‘Jadi, apakah mungkin Ayla pembunuhnya?’ gumam Dinda sambil melihat ke arah absensi kelas IPA2. Memang, Ayla urutan pertama absensi tersebut.
“Kamu siapa? Kok begitu cerdas?” tanya Pak Fathoni dengan nada lembut, yang secara tak langsung memujinya. Namun, di dalam hati kecilnya, ia mencurigai sesuatu. Gadis kecil itu bagaimana bisa, pikirannya tak sesuai dengan usianya?
“Dia adalah adikku, Pak,” jawab Rania menyela. Dia menjawab seperti itu agar Pak Fathoni tak menginterogasinya. Rania paham betul dengan sifat guru olahraganya yang selalu ingin tahu terhadap sesuatu yang belum jelas.
“Oh, anak Detektif Romy, pantas aja cerdas. Sini, aku bisikin sesuatu,” suruhnya untuk mendekatkan telinga Dinda padanya. Rania pun ikut menguping, karena juga penasaran dengan informasi tersebut. Pak Fathoni mulai menjelaskan dengan berbisik. Sementara Dinda mengangguk pelan, memahami setiap kata demi kata yang ia dengar.
‘Oh, jadi begitu. Aku sudah tahu siapa pelakunya dan motif pembunuhnya. Paman, aku akan membantumu,’ kata Dinda dalam hati.
Berkat informasi dari Pak Fathoni, Dinda sudah berhasil memecahkan kasus tersebut. Selanjutnya, dia hanya harus menulis deduksinya, dan diserahkan kepada Detektif Romy secara diam-diam.
“Pak Guru, boleh aku minta salinan absensi kelas IPA2 dan jadwal pelajarannya?” pinta Dinda.
“Boleh saja. Sebentar, aku carikan dulu.”
Pak Fathoni membuka lacinya dan mengambil selembar kertas kecil, lalu memberikannya, sebuah benda yang diinginkan Dinda. Setelah semuanya udah jelas, mereka berdua pergi meninggalkan guru tersebut.
“Aku mau ke toilet sebentar, Kak,” kata Dinda meminta izin kepada Rania.
“Apa perlu aku temani?”
“Tidak usah, Kak.”
“Kau yakin? Tidak takut dengan hantu Mega?”
“Tenang, Kak. Aku kan cowok.”
“Hah?! Cowok?” tanya Rania bingung.
“Bu-bukan gitu, Kak. Maksudnya, meski aku cewek, tapi keberanianku seperti cowok.”
“Oh begitu.”
‘Huffttt! Hampir saja aku seceplosan.’
Di dalam toilet, dia mengambil buku catatan, lalu menulis sesuatu di sana. Setelah itu, menyobeknya.
‘Baik, Paman Detektif, aku serahkan kepadamu kasus ini,’ batin Dinda.
Saat dia keluar dari toilet, kebetulan Detektif Romy pun berjalan menuju ke tempat tersebut.
“Kau lagi,” cecar Detektif Romy melihat Dinda. Diam-diam, Dinda menyelampitkan sobekan kertas itu di saku celananya. Tak lupa, dia membawa bukti lain, yaitu jadwal pelajaran dan absensi kelas yang dia simpan sendiri.
Detektif Romy kembali menuju ruang interogasi untuk melanjutkan pekerjaannya memecahkan kasus itu.
“Bagaimana, Pak Romy. Seperti kasus sebelumnya, setelah dari WC, kau akan tahu siapa pelakunya,” ucap Inspektur Galih dengan nada sedikit meledek.
“Oh tidak, aku belum bisa memecahkannya. Kasus ini sangat rumit. Aku masih butuh bukti lain lagi.”
“Sepertinya semua bukti sudah terkumpul.”
“Maksudnya begini, mending kita tunggu laporan petugas forensik dalam memeriksa sidik jari itu, milik siapa.”
“Pak Inspektur. Di tali itu, tidak ada sidik jari, atau apa pun. Sudah kami teliti berkali-kali. Kemungkinan pembunuh memakai sarung tangan, atau semacamnya,”ujar Opsir Kevin melaporkan situasinya.
“Apa kau menemukan sarung tangan itu?”
“Kami tidak menemukannya, Inspektur. Mungkin pembunuhnya membuangnya jauh-jauh.”
“Sial sekali, kasus ini belum bisa dipecahkan. Aku sudah lelah,” ucapnya sambil menguap, lalu tanpa sengaja memasukkan tangannya ke saku celananya.
‘Eh, benda aneh lagi,’ pikir Detektif Romy. Dia mengeluarkan sobekan kertas itu, lalu membaca tulisannya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Pak Detektif, apa kau sudah menemukan jawabannya?”
“Iya, Inspektur. Aku baru saja mengetahui semuanya,” ucap Detektif Romy tersenyum puas. Sementara itu, semua orang di tempat itu pun tercengang.
