Malam Pelenyapan

Penulis Yoonna
01 October 2025

Andrian mengamati Kaluna yang dengan tenang berjalan di antara kerumunan.

Gadis itu menyapa beberapa CEO lain yang menatapnya dengan rasa hormat. Dia tampak bukan seperti boneka yang dilindungi, melainkan seorang pemain yang cakap di arena bisnis yang sama kejamnya dengan dirinya.

Andrian berjalan lurus menuju Kaluna. Mata para tamu yang memandanginya tidak menyadari aura berbahaya di antara mereka.

"Sebuah kehormatan bisa bertemu Anda, Nona Kaluna," sapa Andrian.

"Nama saya Andrian Sugara," sambungnya.

Kaluna menoleh, senyum profesionalnya tidak berubah sedikit pun.

"Tuan Sugara. Saya sudah mendengar banyak tentang Anda," sahut Kaluna.

"Saya rasa tidak sebanyak yang saya tahu tentang Anda," balas Andrian, suaranya pelan dan menusuk.

"Putri dari seorang pria yang sangat... saya hormati," kata Andrian lagi.

Kaluna menatapnya, matanya tidak gentar. "Saya yakin Anda juga memiliki cerita yang menarik, Tuan Sugara. Mungkin kita bisa saling berbagi suatu saat."

Kata-kata Kaluna terdengar seperti tawaran biasa, tetapi di telinga Andrian, itu adalah tantangan. Dia tahu, gadis cantik ini tidak polos.

“Dia adalah musuh yang menyamar. Dia hadir di pesta ini untuk alasan yang sama denganku, untuk berburu,” kata Andrian di dalam hati.

Andrian mengamati Kaluna yang kini tengah berbincang dengan beberapa tamu penting di tengah aula. Matanya tidak lepas dari sosok anggun itu, menganalisis setiap gerakannya.

Namun, sorot matanya yang tajam tiba-tiba menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di balik pilar marmer, ia melihat bayangan. Sebuah bayangan yang salah, gerakan yang terlalu kaku untuk seorang tamu.

“Siapa dia?” tanya Andrian di dalam hatinya.

Andrian menyipitkan matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang saat dia menyadari apa yang dilihatnya.

Kilatan metalik, laras pistol yang tersembunyi. Seseorang di antara kerumunan itu sedang mengincar Kaluna.

"Sial!" desis Andrian, suaranya pelan tapi penuh amarah.

Matanya kembali ke sosok Kaluna yang tertawa renyah, tidak sadar bahaya mengintainya. Andrian merasakan gelombang kemarahan yang membakar.

"Kau dengar aku, Kaluna?" bisiknya, seolah Kaluna bisa mendengarnya. "Kau milikku! Kehancuranmu adalah hakku! Hanya aku yang bisa melakukannya. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutnya begitu saja."

Dendam dan kebenciannya tiba-tiba terasa hampa. Perasaan ini berbeda. Bukan karena amarah yang membara, melainkan karena ketersinggungan yang mendalam.

Andrian-lah yang seharusnya melakukan ini. Andrian-lah yang berhak atas kehancuran Kaluna. Bukan orang lain.

Andrian menekan earpiece yang tersembunyi di balik telinganya. "Leon, batalkan perintah sebelumnya. Kembali ke rencana awal."

"Tuan?" Suara Leon terdengar ragu. "Bukankah Tuan… baru saja membatalkannya?"

"Lanjutkan!" bentak Andrian.

Suaranya dingin, matanya menatap Kaluna yang baru saja menyelesaikan percakapan dengan seorang tamu. Senyumnya, tawa renyahnya, semua itu terasa seperti provokasi baginya.

"Aku akan membawa target ke lantai dansa. Bersiaplah, lakukan semuanya dengan baik dan lepaskan satu peluru tepat sesuai aba-aba dariku. Ingat, hanya satu peluru untuk satu nyawa,” titah Andrian yang langsung mengakhiri percakapannya.

Pria di samping Leon, seorang pembunuh bayaran bertubuh besar dengan mata tajam menoleh. "Apa katanya?" bisiknya, tangannya memegang pistol yang tersembunyi.

Leon menelan ludah. "Rencana tidak berubah," jawabnya, suaranya bergetar.

"Apa perintahnya?" tanya pria itu untuk memastikan.

"Tetap bidik. Tembak sesuai aba-aba dari Tuan Muda,” kata Leon.

Pria itu menyeringai. "Bagus. Tanganku sudah tidak sabar."

Pria itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Kaluna. Tatapannya tajam dan menyeramkan.

"Tapi aku akui, dia cantik. Sangat cantik," ujarnya sempat memuji Kaluna.

Leon menatapnya, ada sedikit amarah di matanya. "Dia bukan untukmu. Dia milik si dingin itu."

Pria itu tertawa pelan. "Oh, aku tahu. Aku hanya menyayangkan. Gadis secantik itu akan mati muda."

Leon menghela napas berat. Ada kebimbbangan yang mendera dadanya. Sementara pria itu kembali menatap Leon, tatapannya penuh arti.

