Rasa penasaran Aurora terus bertumbuh, tak sebanding dengan larangan Kael yang hanya sekali diucap, tapi jelas dengan nada tajam, seolah pria itu akan memenggal Aurora jika melanggarnya.
Ruangan di ujung lorong itu—yang katanya terlarang—semakin terasa seperti magnet yang menarik langkahnya, sedikit demi sedikit.
Ah, ya… ia belum pernah membahas tentang hal ini lebih jauh. Di dalam penthouse milik Kael, ada satu ruangan yang selalu tertutup rapat—terkunci. Tak ada satu pun penjelasan, tak ada alasan. Hanya satu hal yang Kael tegaskan, ‘Jangan pernah membukanya!’
Dan justru itu, Aurora semakin ingin tahu apa yang disembunyikan pria itu. Tak mungkin tanpa alasan jika ruangan itu terlarang baginya, kan?
Sore ini tak ada siapa pun di penthouse. Kael? Seperti biasa, pria itu selalu berada di kantornya pada jam ini, sementara Aurora memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri. Tak ada hal yang harus ia lakukan untuk saat ini—atau mungkin untuk beberapa waktu selanjutnya—selama dirinya menjadi istri seorang Kael Vireaux.
Seakan baru saja dihipnotis, Aurora telah berdiri di depan ruangan terlarang itu. Tak ada kunci manual, tapi Kael memasang smart lock di pintunya—warna hitam mengilap, dengan pendar biru di balik tombol angka yang bersinar redup.
“Hmm… password? Mungkin tanggal lahirnya?” Aurora menggumam pelan, nyaris tak terdengar selain untuk dirinya sendiri.
Beberapa nomor ditekan ragu, ia masih mengingat tanggal lahir Kael dari dokumen pernikahan. Meskipun tidak beruntung dalam kehidupan, tapi daya ingat Aurora masih bisa dikatakan bagus.
Access denied.
“Bukan, ya?” Aurora kembali bergumam.
Hanya itu satu-satunya tanggal yang Aurora tahu tentang Kael. Ia terdiam sejenak, memikirkan kombinasi angka apa yang digunakan untuk membuka pintu itu.
“Jangan-jangan tanggal lahir si Celeste yang gatal itu,” dengusnya. “Bisa jadi, tapi aku tidak tahu tanggal lahirnya.”
Aurora menemukan jalan buntu, tapi ia tak ingin mengakuinya.
“Harusnya, itu berhubungan dengan peristiwa yang terdalam baginya. Tapi, memangnya dia pernah memiliki peristiwa terdalam? Seorang Kael Vireaux?” cibirnya, lalu tertawa kecil. “Si manusia robot itu pasti tidak pernah memiliki peristiwa mendalam.”
Aurora pada akhirnya menyerah. Ia kembali ke kamar, duduk di kursi dan bersandar. Beberapa kali berusaha untuk melupakan rencananya itu, tapi tetap aja, pikirannya tertuju kesana.
Aurora menghela napas panjang, lalu tanpa sengaja menatap ke arah lemarinya. Dalam sekejap ia langsung menegakkan badan dan mengingat tentang peristiwa mendalam.
Benar. Peristiwa mendalam tak hanya tentang kebahagiaan, beberapa juga mengenai kehilangan dan luka yang dirasakan. Aurora mengingat foto masa kecil Kael bersama ibunya.
Mungkinkah?
Aurora kembali berdiri, ia menemukan satu kesempatan lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. Tanggal kepergian Isabelle dari mansion Vallen, mungkinkah sama dengan tanggal peristiwa mendalam yang baru saja dimulai oleh Kael saat itu?
Langkahnya cepat, nyaris berlari saat kembali menuju ke ruangan terlarang. Smart lock kembali berkedip saat Aurora menyapukan telapak tangannya, menunggu urutan angka yang harus dimasukkan.
Napasnya tertahan ketika menekan deretan angka yang sesuai dengan kepergian Isabelle dari rumahnya. Saat dunianya hancur, ketika ia merasa tak pantas untuk dilahirkan di dunia ini.
Bunyi klik pelan mengakhiri ketegangannya. Pintu itu terbuka, tebakannya benar. Napas yang tertahan tersengal cepat.
“Ternyata kita memiliki hari besar yang sama untuk bisa dirayakan bersama.” Aurora mendesah kasar, menyadari betapa lucunya ikatan yang terjalin antara dirinya dan Kael.
Ruangan suram penuh debu. entah sudah berapa lama Kael tak pernah masuk kesini. Aurora mulai menelusuri lebih dalam. Ia menemukan banyak hal menarik di dalamnya, tampaknya itu berasal dari masa lalu Kael.
Kaset vinyl tua, tumpukan kardus yang tak berani ia buka, beberapa lukisan yang sebagian sudah hampir rusak karena jamur, dan satu lukisan besar yang digantung di dinding—seorang wanita bergaun merah terlihat anggun duduk di kursi beludru.
“Siapa itu?” gumamnya.
