“Ayla memang takut ketinggian,” ucap seseorang berjalan masuk ruangan interogasi.
Ternyata dia adalah guru olahraga - Pak Fathoni yang melangkah masuk ruangan interogasi. Suara sepatu itu terdengar sosoknya penuh kewibawaan.
“Ayla mengatakan yang sebenarnya kalau dia bukanlah pembunuhnya,” imbuh Pak Fathoni, “deduksi Pak Detektif kemungkinan benar, tapi aku meragukan hal itu, karena dia memang tidak bisa memanjat.”
“Pak Guru tidak usah membela dia, mentang-mentang dia cantik. Kau pilih kasih padanya!” Lesti yang tadi diam pun angkat bicara.
Semua orang tercengang dengan penuturan Pak Fathoni. Rupanya, dia memancing Lesti agar dia mau bicara.
“Akhirnya kau mau bicara juga, sekarang mengaku saja, kalau kaulah pembunuhnya!” paksa Pak Fathoni. Membuat semua orang terbengong. Termasuk Detektif Romy dan Dinda yang tidak menyangka kalau Lesti yang tadi diam adalah orang yang mungkin saja terlibat hal tersebut.
“Pak Guru punya bukti apa, kalau aku pembunuhnya?!” cecar Lesti.
“Kau itu cukup tomboi. Kau jago manjat dan sama-sama punya dendam pribadi terhadap Mega kan?” tukas Pak Fathoni.
Lesti hanya diam saja dan memasang muka pucat dan penuh ketakutan. Ia menoleh ke kanan-kirinya, berharap ada orang yang membelanya. Namun, semua hanya diam. Lesti tak tahu harus bagaimana lagi.
“Kok bisa? Apa karena aku tomboi yang membuat aku dituduh menjadi tersangka? Jangan sembarangan menuduh, Pak Guru. Coba keluarkan bukti lain yang relevan!” tantang Lesty sampai keringat membasahi wajahnya yang polos.
Pak Fathoni terdiam sesaat. Ia tersenyum mendengar muridnya sendiri menyangkal. Ia pun tak percaya, Lesty senekat itu melakukan hal bodoh yang harusnya bisa dibicarakan secara baik-baik. Dia pun mulai membuka suaranya.
“Saat penilaian bola voli itu, aku absen mulai dari yang paling bawah terlebih dahulu. Ayla tadi tidak mengatakan hal itu, karena mungkin dia gugup. Lagi pula, aku sudah lama mengawasimu kalau kau akan membunuh sainganmu dalam siapa yang lebih berprestasi. Bukankah seperti itu, Zara Lestiana? Namamu berawalan huruf Z, sehingga kau dipanggil terlebih dahulu,” ungkap Pak Fathoni.
“Jadi, kalau kau dapat giliran pertama, kau cukup waktu untuk membunuh korban,” sambung Detektif Romy.
“Aku tak menyangka, seorang gadis polos yang masih SMA melakukan tindak kriminal,” sahut Inspektur Galih.
Lesti tak mengatakan sepatah kata pun, karena dia sudah kalah telak.
“Kau beneran membunuh Mega, Les? Kau tega banget, Lesti! Dia teman yang mengajarimu berbagai hal, tapi kau ...!” seru Ayla sambil mencengkeram kerah seragamnya. Sementara, Opsir Dina yang tak jauh dari mereka, melerainya.
“Sudah, sudah. Kita serahkan ke pihak yang berwajib,” ucap Pak Fathoni.
“Lesti, mending kau akui saja!” ujar Inspektur Galih.
Lesti terdiam, tertunduk lesu. Namun, bibirnya mulai bergerak.
“Iya, aku memang pembunuhnya. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang dingin. Meskipun dia cerdas dan selalu mengajariku berbagai hal, tapi dia selalu meminta uang jajanku setiap hari dengan paksa.”
“Lesti, mengapa kau tidak membicarakan padanya secara baik-baik? Atau ngomong sama aku, nanti aku kasi solusi,” ucap Ayla.
“Maaf, aku sudah terlanjur membencinya. Aku tahu, fisiknya lemah, tapi dia terus mengancamku akan menyebarkan aibku lewat media sosial jika tak memberinya uang jajan.”
“Baiklah, kalau begitu, ikut kami menuju kantor polisi untuk tahap selanjutnya,” kata Opsir Kevin, lalu memborgolnya dan membawanya pergi.
“Jangan lupa, panggil orang tuanya juga untuk menyusul!” suruh Inspektur Galih.
“Dimengerti.”
“Pak guru, terima kasih sudah membantu kami menyelesaikan kasus ini. Tanpa Anda, bisa jadi salah menangkap pelaku pembunuhan itu,” ucap Inspektur Galih sambil sedikit melirik dengan tatapan meledek ke Romy.
“Berterima kasihlah kepada Bocah kecil itu,” kata Pak Fathoni sambil melirik ke arah Dinda.
