Detektif Imut - Mutilasi yang Kejam (1) - Bab 30

Penulis Yuan_bee
29 September 2025

Tiba-tiba, ada suara jeritan yang sumbernya dari ruko sebelah.

Sontak, Detektif Romy dan Dinda berlari ke tempat tersebut.

“Pak, nota sama kontaknya!” seru kasir itu, tapi Romy sudah keburu pergi.

Di ruko sebelah sudah ramai orang penasaran yang ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa ini?” tanya Detektif Romy pada orang yang berkerumun. Namun, tak ada satu pun yang menjawab, mereka sedang membicarakan sesuatu yang tak jelas, bagai kerumunan tawon.

Ada seorang perempuan tertunduk lesu dengan tubuh gemetaran, sambil mengacungkan jarinya ke sesuatu.

Perempuan tadi duduk di bawah pintu masuk menuju ruko. Rupanya, ruko di sebelah bengkel tadi adalah toko daging segar. Tak ada plakat di depannya. Kemungkinan, dia hendak membuka toko dagingnya itu.

“Minggir semua! Aku Detektif! Kalian tidak boleh masuk ke TKP!” seru Romy sambil berusaha masuk ke dalam toko itu.

Toko itu belum dibuka sepenuhnya, melainkan hanya pintu masuknya saja yang baru terbuka. Di dalam, cahaya lampu sudah menerangi ruangan.

“Hah?!” pekik Detektif Romy kaget setelah melihat sesuatu yang tak biasanya.

Spontan, Detektif Romy memanggil polisi, yakni ke nomor Inspektur Galih.

“Halo, polisi! Ada kasus mutilasi di toko daging!”

Dinda yang penasaran pun menyelinap masuk ke dalam toko itu, tapi usahanya gagal, karena Detektif Romy sudah mengetahuinya. Lalu, dia mengusir Dinda. Namun, karena Dinda lincah, dia pun berhasil menyelinap masuk.

Ternyata, ada kepala manusia yang digantung bersama daging sapi, ada juga tangan dan kaki manusia yang sudah dipotong, dan digantung.

Sungguh ngeri kasus mutilasi itu, karena terlihat jelas, darah masih menetes.

‘Ini pembunuhan yang paling gila!’ pikir Dinda.

“Hei, Bocah nakal! Sudah kubilang, kau tidak boleh masuk!” hardiknya sambil membawa paksa Dinda untuk keluar.

“Polisi akan datang! Tidak boleh ada yang memasuki TKP!” seru Detektif Romy lagi.

**

Beberapa saat kemudian, polisi pun tiba. Ada Inspektur Galih, dan beberapa polisi dan tim forensik. Ada juga wanita paruh baya yang keluar dari mobil polisi dengan raut wajah sedih. Lalu berlari menuju toko daging itu.

“Anakku! Anakku!” rintih wanita itu.

“Ibu, mending kamu tetap di sini, serahkan semuanya pada polisi. Biarkan kami mengidentifikasi, korban adalah anak Anda ataukah bukan,” ujar Inspektur Galih.

Wanita paruh baya dan wanita yang membuka toko, dibawa menjauh ke tempat yang aman untuk diinterogasi nantinya.

“Detektif Romy, untung saja kau segera melapor. Tadi, ada ibu-ibu yang mencari anaknya yang hilang sejak kemarin. Posisi hilang, kemungkinan di area pasar ini,” ucap Inspektur Galih.

“Oh begitu, itulah mengapa dia menganggap kalau mayat itu adalah anaknya. Namun, bagaimana dia tahu?”

“Mungkin saja karena dia masih trauma karena kehilangan anaknya. Kita tunggu saja tim forensik melakukan tugasnya.”

Para polisi itu pun mulai bertugas, tim forensik mengidentifikasi mayat yang dimutilasi. Sedangkan polisi lain mencari barang bukti yang mungkin saja masih ada di sana. Toko itu pun dibuka semua, sehingga kepala, tangan dan kaki yang menggantung itu terlihat dari luar. Setelah itu, mereka memasang garis polisi, tidak memperbolehkan orang lain masuk.

Dinda secara diam-diam pun mencari petunjuk di luar area itu.

“Inspektur! Kami tidak menemukan identitas mayat ini. Namun, kami menemukan tubuhnya di frizer. Ada sesuatu yang membuat kami kaget,” ucap tim forensik melaporkan situasinya.

“Apa itu?”

“Ginjalnya hilang!”

“Apa?! Serius?”

“Iya, kami serius, Inspektur! Insiden pembunuhan ini diperkirakan tadi malam, pukul 22.00.”

“Cukup lama juga, ya.”

