu. “Dulu … ayah sering duduk di sini. Sambil baca buku, dan ibu memasak di dapur,” bisiknya lirih.

Profesor Agus melihat sekeliling dengan wajah serius, menahan perasaan tak nyaman. Ia takut jika keberadaannya diketahui seseorang, apalagi orang jahat.

“Memang sudah lama sekali tak ada yang membersihkan. Rumah ini seperti membeku dalam waktu.”

Mereka berhenti di ruang tamu, dan Profesor Agus menarik kursi, meniup debu yang menumpuk di atasnya. Ia duduk perlahan, lalu menatap bocah imut tadi.

“Rodhif,” ucapnya hati-hati, “sebelum ayah dan ibumu menghilang, mereka sempat bicara padaku. Mereka bilang; keadaan mereka saat itu tidak memungkinkan lagi untuk tinggal di rumah ini. Ada sesuatu yang membuat mereka harus bersembunyi sementara waktu.”

Dinda terdiam, menatap Profesor Agus dengan mata membesar. “Jadi ... mereka sekarang di mana?”

Profesor Agus menghela napas, lalu menepuk bahu Dinda lembut. “Aku tidak bisa memastikan. Tapi satu hal yang kuingat jelas, mereka menitipkan kamu padaku. Katanya, hanya itu cara terbaik agar kamu tetap aman. Mereka berjanji, suatu saat akan kembali.”

Dinda menggenggam erat sebuah buku yang ia bawa sejak tadi, lalu memandang sudut ruangan yang dipenuhi bayangan. Di dalam hatinya tumbuh harapan, meski samar, bahwa misteri hilangnya kedua orang tuanya suatu saat akan terjawab.

Beberapa saat kemudian. Tanpa sengaja, pandangan matanya tertuju pada sebuah benda, dia melihat meja yang baru saja ia bersihkan karena terkena debu.

Di atas meja itu, tertuliskan beberapa angka yang kemungkinan adalah kode rahasia. Untungnya, Dinda membawa buku catatan kecil di sakunya. Dinda tak mungkin memecahkan kode itu dengan singkat. Sehingga, dia harus menyalinnya terlebih dahulu di catatan kecil.

“Ayo, kita harus segera pergi!” ajak Paman Agus.

“Sebentar, Paman,” sahut Dinda sambil mempercepat menulisnya.

Setelah selesai memeriksa rumah kosong itu, mereka segera pergi karena merasa ada yang mengawasi. Dengan langkah cepat, mereka kembali ke tempat Profesor Agus. Di sana lebih aman karena tersembunyi.

Rupanya benar, tidak jauh dari sana, ada siluet seseorang yang sedang mengintip mereka berdua itu yang berada tak jauh di rumah itu. Dia tersenyum menyeringai, sepertinya baru mengetahui sesuatu. Meski hari masih siang, dia bersembunyi di tempat yang tak terlihat.

Di tempat lain, Rania dan Detektif Romy sudah kembali ke rumah. Namun, mereka berdua kaget, setelah menyadari kalau Dinda tidak ada di rumah.

“Bocah ingusan itu kok belum pulang, ya?” ucap Detektif Romy. Meskipun ada sedikit benci padanya, tapi saat Dinda tidak ada di rumah, dia merasa khawatir, karena dia tahu, Dinda hanyalah anak kecil biasa yang belum tahu apa-apa.

“Mungkin dia masih bermain dengan teman-temannya,” kata Rania berspekulasi. Kemudian, dia memeriksa kamar Dinda, di sana ada seragam sekolahnya yang diletakkan di atas kasur lantainya.

“Ayah, seragamnya ada di sini, tapi Dinda ke mana?”

“Apa? Mungkin saja dia sudah pulang, tapi pergi begitu saja tanpa pamitan.”

“Bukan begitu, aku takut kalau Dinda sebenarnya diculik oleh seseorang sesuai berita tadi.”

“Benar juga, akhir-akhir ini banyak kasus penculikan,” ujar Detektif Romy curiga.

“Jangan-jangan, seperti kasus sebelumnya. Setelah penculikan itu, akan ada telepon berdering dari si penculik yang meminta tebusan.”

“Tapi, kalau dipikir-pikir, dia hanya membebani kita berdua.”

“Ayah tidak boleh begitu sama Dinda, dia masih anak-anak. Dia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya!” gertak Rania.

“Lagian mau gimana lagi. Ayah beserta Ibunya tidak jelas ada di mana!”

