‘Jangan-jangan, kode angka itu adalah sandi di dalam pramuka. Namun, dalam pramuka ada banyak materi pembelajaran. Jadi, kode apa itu?’
Dinda kembali berpikir panjang untuk mencari jawaban kode tersebut, lalu kembali membaca angka yang sudah ditulis di secarik kertas. Terus mengamati dengan saksama untuk bisa membaca rahasia tersebut.
‘54 878 112 66 54 333 77 9999 9999 77 233 112 3443.’
‘Gimana cara bacanya, ya?’
“Rodhif, kita sudah sampai,” kata Profesor Agus menghentikan mobilnya. Sontak, Dinda pun tersadar dari lamunannya.
“Oh iya, Paman. Terima kasih.”
Dinda berjalan masuk menuju rumah Detektif Romy. Ternyata, mereka berdua ada di dalam. Dengan langkah kecilnya, ia menuju ke ruangan biasa.
“Sudah selesai membantunya?” tanya Detektif Romy.
“Sudah, Paman.”
“Memangnya kau membantu apa. Kau cuma bocah kecil. Mana mungkin tahu tentang riset di laboratorium?”
“Memang aku tidak tahu, makanya aku belajar bersama Profesor Agus untuk menggapai cita-citaku menjadi ahli kimia,” dalih Dinda.
“Payah, sekolah saja baru SD, sudah mau menjadi ahli kimia,” cecar Detektif Romy.
“Jangan begitu, Ayah. Melalui cita-cita dari kecil, kita akan lebih bersemangat dalam bersekolah. Benar begitu, Dinda?” sela Rania berpihak pada Dinda.
“Benar sekali, Kak Rania. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk menggapai cita-cita.”
“Ya sudah, sana kamu belajar!” suruh Detektif Romy yang sebenarnya ada maksud lain. Dia ingin tahu tulisan Dinda sebenarnya dengan tujuan untuk mengetahui, apakah benar, Dinda yang selalu menyelipkan secarik kertas itu di saku celananya saat memecahkan kasus?
Dinda menuju ke ruangannya, tapi di sana dia tidak belajar, melainkan memikirkan kode yang ada di meja rumahnya yang terbakar yang sudah disalin di catatan kecil.
‘Kenapa ditulis menggunakan angka? Bukankah memakai kode lain yang lebih mudah?’ pikir Dinda.
Rupanya, tidak jauh dari sana, ada Detektif Romy yang sedang mengawasi Dinda belajar. Berdiri di bawah pintu sambil mengerutkan keningnya.
“Kau sedang belajar apa?” tanya Romy yang mengagetkan Dinda.
“Aku belajar matematika, Paman,” dalih Dinda menyembunyikan kode angka itu.
“Begitu ya. Kenapa kamu tidak segera menulis jawaban itu?”
“Aku masih ragu jawabannya, Paman.”
Detektif Romy semakin mendekat ke tempat Dinda belajar. Dia ingin tahu, tulisan Dinda seperti apa.
Dinda yang paham dengan akal-akalan Romy pun berpura-pura menulis dengan tulisan jelek seperti anak-anak.
“Jawabanku benar, tidak?” tanya Dinda.
“Benar, kau cerdas juga dalam mengerjakan matematika,” puji Romy.
‘Iyalah. Matematika SD kan sangat mudah, karena aku sebenarnya sudah mahasiswa,’ gumam Dinda dalam hati.
Setelah melihat bentuk tulisan Dinda yang tidak ada yang aneh, Detektif Romy pun pergi.
‘Untung saja, Pak Tua tidak melihat kode angka yang aku tulis tadi. Mungkin dia curiga dengan tulisan yang ada di sakunya, hehehe.”
Sementara itu, Detektif Romy berpikir panjang, “ternyata benar, bukan bocah ingusan itu yang menulis hasil deduksi di saku celanaku.”
“Kalau bukan dia, lalu siapa?” Detektif Romy masih berpikir panjang.
Setelah Romy pergi, Dinda menatap tulisan tadi dengan saksama, matanya menelusuri baris demi baris kode yang tersaji di hadapannya. Jari-jarinya masih menggantung di pulpen yang ia pegang, sementara napasnya tertahan, seolah ingin mengetahui sesuatu yang penting. Tiba-tiba, sebuah jendela pesan muncul di sudut layar. Dari: Profesor Agus.
Dengan cepat Dinda membukanya. Pesan itu singkat, tapi membuatnya kaget.