"Dan kau? Apa kau juga mencintai kebencian?" goda pria itu lagi.

Leon tidak menjawab. Ia hanya menatap Kaluna, wajahnya pucat. Di balik senyum anggun dan tawa renyah, dia melihat kecantikan yang begitu menipu.

Andrian berjalan lurus, menembus kerumunan. Langkahnya mantap, penuh tekad, mengabaikan tatapan beberapa tamu yang dia lewati.

Mata Kaluna menangkap sosok Andrian yang mendekat. Senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh ekspresi waspada. Andrian mengulurkan tangan kanannya ke arah Kaluna.

"Dansa," ucapnya singkat, suaranya sedingin es.

Kaluna menatapnya, matanya tidak berkedip. Senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya.

"Maaf, Tuan Sugara, saya tidak pernah melakukannya," kata Kaluna, nadanya sopan tapi tegas.

Andrian menatap lurus ke mata Kaluna, penuh makna. Keheningan yang tiba-tiba melingkupi mereka terasa lebih nyaring dari musik di sekeliling. Itu adalah sebuah tantangan.

Kaluna terdiam. Matanya menelusuri rahang Andrian yang mengeras, sorot matanya yang dingin, dan tangan yang tetap terulur tanpa keraguan. Dia tahu Andrian tidak akan mundur. Ini bukan permintaan, ini adalah ultimatum.

Perlahan, senyum Kaluna berubah. Ia mengangguk kecil, menunduk, lalu meletakkan tangannya di tangan Andrian.

"Baiklah, saya rasa… Anda tidak akan menyerah," jawab Kaluna, suaranya tenang, meskipun ada sedikit getaran di dalamnya.

Andrian membawa Kaluna ke tengah lantai dansa. Dia memegang pinggang Kaluna dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Kaluna. Aroma tubuh Kaluna sangat memikat.

“Jadi…" Andrian menyipitkan mata, "siapa yang akan menembak duluan?"

Kaluna tersenyum penuh rahasia.

"Anda datang ke sini dengan membawa tujuan, Tuan Sugara," ujar Kaluna, nadanya tenang namun menusuk.

"Dan begitu juga saya. Saya dengar Anda sangat berhati-hati, tapi ada rumor yang beredar di kalangan orang dalam, bahwa ambisi Anda sering kali mengaburkan pandangan Anda," susul Kaluna lagi.

Andrian tertawa kecil, suara tawa itu hambar.

"Ambisi adalah bahan bakar, Nona Kaluna. Tanpa itu, kita hanya akan membusuk di tempat,” bisik Andrian yang agak mendekatkan wajahnya pada Kaluna.

"Atau terbakar habis, sebelum mencapai puncak," balas Kaluna cepat.

Gerakan dansa Andrian melambat, membuat tubuh mereka menempel lebih dekat. Dia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Kaluna.

"Puncak adalah tempat terbaik untuk terjatuh, Nona Kaluna," bisiknya pelan.

Kaluna menahan napas, matanya tak berkedip. "Benarkah, Tuan Sugara?" balasnya, suaranya pelan dan dingin.

Andrian memutar Kaluna, membuat gaunnya berputar indah. Gerakan itu tiba-tiba menjadi lebih cepat, lebih mematikan.

Mata Andrian menatap tajam ke arah balkon, tempat Leon dan sang pembunuh bayaran berada. Dia mengangguk. Sebuah isyarat yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

“Tentu saja, kareana Anda adalah mangsa saya," jawab Andrian, suaranya terdengar dingin dan kejam.

Tanpa disadari Andrian, Kaluna juga tidak sengaja melihat Leon dan anak buahnya. Matanya melebar. Dia memutar tubuhnya lebih cepat, mencoba melepaskan diri dari genggaman Andrian.

Andrian menahan Kaluna, memeluknya lebih erat.

"Sudah waktunya," bisik Andrian, suaranya kejam.

"Satu peluru... untuk mengakhiri segalanya," ujar Andrian lagi.

"Tidak," kata Kaluna, suaranya bergetar.

"Ya, Nona Kaluna," balas Andrian, suaranya penuh kemenangan. "Seperti ini. Di tanganku... dan di mataku."

DOR!!!

Suara tembakan menggema, memecah kesunyian. Para tamu berteriak, panik, mencari perlindungan.

Andrian menatap dalam wajah Kaluna yang mendadak berkeringat. Dia mendekap tubuh dingin Kaluna yang jatuh ke dalam pelukannya.

Andrian tersenyum. Dia menatap Kaluna dengan tatapan penuh kemenangan.

"Sudah kubilang, Nona Kaluna, aku selalu memiliki rencana," bisiknya, suaranya penuh arti.

Mendengar suara tembakan, Ken Aji yang sedang berbincang dengan beberapa kolega segera berbalik. Matanya langsung menemukan putrinya, Kaluna, dalam keadaan lemas di dalam pelukan Andrian di tengah lantai dansa yang kacau.

"Kaluna!" teriak Ken Aji sambil berlari, menerobos kerumunan yang panik.