“Tapi, kata Ayah, dia selalu membawa keberuntungan. Setiap kasus dapat diselesaikan kalau ada dia.”

“Benar juga ya,” kata Detektif Romy, lalu dia berpikir panjang. Dia mengingat kasus kemarin yang tidak bisa dipecahkan tanpa adanya Dinda di sampingnya. Bisa-bisanya analisis dan deduksi yang dia ungkapkan disangkal oleh tersangka dan rekan polisi? Membuat dia malu karena argumennya salah kaprah.

Di saat Detektif Romy melamun, telepon tiba-tiba berdering.

“Tuh, kan. Jangan sampai ada yang bilang minta tebusan!” cecar Detektif Romy.

“Halo! Mau minta tebusan!” hardik Detektif Romy yang belum tahu siapa orang di balik telepon.

“Tebusan apa, Pak Detektif. Ini aku, Agus. Mau mengabarkan kalau Dinda ada di sini.”

“Oh, rupanya kamu, Prof. Bocah itu pergi tanpa pamitan terlebih dahulu, membuatku bingung.”

“Oh, maaf. Aku tak mengabarkan padamu sebelumnya. Harusnya aku yang memohon izin untuk membawanya, tapi Anda tidak di rumah.”

“Baiklah kalau begitu, aku tak susah payah mencarinya.”

Telepon ditutup. Detektif Romy menghela napas panjang merasa lega. Meskipun dia hanya anak perempuan yang menumpang, tapi ia tak boleh kehilangan dirinya karena dianggap sebagai jimat keberuntungan.

“Dinda ada di mana, Ayah?” tanya Rania.

“Seperti biasanya, di tempat Pamannya, Agus.”

“Baguslah. Kukira diculik orang,” ujar Rania.

“Kamu yang mungkin saja diculik sama Om-Om,” ledek Romy.

“Ih, Ayah ini.”

Di laboratorium Profesor Agus, Dinda mencari informasi di komputer milik Profesor Agus untuk memecahkan kode itu. Namun, sudah cukup lama, tidak membuahkan hasil.

“Paman, aku menyerah, aku tak tahu kode itu.”

“Aku pun tak tahu. Mungkin saja semacam pelafalan atau eja’an?”

“Bukan itu, Paman. Aku diktikan lagi kodenya ; 54 878 112 66 54 333 77 9999 9999 77 233 112 3443.”

“Hampir seperti nomor token menurutku.”

“Mungkin saja, andai aku bisa memecahkannya.”

“Kalau begitu, simpan saja kode itu. Mungkin beberapa waktu kemudian, kau akan tahu kode itu,” saran Detektif Romy.

“Baik, Paman.”

“Arlojimu udah aku modifikasi lagi, dengan sepiker kecil wireless ini, kau bisa merubah suaramu yang anak-anak menjadi berbagai macam suara,” kata Profesor Agus menyerahkan jam tangan itu kepada Dinda.

“Terima kasih, Paman. Kau memang jenius.”

“Kau ini terlalu banyak memuji.”

“Baik, Paman. Antar aku ke suatu tempat lagi, ya!”

“Ke mana lagi? Dasar, kau ini!” gerutu Paman Agus.

“Aku ingin menengok Kakek dan Nenekku.”

“Kau bercanda? Bukankah mereka berdua sudah ....”

“Aku ingin kirim doa pada mereka.”

“Baiklah, kalau begitu.”

Hanya beberapa saat berada di laboratorium, mereka pun pergi lagi dengan mobil andalan Paman Agus.

Mobil kembali menelusuri jalanan, mereka pergi ke pemakaman untuk mengunjungi kuburan kakek dan nenek Dinda. Letak pemakaman itu berada cukup jauh dari kota.

Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai.

‘Sudah lama aku tidak menjenguk Kakek dan Nenek,’ batinnya, lalu membacakan doa singkat. Menyentuh nisan mereka, lalu pergi lagi.

Setelah itu, Dinda meminta untuk diantar menuju rumah Detektif Romy.

Di dalam perjalanannya, Dinda sempat melihat iringan anak pramuka yang sedang mencari jejak. Mereka memakai pakaian coklat dan juga membawa tongkat berwarna merah-putih. Anak paling depan membawa bendera regu dengan gambar kalajengking.

‘Jadi ingat saat aku ikut pramuka dulu,’ gumam Dinda.

Tanpa sengaja, dia baru menyadari sesuatu.

‘Jangan-jangan, kode angka itu adalah ....’