Detektif Imut - Gadis SMA Gantung Diri (1) - Bab 24

Penulis Yuan_bee
29 September 2025

Dengan segera, dia membuka pesan itu dan kaget setelah membacanya. Rupanya kalimatnya adalah, “aku masih hidup.”

Dinda kembali berpikir panjang sambil menyentuh dagunya, jika para teroris itu menyerang kedua orang tuanya secara tiba-tiba, mana mungkin Ayah atau Ibunya sempat menulis kode tadi?

Apalagi, dalam situasi yang tak memungkinkan itu. Yang membuatnya lebih bingung, tulisan kode itu menggunakan goresan. Bentuk goresannya tak biasa, bukan dari pisau kecil, tapi kemungkinan sesuatu yang tumpul.

‘Ayah, Ibu. Kuharap kalian benar-benar masih hidup.’ Di dalam benaknya, dia yakin dengan sepenuh hati kalau keduanya masih hidup setelah berhasil membaca kode tadi. Tidak ditemukan bekas mayat atau apa pun di sana adalah bukti kuat kalau kedua orang tuanya belum mati.

Membuang semua pemikiran tadi, dia tertidur pulas karena saking lelahnya memecahkan kode.

**

Suasana malam hari di kota Brooksville cukup cerah, rembulan dan bintang bersinar di angkasa, membuat malam itu sungguh indah.

Tidak jauh dari rumah Detektif Romy, tepatnya di gang depan rumahnya. Muncul siluet seseorang yang mengawasi rumah itu. Mungkin saja dia mata-mata yang sedang mengawasi Dinda, karena setelah dia datang mengunjungi rumahnya yang hancur, orang itu mulai muncul untuk menguntitnya.

Esok harinya, di mana merupakan awal pekan setelah hari minggu, aktivitas di kota itu cukup padat. Sehingga, lalu lintas terpaksa dilakukan ganjil genap untuk melerai kemacetan.

Para pelajar yang jalan kaki, terpaksa berangkat lebih pagi dari hari biasanya, karena takut akan terlambat untuk melakukan upacara bendera.

Dinda dan Rania yang awalnya berjalan berbarengan pun berpisah jalan. Dinda menuju Sekolah Dasar tempat ia belajar bersama teman-temannya. Mereka saling sapa, kebanyakan memuji satu sama lain setelah berhasil menyelamatkan Ayah Fandy yang diculik.

“Detektif cilik nih, senggol dong!” ucap Maya dengan sombong.

‘Woi, kalian terlalu berlebihan. Kalau aku tak segera ke sana, pasti kalian sudah mati,’ batin Dinda dalam hatinya.

Kabar tentang detektif cilik yang menyelamatkan Pak Azhar pun tersebar sampai penjuru sekolah dan sebagian penduduk kota. Beberapa murid sudah tahu eksistensi mereka, membuat mereka cukup dikenal.

Sementara itu, di Sekolah Menengah Atas Brooksville, Rania ikut serta dalam upacara bendera di sekolahnya. Panas terik ia rasakan, berdiri mengikuti jalannya upacara, sesekali menyeka keringat di wajahnya.

Tak berselang lama, seorang murid perempuan melambaikan tangannya. Kemudian, dia pun pingsan seketika.

Petugas PMR dengan cekatan membawakan tandu, lalu menggotongnya menuju UKS untuk dilakukan perawatan.

“Mega itu sudah kebiasaan, kalau upacara pasti harus ke UKS, sepertinya dia cuma pura-pura agar tak mengikuti upacara bendera sampai selesai,” celoteh Windy yang baris di samping Rania.

“Bukan pura-pura, dia itu punya riwayat penyakit dalam yang sulit disembuhkan. Wajar saja, dia tidak kuat sampai upacara berakhir,” sangkal Rania yang tidak setuju omongan Windy.

“Ngomong-ngomong, dia punya penyakit apa?”

“Apa kau belum tahu? Dia kan jantungnya lemah. Aktivitas sedikit saja pasti tidak akan kuat. Setiap pelajaran olahraga, dia pasti mengeluh dan tak mau mengikuti.”

“Kalau aku jadi dia, mungkin aku mau bunuh diri saja, daripada hidupku tak ada gunanya,” cetus Windy berpendapat.

“Hust! Kau jangan bilang sembarangan. Meskipun dia jantungnya lemah, tapi otaknya cerdas. Buktinya, dia selalu rangking satu di kelas.”

“Wow! Hebat juga, ya.”

Sementara itu, di UKS. Petugas PMR laki-laki membopongnya ke kasur perawatan.

“Ini, aku serahkan sisanya pada kalian.”

“Baik, sekarang kalian berdua boleh kembali ke lapangan upacara,” suruh petugas PMR perempuan yang memakai pakaian seperti perawat.

Mega yang saat itu sedang pingsan, langsung ditangani oleh dua petugas perempuan. Ia langsung memeriksa kondisi badannya dan sudah hafal dengan gejala yang dialaminya.

