BAB 3
Jess menuruti apa yang dikatakan oleh tuannya. Dia menekan dan menahan beberapa detik tombol power yang berada di samping benda pipih itu.
“Sudah, Tuan.”
“Telepon Lucas dan berikan padaku,” titahnya lagi.
Lagi – lagi Hagan merasa dirinya terlalu sembrono mempercayakan soal ponsel yang dia rahasiakan selama ini kepada Jess, pelayan yang baru bekerja beberapa jam itu.
“Hallo!” seru seseorang di seberang sana dan Jess tahu itu adalah suara dari Lucas.
“Berikan padaku,” titahnya sambil mengulurkan tangan tepat di depan wajah Jess.
Dengan hati – hati Jess memberikan ponsel itu dan Hagan mulai mendekatkannya di telinga.
“Kau benar – benar yakin dengan ini?” tanya Hagan menanyakan soal Jess tanpa menyebut nama gadis itu.
“Tentu saja, Tuan. Tapi tetap kita harus mengujinya beberapa kali untuk memastikan.” Lucas pun langsung memahami apa yang dimaksud oleh bosnya.
“Baiklah, malam ini ada hal yang ingin aku katakan. Juga bawa dokter Marcus, ada hal yang ingin aku konsultasikan dengannya.”
“Siap, Tuan!”
Hagan kembali menyodorkan ponsel itu kepada Jess. Anehnya, Jess merasa Hagan bisa melihat dirinya. Nyatanya uluran tangan Hagan selalu tepat berada di depan matanya.
Namun hal itu tentu saja hanya disimpan Jess dalam hati. Atau mungkin hanya gerak kebetulan karena posisi mereka cukup dekat dan secara kebetulan tangan itu berhenti tepat di depan wajahnya.
“Sudah, Tuan?” tanya Jess memastikan. Dengan tatapannya yang hampir tidak pernah beranjak pergi dari wajah tampan Tuan Muda.
“Matikan kembali dan letakkan pada tempat semula.”
“Baik, Tuan.”
Jess segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Hagan padanya.
“Pintunya, Tuan?”
“Ya, kau bisa membuka kuncinya.”
Jess membuka kunci namun tidak dengan pintunya. Karena setelah ini dia harus memandikan Hagan dan mengganti pakaiannya.
Meski ini sudah menjadi tugas utamanya, namun nyatanya Jess belum bisa besikap biasa saja saat menyadari bahwa pasti dirinya pula yang akan menggantikan pakaian dalam majikan mudanya itu.
Jess termenung sesaat baru kemudian kembali mendekat dan perlahan melepas kancing baju pajamas yang dikenakan oleh Hagan selama seharian ini.
“Persmisi, Tuan.”
“Ya, kau bisa melakukannya.” Hagan terlihat sangat acuh saat Jess sedang bergetar membuka satu persatu kacing bajunya.
Di saat sampai dengan kancing yang terakhir, Jess benar – benar hampir pingsan saat melihat betapa indah tubuh tuannya yang lumpuh ini.
Perut lelaki ini terlihat seperti seorang yang sangat rajin melakukan pelatihan otot. Tapi mengingat kondisi Hagan bukankah itu sangat tidak mungkin?
Tapi kenapa tubuh yang hanya berbaring di tempat tidur selama hampir lima bulan itu terlihat sama sekali tidak ada kulit yang mengendur?
“Kau sedang mengulitiku?” selidik lelaki itu menaruh curiga atas apa yang mungkin sedang dilakukan oleh Jess padanya. Terasa sangat jelas bahwa setelah membuka semua kancing itu tidak ada lagi pergerakan dari Jess.
“Tidak, Tuan. Saya hanya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk melepas pajamas ini. Melihat tubuh Tuan yang … besar, sepertinya saya tidak kuat untuk mengangkatnya. Bagaimana ini?” sahut Jess tidak sepenuhnya berbohong. Namun sungguh tangannya masih bergetar.
Muncul smirk samar di bibir Hagan saat ini dan Jess tidak menyadarinya.
“Lalu bagaimana bisa kau menyetujui kontrak saat kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu?”
Jess tampak sedang berpikir.
“Apa tidak masalah kalau saya menyentuh kulit Tuan? Saya merasa tidak sopan.”
“Kau pikir bisa merawatku dengan tidak menyentuh kulitku? Kau pikir aku ini roh halus atau sejenisnya?”
“Bukan, Tuan. Hanya saja … saya pikir tidak semua orang mau bersentuhan dengan pelayan seperti saya.”
