"Jangan khawatir, Tuan Kinan," kata Andrian, suaranya tenang. Ia memeluk Kaluna lebih erat. "Putri Anda baik-baik saja."
Ken Aji menatapnya, tidak mengerti. Pandangannya jatuh ke lantai. Di sana, tergeletak seorang pria bersetelan tuxedo dengan lubang peluru di dahinya. Tapi yang lebih menarik perhatian Adalah pistol di tangan pria itu.
Pria itu adalah pembunuh bayaran yang berada di belakang pilar marmer. Anak buah Andrian telah menembaknya sesuai perhitungan Andrian. Andrian memiliki aturan main yang luar biasa. Dia memposisikan anak buah Leon, Kaluna dan pembunuh misterius itu dalam satu garis lurus.
Kaluna, yang masih dalam pelukan Andrian, mulai sadar. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Andrian dengan mata melebar. "Kau..."
Andrian menunduk, lagi-lagi bibirnya hampir menyentuh telinga Kaluna.
"Sudah kubilang, Nona Kaluna, puncak adalah tempat terbaik untuk jatuh," bisik Andrian, suaranya penuh arti.
Ken Aji, yang masih berdiri membeku, akhirnya menyadari apa yang terjadi. Dia melihat mayat di lantai dan putrinya yang selamat berkat Andrian. Dia berlutut di samping mayat pria itu, mengamati luka tembak yang bersih di dahinya.
"Siapa dia, kenapa dia mengincar Kaluna?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Andrian menoleh ke arah Ken Aji. Matanya dingin, tapi suaranya penuh peringatan.
"Ada banyak pemain di arena ini, Tuan Kinan. Tidak semua bisa Anda lihat. Beberapa di antaranya bahkan lebih berbahaya dari yang Anda tahu," kata Andrian.
Kaluna, yang masih berdiri dalam pelukan Andrian, tiba-tiba memalingkan wajahnya. Meskipun tubuhnya masih lemah, matanya menyipit, menembus kerumunan yang mulai pulih dari kepanikan.
Pandangan Kaluna terpaku pada bayangan yang bergerak cepat di balik tirai beludru di ujung aula. Sosok itu tampak seperti melarikan diri, menyelinap di antara para tamu.
Senyum misterius terukir di bibir Kaluna. Dia mengenali siluet itu. Dia menyebut satu nama dengan suara berbisik, pelan, tetapi jelas di telinga Andrian.
"Kajayanti," desis Kaluna.
Sepasang mata Andrian seketika menoleh ke arahnya, terkejut. Kajayanti? Nama itu asing bagi Andrian.
Tapi Andrian tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya tetap datar, seolah tidak mendengar suara samar itu.
Andrian tersenyum, kali ini senyumnya kembali menjadi senyum predator yang dingin.
"Tuan Kinan, kita akan berbicara nanti. Dan Kaluna..." Andrian melirik Kaluna, " Dia akan menjadi jaminan bagiku. Ini adalah perburuan, dan aku baru saja mengklaim mangsaku."
Dengan tenang, Andrian langsung mengangkat tubuh Kaluna.
Kaluna tidak meronta, tidak berteriak. Di dalam gendongan Andrian, dia justru tampak tenang. Matanya menatap Andrian dengan tatapan yang sulit diartikan, ada perpaduan antara keberanian dan kewaspadaan.
Ken Aji yang melihat putrinya dibawa pergi, tidak bisa hanya membeku di tempat. Dia tahu Kaluna tidak lemah, tapi adegan ini terlalu aneh.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Ken Aji, suaranya parau. Dia mencoba melangkah maju, tapi para pengawal Andrian menahannya.
Dengan tenang, Andrian hanya melirik tanpa menghentikan langkahnya.
"Dia baik-baik saja," jawab Andrian datar. "Atau setidaknya... dia akan tetap aman bersamaku,” sambungnya.
Para tamu berbisik-bisik, menatap pemandangan itu dengan bingung. Andrian, sang penyelamat sekaligus penculik, menggendong Kaluna yang tidak menunjukkan perlawanan sama sekali.
Andrian menggendong Kaluna keluar dari gedung dan segera disambut oleh pemandangan tegang di depan pintu. Para pengawal Kaluna bersama pangawal Ken Aji sudah siaga. Senjata mereka teracung lurus ke kepala Andrian.
“Turunkan senjata kalian!” Di belakang Andrian, pengawalnya pun bergerak, tangan mereka siap mencabut pistol, menciptakan lingkaran neraka yang siap meledak kapan saja.
Ketegangan itu begitu kental, menusuk udara malam. Hanya butuh satu gerakan salah satu jari yang menarik pelatuk untuk memulai perang.
"Jangan," kata Kaluna, suaranya tenang, memecah keheningan.
Kaluna menatap Ken Aji. "Ayah, hentikan!" katanya lagi, kali ini lebih tegas.
Ken Aji menatap putrinya, terkejut. "Kaluna? Dia berbahaya."
"Tidak untuk sekarang," balas Kaluna.
Kaluna menggerakkan kepalanya, memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menurunkan senjata.