Tiba-tiba, ada seorang pria yang datang masuk ke toko itu. Melintasi garis larangan itu. Dia tidak menghiraukan ada polisi yang berkerumun di sana. Ia berlari masuk ke dalam toko daging, tapi polisi lebih sigap, pemuda itu segera ditangkap.

“Woy, siapa kamu! Tidak boleh ada orang yang masuk, selain polisi!”

“Aku karyawan magang di sini. Aku mau mengambil dompetku yang ketinggalan di dalam.”

“Begitu, ya. Apa kau tahu, ada pembunuhan di dalam toko ini?” tanya Romy.

Pria itu tidak menyadari sekelilingnya, dia menuju ke lemari, lalu mengambil dompet miliknya.

“Kamu tidak boleh pergi!” Inspektur Galih menghadangnya, lalu menangkapnya untuk diinterogasi.

“Apa-apaan ini? Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Aku pun tidak membunuh!” dalihnya.

“Mana identitasmu?” tagih Inspektur Galih sambil mengunci tangannya agar dia tidak kabur. Berat hati, dia memberikannya kepada Inspektur.

“Jadi, namamu Ardi, ya? Kau tak boleh kabur, kau harus ikut kami dulu!” bentak Inspektur Galih, “Opsir Kevin?”

“Iya, Inspektur!”

“Kumpulkan para tersangka dulu! Kita akan interogasi setelah ini!”

“Baik!”

“Opsir Dina, cari rekan dan selidiki rumah para tersangka, siapa tahu ada petunjuk. Kamu sudah dapat identitasnya, kan?”

“Iya, sudah dapat.”

“Segera laksanakan!”

“Baik.”

Mereka berdua pun pergi menjalankan tugas masing-masing. Berhubung kantor polisi cukup jauh, Opsir Kevin membawa mereka ke sebuah ruangan sementara yang masih cukup dengan tempat kejadian.

“Inspektur! Mayat telah terkonfirmasi!” ujar tim forensik yang sudah berhasil melakukan autopsi.

“Bagus, Nathan.”

“Mayat korban mutilasi memanglah Merry, anak Bu Dewi yang tadi melapor hilang. Sepertinya korban berkelahi dengan tersangka,” ungkap Nathan.

“Inspektur! Ada puntung rokok dan juga jejak kaki, kemungkinan dari tersangka pembunuhan itu,” kata Grace.

“Bagus, Grace. Segera cek air liurnya, dan ukur, ukuran jejak kaki itu.”

“Baik.”

Saat itu, Dinda masih berada di dekat toko itu sambil menguping pembicaraan mereka.

“Pelaku pembunuhan mungkin saja seorang perokok. Dari bekas hantaman, mungkin saja seorang pria yang berkelahi dengan korban,” sangka Detektif Romy.

“Itu masih dugaan sementara, kita butuh petunjuk lain,” sela Inspektur Galih.

‘Wanita pun bisa melakukannya kalau kejadiannya seperti itu,’ batin Dinda.

Telepon Inspektur Galih berbunyi, dia langsung mengangkatnya. Ada suara anak buahnya yang melaporkan sesuatu padanya.

“Iya, Opsir Kevin, gimana?”

“Pemilik toko sudah kami bawa ke ruang ini. Namanya, Pak Dody. Dia tinggal bersama anaknya, Tris, wanita yang tadi membuka toko tersebut.

“Kerja bagus, apa kau menemukan bukti di rumahnya?”

“Sejauh ini, tidak ada. Hanya saja, buku harian milik Merry ada yang sobek. Kami masih berusaha mencari sobekan itu.”

“Kau kumpulkan di mana?”

“Di aula kecamatan, Pak. Sudah diperbolehkan oleh Pak Camat.”

“Bagus, lanjutkan!”

Meskipun hanya mendengar dari balik telepon, Dinda pun paham dengan maksudnya. Berbeda dengan Detektif Romy yang menanyakan ulang perihal telepon tadi.

Tiba-tiba, Opsir Dina dan rekannya datang menuju lokasi kejadian. Memeriksa setiap detail kecil yang mungkin terlewatkan.

“Bagaimana? Sudah menemukan barang bukti?”

“Sudah, Inspektur. Ada celana dalam aneh di rumah pemuda tadi.”

“Celana dalam apa maksudmu?”

“Celana dalam wanita, mana mungkin ada di situ, kalau dia tinggal sendiri. Kecuali kalau dia memang suka main perempuan.”

“Sekarang, serahkan celana dalam itu kepada tim forensik. Lalu, ikut aku menuju ruang interogasi!”

“Sebentar, saat kami menyelidiki rumah ibu korban, kami menemukan sesuatu yang membuat kaget.”

“Apa itu?” tanya Inspektur Galih dan Detektif Romy bersahutan.

Benda itu diletakkan di tas kresek dengan bau darah yang menyengat. Setelah dibuka, rupanya ....