Hagan cukup memberi poin plus pada gadis yang cerewet satu ini. Dia tidak melakukan pekerjaannya dengan sembrono. Dia benar – benar memikirkan soal kenyamanan dirinya.
“Selama kau tidak membawa penyakit, aku tidak masalah.”
Jess merasa cukup tenang saat tuan mudanya itu memberikan izin padanya. Namun hal itu tidak membuat dirinya lantas tidak gugup dan bisa melakukan pekerjaannya dengan sempurna.
“Ini adalah pengalaman pertama saya, Tuan. Jadi saya harap banyak maaf dari anda saat menemukan rasa tidak nyaman atau yang membuat Tuan tidak suka dengan pelayanan saya.”
Hagan yang awalnya memasang wajah dingin, kini sepertinya dia akan tertawa mendengar ocehan Jess yang benar – benar berhasil menggelitik perutnya.
“Kau mengatakan seolah akan melecehkanku.” Hagan sengaja menggoda gadis itu.
“Ish! Mana ada seperti itu!”
“Hei! Kau baru saja meninggikan suaramu?”
“Tidak, Tuan. Saya akan memulai melakukan pekerjaan saya.”
Jess memutus percakapan mereka yang hampir saja menghilangkan kesadarannya untuk bersikap sopan.
Jess mulai berusaha melepas satu persatu lengan panjang yang masih terpasang sempurna di tubuh indah tuannya itu.
Dengan sedikit kepayahan, akhinya Jess berhasil melakukannya. Dan kini Hagan sudah tidak mengenakan atasan.
“Tuan, boleh saya bertanya?”
“Asal kau tidak membuatku pusing maka aku akan menjawabnya.”
“Sebelum saya, siapa yang membantu Tuan mandi dan membersihkan diri?”
“Lucas, dia yang aku percaya untuk merawatku. Kenapa?”
“Tunggu dulu! Kenapa kau menanyakan hal itu? Kenapa juga aku harus menjawabnya! Lakukan saja pekerjaanmu!” sahutnya lagi merasa kesal karena baru saja tersadar dia menjawab pertanyaan Jess yang seharusnya tidak pernah dia jawab.
Jess hanya tersenyum melihat Hagan yang kesal karena dirinya. Dia pun mengingat bagaimana Mutia mengatakan bahwa tuannya ini adalah manusia yang suka marah – marah.
Namun sejauh ini dia merasa apa yang dilakukan Hagan terihat masih wajar. Mengingat hal buruk apa yang telah menimpa lelaki tampan ini pastilah mengguncang jiwanya.
Masih baik Hagan hanya suka marah – marah. Jess bahkan tidak bisa membayangkan andai ini terjadi pada dirinya.
Bisa jadi dia memilih untuk bunuh diri saja.
“Permisi ya, Tuan,” ucapnya sangat lembut dan sopan.
Jess dengan sangat hati – hati meraih tengkuk tuannya dan perlahan mengangkat tubuh bagian atas milik lelaki buta itu.
Saat ini kepala Hagan berada tepat dalam dekapan Jess. Dan … hagan merasakan wajahnya bertemu dengan gumpalan daging yang sangat lembut dan … sepertinya Hagan tahu apa benda yang tidak sengaja menyentuh wajahnya itu.
Tangan kiri Jess menahan tubuh Hagan dan tangan kanannya dengan sangat gesit memasang alas yang tidak tembus air dan memasangnya hingga sebatas punggung Hagan. Setelah itu, Jess sedikit memiringkan tubuh Hagan untuk bisa menarik alas itu hingga ke paha. Agar ranjang yang empuk dan nyaman itu tidak terkena air saat membasuh tubuh Hagan nanti.
Jess menutupi bagian bawah tubuh Hagan dengan handuk. Dengan sangat hati – hati, Jess menarik celana panjang tuannya.
Hagan sebenarnya sedikit terkejut akan keberanian Jess. Namun dia sadar Jess telah menutup bagian tengah tubuhnya dengan handuk dan dia kembali merasa nyaman.
Dalam hati, Hagan pun memuji ketelatenan seorang gadis yang masih sangat muda ini.
“Apa ini sudah cukup hangat, Tuan?” tanya gadis itu berhasil membuyarkan lamunan tuannya.
Jess menyentuhkan handuk basah tepat di lengan majikannya.
“Bisa tambahkan air dingin? Aku merasa sedikit gerah. Aku ingin air yang lebih dingin agar tubuhku terasa segar.”
Memang, berada di dekat gadis dan berulang kali menyentuh kulitnya itu berhasil membuat Hagan merasa gerah dan kepanasan meski suhu ruangan cukup dingin.
Bersambung,