Setelah beberapa saat, mereka menuruti perintah Kaluna, meskipun ragu-ragu. Pengawal Ken Aji juga perlahan-lahan menurunkan pistol mereka. Andrian tersenyum tipis. Dia juga menggerakkan dagunya, memberi isyarat pada pengawalnya untuk mundur.
Mobil mewah Andrian melaju mulus membelah jalanan malam, meninggalkan keramaian pesta yang kini penuh tanda tanya. Di kursi belakang, Andrian duduk di samping Kaluna. Keheningan di antara mereka begitu pekat, lebih berat dari ketegangan yang baru saja terjadi di luar gedung.
"Aku tidak tahu kau bisa begitu meyakinkan," kata Andrian, suaranya memecah keheningan. "Membuat Ken Aji menurutimu semudah itu."
Kaluna menoleh, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Anda meremehkan ikatan seorang ayah dengan anaknya, Tuan Sugara. Terutama, ketika sang anak memegang semua kartu di tangannya."
Andrian balas tersenyum. "Sebuah pelajaran yang bagus. Tapi di dalam mobil ini, yang memegang kartu adalah aku."
Kaluna mengangkat bahu. "Kita lihat saja. Lagipula, Anda tidak akan menembak saya sekarang, bukan?"
Andrian terkekeh. “Aku tidak pernah salah memilih mangsa.”
Andrian melirik Kaluna. Gaun anggunnya kini tampak kusut, namun aura tenang itu tak berubah. Kaluna menatap lurus ke depan, seolah tidak menghiraukan keberadaan Andrian di sampingnya.
"Kau beruntung," kata Andrian kembali memecah keheningan. "Aku tidak tahu siapa Kajayanti, tapi dia pasti mengirimkan seseorang yang tidak cakap."
Kaluna tetap diam, pandangannya kosong.
"Kau mengenalnya?" tanya Andrian, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Kaluna akhirnya menoleh. Sorot matanya dingin, sedingin nada suaranya. "Itu urusanku."
Rahang Andrian kembali mengeras. Dia tidak suka diabaikan.
"Mulai saat ini," katanya, suaranya menjadi lebih dingin dan tajam. "Urusanmu adalah urusanku. Sejak detik kau berada di pelukanku, kita sudah terikat."
Kaluna menoleh, matanya menantang.
"Terikat? Sebaiknya anda tidak terlalu jauh terbawa perasaan, Tuan Sugara. Ini hanya permainan yang tidak bisa dimenangkan oleh salah satu dari kita," ujar Kaluna dengan tenang.
Andrian balas menatapnya. "Dan kau salah aku akan memenangkan permainan ini," jawabnya.
Tangan Kaluna tiba-tiba menelusup ke pundak Andrian. Sentuhan tak terduga itu membuat Andrian menegang. Dia merasakan aura yang berbeda dari tubuh Kaluna, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebencian dan perlawanan.
Kaluna merangkul bahu Andrian. Kaluna tersenyum penuh rahasia, kembali memandang Andrian. Bibirnya mendekat ke telinga Andrian, membisikkan sebuah kalimat dalam.
"Kau bilang kau suka berburu, Tuan Sugara," katanya, nadanya tenang. "Sekarang, perburuan ini tidak hanya tentang kita berdua."
Andrian menegang, merasakan sentuhan Kaluna yang tiba-tiba. Bisikan di telinganya itu bukan sebuah ancaman, melainkan sebuah proklamasi. Perburuan ini, yang tadinya dia yakini hanya antara dirinya dan Kaluna, ternyata memiliki pemain lain.
"Kau tidak akan memberitahuku?" Andrian berbisik balik, suaranya pelan dan menusuk. Dia tidak bertanya lagi, dia menuntut.
Kaluna tersenyum, tidak menjawab. Dia hanya melonggarkan pelukannya, kembali duduk tegak di kursinya.
Andrian menoleh menatapnya, wajah Kaluna kini kembali datar, seolah bisikan barusan tidak pernah terjadi.
Andrian menghela napas, menyadari Kaluna adalah lawan yang jauh lebih tangguh dari yang dia bayangkan. Dia tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban apa pun darinya. Kaluna adalah sebuah teka-teki, dan dia harus memecahkannya sendiri.
"Baiklah," kata Andrian, suaranya terdengar dingin. "Aku akan memikirkannya nanti. Tapi untuk saat ini, ikutlah denganku. Ada sebuah pertunjukan yang tidak boleh kau lewatkan."
Kaluna mengangkat alis, senyum sinisnya kembali terukir. "Pertunjukan? Saya tidak suka kejutan, Tuan Sugara."
"Jangan khawatir," balas Andrian, senyum predatornya kembali. "kau akan menyukai ini."
Kaluna terdiam, matanya menatap Andrian, mencoba membaca niatnya. Tapi tidak berhasil.
Apapun itu, Kaluna tetap duduk tenang di samping Andrian, menunggu mobil itu berhenti. Dia tahu, perburuan ini baru saja dimulai. Dan si dingin ini, sudah masuk ke dalam perangkapnya sekarang.