Penjaga Batas Moral

Penulis Yoonna
01 October 2025

Mobil Andrian meluncur di bawah cahaya lampu jalan. Menembus malam yang dingin, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang.

Apartemen mewah itu memiliki arsitektur minimalis yang dingin, seperti cerminan pemiliknya. Para pengawal Andrian siaga di samping pintu mobil. Membuka jalan bagi Andrian yang turun dan kembali menggendong Kaluna.

Andrian membawa Kaluna masuk ke apartemen mewahnya. Di dalam lift, keheningan merayap. Pintu lift terbuka, memperlihatkan pemandangan kota di bawah mereka.

Andrian menurunkan Kaluna di atas sofa kulit. Ia menuangkan wiski ke dalam dua gelas kaca.

"Minum," kata Andrian, menyodorkan salah satu gelasnya.

Kaluna menggeleng. "Aku baik-baik saja."

"Jangan bohongi aku," desis Andrian, suaranya tajam. "Aku bisa melihatnya."

"Kenapa kau membawaku ke sini, kenapa tidak ke kantor polisi?" tanya Kaluna.

Andrian terkekeh. "Polisi tidak akan bisa melindungimu, Nona Kaluna. Tapi aku bisa."

"Kau pikir kau siapa?" tanya Kaluna.

"Aku adalah pemburu yang baru saja mengklaim mangsanya. Dan kau... kau adalah mangsaku," jawab Andrian.

Kaluna tertawa kecil. "Dan di mana mangsa biasanya berada? Di kandang? Atau di meja makan?"

"Di tempat di mana pemburu bisa mengawasinya. Jadi, kau akan tetap bersamaku sampai perburuan ini berakhir," ujar Andrian sambil memegang kaki Kaluna dan melepas sepatu hak tingginya.

Kaluna menyesap wiski itu perlahan. Matanya tidak beralih dari Andrian.

"Kau tidak akan bisa menjinakkanku, Tuan Sugara," ujar Kaluna dengan memandangi gelasnya.

"Itu yang membuat perburuan ini menarik, Nona Kaluna," kata Andrian.

Kaluna menatap api di perapian, dia tersenyum sinis. "Kau lupa satu hal, Tuan Sugara, kadang mangsa justru yang menjebak pemburu."

Andrian tidak menanggapinya. Dia langsung bangkit, melangkah ke meja kerjanya. “Sudah siap untuk pertunjukan?” katanya seraya mengambil ponselnya.

"Leon, masuk ke sini, sekarang!" kata Andrian, suaranya dingin dan tegas.

Dia mengakhiri panggilan. Andrian berjalan ke arah pintu, menunggu. Kaluna tetap tenang, namun matanya menyipit, waspada. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres.

Pintu lift terbuka. Leon melangkah masuk, wajahnya datar dan tanpa emosi.

"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanya Leon.

Belum sempat Leon menyelesaikan kalimatnya, Andrian bergerak cepat. Tanpa peringatan, dia melayangkan tendangan yang keras, tepat ke arah lutut Leon.

Terdengar bunyi krak yang mengerikan. Leon mengerang kesakitan, tubuhnya ambruk ke lantai.

Kaluna yang masih duduk di sofa, terkejut. Matanya melebar, menyaksikan adegan yang tiba-tiba dan brutal itu. Dia tidak menyangka Andrian akan bertindak seperti ini.

Andrian tidak peduli. Dia menatap Leon yang masih kesakitan di lantai.

"Kau membuat kesalahan," katanya dingin. "Kau tahu, dalam permainanku, kesalahan berarti kegagalan."

Kaluna menatap Andrian, lalu beralih ke Leon yang meringis kesakitan. Dia mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Andrian berdiri dengan tenang di samping Leon, menoleh ke arah Kaluna. Pandangannya tidak terbaca.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan pada orang yang membuat kesalahan seperti ini, Nona Kaluna?" tanya Andrian, suaranya tenang, seolah tidak ada yang terjadi.

Kaluna tidak langsung menjawab. Dia menatap Andrian, lalu beralih ke Leon yang mencoba bangkit sambil menahan sakit. Andrian mengawasi, menunggu jawabannya.

Kaluna tetap duduk tenang di sofa, tatapannya dingin. Kebingungan dan rasa tidak tahu membuat Kaluna tidak ingin sembarangan memberikan pendapat.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak bisa memberikan pendapat tentang hal yang tidak aku mengerti." Kaluna akhirnya berkata, suaranya datar.

Kata-kata Kaluna seolah menjadi pemantik. Andrian menoleh pada Leon. Matanya kini tidak lagi dingin, melainkan brutal dan penuh murka. Tanpa ragu, Andrian melayangkan satu tendangan keras ke perut Leon.

Puas melihat Leon tersungkur, Andrian melirik Kaluna. Kaluna tetap diam, menatap Andrian dengan tatapan dingin.

"Kita lihat saja," kata Andrian.

Andrian berbalik dan mengambil sebuah pisau dari laci mejanya. Dia kembali ke arah Kaluna, lalu menggenggamkan pisau itu ke tangan Kaluna.

“Sejauh mana sifat keras kepalamu itu bisa menyakitinya, Kijang Emasku,” kata Andrian, suaranya dingin dan kejam.

“Apa maksudmu?” tanya Kaluna, nada bicaranya meninggi.