“Identitas anak gemuk yang bernama Fadil sudah ditemukan, dipastikan dia hanya anak biasa. Orang tuanya pedagang sayur di sebuah pasar. Tidak ada keterkaitan dengan organisasi mana pun. Dia bukan salah satu dari mereka yang disuntik menjadi anak-anak seperti halnya dirimu, Rodhif.”
Dinda menghela napas panjang. Ketegangan yang sedari tadi membelit dadanya akhirnya mengendur. Ia bersandar di kursinya, memejamkan mata sejenak, lalu bergumam lirih, “Syukurlah ... aku tak perlu mengkhawatirkan ada orang yang mengetahui identitas asliku selain Paman Agus sendiri.”
Dinda menyimpulkan, hanya namanya saja yang sama, tapi orangnya berbeda. Jadi, dia awalnya terlalu mencurigai dirinya, sehingga menganggap anak gemuk itu bagian dari organisasi yang menyuntik serum tersebut.
Dinda kembali berusaha memecahkan kode aneh itu. Dia terus menerus membaca kode angka tersebut karena rasa penasaran yang ada dalam dirinya. Membacanya berkali-kali meski tak kunjung mendapatkan jawabannya.
’54 878 112 66 54 333 77 9999 9999 77 233 112 3443.’
‘Aku baca berkali-kali, tapi belum ketemu juga artinya. Apakah angka lima bermaksud Ma dan angka empat bermaksud Pat. Kalau benar begitu, bacanya jadi, Ma Pat Pan Ju Pan Tu Tu Du Nam Nam. Woy, bahasa apa itu?’ pikir Dinda.
‘Kalau di pramuka kan, ada sandi semaphore sama sandi morse, tidak mungkin keduanya berpacu dengan angka tadi, ataukah mungkin?’
Di luar kamar Dinda, terdengar suara Rania yang sedang bersama ayahnya.
“Ayah! Besok aku minta uang saku lebih untuk naik bis menuju pasar!”
“Ke pasar kan bisa memakai mobil, sih. Tak perlu risau.”
“Ayah lupa, ya. Besok kan ada aturan ganjil-genap diberlakukan untuk kendaraan beroda empat. Ayah tidak bisa menggunakan mobil, karena nomor belakangnya ganjil. Baru bisa pergi besok lusa.”
“Bagaimana kalau ke pasarnya besok lusa saja?” saran Detektif Romy.
“Boleh saja, tapi besok ga ada makan malam, stok makanan udah habis.”
“Apa ...? Jadi, kita ga makan selama satu hari?
“Ya enggak lah, kan bisa makan di luar? Meskipun agak mahal.”
Di sebelah ruangan, Dinda baru saja mendengar percakapan mereka berdua.
“Ganjil-genap ya?” Dinda mencari berita lewat arlojinya dengan cara browsing. Rupanya, besok kendaraan nomor plat belakang genap yang boleh masuk ke jalanan, karena diperkirakan dua hari akan macet total.
‘Ganjil-genap, pramuka. Akhirnya, aku bisa membaca kode tersebut,’ batin Dinda sambil tersenyum puas.
Ternyata, kode aneh itu adalah gabungan dari sandi bilangan dan sandi morse dengan bilangan ganjil-genap yang dirangkai secara acak.
Pantas saja, Dinda sempat berpikir keras untuk memecahkan kode tadi.
Pada akhirnya, dia pun menulis ulang angka tadi.
’54 878 112 66 54 333 77 9999 9999 77 233 112 3443.’ Bilangan ganjil diartikan titik, bilangan genap diartikan strip. Sehingga, akan timbul sebuah kode morse : ( . . .. __ . ... .. .... .... .. .. .._ .__. )
Dinda masih belum bisa membaca kode morse itu karena dia memanglah tidak hafal.
Kemudian, dia memutuskan untuk mencari solusi dengan melihat ke buku saku pramuka. Namun, dia tidak punya buku itu. Sehingga, jalan satu-satunya harus meminta bantuan kepada Profesor Agus lagi.
Melalui arloji canggihnya, dia mengetik kode morse itu, lalu dia kirimkan ke Profesor Agus dengan segera. Dia yang juga baru mengetahui hal itu pun kaget, karena tak menyangka menggunakan gabungan kode morse dan bilangan ganjil genap.
Setelah beberapa saat, Profesor Agus mengirim pesan ke Dinda. Dengan segera, dia membuka pesan itu dan kaget setelah membacanya. Rupanya ....