Satu minggu telah berlalu. Jess benar – benar sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Dan bagi Hagan, ini adalah kali pertama dirinya menerima pelayan tanpa ada complain sedikit pun.
Ha? Tanpa complain katanya?
Pagi ini, Jess sudah menyiapkan peralatan mandi untuk Hagan. Namun pada saat itu, Tuan Muda ternyata belum bangun dari tidurnya.
Gadis itu kemudian membuka tirai dan membersihkan beberapa barang yang ada di sana. Di atas meja kerja Hagan yang sudah sangat lama tidak di pakai, entah sejak kapan ada beberapa lembar uang dollar dengan pecahan ratusan.
Jess sebenarnya ingin menanyakan soal hal itu kepada Hagan untuk memastikan soal kepemilikan uang itu. Bukankah tidak seharusnya meletakkan uang di sembarang tempat?
Namun mengingat bahwa tuannya tidak bisa apa – apa, Jess merasa itu pasti bukan Hagan yang menaruhnya. Jess pun tidak merasa takut atau khawatir andai uang itu akan hilang. Toh dia sendiri yang bekerja di dalam kamar itu.
Juga Jess merasa apa pun yang ada di dalam ruangan itu namun tidak berhubungan dengan pekerjaannya, dia memilih mengabaikan dan tidak mempedulikannya.
“Tuan, ini sudah pukul tujuh pagi,” ucap Jess lembut sambil meloloskan selimut tuannya.
Mungkin perawat lain tidak akan berani melakukan ini. Mereka sebelumnya akan membiarkan Hagan bangun atas kemauannya sendiri.
“Tuan!” seru Jess lagi semakin meninggikan suaranya.
Namun nyatanya Hagan masih tidak membuka matanya. Itu membuat Jess merasa sedikit khawatir mungkin saja terjadi sesatu dengan tuannya.
Menyentuh kening, Jess memastikan apakah Hagan sedang demam atau tidak.
“Normal,” ucapnya. “Tuan! Ayo bangun! Ini sudah siang! Tuan harus bangun pagi untuk sembuh lebih cepat!”
Seperti seorang ibu yang sedang mengomel, Jess menggerak – gerakkan tangan Hagan agar lelaki itu segera bangun.
Hagan yang sebenarnya sudah bangun dari tadi memilih pura – pura baru terbangun. Perlahan dia membuka mata dan … ada yang aneh menurutnya.
Ya! Hagan mulai merasakan cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Padahal baru kemarin dia masih melihat ruangan ini benar – benar gelap.
Dan saat ini sepertinya kemajuan dalam kesehatan matanya kian perlahan kian membaik. Dia sudah bisa merasakan cahaya.
“Kau berani sekali membangunkanku,” ucap Hagan terdengar sangat dingin.
Namun sungguh dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya. Dia semakin bersemangat untuk sembuh karena dia benar – benar bisa merasakan ada cahaya di dalam kamarnya.
“Tuan haru segera sembuh. Pagi ini sangat cerah dan matahari bersinar sangat terang. Tuan harus menikmatinya,” jawab Jess sambil berusaha membangunkan Hagan dari posisi tidurnya.
“Tunggu dulu! Kau mau aku melihat matahari? Kau menghinaku?” sungut Hagan terlihat sangat tidak suka tapi sepertinya Jess mulai terbiasa dengan sikap Hagan yang memang sangat menyebalkan.
Jess baik – baik saja dan tidak pernah merasa terintimidasi sedikit pun.
“Tidak, saya hanya berharap Tuan segera sembuh. Ayo bangun, saya tahu Tuan bisa.”
Dengan gerakan sangat cepat, Hagan menarik tubuh Jess dan membawa perawatnya itu jatuh ke dalam pelukannya.
“Saya sudah bangun. Apa kamu tidak bisa merasakannya?” tanya Hagan yang sebenarnya Jess masih tidak mengerti sebenarnya apa yang dimaksud oleh tuannya itu.
“Maaf, T – tuan. Saya hanya ingin mengajak Tuan keluar dan menikmati matahari pagi ini,” ucap Jess gugup karena Hagan dengan sangat kuatnya menahan dan mendekap dirinya dalam pelukan sang majikan.