"Kau akan menyiksanya sampai dia memberitahumu semua yang dia tahu," jawab Andrian.

Kaluna menggeleng. "Aku tidak akan melakukannya."

"Kau harus melakukannya," kata Andrian.

Kaluna memandang pisau di tangannya, matanya melebar. Dia tidak pernah membayangkan dirinya akan melakukan hal seperti ini. Ia melihat ke arah Leon yang tergeletak di lantai, wajahnya pucat pasi.

"Lakukan sekarang!" kata Andrian.

Kaluna menatap Andrian, matanya dipenuhi amarah. Dia memejamkan mata, mencoba mengendalikan emosinya. Dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak akan pernah bisa menyakiti seseorang.

“Sudah kukatakan, aku tidak akan melakukannya, Tuan Predator!” teriak Kaluna lebih Garang.

Kaluna kembali membuka matanya. Dengan sekuat tenaga, dia memberontak. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Andrian. Pisau itu terpental, hanya menggores sedikit pelipis Leon.

Andrian terkejut. Tidak menyangka Kaluna akan melawan. Dia menatap Kaluna, yang berdiri gemetar, napasnya tersengal-sengal, tetapi matanya memancarkan tekad yang kuat.

Kaluna masih menantang tindakan Andrian. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kebencian.

“Apa yang kau inginkan, Tuan Sugara?” ujarnya lagi.

“Pendapatmu! Aku tidak akan berhenti sebelum kau berbicara. Aku ingin tahu seberapa jauh batas moralmu. Sejauh mana kau bisa bertahan sebelum sifat iblis dalam dirimu keluar," tutur Andian.

Kaluna mengepalkan tangannya. "Aku bukan iblis, Tuan Sugara!"

"Setiap orang punya sisi iblisnya masing-masing, Nona Kaluna." Andrian tertawa pelan. "Hanya butuh pemantik yang tepat untuk mengeluarkannya. Dan aku akan menjadi pemantik itu untukmu," sambungnya.

Kaluna menatap Leon yang tergeletak lemah. Dia bisa melihat rasa sakit yang mendalam di mata pria itu. Sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Rasa iba, amarah, dan benci bercampur menjadi satu.

“Kalau begitu, lepaskan saja dia!” pinta Kaluna.

Senyum di wajah Andrian menghilang. Rahangnya dia katupkan dengan keras.

"Kau tidak tahu? Kau hampir mati di pesta itu karena kesalahannya!" teriak Andrian, suaranya penuh amarah yang tertahan.

Kaluna tersenyum kecil. “Aku tidak mengenalnya sama sekali, entah kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuatku hampir lenyap, aku tidak peduli itu. Yang jelas, kesalahan yang dia perbuat tidak akan mempengaruhi takdirku. Lagipula, dia adalah tangan kananmu, bukan begitu, Tuan Sugara?”

Tanpa menanggapi Kaluna, Andrian langsung memalingkan wajahnya kearah Leon. Dia mengangguk, meminta Leon untuk keluar dari kamarnya itu.

Entah mengapa, perkataan Kaluna kini seolah menjadi perintah bagi Andrian yang tidak bisa dia tolak.

Andrian terdiam. Dia memandangi wajah Kaluna. Wanita itu tidak gentar sedikit pun. Kaluna tidak menunjukkan amarah, tidak ada ketakutan di wajahnya. Hanya tatapan dingin dan tajam yang seolah menelanjangi dirinya.

“Jangan naif, Kaluna! Kita sama-sama iblis dari neraka. Hanya saja, kita diciptakan dari api yang berbeda,” bisik Andrian sambil mengusap pipi Kaluna.

Kaluna menepis tangan Andrian dari wajahnya.

Andrian menatap Kaluna, kilatan di matanya mulai meredup, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan.

Andrian melangkah semakin mendekat pada Kaluna. Dia mengikis jarak di antara mereka.

"Kau adalah mangsa yang menjebak pemburunya. Kau berhasil mengubahku, dan itu membuatku takut," bisik Andrian, suaranya bergetar.

"Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku tidak pernah merasa seolah-olah kendaliku direbut," kata Andrian lagi.

Andrian mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Kaluna. Kaluna tidak menepisnya kali ini. Dia membiarkan tangan Andrian menyentuh kulitnya, merasakan sentuhan yang begitu lembut, begitu kontras dengan kekejaman yang baru saja ia saksikan.

Andrian menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Kaluna. Mata mereka bertemu, dan entah mengapa, Kaluna tidak merasa takut. Justru, dia merasa seolah ada magnet kuat yang menariknya pada tatapan Andrian.

“A-apa yang kau inginkan, Tuan Sugara,” tanya Kaluna pelan.

Keduanya menanti, menanti sesuatu yang tidak pasti, menanti sesuatu yang lebih dari sekadar perburuan. Mereka semakin dekat, namun, tiba-tiba Andrian berhenti, dia membuka matanya. Seolah tersadar dari sihir, dia menjauhkan dirinya dari Kaluna.

"Tidak," gumamnya, menggelengkan kepala.

Andrian membalikkan badan, memunggungi Kaluna, dan berjalan menuju pintu. Kaluna hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung. Dia bisa melihat bahu Andrian menegang. Ada sesuatu yang mengganggu Andrian, sesuatu yang membuatnya membatalkan niatnya.

"Aku akan kembali," ujar Andrian tanpa menoleh.