Di balik pintu kamar yang tertutup, Andrian berjalan menyusuri lorong dengan langkah cepat. Amarah dan frustrasi yang selama ini dia kendalikan kini memuncak. Bayangan wajah Kaluna yang menantang, yang tidak sedikit pun gentar, terus berputar di benaknya.
Andrian berhenti, mengepalkan tangannya. Dia menoleh ke arah dinding di samping pintu. Tanpa berpikir panjang, dia melayangkan tinjunya dengan keras.
“Brak!”
Dinding itu bergetar. Andrian melepaskan semua amarah dan kekesalan yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri. Darah mulai menetes dari buku-buku jarinya, membasahi dinding putih itu.
Di saat yang sama, Leon terbelalak melihat Andrian dalam kondisi yang belum pernah dia saksikan. Andrian yang selalu dingin dan tenang, kini terlihat seperti orang gila.
"Tuan Muda!" seru Leon, mencoba mendekat.
"Jangan mendekat!" teriak Andrian, suaranya dipenuhi amarah.
Leon mengabaikan perintah itu. Dia tahu Andrian tidak dalam keadaan sadar. Dia meraih tangan Andrian yang berlumuran darah dan menghentikan kegilaannya.
"Tuan Muda, hentikan!" ujar Leon.
Andrian menepis tangan Leon, tetapi kali ini tanpa kekuatan. Dia menunduk, napasnya tersengal-sengal.
"Kau lihat, Leon? Kau lihat apa yang dia lakukan padaku? Dia membuatku... gila," keluh Andrian.
"Tenanglah, Tuan Muda," kata Leon.
"Dia!" Andrian mendongak, matanya yang tajam menatap kosong. "Kijang Emasku itu! Dia adalah mangsa yang menjebak pemburu."
Leon hanya diam, membiarkan Andrian meluapkan emosinya. Dia tahu, rasa frustasi dan kebingungan yang dirasakan Andrian adalah sesuatu yang baru. Andrian selalu mengendalikan semua situasi, tetapi Kaluna adalah pengecualian.
Akhirnya, Leon berhasil menghentikan kegilaan Andrian. Dengan tangannya yang terluka, Andrian menatap Leon. Tatapannya masih penuh amarah, tetapi amarah itu kini lebih terarah.
"Leon," panggil Andrian, suaranya parau.
“Iya, Tuan Muda,” sahut Leon dengan cepat.
"Ada satu nama yang harus kau cari. Cari tahu semuanya tentang dia. Semuanya!" kata Andrian, nadanya kembali meninggi.
Leon mengangguk. "Siapa dia, Tuan?"
"Kajayanti."
Nama itu terdengar asing bagi Leon, tetapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia tahu, ketika Andrian memberikan perintah, dia harus segera melaksanakannya tanpa banyak bertanya.
"Jangan sampai ada satu pun informasi yang terlewat. Aku ingin tahu siapa dia, apa hubungannya dengan Kaluna, dan kenapa dia mengincar Kaluna malam itu," kata Andrian.
"Baik, Tuan. Saya akan segera menemukan Kajayanti," jawab Leon.
Andrian menatap Leon dengan tajam, tatapan yang membuat Leon merinding.
"Kau sudah membuat satu kesalahan fatal, Leon. Jangan sampai ada kesalahan yang kedua," tegas Andrian sekali lagi.
Ancaman itu membuat Leon menelan ludah. Dia tahu, Andrian tidak main-main. Kali ini, dia harus berhasil. Dia harus menemukan Kajayanti sebelum Andrian benar-benar kehilangan akal.
Leon segera pergi untuk menjalankan perintah Andrian. Dia menghubungi timnya, memberikan nama Kajayanti dan semua petunjuk yang dia miliki.
Tiba-tiba, pintu lift kembali terbuka.
"Andrian," sapa Alivia, melangkah maju dan memeluk Andrian.
Seorang wanita elegan dengan balutan gaun sutra berwarna navy berdiri di sana. Alivia, ibunda Andrian, datang tanpa pemberitahuan.
Andrian sedikit terkejut. Dia melihat ke arah kamar, memastikan Kaluna tidak terlihat. Pintu kamar itu tertutup rapat dan Andrian menghela napas lega.
"Ibu, mengapa ke sini? Malam-malam bengini?" tanya Andrian, suaranya berusaha terdengar tenang.
"Sudah beberapa minggu kau kembali, mengapa tidak pernah pulang ke rumah?" kata Alivia, matanya berbinar.
“Tanganmu itu kenapa?” tanya Alivia mengalihkan perhatiannya.
“Bukan apa-apa, Bu. Sejauh apa kau mengenal putramu?” Andrian tidak ingun berbicara banyak tentang ini.
Alivia menggelengkan kepalanya. Putranya terluka, itu sudah biasa baginya. Bahkan, saat ini hanyalah sebuah luka kecil. Paling kecil dari biasanya.
"Ibu datang ke sini secara langsung untuk membuatmu pulang. Besok, ibu akan mengadakan pesta penyambutan untukmu di rumah utama,” ujar Alivia penuh perhatian.
"Bu, itu tidak perlu. Aku tidak suka pesta," tolak Andrian halus.
Isi kepala Andrian sedang kacau. Bukan saatnya untuk berurusan dengan keramaian.
"Tidak, kamu harus datang," kata Alivia, suaranya terdengar meyakinkan.
"Apalagi... akan ada tamu istimewa nanti," kata Alivia lagi sebelum Andrian berbicara.