“Kalau begitu apa kamu mau menikmati sesuatu yang lain? Sesuatu yang bisa saya berikan, bagaimana?” bisik Hagan dengan nada bicara yang menggoda.
Jess yang mulai menyadari ke mana arah pembicaraan sang majikan, sontak terkejut dan kedua bola matanya hamir melompat keluar.
“T – tuan! Ayo kita keluar, matahari pagi sehat untuk tubuh kita,” ucap Jess lagi berusaha menepis pikiran kotor yang ada di dalam kepalanya.
Sementara Jess memang merasakan ada yang lain di bawah sana. Ya! Sesuatu terbangun dan Jess yakin itu adalah topik pembicaraan tuannya saat ini.
“Saya sebenarnya juga ingin sekali keluar, Jess,” balas Hagan lagi semakin menjadi.
“Tuan! Lepaskan saya atau saya bisa menyakiti anda!” ancam Jess pada akhirnya.
Dirinya mulai ketakutan kalau sampai tuannya benar – benar hilang kendali. Bahkan saat ini tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ternyata seorang yang lumpuh tidak merubah apa pun di bagian kejantanannya. Ini sungguh membuat nyali Jess mengkerut.
“Kau berani mengancamku, hmm? Atau kau sudah tahu memang ada yang bangun di bawah sana dan kau ketakutan? Aku pikir kau tidak sepolos itu.”
“Tentu saja, tidak ada yang bisa melihat apa pun yang saya lakukan di kamar ini terhadap anda!” balas Jess yang kemudian membuat Hagan tersadar bahwa Jess benar – benar tidak tahu bahwa setiap sudut ruangan ini sudah dipenuhi dengan alat penyadap suara dan cctv berukuran kecil.
Hagan perlahan melepaskan Jess,ia akan mencari tahu bagaimana reaksi Jess saat Lucas datang ke sini.
Pada saat Hagan baru merenggangkan dekapannya, Jess langsung meronta dan melepaskan diri.
Jess seketika menajatuhkan dirinya ke lantai dengan deru nafas yang hampir meledakkan jantungnya.
Jess tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan gila seperti yang baru saja terjadi. Dadanya masih terasa sangat sakit. Tubuhnya lemas di atas lantai dan saat ini tangannya mencengkram kuat baju di dadanya.
“Kau tidak jadi mengajakku keluar? Atau kau akan membuatku keluar tanpa pergi dari ranjang?” tanya Hagan lagi.
Moodnya kali ini sedang dalam keadaan baik. Tidak ada hal lain yang akan dia pikirkan hari ini. Dia hanya ingin mencari hiburan yang berbeda. Menjahili Jess misalnya.
“Kita akan keluar!” sungut Jess tidak lagi sungkan bersikap ketus terhadap tuannya.
Hagan hanya tersenyum karena tahu saat ini Jess sedang kesal terhadap dirinya.
Jess dengan dada yang masih tidak karuan rasa berusaha bangun dan kembali menyentuh tubuh tuannya. Membantunya bangun tanpa keinginan sedikitpun untuk melihat ke arah wajah tampan tuannya yang biasa dia kagumi itu.
“Kau pikir aku patung? Tersenyumlah sedikit.”
“Tuan! Saya bisa saja menjatuhkan Tuan di tangga kalau Tuan tidak bisa berhenti mengganggu saya!” tegas Jess dengan volume bicara yang sangat rendah.
Tentu saja dia tidak ingin Mutia mendengar dirinya mengancam tuan mudanya. Meski Hagan memang bersikap kurang ajar kepada dirinya, tapi itu bukan lantas menjadi alasan untuk ia membalasnya.
Ia tidak ada hak untuk melakukannya.
Sementara Hagan hanya bisa tersenyum senang. Jess dengan sangat hati – hati membawa kursi roda melewati lift yang tersedia di dalam rumah mewah itu.
Terus mendorong kursi roda menuju samping rumah di mana ada kolam renang di sana.
“Apa hari ini benar – benar cerah?” tanya Hagan ingin memastikan sesuatu apakah cahaya yang dia rasakan benar adanya.
“Ya, Tuan. Matahari bersinar sangat cerah. Apa Tuan ingin berjemur?”
“Tidak, kecuali kau ikut membuka baju dan berjemur bersamaku.”
“Tuan!”
“Apa? Kau mau melemparku ke dalam kolam?”
Bersambung,