‘Ini sih bukan bunuh diri, tapi pembunuhan. Di lantai ada bekas seretan, di meja itu samar-samar mencium aroma aneh, seperti obat bius. Ada sebuah benda jatuh di dekat pintu yang disambung ke tali yang digunakan untuk menggantung korban. Lalu, mengapa ada meja di sana? Bukannya kalau gantung diri memakai kursi? Mengapa sebelum mati, ia repot-repot menggeser meja yang menurutku lebih sulit?’ batin Dinda memikirkan sesuatu sambil memegang dagunya.
“Dinda, kau tidak boleh di sana!” teriak Rania yang tiba-tiba datang.
“Maaf, Kak. Aku cuma ingin melihat gudang ini, tempatnya cukup luas.”
“Lekas keluar dari sana! Kau masih kecil, tak boleh masuk ke TKP,” ucap Rania sambil menarik lengan Dinda. Mereka berdua terlihat sudah seperti adik kakak.
Berhubung ada kasus tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah itu terpaksa diberhentikan, dengan tujuan untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Namun, Rania tidak mau pulang, sebelum melihat ayahnya yang sudah menyelesaikan kasus tersebut.
Dinda dan Rania berjalan menuju samping ruangan interogasi untuk menguping pembicaraan mereka. Ingin tahu lebih detail kasus tersebut.
“Awalnya, aku mau ambil bola voli di gudang karena saat aku tugas piket di jam olahraga. Sebenarnya, aku piket bersama Cintya, tapi hari ini dia tidak berangkat karena sakit. Alhasil, aku yang terpaksa pergi ke gudang sendirian,” jelas Amanda.
“Apa yang kau katakan itu benar? Siapa tahu kau mengarang cerita. Bisa saja, kau yang membunuhnya, lalu pura-pura teriak dan pingsan,” tukas Detektif Romy.
“Aku berani sumpah, meskipun aku orang pertama yang melihat korban, tapi aku tidak membunuhnya, Pak Detektif. Aku pingsan karena takut, melihat orang yang menggantung,” sangkal Amanda.
“Pak Detektif, aku tadi memeriksanya. Memang dia pingsan, bukan pura-pura,” imbuh Fatma, petugas UKS.
“Pak Detektif, kami menemukan rekaman CCTV!” seru opsir Kevin menyerahkan sebuah perangkat pemutar rekaman.
Inspektur Galih dan Detektif Romy melihat rekaman itu dengan saksama dan berulang.
“Di rekaman CCTV, korban berjalan sendirian ke toilet pukul 10.00. Namun, setengah jam belum kembali. Jadi, kamu (Fatma) pukul 10.30 pergi mencarinya?”
“Benar, Pak Detektif. Setelah itu, aku bertemu Ayla dan Lesti yang sedang mencarinya, lalu ada teriakan dari gudang,” ucap Fatma.
“Sungguh sangat disayangkan, tidak ada kamera pengawas di depan gudang, karena letak gudang yang berada di pinggiran,” keluh Detektif Romy.
“Lalu, Ayla dan Lesti. Pukul 10.00 kalian ada di mana?” tanya Inspektur Galih.
“Pukul 10.00 kami berdua masih pelajaran olahraga. Selesai pelajaran, pukul 10.15 kami ganti pakaian, lalu pergi ke UKS,” ujar Ayla.
“Benar, Inspektur. Jam sepuluh sampai setengah sebelas, kami berdua saling bersama. Mana mungkin dari kami membunuh. Sudah pasti, dia bunuh diri kan?” sangkal Lesti.
“Sebenarnya, penyebabnya bukanlah bunuh diri. Tapi dibunuh,” ungkap Inspektur Galih yang membuat semua orang kaget.
Dinda yang mendengarnya dari luar ruangan itu pun tersenyum puas setelah orang-orang dari pihak kepolisian hampir mengungkap kasus tersebut. Namun, dia harus mencari barang bukti lain untuk memperkuat.
“Tetapi, aku masih belum bisa memastikan siapa pembunuhnya, karena alibi semua tersangka sempurna,” imbuh Inspektur Galih.
“Bagaimana kau bisa tahu, kalau bukan bunuh diri?” tanya Romy.
“Kau kan Detektif cerdas, mana mungkin tidak tahu?”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
‘Kau seperti biasanya, pura-pura bodoh. Tapi nanti otakmu tiba-tiba encer,’ batin Inspektur Galih.
“Kak Rania, bisa tolong bantu aku, ga?”
“Bantu apa, Dinda?”
“Antar aku ke ruangan CCTV. Aku ingin melihat rekaman itu di sana.”
“Memangnya kenapa kau ingin lihat?”
“Aku ingin membantu ayahmu.”
Seketika, Rania pun terbengong setelah mendengar ucapan Dinda. Bagaimana bisa, fisiknya yang masih anak SD, tapi pemikirannya sudah cukup matang seperti orang dewasa?
“Baik, ayo ikut aku ke ruang satpam untuk melihat rekaman itu.”
“Asyik.”
Setelah sampai di sana, mereka berdua dihalangi oleh satpam, tidak diperbolehkan masuk.
