Drama

Aku dan Om Revan

Penulis sanzfy
30 September 2025

"Kau diam! Yang penting saat ini dia harus melihatku sebagai satu-satunya pelindungnya. Malaikat penjaganya."

Kata-kata Revan terus bermain di kepala Bu Ami, menghantui benaknya seperti melodi yang berputar tanpa henti. Malam itu, di kamar yang remang-remang, Bu Ami memandangi wajah Lyra yang berbaring tenang di ranjang. Kedua mata gadis itu terpejam, damai dalam tidurnya, sementara earphone putih terpasang di telinganya, mengalunkan musik yang hanya bisa didengarnya sendiri. Seperti malam-malam sebelumnya, Lyra meminta Bu Ami untuk menemaninya tidur, sebuah permintaan sederhana yang membuat hati Bu Ami menghangat. Ia berpikir, mungkin Lyra merindukan sosok seorang ibu, sosok yang begitu dirindukannya namun tak bisa didapatkannya.

Gadis remaja itu sudah lebih dari dua bulan tinggal bersama Revan di rumah itu, rumah yang kini terasa lebih hidup dan berwarna sejak kehadirannya. Bu Ami sangat menyayangi Lyra, anak perempuan yang dibawa Revan pulang dengan sebuah kisah yang begitu menusuk hati, kisah tentang penolakan dan kesepian yang dialami seorang gadis di usia yang begitu muda.

Lyra diusir dari rumah oleh ibu kandungnya sendiri, dituduh sebagai penggoda suami baru ibunya, sebuah tuduhan keji yang tak pantas dilontarkan kepada seorang anak. Gadis malang itu ditemukan Revan dalam kondisi basah kuyup dan kelaparan di depan ruko miliknya, tempat ia mencari perlindungan dari dinginnya malam dan kerasnya dunia. Sejak saat itu, Lyra menjadi bagian dari keluarga mereka, mengisi kekosongan yang selama ini menghantui rumah itu.

Kehadiran Lyra di rumah ini menyempurnakan hari-hari Bu Ami dan Revan, setelah lebih dari lima tahun rumah itu sepi tak punya kehidupan. Sejak Arumi, istri Revan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil tragis, rumah itu terasa seperti kehilangan jiwanya, kehilangan keceriaan dan kehangatan yang dulu selalu ada. Kini, dengan kehadiran Lyra, rumah itu kembali dipenuhi dengan tawa dan canda, meskipun Bu Ami tahu bahwa di balik senyum Lyra, tersimpan luka yang dalam dan trauma yang sulit disembuhkan.

"Lyra.." panggil Bu Ami lembut, memecah keheningan malam yang sunyi. Ia sengaja berbisik, tak ingin mengganggu tidur nyenyak gadis itu.

"Ya," jawab Lyra tanpa menoleh, suaranya sedikit teredam oleh musik yang mengalun di telinganya. Ia masih memejamkan mata, menikmati alunan musik yang menenangkannya.

"Ibu ingin bicara.."

Lyra melepaskan earphone dari telinganya dan menoleh, menatap Bu Ami dengan tatapan bertanya. "Ada apa, bu?" tanyanya dengan nada penasaran, mencoba menebak apa yang ingin dibicarakan oleh wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri itu.

Bu Ami menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, mencoba menyusun kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti perasaan Lyra. "Boleh ibu mengingatkanmu?"

"Soal apa?" Lyra mengerutkan keningnya, mencoba menebak arah pembicaraan Bu Ami. Ia merasa sedikit khawatir, takut jika ia telah melakukan sesuatu yang salah dan mengecewakan Bu Ami.

"Jika di rumah, jangan mengenakan dress pendek ataupun pakaian yang mempertontonkan auratmu. Jangan terlalu dekat juga dengan Pak Revan, memeluk dan bermanja padanya." Bu Ami akhirnya mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Ia merasa perlu untuk mengingatkan Lyra, meskipun ia tahu bahwa gadis itu tidak memiliki niat buruk.

Lyra terdiam sejenak, tampak berpikir. Ia mencoba memahami apa yang dimaksud oleh Bu Ami. "Kenapa?" tanyanya kemudian, dengan nada polos yang membuat hati Bu Ami sedikit mencelos. Ia tahu bahwa Lyra tidak mengerti mengapa ia harus menjaga jarak dengan Revan, pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.