“Kalau begitu, siapa pelakunya?” tanya Inspektur Galih tidak sabar.
“Biar aku jelaskan kronologi rincinya terlebih dahulu,” pinta Detektif Romy.
“Baik, silakan.”
Detektif Romy mulai menjelaskan deduksinya secara detail.
Awal mula terjadinya pembunuhan itu berpikir kalau itu tindakan bunuh diri dari korban sendiri. Namun, itu bukanlah bunuh diri, melainkan pembunuhan yang sudah terencana.
Tersangka sudah memendam benci secara diam-diam kepada korban. Motifnya, persaingan prestasi yang tidak baik. Bukannya mereka bersaing secara materi, tapi justru melakukan perang dingin.
Pelaku memanfaatkan kelengahan korban yang mempunyai penyakit jantung bawaan sejak lahir. Yakni, kebiasaan saat upacara bendera, dia selalu saja pingsan.
Sehingga, pada waktu hari ini, dia melancarkan aksinya yang sudah dipikirkan matang-matang, dia sudah merencanakan jauh-jauh hari dengan mempertimbangkan kebiasaan setiap hari korban, dan tata letak bangunan sekolah itu agar tak terekam CCTV.
Pelaku pembunuhan bisa dipersempit menjadi dua, yaitu teman satu kelasnya. Karena dialah yang selalu bisa mengamati gerak-geriknya setiap waktu.
Sesuai kata guru olahraga, pelajaran saat itu bukan materi, tapi mengambil nilai materi bola voli. Jadi, setelah murid dipanggil dan mendapatkan nilai, dia boleh istirahat.
Pelaku sudah jelas, dipanggil terlebih dulu, lalu dia menunggu waktu korban pergi ke toilet. Di saat itulah, dia membius korban. Lalu, korban diseret menuju ke gudang dengan paksa, karena kondisi saat itu tak berdaya.
“Langsung ke intinya saja, Pak Detektif!” suruh Inspektur, “siapa pembunuhnya?”
“Baik, pembunuhnya adalah kau, Ayla. Setelah aku memeriksa lebih lanjut. Nama kamu di urutan absensi awal. Kau pasti yang membunuhnya!” tuduh Detektif Romy sambil mengacungkan jarinya.
“Pak Detektif! Aku berani sumpah, aku tidak membunuhnya. Kata Anda tadi, alibiku kuat. Aku bersama Lesti pada pukul 10.00 sampai pukul 10.30 di mana korban ditemukan menggantung!” sangkal Ayla.
“Benar itu, Romy. Alibinya sempurna. Waktu kematian tepat pukul 10.30 saat mayat itu pertama kali ditemukan,” imbuh Inspektur Galih yang disetujui oleh petugas forensik di sana.
“Waktu kematian bisa diakali dengan sebuah cara yang tadi aku amati.”
“Bagaimana caranya, Pak Detektif?”
“Aku tadi sempat melihat barang berat jatuh di balik pintu masuk gudang. Kemungkinan korban dibius itu belum mati. Dia diseret menuju gudang dalam keadaan masih bernapas. Kemudian, pelaku memanjat dengan tangga lipat untuk mengikat tali tambang di langit-langit gudang. Lalu, kau membaringkan korban di meja itu sambil mengikatkan simpul laso pada lehernya dengan mengendurkan ikatannya. Kemudian, ada tali yang diikatkan pada benda yang berada di dekat pintu masuk. Saat itu korban belumlah mati, dia hanya tidak sadarkan diri. Setelah itu, pelaku meninggalkannya di gudang untuk menciptakan alibinya sendiri. Ini yang paling krusial, di saat ada orang lain masuk gudang, dia kan membuka pintu. Pintu itu menabrak barang berat yang berada di dekat pintu hingga jatuh. Sehingga, menarik tali yang diikatkan pada korban. Korban pun tertarik ke atas karena benda jatuh itu. Membuat waktu kematian tepat setelah orang lain masuk.”
Dinda yang mendengar penjelasan Detektif Romy pun tersenyum puas. Pemikiran mereka berdua sama. Dinda sukses membuat Romy menyadari sesuatu yang janggal itu.
“Masuk akal juga,” ucap Inspektur Galih.
“Pak Detektif, aku tidak melakukannya. Aku takut ketinggian, mana mungkin aku berani memanjat dengan menggunakan tangga lipat.” Ayla terus menyangkal.
Detektif Romy dan Dinda pun saat itu bingung, “bagaimana bisa, Ayla tidak melakukannya, padahal sudah jelas-jelas bukti sudah ada.
“Siapa tahu, kau nekat untuk berani memanjat dengan tangga itu,” ujar Detektif Romy.
“Ayla memang takut ketinggian,” ucap seseorang berjalan masuk ruangan interogasi ....