Drama #ROMANCE #CEO

MUTM 2

Penulis Lee_Rain
30 September 2025

Meski tuan muda ini memang lumpuh dan buta, namun Jess jelas bisa melihat gurat ketidaksukaan lelaki itu atas kehadiran dirinya saat ini.

“Siapa yang membawamu kemari? Lucas atau ….”

“Pak Lucas yang membawaku ke mari. Beliau menawarkan sebuah pekerjaan.”

“Kau yakin bukan orang lain selain Lucas yang membawamu?” selidik lelaki itu tanpa sedikit pun menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.

“Tentu saja, Tuan. Maaf, tapi sebenarnya ada apa?”

“Tidak, lupakan saja. Siapa namamu?” tanya Hagan yang tampaknya mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jess.

Menyadari akan hal itu, membuat Jess sedikit bingung. Kenapa tuan muda mempermasalahkan hal itu? Bukankah sama saja siapa pun yang membawa dirinya? Toh tujuannya hanya satu yaitu dirinya dipekerjakan untuk merawat lelaki lumpuh ini.

Termenung beberapa saat, akhirnya Jess memutuskan untuk tidak ambil pusing akan hal itu. yang terpenting adalah bagaimana cara agar dirinya bisa bekerja dengan baik tanpa ada masalah sedikitpun. Dan setelah itu dirinya bisa melanjutkan kuliah dengan tenang tanpa ada gangguan beban pikiran karena kurangnya biaya.

_

Sore ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Di mana tuan muda sudah saatnya mandi.

Kali ini Mutia dengan sangat sabar mengajarkan Jess bagaimana cara membersihkan tubuh tuan mudanya.

“Kamu hanya perlu membasahi handuk ini lalu mengusap tubuh Tuan Muda dengan hati – hati. Pastikan air yang kamu gunakan masih dalam keadaan hangat,” ucap Mutia sambil membantu menyiapkan air untuk Hagan mandi.

“Dia bisa melakukannya sendiri. Kembali ke tempatmu!” titah Hagan dengan suara beratnya.

Hal itu membuat Mutia sedikit terkesiap karena baru kali ini bos cacatnya itu tidak memaki dan mengumpat.

Melirik ke arah Jess, Mutia seakan memastikan apakah gadis muda itu mampu melakukannya tanpa bantuan? Mengingat ini adalah kali pertama dirinya merawat seorang yang lumpuh. Apa lagi dia adalah seorang pria.

Jess menganggukkan kepalanya yakin. Sebagai isyarat bahwa dirinya bisa melakukannya. Tentu itu karena Jess tidak ingin andai tuannya tambah kesal dan marah.

“Berapa umurmu? Di mana kau bertemu dengan Lucas?” tanya Hagan saat Jess baru saja mengulurkan tangan untuk menyentuh tubuh padat berisi akan otot yang terlihat sangat terawat itu.

“S - saya dua puluh dua tahun, Tuan. Pak Lucas tidak sengaja bertemu saya saat saya keluar dari sebuah perusahaan yang menolak lamaran kerja saya. Pak Lucas memeriksa cv saya dan kemudian menawarkan sebuah pekerjaan,” jawab Jess jujur.

Waktu itu Jess sedang akan melamar sebuah pekerjaan yang membutuhkan tenaga cleaning service, namun sayangnya sepuluh menit sebelum kehadiran Jess, lowongan itu sudah ada yang menempati.

Meski tulisan lowongan masih terpampang di depan pintu gerbang kecil kantor itu, tetap saja Jess sudah kehilangan kesempatan.

Pihak kantor belum sempat melepas kertas lowongan yang masih tertempel di luar.

Dan pada saat itu, Jess keluar dari perusahaan itu dengan langkah kaki gontai. Pikirannya kosong dan saat hendak menyeberang jalan, dirinya hampir terserempet sebuah mobil. Dan mobil itu adalah mobil yang dikendarai oleh Lucas.

“Apa kau benar – benar bisa dipercaya?” gumam Hagan yang tidak sadar bahwa kalimatnya itu jelas bisa didengar oleh Jess.

“Tentu saja, Tuan. Saya ….”

“Lupakan saja. Kalau begituaku minta kau menutup pintu kamar ini dan kunci dari dalam.”

Jess terdiam. Sungguh dia tidak bisa mencerna dengan baik perintah tuan mudanya itu. Mengunci kamar? Untuk apa?

Terlintas pikiran buruk di dalam isi kepala Jess, namun menyadari akan kondisi tuannya, gadis itu sesegera mungkin mengenyahkan prasangka buruk itu dari dalam pikirannya.

“Baik, Tuan.”

Jess berjalan menuju pintu dan mengunci pintu kamar itu dari dalam. Mencabutnya dan menaruh benda panjang dari bahan logam itu di atas nakas samping ranjang tuan muda.

