MUTM 1

Penulis Lee_Rain
30 September 2025

“Siapa namamu?” tanya Sasmita dengan tatapan tegas menampilkan wajah seorang wanita dari keluarga yang mempunyai status sosial yang tinggi.

“Perkenalkan, nama saya Jess Liora Gantari. Umur saya dua puluh dua tahun, saat ini saya sedang cuti kuliah karena ….”

“Cukup, saya sudah memberimu penilaian. Kamu masih sangat muda. Apa kamu sudah tahu pekerjaan apa yang akan kamu lakukan di rumah ini?” potong Sasmita yang merasa sudah tahu bagaimana karakter dari gadis muda ini hanya dengan mendengar cara berbicara Jess saja.

“Saya akan menjadi orang yang dikhususkan untuk melayani segala keperluan Tuan Muda, mulai dari menyuapkan makan hingga membersihkan kamar dan pakaiannya. Sementara itu yang saya ketahui, untuk selebihnya saya belum tahu,” jawab Jess tegas namun tetap bersikap sangat lembut dan sopan terhadap Nyonya besar di rumah ini.

“Kamu saya beri kepercayaan untuk sepenuhnya menjaga dan merawat putra saya. Apa pun yang saya perintahkan, saya harap kamu bersedia melakukannya tanpa ada keluh kesah. Untuk urusan gaji, saya bisa membayarmu berkali lipat dari perjanjian kalau kamu benar – benar bisa melakukan semua pekerjaanmu dengan baik. Sampai di sini kamu mengerti?”

“Saya mengerti, Nyonya.”

“Jangan panggil saya nyonya. Panggil saya ibu Sasmita. Dan satu lagi yang harus kamu ingat. Kamu adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan putra saya. Jadi, kamu juga harus tahu siapa yang keluar masuk kamar anak saya. Kamu paham maksud saya?”

“Paham, Bu Sasmita.”

“Ada satu orang yang sangat saya larang keberadaannya di kamar anak saya. Namanya Mila. Jangan sekalipun membiarkan wanita itu masuk dan menemui anak saya. Kamu ingat itu.”

“Siap, Bu Sasmita.”

“Bagus. Kamu sudah membawa pakaian ganti?”

“Sudah, Bu. Pak Lucas sudah memberi tahu saya bahwa saya harus menginap di sini selama bekerja.”

“Bagus, kamu akan bertemu dengan Mutia setelah ini. Dia yang akan menunjukkan semua apa yang harus kamu lakukan. Dan sebelumnya, kamu harus membaca dan menandatangani surat perjanjian kerja ini. Kamu bisa menolak kalau ada hal yang menurutmu membuatmu rugi.”

Jess menerima selembar kertas itu dengan hati – hati. Membaca satu persatu poin penting dalam kontrak itu.

Dan satu poin nomor terakhir yang berhasil membuat dirinya sedikit merasa aneh.

Yaitu dirinya tidak boleh memberi tahu kepada siapa pun kalau dirinya bekerja di sini, di keluarga Pras, bahkan dirinya juga tidak boleh menceritakan keadaan tuan mudanya kepada siapapun.

Selama tiga bulan pertama dirinya tidak boleh pulang ke rumah dengan alasan apa pun. Dan satu lagi, dirinya tidak boleh menggunakan ponsel selama tiga bulan pertama.

“Bu Sasmita,” panggil gadis itu seraya menunjukkan poin di mana dalam kontrak itu tertulis dengan sangat jelas bahwa dirinya tidak boleh menggunakan ponsel selama tiga bulan.

“Ada yang membuatmu merasa dirugikan?” sahut Sasmita langsung menebak. Dia melihat gurat keraguan di wajah Jess.

“Tidak, Bu. Hanya saja untuk poin yang menuliskan soal saya tidak boleh menggunakan ponsel, apa sekarang saya boleh menghubungi ibu saya untuk mengabarkan soal itu?” tanya Jess hati – hati.

Meski sebenarnya dia sangat keberatan, namun sungguh dia tidak akan rela kalau sampai kehilangan pekerjaan yang akan membuat dirinya sangat kaya dalam waktu dekat ini.

“Tentu saja. Silahkan hubungi ibumu dan segera berikan ponsel itu kepada saya.”

Jess berusaha mencari dengan cepat nomor kontak ibunya.