“Untuk saat ini, kami tidak mengizinkan kalian masuk. Itu sesuai perintah dari kepolisian.”
“Tapi, Ayahku itu Detektif, aku diperintahkan untuk ke sini, melihat rekaman itu,” ujar Rania memaksa masuk ruangan.
“Baiklah, kalau begitu. Tapi bocah kecil ini tidak diperkenankan masuk.”
“Heh! Aku adiknya, juga anak dari Detektif Romy!” cecar Dinda.
Kedua satpam itu memasang wajah jelek.
“Apa boleh buat,” ucap salah satu satpam. Setelah itu, dia memperlihatkan rekaman itu kepada Rania dan Dinda.
Pada saat pukul 10.00 sampai pukul 10.30 mereka lihat secara berulang dan dipercepat. Memang benar, tidak ada petunjuk yang aneh.
Tanpa sengaja, Dinda melihat waktu di arlojinya, dan mencocokkan dengan jam di satpam dan hasilnya ada perbedaan. Jam di satpam dipercepat sekitar 10 menit.
“Pak Satpam, mengapa jam dj sini sama di arloji berbeda?” tanya Dinda.
“Kau teliti sekali, Nak. Memang, dipercepat 12 menit agar murid-murid di sini bisa lebih disiplin dan berangkat lebih awal dengan mengacu waktu ini. Semua jam di sekolah ini dipercepat.”
“Jadi, waktu di kamera pengawas pun dipercepat?” tanya Dinda.
“Benar sekali.”
Dinda kaget setelah mengetahui hal itu dan berpikir panjang.
‘Kalau begitu, korban pergi ke toilet sebelum pukul sepuluh, atau sekitar pukul 09.48. Waktu dua belas menit itu lebih dari cukup untuk melakukan tindakan pembunuhan. Namun, aku masih belum tahu siapa pelakunya, karena harus tahu motif pembunuhan itu apa, atau mendapatkan bukti lain.’
“Kak Rania, apa Ayla dan Lesti punya dendam pribadi, atau masalah pribadi kepada korban?”
“Kurang tahu, karena mereka berdua beda kelas. Namun, setahuku, ada persaingan prestasi. Ketiganya masuk sepuluh besar terbaik satu angkatan dalam satu jurusan.”
“Oh, begitu ya,” ucap Dinda yang pergi.
“Eh Dinda, kau mau ke mana?”
“Mencari petunjuk lain, Kak.”
Dinda berjalan menuju ke TKP untuk mencari kembali petunjuk yang mungkin saja terlewat. Namun, di sana sudah ada banyak petugas forensik yang melakukan investigasi ulang.
Di saat Dinda hampir putus asa membantu Detektif Romy menyelesaikan kasus. Dia sempat melirik ke arah jadwal pelajaran.
“Jadwal pelajaran apa ya, hari ini?” Dinda bermonolog sambil melihatnya. Dia baru saja menyadari satu hal, hari Senin itu, ada dua kelas yang dapat jam olahraga. Yaitu kelas IPA2 yang dihuni korban dan dua tersangka, dan kelas IPA3 yang dihuni Amanda, selaku saksi pertama.
Dia melihat jadwal itu, kelas IPA2 jadwal olahraganya setelah upacara. Pukul 09.00 sampai pukul 10.15. Sedangkan kelas IPA3 mulai pukul 10.30. Kalau waktu di sekolah itu dipercepat dari waktu normal. Bisa jadi, kedua perempuan itu bisa melakukan tindakan pembunuhan, meskipun alibi mereka kuat.
“Kak Rania, siapa guru olahraga yang mengajar kelas IPA2 dan IPA3?”
“Guru olahraga itu sama, karena satu angkatan denganku. Di adalah Pak Fathoni.”
“Bisa antar aku menemui dia?”
“Oke, ayo. Sebelum dia keburu pulang.”
Mengejar waktu, mereka berdua mencari keberadaan Pak Fathoni, sebagai saksi utama yang tahu semuanya.
Untung saja, dia masih berada di kantor.
“Mohon maaf, saya mengganggu, Pak. Ini adikku mau bertanya sesuatu saat jam pelajaran olahraga.”
“Siapa adikmu?” tanya dia.
Dinda melambaikan tangannya tanda menyapa guru tersebut.
“Oh, kamu. Bocah cilik. Kamu mau nanya apa?”
“Begini Pak Guru. Materi apa yang Anda ajarkan tadi?”
“Tadi itu bukan materi, tapi semacam ujian kecil untuk mendapatkan nilai dari materi bola voli.”
“Teknisnya gimana, Pak Guru?”
“Setelah murid mendapatkan nilai. Mereka bisa langsung beristirahat.”
Dinda terbelalak kaget setelah mengetahui hal itu. Kalau kejadiannya seperti itu, pembunuh akan lebih banyak waktu untuk melakukan eksekusinya. Apalagi kalau absen pertama. Otomatis nama dengan awalan huruf ‘A’ yang akan dipanggil duluan.
‘Jadi, apakah mungkin Ayla pembunuhnya ...?’