“Sherly! Sherly!”
Stevan menemukan seutas tali tambang yang diikatkan ke paku dinding yang mengarah menuju bawah.
“Sial! Dia kabur!” gerutu Stevan,“ rupanya, tujuan pengeboman itu untuk memastikan listrik agar gelap.
“Dia pasti belum jauh.” Stevan menggunakan tali itu untuk turun dari kamar lantai dua. Namun, Stevan tidak tahu harus ke mana lagi untuk mencari Sherly.
Firasatnya mengatakan, kalau Sherly pasti pergi ke tebing untuk kabur dari tempat tersebut, atau pun mengakhiri hidupnya.
Benar saja, Stevan pun melihat seseorang yang memakai jubah serba hitam di sana. Tak ada yang lain lagi, selain Sherly yang di sana.
“Sherly! Apa yang kau lakukan!” Namun, Stevan terlambat, ia sudah menceburkan dirinya ke lautan lewat tebing yang tinggi.
Tak ada pilihan lain lagi, Stevan ikut melompat dari tebing tadi.
Pikiran satu-satunya adalah menyelamatkan Sherly sebelum dia tenggelam lebih lama. Pada akhirnya, mereka berdua pun hanyut.
**
Brooksville di waktu yang sama
Dinda terbangun dari tidurnya, baru saja mengalami mimpi buruk. Segera, ia melihat waktu, menyadari waktu itu masih malam hari.
“Mimpi tadi sangat aneh.”
Dinda kembali mengingat kejadian disuntik serum oleh para anggota organisasi gelap beberapa waktu sebelumnya. Dengan mimpi yang dialaminya tadi, ia hanya bisa terjaga.
Pagi harinya, Dinda berangkat sekolah seperti biasa. Namun, tentang mimpi tadi malam, dia masih belum bisa melupakannya.
Ia berangkat ke sekolah seperti biasanya, menjalani masa sekolah dasar dengan tubuhnya yang menjadi kecil. Namun, pikiran masih utuh seperti sebelumnya.
Jam pelajaran pun usai, tapi Dinda masih saja terbengong memikirkan sesuatu yang membuat teman-temannya bingung.
“Dinda, kau kenapa?” tanya Maya yang membuatnya kaget. Dinda tadinya melamun, baru menyadari kalau jam pulang sekolah pun tiba.
“Kau mau menginap di sini?” sela Fadil.
“Ga biasanya, kamu seperti itu,” imbuh Dani.
“Oh, udah jam pulang ya.”
“Iya, kamu ga enak badan?” tanya Maya perhatian.
“Sepertinya iya.”
“Kalau begitu, izinkan kami bertiga mengantarmu sampai ke rumah,” kata Dani menawarkan bantuan.
“Tidak usah, tidak usah. Aku tidak ada masalah apa-apa, kok. Aku baik-baik saja dan bisa pulang sendiri,” tolak Dinda sambil membuka kedua tangannya.
“Serius kamu? Ga bohong?” tanya Fadil.
“Iya, ga bohong.”
“Baiklah kalau begitu.”
**
Sementara itu, di dalam rumah Detektif Romy, telepon berdering, sambil bergetar di atas meja kerjanya. Romy berjalan seperti zombi dari kamarnya, karena masih mengantuk. Meskipun saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Dia pun mengangkat telepon.
“Halo! Detektif Romy di sini, ada yang bisa saya bantu?”
Setelah dia bertanya, lalu dari balik telepon mengatak sesuatu yang membuatnya terbelalak kaget.
“Apa? Dua juta? Tidakkah terlalu mahal?”
Di tempat lain, rupanya seorang bengkel mobil itu menelepon Romy untuk memberitahukan kalau mobil yang tadinya mogok, sudah berhasil diperbaiki, dengan biaya total dua juta.
“Ada spare-part yang kata Bapak harus diganti. Spare-part itu mahal, karena bagian penting mobil. Memang, kalau tidak diganti, mobil tidak bisa distarter,” ucap Bengkel itu.
“Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke sana,” kata Detektif Romy mengakhiri panggilan telepon.
“Sial banget, biaya perbaikan sangat mahal. Apalagi, aku sebenarnya belum punya uang untuk membayarnya. Benar juga, kata Rania, aku harus beli mobil baru saja kalau kondisinya begini,” katanya bermonolog.
“Ada apa, Paman?” tanya Dinda yang mengagetkan Romy.
“Hei Bocah, bukannya saat ini kau sekolah?”
“Aku pulang lebih awal, Paman. Karena tadi ada ulangan,” jawab Dinda, “ngomong-ngomong, Paman baru ditelepon siapa?”
