Drama

Jebakan Cinta

Penulis sanzfy
30 September 2025

Lyra duduk di dalam mobil, memandangi jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Lampu-lampu mobil yang berkedip dan suara klakson yang saling bersahutan seolah menari-nari di depan matanya, namun pikirannya melayang jauh, kembali pada sosok Arkan. Sejak pertemuan singkat mereka di depan gerbang sekolah, bayangan Arkan seolah menghantuinya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan pria itu. Senyumnya yang menawan, tatapannya yang hangat, bahkan suaranya yang lembut terus terngiang di benaknya, membuatnya sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Ia menghela napas panjang. Pertemuan yang singkat itu telah menumbuhkan benih-benih harapan di hatinya. Ia membayangkan percakapan yang lebih panjang, kencan romantis di bawah bintang-bintang, dan mungkin, sebuah hubungan yang serius. Ia bahkan sudah mulai merencanakan masa depan bersamanya, meskipun ia tahu itu terlalu dini.

Tiba-tiba, matanya melihat sebuah motor yang mirip dengan motor yang dikendarai Arkan kemarin. Motor itu terparkir di depan sebuah toko buku kecil. Jantung Lyra berdegup kencang. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri.

"Om. Berhenti, Om. Aku mampir sebentar di toko buku itu," ucapnya pada Fernando, sopir pribadinya Revan. Nada bicaranya terdengar sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan kegugupan yang melandanya. Ia berharap Fernando tidak menyadari betapa bersemangatnya ia saat ini.

Fernando, yang sudah lama bekerja untuk Revan, menuruti permintaannya tanpa banyak bertanya. Ia menghentikan mobil di tepi jalan, tepat di depan toko buku tersebut. Ia sudah terbiasa dengan permintaan mendadak Lyra, dan ia tahu bahwa gadis itu memiliki jiwa yang bebas dan penuh dengan rasa ingin tahu.

Lyra langsung membuka pintu mobil dan turun. Ia berjalan menuju toko buku itu dengan langkah cepat, namun tetap berusaha terlihat santai. Ia tidak ingin terlihat terlalu bersemangat atau terburu-buru. Jantungnya berdegup semakin kencang seiring dengan semakin dekatnya ia dengan pintu masuk toko buku. Apakah Arkan ada di sana? Apakah ini kesempatan baginya untuk berbicara dengan Arkan lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya, membuatnya semakin gugup dan bersemangat.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam toko buku. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mencari sosok Arkan. Rak-rak buku yang menjulang tinggi, pengunjung yang sibuk memilih buku, dan aroma kertas yang khas memenuhi indranya. Namun, ia tidak melihat Arkan di mana pun.

Lyra tidak menyerah. Ia terus berjalan menyusuri lorong-lorong buku, berharap bisa menemukan Arkan. Ia melewati rak buku fiksi, rak buku non-fiksi, rak buku anak-anak, dan rak buku remaja. Setiap kali melihat seseorang yang memiliki postur tubuh yang mirip dengan Arkan, ia selalu mempercepat langkahnya. Namun, setiap kali pula ia merasa kecewa karena ternyata orang itu bukanlah Arkan.

Ia mulai merasa putus asa. Apakah ia salah melihat motor tadi? Apakah Arkan tidak ada di sini? Apakah ia hanya membuang-buang waktu saja? Ia hampir saja menyerah, ketika tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sangat familiar di salah satu lorong buku. Di sana, di antara rak buku tekhnologi, ia melihat Arkan sedang berdiri, memegang sebuah buku tebal. Lyra merasa napasnya tertahan. Ia tidak menyangka akan bertemu Arkan secepat ini.

Arkan terlihat serius membaca buku itu. Wajahnya yang tampan terlihat semakin menarik saat ia fokus. Garis-garis wajahnya terlihat lebih tegas, dan matanya memancarkan kecerdasan yang membuat Lyra semakin terpesona. Lyra merasa pipinya memanas. Ia ingin menyapa Arkan, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Ia takut mengganggu Arkan. Ia juga takut jika Arkan tidak senang melihatnya di sana.

Akhirnya, setelah beberapa saat berdebat dengan dirinya sendiri, ia memberanikan diri. Ia membuka mulutnya, bersiap untuk memanggil nama Arkan. "Bang Arkan?" ucapan itu nyaris keluar dari mulutnya ketika tiba-tiba ia melihat Bu Erika menghampiri Arkan.

Bu Erika, guru SMA-nya yang cantik dan populer, berjalan dengan anggun menghampiri Arkan. Ia mengenakan jilbab yang menutupi rambutnya dengan rapi, namun tetap memancarkan aura kecantikan yang memikat. Tanpa ragu, tangannya menggandeng lengan Arkan. Mereka terlihat sangat dekat, sangat mesra.

Mata Lyra membulat. Jantungnya terasa seperti diremas. Ia merasa ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras. Seketika, semua harapan dan fantasinya tentang Arkan hancur berkeping-keping. Ia merasa seperti terjatuh dari tempat yang sangat tinggi, dan mendarat dengan keras di tanah.

Ia merengut sedih. Sepertinya Sandy benar. Lelaki yang ia sukai itu adalah kekasihnya Bu Erika. Sekalipun Arkan terlihat lebih muda 5 tahun dibanding Bu Erika, namun jelas terlihat bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Cara mereka berinteraksi, cara Bu Erika menggandeng lengan Arkan, semua itu menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial.