Aurora mendekat, menyentuh lapisannya yang berdebu. Tak jauh dari sana, ia menemukan foto ibunya lagi bersama dengan ayahnya Kael. Kondisinya sama mengenaskan seperti foto pertama yang ia temukan. Aurora menghela napas pelan, seperti bisa merasakan kebencian Kael dari caranya memperlakukan foto ini.
Aurora tak akan menyalahkan, karena ia pun membenci ibunya sendiri. Jika diingat lagi, sungguh memalukan. Isabelle, ibunya yang tidak pernah menganggapnya sebagai anak itu, dengan angkuhnya memilih hidup bersama pria di dalam foto ini. Namun lucunya, beberapa tahun berikutnya memilih untuk kembali bersama ayahnya, dan masih saja mengulang dengan berpacaran dengan pria lain sampai akhirnya ditemukan tewas mengenaskan.
Dan sekali lagi, ia tak peduli sama sekali.
Aurora masih menatap wajah ibunya, lalu melemparnya kasar ke lantai, menambah retak di kaca pigura. Detik berikutnya, ia berdiri dan memutuskan untuk menyudahi rasa penasarannya, tanpa menyadari bahwa ada seorang yang dari tadi telah memperhatikannya dengan tatapan tajam dari ambang pintu.
Kael, berusaha menahan emosinya karena Aurora telah melanggar larangan sederhana yang pernah ia ucapkan pada wanita itu.
“Apa yang kau lakukan?” Suaranya datar, tapi berhasil membuat Aurora berjingkat.
“A-aku.. aku—”
“APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Celaka!
Aurora tak pernah menduga jika Kael akan pulang secepat ini. Apa yang harus ia katakan? Tindakannya saat ini jelas salah, tapi ia juga butuh penjelasan mengenai apa yang terjadi di balik keluarga mereka. Benang merah yang ada di antara dirinya dan Kael, jelas butuh diuraikan.
“Bukankah permintaanku sudah jelas, Rora?” Kael mendekat, suaranya kembali rendah, tapi jelas sarat emosi.
“Aku hanya penasaran dengan isi dari ruangan ini. Karena kau melarangku, dan itu membuatku menjadi semakin ingin melakukannya.”
“Kau bukan anak kecil lagi yang harus dijelaskan berkali-kali untuk tidak melakukan hal yang dilarang!” Kael kembali menaikkan suaranya.
Aurora masih diam. Di pikirannya kali ini bukan hanya tentang kemarahan Kael. Melainkan juga tentang lukisan wanita bergaun merah tadi. “Apakah ini dilarang karena masa lalumu ada di sini semua?”
Napas Kael memburu. Aurora tak hanya melewati batas privasi yang telah ia tetapkan, tapi juga telah menyentuh luka yang belum sembuh sepenuhnya.
“Lukisan wanita itu, apakah dia ibumu?”
Kael menunduk, bahunya sedikit gemetar.
“Dan… siapa wanita di pigura yang pecah itu?” Aurora dengan berani mulai mempertanyakan tentang ibunya di kehidupan Kael. “Apa hubungan kalian?”
“Hentikan, Rora.”
“Kalau kau tidak mau menjawab tentang semuanya, tidak masalah. Tapi tolong jawab untuk satu hal itu. Siap wanita yang berada di pigura retak itu—”
“Hentikan Ro—”
“Aku hanya butuh jawaban untuk itu sa—”
“HENTIKAN!!”
Napas Kael memburu.
Aurora terhenyak sesaat di tempatnya. “Aku hanya bertanya,” tuntutnya.
“Jangan bertanya. Kau harus sadar dengan posisimu,” ucap Kael tajam.
Aurora meradang saat mendengarnya. Posisi apa yang dimaksud Kael? Posisi sebagai putri dari wanita bernama Isabelle, atau posisi sebagai istri kontraknya yang harus menuruti semua permintaannya?
“Kamu pikir bisa mengontrolku karena kontrak pernikahan kita?” Aurora mulai kehilangan kendali.
“Sudah seharusnya seperti itu, Rora. Kau tunduk padaku, karena aku telah menyelamatkan hidupmu!!”
“Kau lupa bahwa aku juga memiliki peran di pernikahan ini, Tuan Vireaux yang terhormat??”
“Kau akan menyesal jika terus mendebatku.” Tatapan Kael tajam mengarah pada Aruora.
“Menyesal?? Hah! Kau mau mengancamku sekara—”
Kael membungkam mulut Aurora dengan ciumannya yang menggebu. Refleks, tangan Aurora mendorong dada pria itu, tapi jelas kekuatannya tak mampu menumbangkannya. Aurora meronta, tapi Kael semakin melumat bibir Aurora tanpa ampun. Bukan karena cinta, tapi karena Kael merasa frustrasi dan melampiaskannya pada Aurora dengan cara yang… tidak biasa.
“Lepas!” seru Aurora di sela-sela ciuman itu. “Kael, lepaskan!”
Kael tak berhenti. Ia masih menyesap kuat, dan akhirnya melepaskan ciumannya setelah Aurora beberapa kali memukul dan mendorong pria itu.
Segera saja, satu tamparan mengarah cepat ke wajah Kael, meninggalkan jejak merah di satu sisi.
“Sialan! Apa yang kau lakukan?!!” seru Aurora, di sela-sela napasnya yang memburu.