Detektif Imut - Rencana yang Mustahil - Bab 28

Penulis Yuan_bee
29 September 2025

Dinda menahan napas sejenak. Dalam hati, dia mulai menganalisis sosok di depannya. "Menarik … dia bisa membaca bahasa tubuh, bahkan mengaitkannya dengan deduksi. Ini bukan guru biasa. Siapa sebenarnya Pak Fathoni?"

Namun, sebelum Dinda sempat menggali lebih dalam, suara tawa ringan dari pintu membuyarkan suasana tegang tadi. “Pak Fathoni! Wah, Bapak benar-benar keren bisa mengungkap pelaku pembunuhan tadi. Gila … bapak bisa mengalahkan para polisi!”

Wajah Pak Fathoni seketika berubah. Ia tersenyum kaku, sedikit salah tingkah. Sementara Dinda memasang wajah jelek tak percaya dengan guru yang tadinya misterius. Begitu konyol, aura yang tadi menakutkan berubah drastis jadi candaan. “Ah … ya, hanya kebetulan saja, aku cuma ingin mengungkap kebenaran.”

Dinda melihat celah. Dalam hitungan detik, ia melangkah pelan ke belakang, mengendap-endap dan tubuhnya menempel dinding papan pengumuman, menghindari pandangan mereka. Ia mengatur napasnya, bergerak senyap seperti yang pernah dia pelajari dari Detektif Romy .

Dengan cekatan, Dinda pun menuju gerbang tanpa suara, lalu menuruni bangunan tangga menuju tempat rahasia di mana Detektif Romy dan Rania menunggunya. Dalam pikirannya, suara Pak Fathoni masih terngiang dan pertanyaan itu belum terjawab. Baik dari dirinya, maupun dari sosok misterius guru tersebut.

“Dinda, kau lama banget, kenapa sih?” tanya Rania.

“Enggak apa-apa, Kak. Sepertinya yang dalam perut sulit keluar.”

Setelah mendengar jawaban Dinda, pandangan Rania tertuju ke ayahnya.

“Ngomong-ngomong, Ayah memarkirkan mobil di mana?”

“Mobil siapa? Aku ke sini naik bus tadi.”

“Lho, kenapa ga bawa mobil? Meskipun masih diberlakukan aturan ganjil-genap, tapi mobil milik Ayah berakhiran genap sesuai hari ini. Masih bisa jalan, kan?”

“Tadinya, tapi saat perjalanan ke sini, mobilnya mogok di pasar.”

“Yaelah, sial banget, Paman,” celoteh Dinda memasang wajah jelek.

“Lalu, mobil Ayah di bengkel mana?”

“Di bengkel mobil ‘Bagus’ sebelah toko daging,” jawab Romy .

“Berarti, mobilnya masih di sana?”

“Iya, masih di sana.”

“Kenapa enggak sekalian diambil?”

“Masalahnya, kerusakan mobil cukup parah. Tidak mungkin hari ini sudah berhasil diperbaiki.”

“Ayah, makanya beli mobil baru! Mobil butut kaya gitu kok masih dipakai?!”

“Sampai kapan pun, aku tidak akan menjual mobil itu. Sebab, mobil itu penuh kenangan dan kisah lampau.”

“Maksud Ayah, kenangan bersama ibu?”

“Hei, ngapain juga mengingat harimau betina itu. Padahal, aku sudah berusaha melupakannya.”

‘Dasar! Ayah dan anak sama saja sifatnya,’ ledek Dinda dalam hati.

Pada akhirnya, mereka bertiga pulang dengan berjalan kaki, meski kondisi siang itu panas tak karuan.

Beberapa saat kemudian, setelah sampai di suatu tempat, ada yang memanggil.

“Halo Dinda!” sapa seseorang dari seberang jalan. Dia pun menengok ke arah sumber suara itu. Rupanya, teman-teman sekolahnya. Mereka menyeberang, lalu menemui Dinda.

“Kalian kenapa, kok di sini?” tanya Dinda.

“Justru aku yang harus bertanya padamu, kenapa kamu belum pulang dari sekolah?”

“Tadi ada kasus pembunuhan di SMA. Aku penasaran, lalu aku ke sana sebentar.”

“Apa kau berhasil memecahkan kasus itu?” sela Fadil.

“Paman yang berhasil memecahkannya,” kata Dinda sambil menunjuk Detektif Romy menggunakan dagunya.

“Dinda, kau kalau mau main sama temenmu. Pulang dulu, ganti pakaianmu!” suruh Rania.

“Baik, Kak. Aku akan pulang dulu.”

“Eh, Dinda. Nanti nyusul kami. Di wahana permainan anak yang baru saja diresmikan. Di sana mumpung ada diskon harga,” ajak Dani.

“Iya, nanti nunggu situasi dan kondisi ya,” balas Dinda.

“Oke, dadah!”

“Dadah!”

Dinda memutuskan untuk pulang, karena tidak tertarik dengan wahana permainan itu.

Dia tahu, meskipun baru, tapi sebagian list gim sudah ia tamatkan dulu sewaktu kecil.

Setelah sampai di rumah, dia memikirkan kembali kode angka itu. Membacanya berulang-ulang, “aku masih hidup.”