“Kau lihat tempat sampah berwarna merah di samping pintu kamar mandi? Apakah masih di sana?” tanya Hagan mengarahkan sesuatu kepada Jess.

Seketika kepala gadis itu menjulur dan memang benar, ada tempat sampah yang tertutup dan berwarna merah.

“Ya, Tuan. Saya melihatnya dan masih ada di sana.”

“Di dalam tempat sampah itu ada sebuah ponsel. Ambilah dan hubungi kontak Lucas untukku.”

Tanpa menjawab, Jess langsung beranjak lagi dari tempat duduknya dan memeriksa apakah benar ada ponsel di dalam tempat sampah kecil itu.

Dan benar! Sebuah gadget yang cukup mewah ada di dalam sana dan dalam keadaan non aktif. Jess segera mengambil dan mendekat kembali ke ranjang.

“Ada, Tuan.”

“Ok. Sekarang nyalakan ponsel itu.”

Saat Jess hendak menekan tombol power, tiba – tiba Hagan menghentikannya.

“Tunggu dulu!”

“Ah, I – iya, Tuan? Ada hal lain?” tanya Jess sedikit terkejut.

Hagan terdiam sejenak.

“Siapa namamu?”

“S – saya Jess Liora Gantari, Tuan.”

Hagan kembali terdiam. Hanya mendengarkan jawaban gadis muda yang sepertinya memang dapat dia percaya. Sampai – sampai dirinya lupa sudah menanyakan soal nama gadis itu untuk yang ke dua kalinya.

“Apa kau akan menuruti semua yang ku perintahkan? Dan akan patuh saat aku melarangmu melakukan suatu hal?” tanya Hagan yang lagi – lagi membuat Jess merasa dirinya akan bekerja di Badan Intelijen Nasional saja.

Padahal sudah jelas job desk nya hanyalah sebatas pelayan. Tapi kenapa harus seseram ini pertanyaan soal kejujuran? Ini benar – benar membuat Jess kesal.

“Tentu saja, Tuan. Saya sudah memutuskan untuk menerima pekerjaan ini. Jadi saya akan melakukan apa pun aturan dan sistem yang ada tanpa keberatan,” jawabnya yakin.

Meski dalam hati Jess sedikit dongkol, namun tetap saja dirinya harus tetap bersikap lemah lembut di hadapan tuannya. Karena ini demi uang. Apa lagi kalau bukan karena itu.

“Kalau begitu, aku akan memberikan kepercayaanku yang sangat mahal ini. Kau dengar baik – baik! Jangan sekalipun mengatakan soal kondisi, situasi yang ada di kamar ini selain kepada orang yan bernama Lucas. Kau paham?”

Jess terdiam, “ta – tapi kenapa, Tuan? Bagaimana kalau yang bertanya adalah Bu Sasmita?”

“Aku bilang siapa pun selain Lucas,” ulang lelaki itu dengan nada bicara yang kesal.

Menghembuskan nafas besar, Jess meyakinkan diri untuk mematuhi segala peraturan yang ada. Dan dirinya pun paham kalau job desk nya saat ini bertambah. Yaitu menjadi manusia dua muka.

Dia akan bersikap berbeda di saat berhadapan dengan Sasmita dan pada saat berada di dekat tuan mudanya.

“Saya sepertinya memahami situasi saat ini, Tuan. Saya akan melakukan apa pun yang menurut Tuan lebih baik.”

Hagan terdiam sekejap. Dalam hati lelaki itu terasa menghangat. Meski baru beberapa menit dirinya bertemu dengan perawat barunya ini, namun entah kenapa dirinya mudah sekali percaya.

Tidak seperti perawat – perawat sebelumnya yang selalu dia umpat dan bentak. Pada akhirnya mereka selalu merasa ketakutan dan mengundurkan diri dari pekerjaan gaji besar itu.

Karena Hagan menganggap mereka yang sebelumnya itu benar – benar tidak bisa bekerja. Dia akan menyusahkan dirinya di kemudian hari. Hagan yakin akan hal itu.

“Baikk, aku akan memberimu kepercayaan. Kau perlu ingat satu hal lagi, jangan pernah membicarakan soal ponsel ini kepada siapa pun. Mengerti?”

Jess mengangguk yakin. Gadis itu sejak tadi mengamati wajah tampan sang tuan muda yang terlihat garang itu. Dalam hati, dia terus menyayangkan atas kecelakaan yang menimpa Tuan Muda dan akhirnya membuatnya menjadi lumpuh dan buta. Sangat disayangkan.

“Kau tidak menjawabku?!” sentak Hagan merasa diabaikan oleh Jess.

“Ah, I – iya! Mengerti, Tuan!” sahutnya terbata. Dia lupa bahwa sang Tuan Muda tidak dapat melihatnya menganggukkan kepala.

Jess memukul kepalanya sendiri atas kebodohannya.

“Nyalakan ponsel itu sekarang!”

Bersambung,