"Bagaimanapun.. Pak Revan bukan keluargamu. Tidak punya hubungan darah denganmu," Bu Ami mengingatkan dengan hati-hati, berusaha agar kata-katanya tidak menyakiti perasaan Lyra. Ia ingin Lyra mengerti bahwa meskipun Revan sudah sangat baik padanya, tetap ada batasan-batasan yang harus dijaga.

Lyra menatap Bu Ami dengan tatapan kosong, seolah tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. "Tapi Om Revan baik padaku, bu. Dia tak pernah memperlakukan aku seperti Om Angga. Om Revan seperti ayah yang melindungi anak gadisnya. Aku merasa nyaman di dekatnya. Aku tidak akan pernah lupa. Bagaimana dia sudah menyelamatkanku. Dia satu-satunya orang yang peduli padaku malam itu ketika semua mengabaikanku," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan tangis. Ia teringat malam kelam itu, malam ketika ia diusir dari rumah dan merasa sendirian di dunia ini.

Bu Ami meraih tangan Lyra dan menggenggamnya erat, mencoba menenangkan gadis itu. "Ibu tahu, sayang. Ibu tahu Pak Revan sangat baik padamu. Tapi, tetap saja, ada batasan-batasan yang harus kamu jaga. Kamu seorang gadis remaja, dan Pak Revan seorang pria dewasa. Ibu hanya tidak ingin ada kesalahpahaman atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi."

"Tapi aku sudah menganggap Om Revan seperti ayahku sendiri, bu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," Lyra terisak, air matanya mulai membasahi pipinya. Ia merasa sedih dan bingung, mengapa ia harus menjaga jarak dengan orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. "Sejak mama mencampakkanku demi membela om Angga."

Bu Ami memeluk Lyra erat, mencoba menenangkan gadis itu. Ia merasakan kesedihan dan kepedihan yang dirasakan oleh Lyra. "Ibu mengerti, sayang. Ibu mengerti perasaanmu. Tapi, percayalah, ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibu tidak ingin kamu terluka."

Lyra membalas pelukan Bu Ami, menyembunyikan wajahnya di bahu wanita itu. Ia merasa nyaman dan aman dalam pelukan Bu Ami, seperti berada dalam pelukan seorang ibu yang sesungguhnya. "Aku janji, bu. Aku akan menjaga jarak dengan Om Revan. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuat ibu khawatir."

Bu Ami mengelus rambut Lyra dengan lembut, mencoba menenangkan gadis itu. "Ibu percaya padamu, sayang. Ibu tahu kamu anak yang baik."

Setelah beberapa saat, Lyra mulai tenang. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Bu Ami dengan mata sembab. "Bu, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja, sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Bu Ami menjawab dengan lembut, siap mendengarkan semua keluh kesah Lyra.

"Kenapa ibu begitu perhatian padaku? Padahal aku bukan siapa-siapa ibu. Bahkan Mama saja tega mengusirku karena dianggapnya sebagai pesaing." Lyra mengungkapkan pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Ia merasa tidak pantas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Bu Ami, karena ia merasa bukan siapa-siapa di keluarga itu.

Bu Ami tersenyum lembut. "Lyra, kamu memang bukan anak kandung ibu. Tapi, sejak pertama kali ibu melihatmu, ibu sudah merasa sayang padamu seperti anak sendiri. Ibu sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga ibu. Kamu cantik, baik, pintar. Ibu percaya kamu akan menjadi wanita yang hebat nantinya."

"Benarkah?" tanya Lyra dengan mata berbinar, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Tentu saja benar, sayang. Ibu tidak pernah berbohong padamu. Kamu adalah anak perempuan ibu sekarang." Bu Ami menjawab dengan tulus, meyakinkan Lyra bahwa ia benar-benar menyayanginya seperti anak sendiri.

Lyra tersenyum lebar, air matanya sudah mengering. Ia merasa bahagia dan terharu mendengar kata-kata Bu Ami. "Terima kasih, bu. Aku sayang ibu."

"Ibu juga sayang kamu, Lyra." Bu Ami membalas ucapan Lyra dengan senyuman hangat. Ia merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari kehidupan Lyra, dan ia berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi gadis itu seperti anak sendiri.