‘Mana mungkin, Ibu atau Ayah sempat menulisnya?’ pikir Dinda, ‘atau jangan-jangan?’

**

Markas mafia di pulau Barung, di malam hari

"Fadil, aku tak menyangka kau pergi begitu cepat,” ucap Sherly dari balik jendela kamarnya. Dia menatap pemandangan di depannya dengan sendu. Kelopak matanya berbinar, seakan memikirkan sesuatu yang pernah terjadi pada Fadil yang sempat tertangkap karena upaya kabur dari organisasi.

Pandangan matanya pun kosong dengan tatapan yang tak jelas. Cahaya rembulan separuh beserta bintang-bintang di malam itu, saksi bisu kesedihan Sherly yang tak terbendung.

“Jika kau mati, hidupku tiada arti di sini. Apalagi, tiap hari harus bekerja sama dengan ilmuwan sinting itu! (Dokter Lucas) Aku tidak mau!”

Perempuan itu adalah Sherly, ilmuwan perempuan yang mempunyai kecerdasan yang di atas rata-rata. Terlebih, dia terampil di bidang kimia, sehingga menempatkan dirinya untuk membantu Lucas.

Fadil dan Sherly menjalin hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain tanpa diketahui oleh orang lain. Namun, pada akhirnya, hubungan itu pun diketahui oleh Stevan - orang yang tak menyukai Fadil.

Stevan dan Fadil memang bermusuhan sejak lama. Sebab, mereka berdua sama-sama memperebutkan ilmuwan cerdas tersebut. Namun, Sherly lebih memilih Fadil yang lebih peka dan lebih mau bertanggung jawab daripada Stevan.

Sherly sudah tahu tujuan Stevan sebenarnya punya niat buruk.

Setelah itu, dia membuka lemari kamarnya. Mengambil sebuah barang yang ia simpan sebelumnya. Rupanya, sebuah suntikan yang berisikan serum berwarna hijau muda.

Setelah Fadil dinyatakan tewas – terdengar dari beberapa orang yang berbicara di luar kamarnya, Sherly berniat untuk bunuh diri menggunakan serum itu, lalu menceburkan dirinya ke laut, agar tak seorang pun bisa menemukan mayatnya.

“Mungkin aku harus melakukannya, malam ini juga.”

Meskipun keinginan Sherly untuk mengakhiri hidupnya sudah bulat, tapi dia tidak ingin mayatnya ditemukan oleh mereka.

Rencana Sherly tak hanya bunuh diri, rupanya ia sudah memasang pengatur waktu pukul 00.00 agar timbul sebuah ledakan akibat bom yang dia rancang secara diam-diam agar tempat tersebut meledak.

“Oh Tuhan, maafkan diriku ini. Tidak ada pilihan lain, selain pergi dari dunia ini secepatnya.”

Di kembali menatap ke luar jendela dengan sedih.

Setengah jam pun berlalu, Sherly sudah bersiap di tempatnya. Namun, belum ada suara ledakan. Sherly pun bimbang, bila saja rakitannya itu gagal.

Tak berselang lama, sesuatu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

“Booom!”

Bom meledak, suara ditimbulkan itu sangat dahsyat. Diikuti oleh asap yang mengepul ke langit. Listrik di tempat itu pun padam seketika karena memutus kabel generator.

“Inilah saatnya.” Sherly mengikatkan tali pada paku yang tertancap di dinding. Segera, dia turun menggunakan tali tersebut dari kamarnya yang berlantai dua.

Di bawah sana aman, karena tidak ada anggota satu pun, karena masih sibuk mengurus ledakan itu. Namun, Sherly harus tetap hati-hati, apabila ada seseorang yang mengintainya.

Stevan dan Darwin sudah sampai ke tempat sumber ledakan itu. Asap tadi mengepul sudah hilang. Sehingga, mereka bisa mencari sebab ledakan itu.

“Sepertinya ada bau amoniak,” ujar Stevan.

“Iya, mungkin listrik yang mengalir terlalu besar. Sehingga, muncul ledakan itu,” sela Darwin.

“Dasar bodoh! Ada seseorang yang sengaja meletakkannya di tempat ini. Tujuannya untuk memadamkan listrik.”

“Lalu, siapa yang melakukannya?”

“Entah, kita belum tahu siapa itu. Makanya masih aku pikirkan.”

“Lalu, apa tujuan dia mematikan listrik?” tanya Darwin.

“Benar juga, ya. Mengapa dia repot-repot memadamkan listrik ini?” cetus Stevan bingung, “atau jangan-jangan?”

“Jangan-jangan gimana?”

“Darwin! Kau tetap di sini, dan perbaiki kabel itu dengan yang lainnya. Aku akan pergi memeriksa sesuatu.”

“Baik, kalau begitu.”

Ternyata, Stevan baru saja menyadari sesuatu, lalu dia bergegas menuju ke sebuah tempat. Rupanya, kamar Sherly yang dia tuju. Dia coba membuka pintu, tapi sudah terkunci dari dalam.

Tak ada cara lain lagi, selain terpaksa mendobrak pintu tersebut. Pintu pun terbuka, tapi tak ada orang di dalam.

“Sherly! Sherly!”