“Siapa Bu?” tanya Andrian.
Sebelum Alivia memberikan jawabannya, Andrian langsung bergedik. “Ah, sudahlah Bu! Bagiku, tidak ada yang lebih istimewa dari kehancuran musuk-musuhku. Lagipula… rumah itu, bukan lagi tempat untuk pulang. Rumah itu adalah neraka, Bu!”
“Singkirkan dulu urusan bisnismu itu, Nak! Dia ini seorang wanita, anak dari sahabat ibu, namanya… Kajayanti,” ujar Alivia tanpa ragu.
Mendengar nama itu, ekspresi Andrian berubah total. Matanya yang dingin kini menunjukkan kilatan tajam.
"Kajayanti?" tanya Andrian, mengulangi nama itu seolah ia sedang menguji sesuatu.
Alivia mengangguk. "Ya, sayang. Ibu banyak bercerita tentang dirimu padanya. Dia sangat antusias dengan kepulanganmu.”
Andrian mengepalkan tangannya di balik punggung.
Dia tidak peduli Kajayanti itu anak siapa atau kerabat dekat yang tidak dia kenal. Yang dia tahu, nama itu terkait dengan ancaman terhadap Kaluna. Pesta ini adalah kesempatan emas untuk menemui Kajayanti secara langsung.
"Baiklah," kata Andrian, suaranya kini dingin dan penuh perhitungan. "Kalau begitu, siapkan pesta semegah mungkin untukku, Bu."
”Iya! Benar firasat ibu, Kajayanti itu memang begitu Istimewa, ‘kan. Baru mendengar namanya saja, putra ibu langsung berubah sikapnya,” kata Alivia sangat senang, tidak menyadari niat tersembunyi putranya.
"Tentu saja sayang! Ibu akan siapkan yang terbaik untukmu," susul Alivia cepat.
Andrian mematung di tengah ruangan, mencerna semua yang baru saja terjadi. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan.
Mengapa niatnya untuk menghabisi Kaluna berubah drastis? Mengapa niat itu kini digantikan oleh dorongan untuk melindungi gadis itu? Dia yang selalu mendominasi, kini merasa kendalinya direnggut.
Tiba-tiba, pintu lift kembali terbuka, menampakkan Leon. Wajahnya serius dengan sebuah tablet di tangannya. Tanpa menunggu Andrian bertanya, Leon langsung berbicara.
"Tuan, saya punya informasi tentang Kajayanti," kata Leon, suaranya tegang.
Andrian menoleh. "Cepat, katakan."
Leon menggeser tabletnya, menampilkan sebuah foto seorang wanita muda yang cantik dengan senyum penuh rahasia.
"Namanya Kajayanti. Dia adalah putri Ken Aji, tapi dari istri yang lain," papar Leon.
Andrian mengerutkan kening.
"Putri Ken Aji? Tapi… kenapa kau tidak berhasil menelusurinya kemarin? Bahkan informasi ini tak kalah penting?" selidik Andrian.
"Ada alasannya, Tuan," jawab Leon.
Kening Andrian berkerut. Matanya penuh petualangan.
“Ohya, apa itu?” tanya Andrian.
"Seperti status sosial Nona Kaluna yang tidak terjangkau publik, begitu juga Nona Kaluna berhasil membuat media membungkus fakta ini," jelas Leon.
“Untuk apa dia menyembunyikannya?” tanya Andrian lagi.
“Ibunya Kajayanti adalah seorang wanita simpanan Ken Aji. Dia baru muncul dan diakui setelah ibu Kaluna meninggal. Itulah yang membuat Nona Kaluna berjarak dengan ayahnya,” papar Leon.
Andrian terdiam. Dia mulai memahami mengapa Kaluna begitu sinis saat menyebut nama itu. Semua itu berasal dari pengalaman traumatisnya sendiri.
“Sempurna!” Senyum tipis, penuh perhitungan, terukir di bibir Andrian.
Leon terdiam, menunggu instruksi selanjutnya dari Andrian. Andrian menatapnya. Seperti seorang pemburu yang berhasil menemukan jejak mangsanya.
"Kerja bagus, Leon," puji Andrian, suaranya dipenuhi nada puas.
Leon sedikit terkejut, namun merasa bangga.
Andrian berjalan ke meja kerjanya, mengambil sebatang cerutu. "Aku ingin kau siapkan gaun-gaun indah untuk Kaluna. Gaun terbaik. Dia akan datang bersamaku ke pesta."
Leon terkejut. "Ke pesta, Tuan?"
"Ya," jawab Andrian. "Di pesta itu, akan ada kejutan lagi untuk Ken Aji."
Leon hanya bisa mengangguk. Seperti biasa, Andrian tidak pernah memberitahu rencananya dengan jelas. Predator ini selalu punya rencana secara tiba-tiba dan tanpa terduga.
“Akhirnya, pion-pionku muncul dengan sendirinya.” Andrian menyeringai.
Leon agak berpikir lebih keras dalam hal ini. Mengapa tuannya kali ini selalu punya rencana di luar perdiksi. Seperti, lebih sering mengadakan atau pergi ke pesta, misalnya.
“Ken Aji akan dihancurkan oleh keluarganya sendiri,” ujar Andrian dengan mengepalkan tangannya.
Leon mengernyit tidak mengerti. Tapi setidaknya dia harus tetap waspada. Karena di dalam permainan Andrian, pion-pion yang paling tidak berguna adalah pion yang akan dikorbankan.