Rasa dingin menusuk, menembus jas mahal yang ia kenakan. Bukan karena suhu ruangan kantornya yang terlalu rendah, melainkan karena ambisi yang telah membeku di dalam dadanya selama bertahun-tahun.
Namanya Andrian Sugara, seorang CEO muda yang kesuksesannya seolah datang dari balik kabut misteri. Tak ada yang tahu dari mana asalnya, atau mengapa ia begitu ambisius dan kejam dalam berbisnis.
Yang mereka tahu, nama Andrian kini adalah sinonim dari kekuasaan.
“Kinan Setyo Adji, sekarang… waktunya sudah tiba,” ucap Andrian mendengung dalam kesunyian ruang kerjanya.
Di balik wajah datarnya, Andrian menyimpan dendam yang membara. Dendam terhadap masa lalu kejam yang membuatnya kehilangan masa kecil dan kehangatan keluarga. Semua itu, karena satu nama, Kinan Setyo Adji.
Andrian menekan tombol interkom. "Leon, masuk!"
Pintu terbuka, dan masuklah seorang pria bertubuh kekar dengan tatapan tajam. Ia adalah tangan kanan Andrian, orang kepercayaannya yang paling setia.
Di ruang kerjanya yang luas dengan pemandangan kota di bawahnya, Andrian duduk di belakang meja. Ia memegang sebuah tablet yang menampilkan laporan rinci tentang setiap pergerakan Ken Aji. Ia memastikan tidak ada satu pun langkah yang luput dari pengawasannya.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Andrian dingin, suaranya menggelegar di dalam ruangan.
"Ken Aji masih sibuk dengan bisnisnya. Tapi ada satu hal yang menarik," jawab Leon.
Andrian mengangkat alisnya. "Apa itu?"
"Dia memiliki seorang anak perempuan, namanya Kaluna. Dia bukan hanya anak, tapi dia adalah kunci. Ken Aji sangat melindunginya." Leon menyorotkan pandangan penuh makna.
Andrian tersenyum sinis. "Anak perempuan? Sempurna."
Ia menggeser layar tabletnya, melihat foto-foto Kaluna. Wajahnya polos, senyumnya tulus, matanya memancarkan kebaikan. Sebuah topeng yang sempurna, pikirnya.
“Siapkan pesta. Pesta yang akan menjadi berita utama di seluruh kota,” ujar Andrian.
"Maksud Anda?" tanya Leon.
"Pesta itu akan menjadi panggung untuk Ken Aji dan putrinya. Aku ingin mereka merasa nyaman, buatlah seolah-olah mereka adalah tamu terhormat," kata Andrian dengan senyum sinis.
"Baik, Tuan. Apa rencana Anda?" tanya Leon lagi.
"Di pesta itu," Andrian menunjuk ke layar tabletnya yang masih menampilkan foto Kaluna, "Aku akan melenyapkan dia."
"Anda serius, Tuan? Anda ingin membunuh Nona Kaluna?" tanya Leon dengan mengerutkan keningnya.
"Pastikan daftar tamu dibuat dengan sangat hati-hati," perintah Andrian, mengabaikan pertanyaan Leon.
"Hanya orang-orang penting, termasuk mereka yang dekat dengan Ken Aji,” imbuhnya.
"Baik, Tuan," jawab Leon.
"Lalu, bagaimana dengan keamanan?" tanya Leon lagi.
Andrian menyeringai. "Keamanan di luar, buatlah serapi mungkin. Tapi di dalam, aku ingin tim terbaik kita yang bertugas. Setiap sudut harus terawasi, setiap orang harus terpantau. Buat kematian Kaluna seolah-olah kesalahan dari pihak hotel."
Leon mengangguk. Dia segera pergi, meskipun masih ragu dan bertanya-tanya.
Dalam kesendiriannya, Andrian kembali menatap foto Kaluna. Wajahnya polos dan baik hati.
Andrian menepis pikiran itu dan berkata pada dirinya sendiri, "Ini untukmu, Ayah. Sebentar lagi, mereka akan membayar semuanya."
Namun, jauh di lubuk hatinya, entah mengapa ada rasa bimbang yang muncul. Rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Waktu berjalan cepat, malam itu tiba. Aula pesta kini dipenuhi dengan keramaian yang mewah.
“Ken Aji, aku sudah tidak sabar melihat kehancuranmu malam ini,” ujar Andrian berbisik, seolah Ken Aji mendengarnya.
Andrian berdiri di balkon lantai dua, mengamati pintu masuk dengan pandangan tajam. Dia menunggu kemunculan Ken Aji dan Kaluna.
Namun, saat pria yang dia tunggu-tunggu itu masuk, Andrian merasakan kekecewaan yang menusuk. Ken Aji datang sendirian.
“Sial!” seru Andrian.
Andrian segera menghubungi Leon melalui earpiecenya. "Ken Aji sudah tiba, dia datang sendirian. Di mana putrinya, Leon?"
"Tidak ada laporan Nona Kaluna masuk ke dalam gedung, Tuan. Dia juga tidak terlihat di mobil Ken Aji," jawab Leon cepat, suaranya terdengar panik.