“Anak kecil tidak usah tahu urusan orang dewasa.”
“Aku tahu, paling pemilik bengkel yang menagih uang atas reparasi mobil, kan?”
Detektif Romy tersenyum kecut. Dia bingung, bagaimana Dinda bisa tahu hal itu?
“Iya, benar.”
“Jadi, Paman mau ambil mobil sekarang?”
“Iya sih. Tapi aku bingung, apa harus mengambil semua uang tabunganku?”
“Ambil saja uang tabungannya, Paman, lalu ambil mobilnya segera. Daripada tidak segera diambil, nanti bisa hilang, deh.”
‘Benar juga kata bocah ingusan itu. Baik, aku akan narik uang dulu, lalu mengambil mobil di sana,’ gumamnya lalu bersiap untuk pergi.
“Paman mau ke mana?”
“Aku mau ambil mobil di bengkel lah! Daripada keburu diambil orang.”
‘Rupanya, Pak Tua itu percaya dengan pendapatku, he-he-he.’
“Aku mau ikut, boleh?” pinta Dinda.
Detektif Romy terbengong sesaat dan belum menjawab. Dia hanya bergumam sambil memikirkan sesuatu.
“Paman, aku takut di rumah sendirian.”
“Ngapain takut? Ini masih siang, tidak ada apa-apa!”
Beberapa saat setelah Romy membentaknya, dia berubah pikiran. Sehingga, tidak tega meninggalkannya di rumah sendirian.
“Kau boleh ikut, tapi janji. Tidak boleh jajan!”
“Baik, Paman.”
Mereka berdua pergi menuju bengkel itu dengan menaiki bus.
‘Aduh, aku tiap hari bersama bocah ini lagi.’
Setelah menanti dengan cukup bosan, bus itu pun sampai di sebuah pasar modern yang ramai.
Detektif Romy dan Dinda pun turun dari bus. Menginjakkan kakinya tepat di depan bengkel mobil.
“Memangnya Paman dari mana, kok bisa mogok di tempat ini?” tanya Dinda curiga, “bukannya klien Paman itu di SMA?”
“Itu urusan orang tua, Nak,” dalih Romy.
‘Dasar Pak Tua!’ umpat Dinda dalam hati.
‘Bocah ingusan ini mungkin tahu, kalau aku baru saja bertemu dengan seorang wanita di bar. Kalau hal itu benar terjadi, gawat.’
“Paman, katanya mau ambil uang dulu?”
“Oh iya, aku hampir lupa.”
“Kalau Paman tidak ambil duluan, mau bayar pakai apa?”
“Diam kau!” sahut Romy sambil menjitaknya.
‘Dasar Pak Tua,’ batin Dinda sambil mengelus kepalanya.
Detektif Romy menuju ke ATM untuk mengambil uang. Dia harus mengantre terlebih dahulu, karena banyak orang yang sedang melakukan transaksi.
‘Mengapa harus antre, ya. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan,’ gumam Romy.
Setelah semuanya selesai, dia pergi ke bengkel tadi. Langsung diarahkan menuju kasir.
‘Sial, bengkel macam apa ini. Memberi tarifnya mahal banget, tapi ...,’ Detektif Romy terbelalak kaget setelah mengetahui petugas kasir bengkel itu adalah wanita yang cantik. Pakaiannya yang cocok dengan lekuk tubuhnya, membuat Romy pun melupakan semua keluhan tadi.
“Dengan Bapak Romy, ya?”
“Iya, benar, Nona Manis.”
“Eh, Bapak kan Detektif hebat yang bisa memecahkan kasus sulit itu, kan?”
“Iya, benar. Itu aku, kasus itu mudah bagiku untuk menyelesaikannya, simpel banget.”
‘Anjir, padahal tanpa bantuanku, kau bisa apa, Pak Tua?’ ledek Dinda dalam hati.
“Benarkah itu? Aku ngefans sama Bapak,” kata wanita itu sambil meminta tanda tangannya. Setelah itu, dia menyodorkan tagihan kepada Detektif Romy sebesar dua juta untuk pembayaran reparasi mobil.
“Dua juta?”
“Iya, Pak Detektif.”
“Itu sih murah,” ujar Romy dengan arogan.
‘Owalah, Pak Tua. Tadinya kau meledek bengkel ini, karena tarifnya mahal, seketika kau berubah pikiran?’ batin Dinda sambil memasang wajah jelek.
Detektif Romy menyerahkan uang itu dengan tatapan menggoda kasir wSherly, membuatnya tidak nyaman karena merasa, Romy ada kemauan yang terselubung di dalam dirinya.
Tiba-tiba, ada suara jeritan ....