“Ibu, peraturan untuk bekerja di sini tidak boleh menggunakan ponsel. Jadi aku mengabarkan ini kepada Ibu agar ibu tidak merasa khawatir karena mungkin kita tidak bisa saling menghubungi dalam waktu beberapa bulan ke depan.”

Jess terlihat menggerak – gerakkan wajahnya. Muncul raut gugup di sana. Sepertinya Amelia, ibu Jess sedikit keberatan dengan peraturan itu.

Namun sungguh Jess tidak bisa meloloskan begitu saja kesempatan ini.

_

Sasmita menggenggam ponsel Jess sambil berjalan menuju kamar sang tuan muda yang lumpuh itu.

“Ini adalah kamar putraku. Tempat di mana dia tinggal dengan segala pesakitannya. Aku harap kau benar – benar dapat saya percaya dan bisa melakukan tugas dengan sangat sempurna. Saya tidak akan pernah mentoleransi sebuah kesalahan meski sekecil apa pun.”

“Baik, Bu Sasmita.”

Setelah menjelaskan semua pekerjaan yang akan dilakukannya saat ini, kini tinggalah Jess bersama Mutia, sang kepala pelayan dalam rumah yang lebih pantas disebut kastil modern itu.

“Nona Jess ….”

“Panggil saya Jess, Bu Mutia. Saya sama dengan anda di sini. Jadi anda cukup panggil saya dengan sebutan nama saja,” tukas Jess yang tidak suka dengan panggilan hormat itu.

Di dalam rumah itu, pekerjaan mereka sama. Yaitu melayani tuan mereka. Hanya saja Jess mendapatkan tugas khusus yaitu memenuhi semua keperluan tuan muda.

“Baik, Jess. Ini sudah saya siapkan daftar urutan pekerjaan yang harus kamu lakukan. Tuan Muda meminum obatnya setengah jam setelah makan. Tuan Muda mandi dua kali sehari di jam enam pagi dan jam empat sore. Untuk urusan makanan, kami akan menyiapkan dari bagian dapur. Kamu cukup menyuapi dan … sabar saat menghadapi Tuan Muda yang terkadang suka sekali marah,” beri tahu Mutia soal daftar pekerjaan Jess dengan nada bicara yang sangat pelan dan bisa dibilang berbisik karena tidak mau mengganggu tuan mereka yang sedang tertidur lelap.

Mutia pergi meninggalkan kamar itu. Kini meninggalkan Jess hanya berdua dengan tuan muda yang terlihat sangat gagah dan tampan di atas tempat tidur bak milik seorang raja Yunani.

Gadis itu perlahan mendekat ke arah ranjang. Memeta serta mengagumi keindahan Tuhan yang sangat luar biasa.

Dalam hati gadis itu bergumam, ‘apa dia benar – benar manusia? Kenapa dia begitu mempesona?’

Membenarkan selimut tuannya, Jess memilih untuk kembali membuka modul yang mana di sana menjelaskan semua pekerjaannya secara detil.

Jess duduk tepat di samping ranjang. Sebelumnya gadis itu menarik sebuah kursi kecil untuk dirinya duduk.

“Ehmmmm!”

Jess terkejut mendengar erangan kecil dari lelaki yang tampak tertidur sangat pulas itu. Dadanya mulai berpacu lebih cepat. Menoleh ke arah wajah sang majikan, Jess merasa heran dengan apa yang baru saja dia dengar. Kenapa tiba – tiba dia merasa aura kamar mewah ini menjadi lebih seram?

“Apa aku tadi salah dengar?” gumamnya memastikan dengan cara berdiri kemudian mendekatkan wajah cantiknya itu ke arah tuan muda.

“Siapa kau?” tanya lelaki itu yang berhasil membuat Jess menjerit tertahan karena terkejut.

“An – anda bisa bicara?” tanya Jess gugup sambil terus menutupi mulutnya agar tidak berteriak.

“Aku hanya buta dan lumpuh. Aku tidak bisu. Siapa kau?” sahut lelaki itu tampak tidak suka saat menyadari ada orang asing didekatnya. Dan Jess menyadari akan hal itu.

“Sa – saya Jess. Saya pelayan baru yang akan merawat anda secara khusus,” jawab Jess jujur dengan segala kegugupannya.

Dipandanginya wajah tampan dan mulus. Dalam hati Jess lagi – lagi mengagumi wajah tampan yang kini sudah membuka kedua kelopak matanya itu.

“Siapa yang memberimu pekerjaan?”

“Ma – maksud anda, Tuan?”

Bersambung,