Di balik saku celananya, tangan Andrian mengepal keras, buku-buku jarinya memutih.
Kinan Setyo Adji itu terlalu cerdik. Dia tidak jatuh ke dalam perangkap semudah itu.
“Rupanya, pria tua itu sudah mengendus rencanaku,” oceh Andrian, masih berbicara pada dirinya sendiri.
Kini Andrian merasa seperti tikus yang sedang diawasi oleh seekor elang.
Andrian turun dari balkon dan berjalan ke arah Ken Aji. Dia mengabaikan sapaan orang-orang penting yang dia lewati. Tatapannya lurus, mendekati Ken Aji dan tersenyum sinis.
"Selamat malam, Tuan Kinan," sapa Andrian. "Terima kasih sudah memenuhi undangan saya."
Ken Aji menoleh, menatap Andrian dengan mata tenang dan waspada. "Tuan Andrian Sugara. Sebuah kehormatan bisa hadir di acara megah Anda."
Andrian mengangkat gelas champagne-nya, basa-basinya meluncur begitu halus.
"Tentu saja. Grup Ken Aji Copporate adalah salah satu bisnis yang tertua di industri ini, dan saya selalu menghormati para pendahulu yang sukses. Kehadiran Anda adalah bukti bahwa hubungan kita bisa lebih dari sekadar persaingan di pasar." Andrian menyanjung Ken Aji.
Ken Aji terkekeh pelan. "Saya menghargai pujian Anda, Tuan Muda. Saya juga melihat Anda sebagai pesaing yang paling tangguh. Ambisi Anda... mengingatkan saya pada seseorang dari masa lalu."
Andrian menyembunyikan rencana besarnya dalam senyuman.
"Ohya, Tuan Kinan. Saya dengar Tuan Kinan memiliki seorang putri yang sangat dekat dengan Anda. Saya sebenarnya berharap bisa bertemu dengannya malam ini." Ia menatap Ken Aji, matanya menyorotkan ancaman yang tersembunyi.
"Apakah dia tidak datang?" susulnya cepat.
Ken Aji tersenyum. "Maksud Anda, Kaluna?"
"Tentu. Saya banyak mendengar tentangnya dari orang-orang. Saya jadi penasaran seperti apa sosoknya. Apalagi saya dengar, dia sangat cantik," kata Andrian.
Ken Aji kembali terkekeh. “Ah, saya rasa itu hanya rumor yang dibesar-besarkan."
"Dia tidak sehebat yang orang-orang katakana," sambung Ken Aji sambil mengedikkan bahu.
Andrian memiringkan kepalanya, senyumnya semakin lebar. "Tidak mungkin. Dengan nama besar Anda, saya yakin putri anda pasti istimewa."
Ken Aji menyapu pandangan ke seluruh ruangan. "Dia memang istimewa, tapi seperti yang saya katakan, dia tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Dia terlalu sibuk."
Mendadak, keduanya dilanda kesunyian. Gelagat Andrian dan juga tatapan curiga Ken Aji menunjukkan suasana panas tersendiri di antara keduanya.
Ken Aji kembali menatap Andrian, senyumnya begitu misterius hingga membuat Andrian merinding. "Tuan Muda jangan berkecil hati dulu, tentu saja Kaluna akan datang. Tapi malam ini, dia datang ke sini bukan sebagai putri saya."
“Apa maksud Anda, Tuan?” Andrian mengerutkan keningnya, otaknya bekerja keras mencerna ucapan Ken Aji.
Tepat saat itu, suara pembawa acara menghentikan lamunan Andrian.
"Dan sekarang, mari kita sambut tamu kehormatan kita, perwakilan dari Grup Perusahaan Ameerta Copporate, yang baru-baru ini berhasil merevolusi pasar dengan terobosan teknologi mereka. Silahkan kita sambut, CEO muda dan visioner kita, Nona Kaluna Ameerta Setyo Adji!"
Jantung Andrian seakan berhenti berdetak. Matanya melebar, mengikuti sorotan lampu panggung.
Gaun yang anggun, senyumnya yang tulus, dan mata yang memancarkan kebaikan. Itu adalah Kaluna.
“Kaluna,” ujar Andrian pelan, matanya menangkap sosok Kaluna di atas panggung.
Dia tidak datang sebagai anak dari seorang pebisnis lama, melainkan sebagai saingan yang namanya tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Andrian kembali ke sudutnya, amarahnya membara. Ia meninju dinding di sampingnya.
"Leon!" desisnya.
Di sampingnya, Leon tampak pucat pasi. Dia memegang tabletnya, mengecek ulang semua data.
"Tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa Nona Kaluna adalah seorang CEO, Tuan. Kami fokus pada lingkaran sosial Tuan Ken Aji dan menganggap dia hanyalah seorang putri yang dilindungi ayahnya,” papar Leon.
Andrian menatap Kaluna di atas panggung. Wajah itu memancarkan kehangatan. Senyumnya begitu menenangkan.
Tapi di mata Andrian, senyum itu adalah sebuah deklarasi perang. Dia bersumpah akan membuat Ken Aji dan putrinya membayar mahal atas kekecewaannya malam ini.