Lyra tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Ia merasa air matanya sudah mendesak ingin keluar. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Arkan dan Bu Erika. Ia tidak ingin mereka tahu bahwa ia menyukai Arkan.

Dengan langkah gontai, Lyra melangkah keluar dari toko buku. Ia berjalan kembali menuju mobil dengan perasaan hancur. Ia merasa bodoh karena sudah berharap terlalu banyak. Ia merasa naif karena sudah bermimpi tentang Arkan.

Sesampainya di mobil, ia langsung masuk ke dalam dan menutup pintu dengan keras. Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, mencoba menenangkan diri.

"Loh, sudah?" tanya Fernando, sopirnya, dengan nada heran. "Nggak jadi beli buku?"

Lyra menggelengkan kepalanya. "Tidak jadi... Kita pulang saja, Om," jawabnya dengan suara lirih. Ia tidak ingin Fernando tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tidak ingin siapapun tahu tentang perasaannya terhadap Arkan.

Fernando mengangguk mengerti dan segera menjalankan mobil. Lyra kembali memandangi jalanan, namun kali ini dengan tatapan kosong. Pikirannya kosong, hatinya hancur. Ia merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, padahal ia bahkan belum pernah memilikinya.

Selama perjalanan pulang, Lyra hanya diam. Ia tidak mengatakan apapun pada Fernando. Ia hanya membiarkan air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

Lyra tiba di rumah, ia melihat Revan yang duduk menonton TV di ruang keluarga.

Lyra berlari menghampiri dan memeluk Revan erat-erat. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Revan, meluapkan semua kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan.

"Om, Aku tidak akan pernah membantah om lagi.." isak Lyra.

Revan mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Lyra. "Kenapa?" tanyanya lembut, sambil mengusap punggung Lyra.

"Om benar. Aku fokus saja pada pendidikan. Tidak usah mikir cowok," jawab Lyra, masih terisak.

"Kenapa?" tanya Revan lagi, semakin penasaran. Ia sudah tahu apa yang terjadi, namun ia ingin mendengar langsung dari Lyra.

"Ternyata.. Bang Arkan itu pacarnya Bu Arika," jelas Lyra, dengan suara yang tercekat.

"Oya?" Revan tersenyum tipis, ia mengusap rambut Lyra dengan sayang. Ia tahu betul bahwa Arika adalah kakak kandung Arkan. Ia sengaja tidak memberitahu Lyra, karena ia ingin Lyra merasa kecewa dan patah hati. Ia ingin Lyra berhenti mencari tahu tentang Arkan.

"Iya, Om. Aku lihat sendiri tadi di toko buku. Mereka mesra banget," kata Lyra, air matanya kembali mengalir.

"Sudah, sudah. Jangan nangis lagi," hibur Revan. "Padahal aku suka sekali sejak pertama melihat dia," isak Lyra.

Revan menghela napas. "Kamu baru ketemu sekali, sudah suka? Cinta itu butuh proses, Lyra. Kamu tidak bisa langsung jatuh cinta sama orang yang baru kamu kenal." Ia sengaja mengatakan hal ini, untuk meremehkan perasaan Lyra terhadap Arkan.

"Tapi, Om... Aku merasa ada sesuatu yang spesial antara aku dan Arkan," bantah Lyra.

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," kata Revan. "Arkan mungkin tidak merasakan hal yang sama."

"Tapi, Om..." Lyra mencoba membela diri, namun Revan memotong ucapannya.

"Dengar, Lyra. Kamu masih muda. Masih banyak cowok lain yang lebih baik dari Arkan. Jangan buang-buang waktumu untuk mengejar orang yang tidak mungkin kamu dapatkan," nasihat Revan dengan bijak. Ia sengaja mengatakan hal ini, untuk membuat Lyra merasa putus asa dan menyerah.

Lyra terdiam.

"Iya, Om. Aku salah," ucap Lyra akhirnya, dengan suara lirih.

"Tidak apa-apa. Semua orang pernah melakukan kesalahan," kata Revan. "Yang penting, kamu belajar dari kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi." "Iya, Om. Aku janji," kata Lyra, mengusap air matanya.

"Bagus. Sekarang, kamu mandi dan istirahat. Besok kamu harus sekolah," perintah Revan. "Atau.. Bagaimana kalau kita ke Mall?" "Mauuu.." Lyra terlihat senang. "Aku siap-siap " Lyra melepaskan pelukannya pada Revan dan segera berdiri.

Sebelum masuk ke kamarnya, Lyra berbalik menghadap Revan. "Om," panggilnya.

"Ya?" jawab Revan, dengan senyum manis di bibirnya.

"Terima kasih," ucap Lyra tulus.

Revan tersenyum. "Sama-sama. Jangan lupa, Om selalu ada untukmu." Ia menatap Lyra dengan tatapan yang penuh dengan arti. Lyra berlari menaiki tangga. Revan tersenyum tipis. "Aku akan menjagamu dengan baik hingga akhir nanti, Lyra.."

Bu Ami yang datang membawa secangkir teh hangat memandang Revan. "Pak.." Ia menghidangkan teh itu di meja. "Ada apa?" "Dia masih kecil, Pak. Tidak mungkin akan bisa menggantikan posisi ibu," Bu Ami mengingatkan. "Tidak apa. Dia bisa belajar pelan-pelan. Nanti waktu akan mengajarinya." "Tapi, Pak.. "Kau diam! Yang penting saat ini dia harus melihatku sebagai satu-satunya pelindungnya. Malaikat penjaganya."