Beberapa waktu pun berlalu. Upacara telah selesai, dan semua murid bubar menuju ke kelas masing-masing. Rania dan Windy merupakan satu kelas, mereka sahabat yang tak terpisahkan.

Di dalam UKS, Mega sudah sadar dari pingsan. Dia izin ke toilet sebentar kepada petugas UKS perempuan yang bernama Fatma.

“Aku antar ya.”

“Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri, kok.”

“Kau serius mau sendirian?”

“Iya, aku sebentar, kok. Ga usah ditemani.”

“Baik, kalau sudah selesai, segera kembali ke sini, ya. Kondisi tubuhmu belum fit seratus persen.”

“Oke, aku akan segera kembali nanti.”

Fatma membiarkan Mega berjalan ke toilet sendirian tanpa menemaninya sebentar.

Jam di ruangan UKS terus berdetik. Sudah cukup lama, Fatma menunggu Mega yang belum kembali ke UKS. Petugas UKS itu curiga, karena tak biasanya Mega di toilet dengan waktu hampir setengah jam. Dia punya firasat buruk yang menimpa Mega. Sehingga, dia dengan segera pergi ke toilet.

Di dalam perjalanan menuju toilet, dia bertemu dengan Ayla dan Lesti yang ingin menjenguk kondisi Mega di UKS.

“Meganya tidak ada di sana, dia pergi ke toilet, tapi sampai saat ini belum kembali,” ujar Fatma.

“Lho, kok bisa? Ayo kita cari sama-sama!” ajak Ayla.

Mereka bertiga pun menuju ke toilet perempuan untuk mengecek kondisi Mega. Namun, pintu itu terkunci, memaksa mereka mengedor pintu toilet.

Tidak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka. Seorang perempuan keluar dari toilet, tapi bukan Mega yang mereka cari.

“Sembarangan aja menggedor pintu, ngantri dong!” gerutu perempuan itu.

Ada perempuan lain yang bukan Mega pun keluar dari toilet di sebelahnya.

“Mengganggu saja kalian!”

“Maaf, kami tak bermaksud ....”

Tanpa diduga, ada suara jeritan perempuan yang sepertinya dari depan gudang olahraga.

Fatma, Ayla, dan Lesti bergegas menuju sumber suara jeritan tadi dengan berlari.

“Ada apa?” tanya Fatma.

Perempuan itu mengacungkan jari telunjuknya dan dalam kondisi kaget, lalu dia pingsan.

“Amanda, apa yang kau lihat?” tanya Fatma.

Amanda tidak menjawab karena sudah ambruk. Fatma yang penasaran pun mengecek ke dalam gudang itu.

Rupanya Mega tewas dengan keadaan gantung diri menggunakan tali yang diikatkan ke langit-langit ruangan.

Seketika, kondisi pun hening, tak ada yang bicara, semua tenggelam dengan hal tersebut.

“Hei, jangan masuk ke TKP! Sebaiknya kita lapor polisi terlebih dahulu!” seru Rania yang tiba-tiba datang. Sementara itu, Fatma, Ayla, dan Lesti mengurungkan niatnya untuk masuk ke gudang itu.

Amanda yang menjadi saksi pertama tewasnya Mega pun pingsan, lalu dibawa ke UKS dengan segera.

Tidak butuh waktu lama, polisi datang ke TKP. Detektif Romy pun datang dengan membawa Dinda, sebagai jimat keberuntungannya. Dia datang karena dihubungi oleh Rania, untuk membantu polisi mengungkap kasus tersebut.

Setelah investigasi, dugaan tewasnya Mega adalah bunuh diri dengan mengikat lehernya menggunakan tambang. Membuat jalur napas dan darah yang berada di leher berhenti mengalir. Bisa dilihat dari kulit wajahnya yang berwarna kebiruan akibat kekurangan oksigen.

Dinda yang penasaran dengan kasus itu pun mendekati TKP, tapi sebelum itu, Detektif Romy mengetahuinya, lalu mengusirnya.

“Sudah kubilang, anak kecil tidak boleh mendekat!”

“Iya, Paman.”

‘Sial, dengan tubuh yang kecil ini, aku sulit mencari petunjuk kasus itu.’

Fatma yang membiarkan Mega berjalan sendiri dimintai keterangan oleh polisi. Dia tak menyangka, dengan keteledorannya itu, membuat masalah yang besar. Sehingga, dia menyadari kesalahannya dan berjanji akan bertanggung jawab.

Sementara itu, Amanda yang sudah sadar pun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Di saat semuanya berkumpul di ruang lain, serta mayat Mega yang sudah di evakuasi. Dinda punya kesempatan untuk memeriksa TKP.

Dia ingin mencari petunjuk yang mungkin saja masih ada.

‘Sepertinya lantai ini bekas ada yang diseret.’

Kemudian, Dinda masuk ke gudang olahraga, di sana banyak sekali perlengkapan olahraga, termasuk bola, meja, dan sebagainya.

Dinda kembali memeriksa tali dan meja itu, lalu tersenyum seperti baru mengetahui suatu hal.

‘Ini sih bukan bunuh diri, tapi pembunuhan ....’