“Maksudmu, Bocah ingusan itu?” tanya Detektif Romy, “dia cuma bocah biasa, tak mungkin bisa melakukan apa-apa. Hanya saja, dia adalah jimat keberuntunganku. Setiap aku membawa dia, aku pasti sukses menangani kasus rumit.”
“Tidakkah itu aneh?” sangkal Pak Fathoni yang membuat semua orang bengong.
Sedangkan Dinda berkeringat dingin, dia takut, andaikan identitasnya terbongkar oleh mereka semua.
“Anak itu mampu menyadari perbedaan waktu sekolah ini dengan waktu normal. Dia pun tahu, barang bukti penting adalah jadwal pelajaran dan absensi kelas. Kecerdasan itu tidak wajar,” imbuh Pak Fathoni.
“Iya, memang tidak wajar. Yang penting, kasus sudah selesai, kita lebih baik pulang,” ujar Inspektur Galih.
“Apa pedulinya bocah itu, lupakan saja, dia cuma bocah ingusan biasa yang selalu merepotkan dan sering menghilang dalam kondisi tertentu,” lanjut Detektif Romy.
“Tapi, Pak?” sela Fathoni lagi yang tak dihiraukan oleh yang lainnya.
Kasus pun ditutup setelah semuanya terungkap. Semua orang bubar, keluar dari ruangan interogasi, sementara tersangka yang masih teman korban pun dibawa oleh polisi.
Tak jauh dari sana, tiba-tiba Dinda merasa akan buang air kecil.
“Kak, aku izin ke toilet sebentar, ya.”
“Lho, kita mau pergi, kok malah kamu kebelet, sih?”
“Iya, udah enggak nahan nih.”
"Perlu aku antar?”
“Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri, kok.”
“Baik, aku tunggu di depan gerbang ya. Setelah selesai, langsung ke sana aja.”
“Baik, Kak.”
Dinda pun berlari menuju toilet laki-laki. Ada beberapa pasang mata yang melihatnya dengan aneh. Bukaan tanpa sebab, tapi bagaimana bisa, seorang anak SD yang masih memakai seragam bisa masuk ke halaman sekolah anak SMA?
“Hei, kalian liat apa? Anak perempuan itu, anak dari detektif berkumis tadi,” ucap seorang cowok.
“Begitu, ya. Pantas aja dia bisa masuk ke sekolah ini. Rupanya, ada yang membawanya.”
“Tapi, dia cakep juga.”
“Cakep? Kau pedofil? Liat anak SD udah dibilang cakep?”
“Enggak, nanti akan tumbuh menjadi gadis yang cakep.”
**
Setelah selesai membuang hajatnya, Dinda pun keluar dari toilet, tapi ada yang menghadangnya, sosok tinggi yang berada di luar. Rupanya Pak Fathoni, dia masih penasaran dengan Dinda. Sehingga mengikutinya sebelum ia pulang dan akan mengajukan berbagai pertanyaan padanya.
“Jam tangan apa yang kau pakai?” Tiba-tiba Pak Fathoni bertanya seperti itu.
“Ini cuma jam tangan biasa, kok,” jawab Dinda, “kalau Bapak mau, beli dong, di pasar banyak.”
“Sebenarnya, bukan jam tangan yang kamu pakai yang ingin aku tanyakan, Nak.”
Pak Fathoni menatap Dinda dalam-dalam, menelusuri tiap gerak-gerik bocah cerdas yang terlalu tenang untuk anak seusianya. Ada sesuatu yang ganjil. Bukan sekadar kecerdasannya, tapi caranya membaca situasi, cara dia mengamati orang, cara dia berbicara dengan kalimat yang terlalu terukur.
Pak Fathoni masih mengingat saat ia berada di ruang CCTV dan meminta absensi, hal itu tak terpikirkan oleh para polisi, tapi bagaimana mungkin ia bisa menyadarinya?
Pak Fathoni membuka percakapan dengan nada rendah, tapi penuh tekanan.
“Kau ini … sebenarnya siapa, Dinda?”
Dinda menyipitkan mata, mencoba tetap tenang agar tak melakukan gerak-gerik mencurigakan. “Maksud Bapak?” “Jangan pura-pura bodoh. Anak biasa tak mungkin menyusun hipotesis secepat itu saat kejadian pembunuhan tadi. Katanya ... kau anak dari Detektif Romy? Sepertinya bukan. Bahasa tubuh kalian terlalu berbeda.”
“Aku cuma bocah kelas empat SD, Pak. Bukan siapa-siapa.”
“Iya, aku tahu, tapi kecerdasanmu di atas rata-rata di usiamu.”
Dinda menahan napas sejenak. Dalam hati, dia mulai menganalisis sosok di depannya. "Menarik… dia bisa membaca bahasa tubuh, bahkan mengaitkannya dengan deduksi. Ini bukan guru biasa. Lantas, siapa sebenarnya Pak Fathoni ...?"